07 June 2013


BANYAK yang bertanya, bagaimana Anda bisa melanjutkan pendidikan doktoral, sementara Anda tak memiliki sepeser rupiah pun untuk memulai pendidikan itu? Apakah modal Anda hanya kenekatan? Ataukah Anda memang dibiayai oleh Pemerintah daerah sebagaimana banyak PNS yang mendapat fasilitas tugas belajar?

Saya ingin menjawab pertanyaan terakhir terlebih dahulu, bahwa meski saya seorang PNS sejak kuliah magister hingga masuk jenjang doktoral saat ini, saya memang diberi fasilitas ‘tugas belajar’ dengan catatan tidak mendapat porsi penganggaran. Saya setuju, dan berangkat ke Jakarta bermodal sehelai surat keputusan yang memberi tugas menempuh pendidikan. Urusan pembiayaan adalah resiko pribadi sebagai calon mahasiswa.

No Problem! Saya tak perlu bertanya kesana-kemari, tak perlu mendebat bahwa setiap tugas belajar dikeluarkan maka konskuensinya adalah penganggaran. Sebab pilihan sekolah adalah kemauan sendiri, bukan keinginan institusi tempat bekerja. Yang pasti saya merasa nyaman dengan surat keputusan itu, setidaknya legalitas terjamin.

Buktinya, saya bisa menyelesaikan pendidikan magister tanpa merasa terbebani biaya yang berlebihan. Malah sebaliknya, ada saja jalan kemudahan yang diberikan Sang Pencipta untuk memuluskan pendidikan itu,  entah dapat ‘job-job’ kecil sebagai penulis atau kegiatan lainnya. Bahkan saat wisuda dapat bonus dari kampus berupa sejumlah materi yang membuat saya bisa memiliki fasilitas kendaraan yang bisa terpakai selama di ibukota.  Benar kata banyak orang, ketika Anda benar-benar ingin kuliah maka ada saja jalan kemudahan diberikan oleh-Nya.

Bermodal sugesti itu, saya kembali mencoba nyali untuk melanjutkan pendidikan doktoral, jenjang akademik terakhir dari sebuah pendidikan formal. Lagi-lagi tak memiliki sepeser uang sekiranya saya diterima sebagai mahasiswa S3. Hanya bermodal biaya mendaftar sebesar Rp 1 juta untuk masuk Universitas Indonesia(UI). Tetapi saya belum beruntung, dalam ujian terakhir saya dinyatakan belum lulus. Tentu  kecewa, sebab banyak harapan besar yang saya gantungkan ketika kuliah di kampus ini.

Tidak lulus S3-UI saya tak kehilangan semangat. Maka pilihan terakhir adalah Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta.  Konsentrasi dan pilihan jurusan sama, Doktoral Ilmu Komunikasi, minat yang paling amat saya gandrungi sejak magister.  Alhamdulilah, pada uji proposal dan wawancara, saya dinyatakan diterima. Saya bersyukur, tetapi kegelisahan mulai menghantui, sebab lagi-lagi  ‘ngos-ngosan’ soal dana. Sisa uang tabungan Rp 1 juta juga telah habis di pendaftaran. Bahkan untuk makan sehari-hari, baru kali ini meminta bantuan gaji dari istri, sesuatu yang saya tabukan ketika meninggalkan mereka ke Jakarta. Bagi saya gaji di PNS adalah hak mereka yang tak boleh saya ganggu gugat lagi. Soal hidup di Jakarta, serahkan pada Sang Pengatur alam ini. Begitu keyakinan itu, meski harus runtuh  justru di awal-awal saya memasuki pendidikan S-3 ini.

Saya tak paham, apakah ini keberuntungan, hikmah atau ujian? Disaat deadline pembayaran awal S3 dengan kebutuhan Rp 25 juta saya benar-benar ‘kosong’. Ada beberapa beban yang mengganjal di pikiran. Bagaimana cara mendapatkan uang sebesar itu? Meminjamkah? Atau menggadai SK di bank? Saya benar-benar terjepit, sebab tak hanya pembayaran 25 juta itu, tetapi biaya kos bulanan juga segera berakhir, itu artinya penganggaran bertambah lagi. Dessh, rasanya tak mungkin menturutkan keinginan lanjut S3 itu. Ada sekelumit keputus-asaan menyelimuti.

Namun saya selalu percaya, bahwa Tuhan akan selalu memberikan rezeki tak terduga bagi mereka yang punya keinginan kuat untuk berhikmah di dunia pendidikan. Saya selalu punya keyakinan bahwa akan selalu ada jalan sepanjang seseorang terus memelihara ‘nyali’ hidupnya.

Mungkin karena kuatnya keyakinan itu, Sang Pencipta menggerakan hati seorang kawan dan penuh keikhlasan untuk membantu. Tanpa banyak tanya, ia kemudian membayarkan uang senilai  Rp 25,5 juta itu. Rasanya tak percaya, bahkan pipipun saya tepuk untuk membuktikan ini mimpi atau bukan. Saya takut jika ini hanya mimpi di siang bolong kehidupan saya. Subhanallah. Ini benar-benar nyata. Saya hanya bingung bagaimana membalasnya. Sebab kawan itu tak menyebutnya sebagai utang-piutang, tak menyebutnya sebagai balas-jasa, beliau hanya berkata; “ini rezeki Allah yang sementara tertitip pada saya, maka gunakanlah sesuai apa yang menjadi kebutuhan saudara, semoga berkah”.

Apakah kawan itu seorang malaikat dalam pendidikan saya? Rasanya berlebihan, sebab ia hanya manusia biasa. Saya hanya merasakan dan diberi pembuktian dari Sang Pencipta, bahwa disekeliling kita masih banyak orang baik, jika kita selalu punya keyakinan kuat akan sesuatu dan selalu berpikir positif terhadap keberadaan orang lain. Alhamdulilah.

Namun saya masih punya pertanyaan? Apakah peristiwa ini adalah keberuntungan, hikmah atau ujian bagi saya? Wallahu alam bissawab. Hanya sebait kata yang selalu tersimpan dihati tanpa perlu saya ucapkan berkali-kali. Syukur!

                                                                                 **




Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX