08 March 2017

TIDAK sedang mengargumentasi siap pemenang Pilwakot Kendari bulan depan; melainkan merindukan jika yang terpilih nanti adalah sosok humanis, yang kepimpinannya menjadi idola banyak orang. Paling tidak,  kepemimpinan Kendari menjadi ‘cerita baru’ masyarakat Indonesia – bukan sekedar pemimpin pekerja – pembangun  - atau istilah lain yang terasa jadi residu cerita-cerita Orde Baru, seperti pada banyak ‘visi’ yang terpajang di baliho – baliho yang terkesan kurang kreatif, bahkan berakhir menjadi sampah demokrasi di sudut-sudut perkotaan.

Tak perlu tersinggung dengan diksi kalimat ‘sampah demokrasi di sudut perkotaan’, sebab begitulah realitas berpolitik banyak tim sukses menampilkan panggung depan dramaturgi kandidatnya. Mau calon ini, atau  calon itu, ujung-ujungnya menjual tampang, jualan tagline, dengan warna-warna khas partai pengusung. Bahkan ada yang mirip-mirip jualan produk jamu, atau tagline copy-paste kandidat kampung sebelah. Boleh jadi kampanye ala Trumph – Presiden AS terpilih bakal booming lagi di negeri ini.. Heheheh..Kita memang begitu!

Intinya, sekadar mau bilang, ini eranya politik humanis; politik dimana pemimpin terpilih benar-benar bisa dicintai warganya. Apalagi paradigma mendapatkan kekuasaan di Indonesia juga telah bergeser jauh dari poros semestinya. Dari ‘kekuasaan mencari orang’ menjadi ‘orang mencari kekuasaan’(Arifin:2009).

Di zaman Orba hingga awal-awal reformasi; paradigmanya ‘kekuasaan mencari orang’ – artinya partai politiklah yang sibuk mencari kandidat-kandidat terbaik; yang cerdas; berpengalaman. Soal duit, urusan belakang. Setelah reformasi hingga sekarang, paradigma politik berubah menjadi ‘orang mencari kekuasaan’. Karenanya siapa yang punya uang dan popularitas, menjadi buruan pemangku kepentingan. Pengalaman, kapasitas menjadi terabaikan, parpol menjadi buruan, loyalitas berpartai juga meredup. Karena itu jangan lagi persoalkan istilah ‘politik kutu loncat’. Itu sudah biasa. Berdoa-lah agar era ini segera berakhir, entah kapan.

Apakah politik humanis menjadi oase kerinduan di tengah getir dan mahalnya ongkos politik memilih pemimpin? Bisa jadi begitu, namun format politik humanis itu belum baku dan terbukukan hingga sekarang. Paling standar, humanis itu selalu terbahasakan dengan merakyat, beretika, dan isu-isu lain yang menyangkut kemanusiaan. Kontesknya mulai terbaca di politik Jakarta saat ini, dengan tagline ‘Jakarta bersahabat’, ‘Jakarta memanusiakan’ dan lain sebagainya. Ini memang isu perkotaan, tidak terkecuali  Kota Kendari ke depan.

Deru pembangunan boleh laju, tetapi manusia di dalamnya tak boleh terinjak pembangunan itu. Sebaliknya manusianya bergembira, menikmati, dengan penuh keromantisan. Jadi teringat obsesi Barrack Obama, ia berkata begini; “Kebesaran Amerika bukan ditentukan oleh ketinggian pencakar langit atau besarnya kekuatan militer dan keberhasilan ekonomi. Kebesaran bangsa ini ditentukan oleh keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sejajar”.

Mungkin ujaran ini yang sedikit dekat dengan tafsir politik humanis itu, dan mungkin itu juga yang membuat Kang Emil memimpin Kota Bandung begitu dicintai warganya, padahal dia bukanlah sosok ‘bapak pembangunan’ Bandung. Ia hanya selalu berusaha membuat warganya menjadi lebih bahagia, tertawa, bahkan bercanda melalui jejaring sosialnya. Saya justru melihat Kang Emil tak lebih dari seorang ‘pembuat taman’ yang kreatif dan humanis. Pembuat taman yang diimpikan banyak orang di negeri ini, yang membuatnya ikut ‘dipaksa-paksa’ terlibat dalam pusaran politik Jakarta setahun lalu, mungkin juga akan dipaksa-paksa menjadi pesaing Presiden Jokowi ke depan. Mungkin!

Yang pasti ini era politik humanis, silahkan menafsir, pemimpin apa yang Anda inginkan untuk Kota Kendari bulan depan. Anda penentunya.
-----------------------------------------



BELASAN tahun lamanya kehidupan kemanusiaan telah menyatu dengan kehidupan jejaring sosial yang digerakkan teknologi bernama internet; international networking. Wajah kemanusiaan manusia tak lagi berbatas dinding-dinding kamar; tak berbatas kata tabik; dan tak berbatas sekat-sekat apapun. Hubungan menyatu dalam satu genggaman dan gerak-gerak tuts komputerisasi yang bernyawa.

Kebebasan akhirnya menyeruak ke mana-mana, semua jadi abai dan tersapih oleh kemajuan yang diciptakan sendiri. Tersadar dan cemas tatkala kodrati kemanusiaan tercampakkan oleh produknya sendiri; ketika pikiran teknologi mengalahkan humanistik. Sadar tetapi menikmati, hingga menjadi selaput tipis yang tak berbeda dengan ketidaksadaran itu sendiri. Pusing menghadapinya, tetapi lebih pusing jika tak menikmatinya. Begitulah rajam teknologi. Consciousness mind!

Kata Sigmund Feud (1856-1939), kesadaran itu merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan pikiran manusia. Seibarat gunung es di bawah permukaan laut, bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di permukaan. Itu definisi dan analogi Consciousness mind! Banyak yang tahu ini.

Kesadaran inilah yang mencemaskan wajah bangsa 250 jutaan orang ini; hoax dilawan hoax, twit  dilawan twit, rakyat berteknologi ria–pemerintah pun (seolah) repsesif, karena tak mampu membendung derasnya jejaring networking rakyatnya yang terus berbicara apa saja, semaunya - hingga tiba di titik kesan pada hasrat meruntuhkan wibawa dan simbol bernegara, menjadi alat makar.

Itu tak keliru, memang perlu kewaspadaan, sebab kemajuan teknologi komunikasi bisa menjelma menjadi pisau tajam yang bisa merobek segalanya, jika tak mengembalikan posisinya sebagai tools yang memudahkan pekerjaan. Bukan menjadikan teknologi yang memaksa manusia mengubah diri menjadi robotik yang di atur produknya sendiri.

Ini kecemasan yang sebenarnya telah diramal ilmiah Herbert Marcuse (1898-1979) di tahun 60-an, pemikir kritis dari Mazhab Frankfurt yang dikenal dengan pandangan masyarakat ‘one dimensional man’-nya. Marcuse berpendapat bahwa manusia menciptakan, memanipulasi dan memeralat benda-benda, alam serta mesin-mesin, untuk memudahkan hidupnya. Di saat yang sama, hal itu juga berlangsung di wilayah politik dan kultural. Di sinilah manusia dan masyarakat tak terkecuali berada dalam penguasaan dan manipulasi teknologi. Ramalan teoritik yang sebenar-benarnya telah terjadi di era kekinian.

Marcuse (seolah) ingin mengingatkan bahwa manusia akan hidup nikmat jika dialah yang memengaruhi teknologi, memengaruhi modernitas, bukan sebaliknya. teknologi itu easy to relation bukan easy to lazy. Dibuat untuk memudahkan berhubungan satu dengan lainnya. Negara punya banyak cara bijak mengaturnya, tanpa perlu menjadi Korea Utara yang membatasi internet dan jejaring networking seperti hantu gentayangan yang meruntuhkan kewibawaan pemimpin dan simbol-simbol negara.

Negara bisa bijak tanpa perlu huru-hara mencari biang berklaim makar, karena ketidak mampuan mencari formula tepat. Sebab negara tahu, bahwa memuliakan sisi-sisi kemanusiaan rakyatnya, adalah cara tepat mengalahkan angkuhnya teknologi.

Berbicara langsung, menepuk pundak rakyat, menyediakan ruang-ruang berkumpul yang nyaman, membangun taman-taman kota, tak memaksakan desa menjadi kota, tak memaksakan yang instan, adalah sedikit dari banyak cara memuliakan manusia. Tak salah jika belajar pada kalimat bermakna Goenawan Mohammad, sastrawan bangsa ini; “Kita tak jadi bijaksana, bersih hati dan bahagia karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan "How to"...Kita harus terjun kadang hanyut, kadang berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam perbuatan, dalam merenung dan merasakan dalam laku. Ujian dan hasil ditentukan di sana.”

**


05 October 2016

Inafeed.com – Salah satu hewan nocturnal yang memiliki banyak keunikan yakni kelelawar. Binatang yang tidur di siang hari dan berkeliaran di malam hari ini dianggap punya cara tidur yang unik yakni dengan posisi badan terbalik dimana kaki bergantung di atas dan kepala di bawah.

Dan tahukah kamu , kenapa kelelawar tidur dengan cara terbalik ?
Ada beberapa alasan kelelawar memilih tidur dengan posisi terbalik atau menggantung. Cara tidur seperti ini menjadi keunikan tersendiri yang ada pada hewan bersayap unik ini.

Seperti yang dilansir dari viva.co.id, inilah dia beberapa alasan kenapa kelelawar tidur selalu terbalik.

Pertama, kelelawar tidur terbalik karena mereka menghindari predator. Seperti diketahui, kelelawar aktif di malam hari sehingga mereka tertidur di siang hari. Tidur di tempat yang tinggi membuat mereka tetap aman dari jangkauan predator hingga malam tiba.
Kedua, kelelawar menggantung saat tidur untuk memudahkan mereka memulai penerbangan. Posisi yang menggantung di tempat tinggi memungkinkan mereka lepas landas dengan lebih mudah.
Ketiga, kelelawar menghemat energi ketika mereka tidur terbalik. Mereka hanya perlu terbang ke posisi bertengger yang diinginkan, kemudian membuka cakarnya dan menemukan permukaan yang dapat digenggam.

Dan salah satu faktor utama kenapa kelelawar tidur dengan cara terbalik ini juga dipengaruhi oleh berat tubuh bagian atas yNG akan menarik tendon yang terhubung dengan cakar ke bawah, dan menyebabkan cakar mengepal serta menggenggam tempatnya bertengger. Dengan cara itu, kelelawar tak perlu melakukan usaha apa pun untuk tergantung terbalik.

Sementara itu , cakar yang terus tertutup itu akan tetap membuat sang kelelawar tetap bertengger bahkan ketika ia mati.

Unik ya….

29 September 2016

Ini tulisan yang saya copas langsung dari sini...entah siapa penulisanya, tapi amat menarik untuk di share pada kita semua, kisahnya memilukan dan cukup menarik, seperti berikut ini; ...Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana.

Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji Hanibal Lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.

Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.

Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat anak-anak.

Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?

Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia tujuh tahun.Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang ‘keamanan’ yang begitu tinggi.

Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya.

“Siapa yang bunuh ayah saya!” teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.

“Gue terus kenapa?” ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.

Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.

“Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!” ujar kepala lapas yang ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.

Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara.

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat lho waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung udara panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras.

Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar penjara ke dua kalinya.

Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpan di dalam kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. 

Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruang ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan Tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Arif.

Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah.Pelarian-pelariannya didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil Omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, pulang!

Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.
"Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif", Tulisnya singkat.

Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, kebijakan bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini.Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain.

Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya keadilan di negeri ini!
(copas)

28 September 2016

Mengutip langsung dari Situshiburan.com – Selama puluhan tahun Indonesia dijajah oleh negara lain, seperti Belanda dan Inggris. Di dunia ini ada banyak negara yang dikatakan sudah pernah dijajah oleh negara lain. Namun, itu hanya sebagian besar saja.

Nyatanya ada beberapa negara yang diketahui tidak pernah dijajah oleh negara lain, seperti ke sepuluh negara dibawah ini yang katanya tidak pernah dijajah oleh negara lain.

Mau tau apa saja ? Yuk, langsung saja kita simak ulasannya yang berikut ini, seperti dilansir Kumpulanmisteri.com.

1. Arab Saudi
Negara Arab Saudi adalah negara pusat awal perkembangan agama islam. Di Arab Saudi ini Nabi Muhammad SAW dilahirkan dan dibesarkan. Negara ini dikatakan tidak pernah dijajah oleh negara lain hingga saat ini.

2. Islandia
Awalnya Islandia adalah negara yang tidak memiliki penduduk. Namun, pada awal abad ke-9 M datanglah sekumpulan pendeta asal Irlandia yang menempati wilayah tersebut. Kemudian disusul oleh bangsa viking dan pada tahun 930-an M, negara ini membuat sebuah konstitusi mereka yang disebut althing, yaitu sebuah parlemen yang berpusat di kota ├×ingvellir.  Negara ini juga termasuk negara yang tidak pernah dijajah oleh bangsa lain.

3. Swedia
Negara Swedia juga merupakan salah satu negara yang tidak pernah dijajah oleh negara lain. Negara Swedia ini menggunakan sistem Kerajaan dalam pemerintahannya. Sebuah Negara Nordik di Skandinavia ini ber-ibu kota di Stockholm.

4. Denmark
Denmark adalah negara  yang sangat kecil dan terpencil di dunia. Namun, meskipu kecil negara ini termasuk negara yang tidak pernah dijajah oleh negara lain. Sistem pemerintahan yang digunakan Negara Denmark adalah Monarki Konstitusional dan Parlementer, yang ibu Kotanya berpusat di Kopenhagen .

5. Norwegia
Norwegia adalah negara yang berbatasan dengan Finlandia, Rusia, dan Swedia. Negara ini memiliki pantai di Samudra Atlantik Utara yang sangat terkenal.  Norwegia juga termasuk negara yang tidak pernah dijajah sepanjang sejarah.

6. Turki
Istanbul adalah Ibu Kota negara Turki. Negara Turki terbentuk dari sebuah pergerakan perlawanan terhadap Kekaisaran Byzantium saat pertempuran yang dinamakan Manzikert. Yang kemudian pada abad ke 11 bangsa Turki berpindah tempat ke negara Turki.

7. Nepal
Dalam sejarah menyebutkan bahwa negara Nepal adalah negara yang tidak pernah dijaha oleh negara lain di dunia. Negara yang berdiri pada 21 Desember 1768 ini menganut sistem Kerajaan dalam pemerintahannya. Raja pertamanya adalah Prithvi Narayan Shah.

8. ThailandSatu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara  yang tidak pernah dijajah oleh negara lain di dunia adalah negara Thailand. Negara ini dulunya tidak subur dan sangat miskin sehingga para penjajah tidak menemukan kekayaan di negara ini sehingga tidak adanya keuntungan yang didapat jika menjajah negara ini.

9. EthiopiaEthiopia adalah salah satu Negara di Afrika yang tidak pernah merasakan kejamnya penjajahan oleh Bangsa lain di dunia. Negara ini merupakan negara dengan populasi terbesar ke-2 di Afrika. Ibu Kotanya adalah Addis Ababad.

10. Yunani
Yunani terkenal sebagai negara yang terdapat banyak dewa-dewa dan tokoh dunianya. Ibu kota negara Yunani adalah Athena. Negara ini juga tidak pernah dijajah oleh negara lain di dunia.

Itulah dia ke sepuluh negara yang tidak pernah dijajah oleh negara lain di sepanjang sejarah.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sumber resmi : http://inafeed.com/3054/10-negara-ini-ternyata-gak-pernah-dijajah-oleh-bangsa-lain/

 

27 September 2016

MASIH seputar ‘Siapa setelah JK’, tulisan sederhana yang terposting sebelumnya di blog ini. Bagi banyak orang, khususnya manusia Sulawesi Selatan tentu mendamba hadirnya zoon politicon – makluk politik - etnis Bugis-Makassar penerus kepiawaian Pak Jusuf Kalla (JK) di pusaran kuasa nasional, kendati mungkin itu hanya mimpi-mimpi indah. Sebab JK sosok Bugis-Makassar yang punya segalanya dalam konstruksi politik manusia Indonesia. Ia seorang hartawan, cendekiawan, organisatoris, piawai, saleh, berjejaring, dan terkesan Jawanisme dalam bertindak, tunduk tapi bisa menanduk.

Soal Jawanisme ini tak perlu tersinggung, sebab Indonesia sadar jika Jawa dalam perspektif orang Jawa adalah budaya adiluhung; unggul, besar, dan (sepertinya) patut di ikuti oleh siapa saja yang ingin bertahta di negeri ini. Seperti adigium zaman Orba, jika ingin berkuasa - jadilah seperti orang Jawa. Dalam perspektif teori normatif, menjadi orang Jawa dapat didefinisikan sebagai sosok yang ramah, santun, tidak meledak-ledak, bahkan kerap beraksen Jawa. Tak heran, mengapa di negeri ini kita mudah menemukan sosok non Jawa tetapi berlanggam Jawa. Itu afiliasi kehidupan, wajar terjadi, dan bukan persoalan penting untuk diperdebatkan.

Namun begitu, JK tentu bukan Jawanisme murni, ia berlanggam layaknya manusia Bugis-Makassar pada umumnya, ia tampil ala-nya sendiri - tidak meniru-niru, bahkan kalimat-kalimatnya ber-ideologi bangsa Bugis; ceplas-ceplos tetapi terukur, sedikit keras tetapi kadang lembut. JK paham, di mana   posisinya sebagai atasan dan sebagai bawahan. Yang kadang ter-bully  oleh khalayak, adalah sikapnya yang dinilai kurang konsisten dalam menyikapi persoalan politik.  Seperti ketika ia mempersoalkan profil Jokowi yang dianggapnya belum layak sebagai presiden, namun belakangan ia menjadi pasangan ideal. Tak sedikit orang menganggapnya sebagai Brutus politik, kendati penulis membantah adigium ini, sebab demikianlah sebenar-benar filosofi ‘zoon politicon’ itu, menganut filsafat pragmatisme.

William James (1842-1990) meluruskan makna pragmatisme dengan filsafatnya yang mengatakan  pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai yang benar, dengan perantaraan yang akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu asal saja membawa akibat praktis, misalnya pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistik, semuanya bisa diterima sebagai kebenaran, dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat.

Jadi soal pragmatisme ‘zoon politicon’ JK, tentu tidak semata berkonotasi negatif dengan menggiring  pikiran, jika sesuatu itu haruslah selalu menguntungkan secara materi. Sebab pragmatisme juga memiliki kekuatan-kekuatan, salah satunya telah berhasil mendorong berfikir yag liberal, bebas dan selalu menyangsikan segala yang ada. Pragmatisme telah mampu mendorong dan memberi semangat pada seseorang untuk berlomba-lomba membuktikan suatu konsep lewat penelitian-penelitian, pembuktian-pembuktian dan eksperimen-eksperimen sehingga munculllah temuan-temuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan. Ini yang di pakai bangsa Amerika sejak awal abad 19. Tetapi maaf, tak hendak menggiring pikiran bahwa JK seorang Amerikanis, apalagi pragmatis.

Sebaliknya, hendak mengatakan jika JK adalah manusia Bugis-Makassar yang memiliki kadar ‘zoon politicon’ yang tinggi dan terbilang jenius. Sosoknya seolah menawarkan apa yang disebut sebagai ‘panopticon’ dalam konsep pendisiplinan tubuh yang pernah diutarakan Jeremy Bentham (1785) dan Michel Foucault (1975).

Panopticon pada awalnya adalah konsep bangunan penjara yang memungkinkan seorang pengawas untuk mengawasi (-opticon) semua (pan-) tahanan, tanpa tahanan itu bisa mengetahui apakah mereka sedang diamati. Karena itu, konsep Panopticon ini menyampaikan apa yang oleh seorang arsitek disebut ”sentimen kemahatahuan yang tidak terlihat”. Panopticon awalnya desain arsitektur, lalu kemudian dalam perkembangannya menjadi metafora bagi masyarakat “disiplin” modern dan kecenderungannya yang menyebar, untuk mengawasi dan menormalisasi. Atau bahasa sederhananya, panopticon adalah desain yang menjadi patron bagiamana seharusnya membangun  manusia yang disiplin. Karena konsepnya manusia politik, maka yang diharapkan adalah lahirnya manusia yang benar-benar disiplin dalam politik.

JK Panopticon, apa itu?

Konsepsi berpikir, bertindak, dan berpolitik yang diperankan sosok JK – sadar atau tidak, mengakui atau tidak, JK telah menawarkan bagi etnisnya, penerusnya, seperangkat cara untuk eksis di dunia politik nasional, khas Bugis-Makassar tentunya. Ini yang saya sebut sebagai ‘JK panopticonik’, atau desain pendisiplinan tubuh politik melalui tindak tanduk politik ala JK.

Serapan sementara yang bisa dipetik, bahwa melanggenggkan eksistensi politisi Bugis-Makassar di pentas-pentas kuasa nasional, telah dipertontonkan dalam kepiawaian JK. Ia seolah menyerap konsep kuasa ala Arung Palakka-Raja Bugis pesohor abad 16, yang selalu pandai berdiplomasi, pandai berdiaspora, dan berani tampil menghunus badik di biduk Phinisi melawan siapa saja yang akan menjajah negeri Bone di zamannya. JK juga seolah menyerap   sikap tanpa tedeng aling-aling ala Jenderal M.Jusuf, tampil apa adanya, dan selalu menarik orang-orang terbaik dari etnis apapun ia. Plus, menarik cara berpikir BJ. Habibie sebagai politis – cendekiawan, tapi JK dalam persoalan ekonomi makro dan mikro. Mungkin pembaca bisa meramunya dalam hal yang sederhana lagi.

Lalu siapa bisa memiliki , setidaknya mendekati ‘JK Panopticonik’ ini di zoon politicon Bugis-Makassar? Nurdin Halid-kah? Idrus Marham-kah? Jawabannya pasti beragam-setidaknya ada yang menjawab, masih jauh…!!.

Sahrul Yasin Limpo-kah (SYL)? Nurdin Abdullah-kah? Bisa jadi! Tapi penting untuk bertarung di arena-arena yang lebih menggelobal, jangan sampai ter-cap sebagai jago kandang. Sementara JK sudah mewanti-wanti, jika yang ‘naik kelas’ itu, adalah mereka yang punya cara menaklukkan pentas nasional selayaknya menaklukkan kampung halaman. Itu juga panopticonik-nya.

Banyak pihak menaruh harapan pada pemuda Erwin Aksa, putra pengusaha nasional Aksa Mahmud, juga ponakan JK. Tapi banyak candaan, jika Erwin masih lebih soft ketimbang SYL. Ada pula yang menaruh harapan pada Abraham Samad, mantan ketua KPK, tetapi belakangan meengabur entah ke mana. Sebenarnya Aksa Mahmud-lah, senior politik yang bisa sebagai pembanding politik JK – tapi waktunya se zaman, tak mungkin ada dua matahari dalam satu kubu politik. Apalagi adigium politik Bugis-Makassar seperti permainan sepak raga, bola bisa dilepas ketika hendak terlepas dari badan. Sepertinya masih harus menunggu waktu berbilang periode untuk mencari JK Panopticon itu. Setidaknya di Pilpres nanti, berharap benih terlahir seketika!
-------------------------------
Membasuh muka di Cikini dini hari, 27 September 2016




TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX