14 June 2010

Raymond Lesmana. Nama ini mungkin tidak setenar para selebriti atau politisi Indonesia. Raymond hanya sosok lelaki paroh baya yang menghabiskan hidupnya di belantara samudera. Bukan hanya sebagai pelaut yang ulung, dia juga seorang seniman fotografi berkelas. Dikenal oleh banyak Bupati dan Walikota di Indonesia, serta sejumlah pejabat tinggi negara di level kementrian. Biasanya, kalau Raymond berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia, disambut bak pejabat negara, begitu diagungkan. Tapi siapa sangka dibalik kebesarannya, Raymon seorang yang sangat bersahaja.

Posisinya sebagai Ketua Umum Yayasan Cinta Bahari Indonesia, yang beberapa kali sukses menggelar Sail Indonesia, rute Jakarta-Darwin, publik mengiranya sebagai seorang kaya raya. “Itu yang saya tidak senangi dalam hidup ini, orang mengasumsikan saya dengan simbol-simbol kekayaan duniawi, padahal seperti ini adanya,” ujar Raymond di kos-kosannya di Kawasan Meruya Jakarta Barat Ahad ini (6/6).

Lelaki berambut putih dan berkulit legam ini, kelahiran tahun 1954, seorang Nasrani berdarah Banten. Hidupnya banyak dipertaruhkan dengan laut, panorama alam, hingga jepretan blitz kamera dan juga kesederhanaan. Sederhana? Benar! Raymond hanya tinggal di sebuah kos kumuh yang ukurannya tidak begitu luas. Dengan lantai tak berkeramik, berplafon apa adanya dan bergaul dengan warga jelata Jakarta.

Meski berkeluarga, namun sang Istri, Ibu Cokorda lebih memilih hidup di Bali. Tetap rukun meski berjauhan. “Kalau saya mau ketemu istri, saya ke Bali, ibu jarang sekali kesini, beliau tidak terlalu suka kehidupan Jakarta, makanya untuk mengisi kesepian, saya selesaikan kerjaan dari beberapa daerah di Indonesia, kalau tidak ada, saya banyak bercanda dengan tetangga dan juga para abang becak dan odong-odong di sekitar sini” katanya seraya menunjukkan sebuah foto berbingkai milik sang istri di ruang kerjanya.

Kesederhanaan seorang Raymon tidak hanya digambarkan dari kebiasaannya tinggal di rumah kos, tapi ia tunjukkan dengan harmonisasinya dengan warga setempat. Di teras rumah kosnya yang sempit, ada dua kursi kecil nan reyot, dan diatas meja selalu tersedia teh dan kopi dalam sebuah poci seukuran sedang. Ketika minuman teh dan kopi itu habis, maka ia selalu mengisinya. “Kalo saya tidak di rumah, saya minta tetangga mengisinya. Intinya, teh dan kopi harus selalu ada, tidak boleh kosong. Siapa saja yang kebetulan lewat, dan pingin minum silahkan, ambil saja, gratis kok. Saya hanya butuh kekerabatan, Siapa saja yang care, itulah sahabat dan keluarga saya,”katanya berphilosofi..

Kebiasaannya menyediakan teh-kopi gratis di teras rumahnya terinspirasi, ketika melakukan pemotretan di salah satu kawasan hutan di Ende, Nusa Tenggara Timur. Katanya, dalam hutan Ende dia sempat tersesat, dan kerongkongannya begitu kering. Raymond butuh cairan yang bisa melepas dahaganya. Saat berpikir bagaimana mendapat air sembari bisa keluar dari kawasan hutan itu, Raymon melihat satu pondok kecil tak berpenghuni. Matanya jalang memandang kiri-kanan, dan tertuju pada sebuah poci lengkap dengan gelas-gelas berisi minuman yang menyegarkan. “Puji Tuhan, inilah mujizat yang harus saya balas kepada siapapun,” ujarnya mengenang sejarah pahit itu.

Hampir lupa. Raymond Lesmana pernah kuliah di Universitas Trisakti Jakarta tahun 1980-an, kemudian melanjutkan pendidikannya di Amerika. Di Negeri Paman Obama itu, ia menggeluti ilmu logika komputer, jurusan yang sangat langka, dan kembali ke Indonesia pada titik nadir lagi. “Apa sih yang saya cari, saya harus kembali menjadi orang Indonesia yang ramah, dan berkumpul dengan orang kebanyakan, dan saya membuktikannya” ujarnya.

Meski hidup di rumah kos dengan tampilan depan yang sangat kumuh, dan interior ruang yang sangat sempit. Tapi Raymon menatanya menjadi ‘surga’ bagi diri dan orang lain yang bertamu. “Karena ini kos ini menjadi tempat istrahat dan bekerja, interior kos-kosannya harus di desain sedemikian rupa. Sehingga nyaman untuk bekerja, kalau bisa menjadi surga bagi kita,” katanya.

Memang didalam rumahnya terdapat dua buah komputer dan satu layar TV, semuanya didesain sedemikian rupa, dengan pajangan foto dimana-mana. Bak studi foto yang anggun. Sehingga membangkitkan semangat kerja. “saya beri juga satu boks AC, agar lebih nyaman. Tapi tak usah sungkan, siapa saja boleh main disini,” sergahnya.

Sembari menikmati beberapa fasilitas dalam rumah itu, Raymond mengajarkan kepada saya tentang hakikat hidup. Sederhana tetapi tak bisa disederhanakan. Itulah Raymond, sosok yang cukup dikenal bagi para petarung samudera di negeri ini. Sosok manusia pelaut Indonesia yang cukup dikenal publik internasional. Sosok naturalis yang banyak dikenal pejabat, tapi jarang dikenal publik nusantara, karena jarang muncul di TV-TV nasional. “Satu lagi Mas, kalau Anda sudah hidup miskin di Jakarta, maka kos ini siap menampung bakat Anda, bersiaplah mewarisi kehidupan sederhana ini, sebab sederhana itu Surga Mas..” katanya kepadaku

Raymond...manusia petualang samudera...manusia berpendidikan internasional..manusia tua yang sadar dengan kehidupan, manusia yang layak menjadi inspirasi bagi kehidupan para tokoh nasional.

Adakah kritik yang dilontarkannya kepada Pemerintah RI? “Waduh, saya bukan pejabat, saya hanya mau bilang, buktikan kepada saya, apakah sudah ada program pemerintah di sektor kelautan yang benar-benar telah membuat seorang nelayan menjadi sejahtera? Berikan contoh pada saya, meski seorang nelayan saja! “ imbuhnya.

Jakarta, 6 Juni 2010


Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX