07 November 2012

Saya amat suka menilai Jakarta dari semua sudut mata, bukan sudut pandang seperti para cerdik pandai yang melihat Jakarta sebagai sebuah keruwetan dan penuh masalah. Karenanya saya ingin mengatakan, jika kini saya tengah membelai Jakarta. Membelainya seperti gadis manis yang terimpikan para jejaka. Membelainya seperti saat bertemu istri yang telah lama kutinggalkan. Dan membelainya seperti mentari yang turun di cakrawala menanti sang rembulan yang tersenyum menanti malam.

Ya! sekali lagi, kini saya telah membelai metropolitan ini dengan segala kesederhanaan saya. Membelai dengan susuran mata memandang setiap sudut ibukota, sudut politiknya, sudut sosialnya, wanitanya, bahkan setiap jengkal aktivitas manusianya yang hilir mudik entah kemana tujuannya. Saya membelainya, karena Jakarta telah membuat saya bangga bahwa kota ini telah mengajarkan sejuta makna yang belum tentu saya peroleh ketika saya hanya berhadapan dengan orang sebaya yang hanya bermain dalam tuturan kata belaka…saya bangga sebab Jakarta telah banyak mengajarkan saya ‘ilmu kesederhanaan’ di balik banyak manusia-manusia yang bertopeng dengan kepongahan dan gaya hidup yang dipaksakan.

“Bang, masih naik Vespa? Tidak layaklah, ini Jakarta!” begitu seorang kawan kampus yang mengingatkan posisi saya di sebuah organisasi massa. Saya sebenarnya terkejut, sebab saya tak menyangka jika teguran kawan itu di alih-persepsikan kepada status sosial saya saat ini. Saya juga berfikir panjang, mengapa Jakarta selalu saja memikirkan orang lain dengan ‘gaya hidup’, dengan ‘status kendaraan’, dengan ‘status apartemen’, dengan status ‘wanita cantik’? tapi saya menjawabnya dengan kata belaian ala saya, “Jangan pernah risih dan malu untuk sebuah kesederhanaan dan hal-hal sederhana”.

Sebenarnya saya juga ingin seperti mereka yang punya status ‘highclass’, yang bisa membelai apa yang diimpikannya. Tetapi jangan pernah memaksakan diri untuk mengubah sebuah kesederhanaan menjadi ‘gaya hidup’ yang dipaksakan. Saya hanya berfikir, bahwa kehidupan Jakarta akan terasa nyaman, jika kita merasa nyaman dengan apa yang ada dalam pikiran dan kemampuan kita. Bukan yang ada dalam pikiran orang lain yang selalu memandang bahwa kehidupan itu seperti belantara gedung-gedung ibukota yang menawarkan belaian semu, yang menawarkan pesona malam hanya dengan kerlap-kerlip cahaya yang mempesona, namun tatkala siang menjelang ia meredup dan terlihat seperti noktah yang tak punya makna. Sebab ia tak lagi punya cahaya yang bisa mempesona siapa yang melihatnya…

Bagi saya, kini Jakarta menjelma sebagai guru kehidupan yang mengajarkan banyak dimensi ruang dan waktu, yang bisa bermakna jika kita bisa memetik apa yang ada di dalamnya. Mungkin karena itu, saya amat terlena dalam kehidupan metropolitan ini dan harus egois dengan sayatan rindu istri dan anak-anak yang kutinggalkan di daerah. Tetapi saya masih percaya, bahwa Jakarta adalah sumber ‘kesederhanaan’ yang terus menjiwa dalam pikiran-pikiran sederhana saya. Karenanya saya masih ingin membelai Jakarta dengan segala kesederhanaan saya, tanpa harus dengki dengan kemewahan yang dimiliki orang lain.

Seorang karib mengingatkan. “Jangan paksakan diri jika itu hanya menyiksa Anda!”.
Terima Kasih! Ternyata masih ada yang berfikir seperti saya. (**)

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX