28 June 2012

iker casillas sukses menghalau finalti portugal (AFP)

KE FINAL! Itu yang layak untuk Spanyol. Mereka layak bergembira, layak menyandang asa dan ekspektasi untuk menjadi penguasa sepak bola Eropa 2012. Saya tak tertarik membahas proses drama adu finalti yang mengantar Spanyol dalam posisi 4:2 membenam asa Portugal, sebab mencari jalan kemenangan dalam sepak bola adalah tujuan utama. Saya justru memandang, Spanyol menjadi guru baru semua bangsa di dunia dalam menggapai impian mengangkat harga diri sebuah bangsa. Guru itu adalah kerja keras, kematangan emosional, dan kekompakan tim, menjadi kunci untuk merebut impian.

120 menit menjadi waktu yang mengokohkan Spanyol layak ke final, meredam emosi kebencian pendukung dua kubu besar di internal timnya, kubu Madrid dan Barca, yang selalu hadir dalam seteru-seteru emosional, gengsi dan harga diri orang Spanyol. Maklum Barca dan Madrid tak hanya berseteru dalam sepak bola, tetapi juga dalam lintas otonomi ke wilayahan di negeri matador itu. Pasalnya, Barcelona (Barca) adalah ibukota Catalan, salah satu daerah tertua di Spanyol yang selalu disebut-sebut sebagai ‘calon negara baru’ di Spanyol. Itu tergambar ketika kurang lebih setahun lalu, tepatnya 10 Juli 2010, orang-orang Barca menggelar unjuk rasa dengan membentang spanduk ‘Catalan Bukan Spanyol’ ketika menolak keputusan Mahkamah Agung yang telah membatalkan salah satu poin penting pada undang-undang otonomi Catalan. Bahkan ada seorang pengunjuk rasa menyebut jika aksi ini adalah awal kemerdekaan Catalan (Barcelona).

Spanyol memang belum juara,  ia masih menunggu pemenang dua raksasa lainnya, Jerman versus Italia. Tetapi kemenangan Spanyol atas Portugal adalah pelajaran besar mematangkan emosi dari dua kepentingan besar yang terjadi di negara itu. Timnas Spanyol, memang tidak memiliki Cristiano Ronaldo, yang ekspektasi bangsa Portugal bertumpu padanya. Timnas Spanyol hanya memiliki 18 pemain yang berporsi sama, porsi sebagai penggempur, pengatur dan benteng pertahanan. Posisi bintang Ineasta, Fabregas, Alonso, Casillas dan pemain inti lainnya, tidak melebihi posisi bintang kawan-kawannya di bangku cadangan. Mereka hanya satu cita-cita, memenangkan pertandingan dengan emosi yang matang, tidak meledak-ledak, atau mendekati kamera TV melepar opini dan wacana yang menaikkan emosi penonton, seperti gaya Ronaldo ketika menjebol jala lawan.

Cara bergembira Timnas Spanyol setelah menjungkal Portugal juga tidak berlebihan. Saya memandang cara ini sama dengan cara mengolah bola ketika bertanding. Tenang dan elegan. Timnas Spanyol seolah ingin menunjukkan kepada dunia, bila permainan yang terorganisir, tetap kompak dalam situasi ‘membela negara’, saling percaya antara satu pemain dengan pemain lainnya, adalah kunci dari sebuah kemenangan. Saya amat tertarik dengan taktik ini, meski jantung berdebar-debar ketika pemain belakang dengan tenangnya mengoper bola dari kaki ke kaki dihadapan gawang  Casillas, sementara Ronaldo dan Nani terus menebar ancaman. Saya berkesimpulan, seberat apapun ancaman itu, seberat apapun beban itu, ketenangan dan keprofesionalan seorang pemain, akan menghasilkan nilai positif dalam sebuah pertandingan.

Saya melihat, gaya Spanyol di Euro 2012 ini seibarat teori Dramaturgi-nya Erving Guffman, yang selalu hadir dalam politik dua wajah. back stage dan front stage. Bahwa mereka boleh bersetru abadi ketika berada di klub (back stage), seperti perseteruan Madrid-Barca yang mengarah pada persoalan integritas negara Spanyol (dalam versi kemerdekaan bangsa Catalan). Namun ketika mengatasnamakan Timnas, maka kepentingan negara di atas segalanya, yang tak hanya berlaku bagi pelatih dan pemain, tetapi juga para pendukungnya. Ini panggung depan (front stage) Timnas Spanyol. Tentu hal ini pelajaran bagi bangsa-bangsa lain yang bisa dipetik dari anak-anak Matador ini, terutama PSSI yang selalu dipolemikkan antara kepentingan klub dan Timnas, sehingga ada kesan bila nasionalisme sebuah klub dipertanyakan. Mungkin ini cerita klasik dari sejumlah pengamat dan komentator  sepak bola di Tanah Air, tetapi bagi saya menjadi teramat penting untuk terus digaungkan kepermukaan, di tengah banyak bangsa mengalami kemunduran dalam mengokohkan semangat nasionalismenya.

Memang tak bisa langsung menyimpulkan bahwa sepak bola bisa menjadi pemersatu sebuah bangsa. Tetapi setidaknya beberapa jam yang lalu, Spanyol telah memberikan pelajaran ‘sedetik’ bahwa meraih sebuah kemenangan adalah waktu melupakan sebuah ‘perbedaan’, dan ‘sedetik’ inilah jika dipelihara dan terus dikuatkan, maka akan menghasilkan nama baik dan harga diri sebuah negara. Seperti bangsa Spanyol yang terus mempertahankan emosinya sebagai calon penguasa Eropa di ranah Sepak Bola. (**)

Bravo Spanyol!
Ronaldo jadilah Penonton!


Cikini Pagi Hari, 28 Juni 2012

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX