16 July 2010


“TIPE-TIPE ILMU PENGETAHUAN DALAM KHASANAH ILMU KOMUNIKASI”

a.       Scientific Scholarship (Ilmu Pengetahuan Ilmiah)

Menurut Littlejhon dan Foss, Ilmu pengetahuan seringkali dihubungkan dengan objektifitas, standarisasi dan generalisasi.[1]  Para ilmuwan melihat dunia dengan cara yang sama dengan pengamat-pengamat lainnya, yakni  berlatih dengan cara yang sama, menggunakan methoda yang sama, sehingga akan melihat hal yang sama pula.
                Replikasi sebuah penelitian akan memberikan hasil-hasil yang identik. Standarisasi dan replika hal yang terpenting dalam ilmu pengetahuan, karena para ilmuwan menganggap dunia memiliki bentuk yang dapat diamati dan gambaran tugas mereka adalah ketika menemukan keadaan dunia seperti saat ini. Dunia menunggu penemuan, dan tujuan ilmu pengetahuan adalah mengamati serta menjelaskan dunia seakurat mungkin.
                Karena tidak ada cara yang mutlak untuk mengetahui seberapa akurat pengamatan tersebut. Para ilmuwan harus bergantung pada  diantara para pengamat. Jika semua pengamat terlatih menggunakan methoda yang sama dan memberikan hasil yang sama pula, maka objeknya dianggap telah benar-benar diamati. Karena tekanan pada penemuan dunia yang dapat dikenal. Metode-metode ilmiah biasanya sangat sesuai dengan masalah-masalah keadaan alam.
                Dalam fokusnya pada standarisasi dan objektifitas, ilmu pengetahuan kadang terlihat bebas nilai. Namun, apa yang terlihat ini dapat saja menipu realitas, karena ilmu pengetahuan didasarkan pada banyak nilai-nilai implisit. Ilmu Humanis merupakan sebuah tradisi yang mengakui posisi nilai-nilai dalam penelitian yang lebih bebas.

b.            Ilmu Pengetahuan Humanis (Humanistic Scholarship)
Ilmu pengetahuan dihubungkan dengan objektifitas, sebaliknya kemanusiaan dihubungan dengan subjektifitas. Ilmu pengetahuan bertujuan untuk membuat standarisasi pengamatan; kemanusiaan mencari interpretasi kreatif.
James A. Diefenback mengatakan; Jika tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk mengurangi perbedaan-perbedaan, kemanusiaan terhadap apa yang diamati, maka kemanusiaan memiliki tujuan untuk memahami respon subjektif individu.[2]  Sebagian besar penganut paham humanisme lebih tertarik pada kasus-kasus individu dari pada teori-teori yang dihasilkan.
Ilmu pengetahuan berfokus pada dunia yang ditemukan, sedangkan kemanusiaan focus dalam menemukan seseorang. Ilmu pengetahuan mencari persetujuan umum, sedangkan kemanusiaan mencari intrepretasi- intrepretasi pengganti. Penganut paham humanisme seringkali curiga pada pernyataan bahwa ada dunia yang abadi yang harus ditemukan.
Ilmu pengetahuan humanis lebih sesuai untuk masalah-masalah seni, pengalaman pribadi dan nilai-nilai. Meski begitu, perlu digaris bawahi bila Ilmu Pengetahuan dan kemanusiaan tidak terpisah jauh, sehingga keduanya tidak pernah seiring sejalan. Hampir semua program penelitian dan pmbentukan teori menyertakan beberapa aspek ilmu pengetahuan dan ilmu humanis. Kadang-kadang seorang ilmuwan adalah seorang humanis yang menggunakan intuisi, kreatifitas, interpretasi dan pemahaman untuk memahami data yang dikumpulkan atau melakukan penelitian dengan arah yang benar-benar baru.

c.       Ilmu Pengetahuan Ilmu-Sosial (Social Scholarship)
Sepertiga dari ilmu pengetahuan adalah ilmu pengetahuan sosial. Walapun banyak ilmuwan sosial yang melihat penelitian ini sebagai sebuah perluasan ilmu pengetahuan alam dalam penggunaan metode-metode yang dipinjam dari ilmu pengetahuan, namun ilmu pengetahuan social sebenarnya sebuah penelitian yang sangat berbeda.[3] Secara bertentangan, hal ini memasukkan elemen-elemen ilmu pengetahuan dan kemanusiaan tetapi berbeda dari keduanya.[4]
Dalam mengamati dan mengartikan pola-pola prilaku manusia, para akademisi ilmu pengetahuan sosial menjadikan manusia sebagai objek penelitian. Sebenarnya, jika pola prilaku manusia benar-benar ada, maka pengamatan harus seobjektif mungkin. Dengan kata lain, Ilmuwan sosial, seperti ilmuwan alam, harus menentukan persetujuan dengan dasar apa yang diamati.
Ketika fenomena behavioral diamati dengan seksama, mereka harus dijelaskan dan diinterpretasikan, dan disinilah bagian ilmu humanis itu masuk. Kegiatan menginterprestasikannya sangat rumit, karena fakta bahwa objek pengamatan--subjek manusia, merupakan objek yang aktif dan seperti diketahui, tidak seperti objek-objek lain di dunia.
Pertanyaannya, bisakah penjelasan-penjelasan “ilmiah” tentang prilaku manusia terjadi tanpa pertimbangan tentang pengetahuan “Humanis” dari seorang yang diamati?. Dimasa lalu, para ilmuwan sosial percaya bahwa metode-metode ilmiah sendiri, akan cukup untuk mengungkap misteri-misteri pengalaman manusia, tetapi saat ini, banyak yang menyadari bahwa diperlukan juga sebuah elemen humanis yang kuat.
Komunikasi melibatkan pemahaman tentang bagaimana orang-orang bersikap dalam menciptakan, menukar dan mengartikan pesan-pesan. Oleh karena itu, penelitian komunikasi menggunakan cakupan metode dari ilmiah hingga humanis. Tori-teorinya juga sangat berbeda menurut penggunaan elemen-elemen ilmiah, ilmu pengetahuan sosial atau humanis. (**)



Pengertian, Konsep dan Model Komunikasi
a.             Pengertian dan Konsep Ilmu/Teori Komunikasi
b.            Model-Model Komunikasi
--------------------------------------------------------------------
            Beberapa definisi tentang Komunikasi sebagai berikut [5]:

DEFINISI
SUMBER
“Komunikasi adalah semua prosedur dimana pikiran seseorang dapat  mempengaruhi orang lain”
W. Weaver, 1949
“Komunikasi berarti bahwa informasi disampaikan dari satu tempat ketempat yang lain”
Miller, 1951
“Dari gambaran nilai komunikasi, kejadian mungkin diamati melalui simbol, dibawah keadaan yang spesifik, oleh individu atau kelompok dengan menggunakan media yang diseleksi untuk mencapai tujuan
Babcock, 1952
“Komunikasi adalah suatu proses dimana individu (komunikator) menyampaikan pesan (verbal) untuk mengubah prilaku individu lain (audiens)”
Hovland, Janis & Kelley , 1953
“Komunikasi adalah suatu proses dimana kita mengerti orang lain dan kemudian berusaha untuk dimengerti oleh mereka. Ini dinamis, berubah secara konstant dan membagi respon untuk situasi yang total”
Andersen, 1959
“Komunikasi adalah suatu proses yang membuat kesamaan kepada dua atau beberapa orang yang telah dimonopoli oleh sesorang atau beberapa orang
Gode, 1959
“Komunikasi tidak merujuk ke verbal, eksplisit atau penyampaian pesan yang intens saja, konsep komunikasi akan mencakup semua proses tersebut dimana seseorang akan mempengaruhi orang lain”
Ruesch & Baterson, 1961
“Komunikasi diantara manusia adalah seni menyampaikan informasi, ide dan tingkah laku dari satu orang ke orang lain”
Emery, Ault & Agee, 1963
“Komunikasi adalah interaksi sosial melalui simbol dan sistem pesan”
Gerbner, 1966
“Intinya, komunikasi mempunyai pusat perhatian dalam situasi prilaku dimana sumber  menyampaikan pesan kepada penerima secara sadar untuk mempengaruhi prilaku
Miller, 1966
“Komunikasi manusia adalah mendapatkan respons melalui simbol-simbol pesan”
Dance, 1967
“Komunikasi adalah tingkah laku yang sudah terpola dengan referensi simbol”
Hawes, 1973

                Konsep Ilmu/Teori Komunikasi

Komunikasi sebagai bentuk keterampilan dapat menjelma sebagai ilmu melalui beberapa persyaratan tertentu, sebagaimana dikemukakan Poedjawijatma (1983), Hatta (1987) Suriasumantri (2001) dalam Vardiansyah (2005:8)[6], menyebutkan suatu ketereampilan menjadi ilmu ialah : Objektif, metodis, sistematis dan universal;
  1. OBJEKTIF : Bersifat ada dan teruji kebenarannya, bukan subjektifitas peneliti atau subjek penunjang penelitian.
  2. METODIS: yaitu menggunakan metoda tertentu yang disebut metode ilmiah. Maka pengetahuan yang didapat secara metodis merupakan syarat ilmu yang kedua.
  3. SISTEMATIS: yang berarti bersifat menyeluruh, terpadu, menjelaskan rangkaian sebab akibat. Merupakan syarat ilmu yang ketiga.
  4. UNIVERSAL: kebenaran yang hendak dicapai bukan yang tertentu, melainkan bersifat umum. Pengetahuan tentang yang khusus, yang tertentu saja tidak diinginkan.
Selanjutnya cirri ilmu dalam perspektif ilmu sosial kemudian berkembang  dengan mnggunakan metode yang berbeda dengan ilmu alam (elklaren) dan ilmu sosial (verstehen). Ciri tersebut yakni ;  Adanya rasionalitas,, dapat digeneralisai, dapat disistemisasi.
Setiap konsep atau prinsip ilmiah apapun dapat saja ditolak setelah dibuktikan kembali bahwa ia salah atau bahkan dipandang menipu. Cara pengujiannya, juga tidak seragam, bergantung pada ; positivisme, menggunakan uji verifikasi, atau falsifikasi, konstruktivisme, menggunakan uji valibilitas dan seterusnya.
Alfred Schultz mengajukan ciri ilmu Sosial yakni: Konsistensi Logis  (bersifat rasional, dapat digenaralisasi dan disistemisasi), Adanya Interpretasi Subjektif, dan Adequacy (kecukupan).

Model-Model Komunikasi
Teori sebagai pandangan sistemastis kerap dianggap sebagai peta dari kenyataan. Apa yang dipetakan merupakan gambaran samar dari kenyataan yang sebenarnya. Pada titik ini ‘kerap’ acap kali disamakan dengan ‘Model’. Untuk memperjelas keterkaitan antara dan model ini kita merujuk pada penjelasan Abraham Kaplan[7], dimana Kavlan membagi dalam dua jenis, yakni pertama berkaitan dengan bahasan tertentu, dan kedua bersifat umum, karena dapat diterapkan pada brbagai pokok bahasan. Teori kedua inilah Kavlan menyebutnya sebagai Model. Ia menyatakan bahwa “semua model adalah, tetapi tidak semua merupakan model. Sebagian model yang dibicarakan dan berkembang dalam Ilmu Komunikasi adalah;
1.              MODEL KOMUNIKASI LINEAR
Penerima Pesan
 
Saluran
 
Sumber Pesan
 
Pesan
 
Pada dasawarsa 1940, komunikasi umumnya dianggap sebagai suatu fungsi Linear. Seseorang mengomunikasikan pesan-pesannya melalui sebuah salurann kepada penerima, yang kemudian memberikan umpan balik kepada pengirim tersebut. (Gonzales, dalam Jahi. 1988:6)











Channel
 
Massagee
 
Sourche
 
effect
 
Resiver Pesan
 
Dikembangkan oleh : Claude Shannon dan Wharen Weaver (1949), kemudian berbagai variasi model linear dikembangkan oleh Harol Laswell yang mengatakan apa, melalui saluran apa dengan effek apa. (Who Says What to Whom in Wich Channel with What Effect).
2.            TEORI PELURU
Disebut sebagai teori peluru, karena pada saat model ini dominan komunikasi massa dikenal sebagai ‘peluru’ atau ‘jarum suntik’, media dianggap sangat perkasa (powerfull) dengan efek yang langsung, dan segera pada khalayak. Komunikastor menggunakan media massa  untuk menembaki khalayak dengan pesan-pesan persuasif yang tidak dapat mereka tahan.
                Contoh : Siaran radio Orson Welles ditahun 1938 tentang invasi mahluk dari Planet Mars menyebabkan ribuan orang menjadi panik di seluruh Amerika Serikat[8]. Meski demikian teori ini kehilangan dukungan para peneliti komunikasi. Ketika studi tidak berhasil membuktikan efek media massa tersebut.

3.            MODEL KOMUNIKASI SIRKULER
Titik pemusatan komunikasi konvergen (sirkuler) yang ada dalam defenisi komunikasi secara luas adalah bahwa komunikasi merupakan sebuah proses. Orientasinya adalah proses yang kompleks, berlajut(kontinue)dan tidak bisa berubah dengan sendirinya. Itulah yang menyebabkan komunikasi berkembang dari waktu ke waktu.
                David K. Berlo, dalam Miller (2001:5) adalah tokoh yang mempopulerkan gagasan ini. Ia mengatakan; “jika kita menerima konsep dari suatu proses, kita memandang bahwa peristiwa dan hubungan adalah suatu proses yang dinamis, terus menerus, berubah secara terus menerus, berlanjut. Ketika kita menyatakan komunikasi sebagai proses, maka berarti komunikasi itu tdk mempunyai suatu permulaan, suatu akhir. Suatu urutan peristiwa yang ditetapkan. Komunikasi tidaklah statis/diam/tetap, tetapi terus bergerak. Unsur-unsur di dalam suatu proses saling berhubungan; masing-masing memengaruhi satu sama lain”

ooooOOoooo

DAFTAR BUKU REFERENSI
  1. Teori Komunikasi, Stephen W.Littlejhon dan Karen A. Foss, edisi 9, Salemba Humanika, Jakarta,  2009
  2. Teori Komunikasi, Morissan dan Andy Cory Wardani, 2009
  3. Ilmu Komunikasi, Sebuah Pengantar. Deddy Mulyana, Rosda, Bandung 2009
  4. Filsafat Ilmu Komunikasi, Elvinaro Ardianto & Bambang Q-Aness, Rosda, Bandung, 2007

---------------------------------

I.          Genre Teori Komunikasi
c.             Teori Fungsional dan Struktural
d.            Teori Behavioral dan Cognitive
e.             Teori Kritis
f.              Teori Interpretif
g.            Teori Interaksi
i.      Teori-Teori Kontekstual dll.
 

Dalam perkembangannya, para ahli komunikasi telah melahirkan banyak teori. Namun diantara berbagai teori komunikasi itu, ternyata tidak ada teori yang persis sama menjelaskan komunikasi. Itu terjadi karena perbedaan perspektif.
                Stephen W. Little Jhon[9], membagi jenis (Genre) terori komunikasi ini yang oleh James Anderson (1966) disebutnya sebagai ‘wilayah teori konvensional’ (conventionalized theory of domain) masing-masing;
 

Teori Fungsional dan Struktural
                Teori struktural fungsional lebih menekankan pada akibat dari tindakan yang tidak disengaja (unintended consequences) dari pada hasil atau akibat yang disengaja. Kalangan strukturalis tidak percaya pada konsep-konsep seperti ‘subjektivitas’ dan ‘kesadaran’ serta berupaya mencari faktor-faktor yang berada diluar kontrol dan kesadaran diri orang yang terlibat. Karena alasan inilah, teori Struktural fungsional ini sering disebut sebagai anti humanis.
                Penganut teori ini lebih percaya pada kenyataan yang independen, menurut mereka pengetahuan ditemukan melalui pengamatan yang hati-hati. Namun demikian, meski paham strukturalisme dan fungsionalisme sering dianggap sebagai satu kesatuan, namun keduanya fokus perhatian keduanya berbeda[10]. Strukturalisme berakar pada ilmu linguistik sangat menekankan pada organisasi bahasa dan sistem sosial, sementara Fungionalisme berakar pada ilmu hayat yang menekankan cara berbagai sistem organisasi bekerja untuk mempertahankan diri.
                Gabungan dari keduanya, akan menghasilkan gambaran sebuah sistem sebagai sebuah struktur dari sejumlah variabel atau elemen yang memiliki hubungan fungsional.
                Tokoh-tokoh dalam teori ini masing-masing Emile Durkheim (1964)[11] dan Ferdinan de Saussure (1960)[12].
Teori Kognitif dan Tingkah Laku (Behavioral)

                                Jika teori struktural fungsional lebih memusatkan perhatian pada struktur sosial dan kebudayaan, maka teori kognitif dan tingkah laku cenderung memusatkan perhatiannya pada individu, dan karenanya, ilmu psykologi menjadi sumber utama teori ini. Menurut pendukung teori kognitif, psikologi tingkah laku memiliki perhatian pada stimuli (input) dan respon (output) yang terwujud dalam bentuk tingkah laku. Dengan demkian, teori ini mengakui hubungan kuat antara stimuli dan respon, namun teori ini lebih fokus pada terjadinya proses penyampaian informasi diantara keduanya[13].
                Teori ini juga memberikan perkiraan jenis-jenis pesan atau informasi yang berpengaruh pada bagaimana orang yang berpikir.

Teori Kritis
                               
Teori kritik atau critical theory merupakan sekumpulan gagasan yang disatukan oleh kepentingan bersama untuk memajukan atau meningkatkan kualitas komunikasi atau kualitas kehidupan manusia. Teori ini memberikan fokus perhatian pada isu-isu seputar ketidak-adilan dan penindasan yang terjadi pada masyarakat. Para penganut teori kritis tidak hanya meneliti atau mengamati, tetapi juga melancarkan kritik.
                Kebanyakan teori kritis ini memiliki dasar pada ajaran atau paham Marxisme.[14]. Salah satu cabang dalam teori ini disebut dengan aliran feminis(feminist scholarship), yang meneliti dan mempertanyakan pembagian pengalaman ke dalam kategori wanita (feminime) dan pria (masculine).
                Kebanyakan teori kritis memiliki orientasi struktural dan fungsional yang mempengaruhi kelas sosial dan hubungan gender dalam masyarakat. Teori ini juga mengakui pentingnya aspek budaya dan materi serta tindakan sehari-hari masyarakat yang memberikan pengaruh terhadap perubahan budaya.

Teori Interpretif

                Teori komunikasi yang masuk ke dalam kelompok teori ini mencoba menemukan makna dan tindakan dalam teks; mulai makna yang terdapat dalam dokumen tua hingga tingkah laku remaja. Teori ini juga menjelaskan proses dimana pemahaman (undestanding) terjadi.
                Tujuan dari interpretasi bukanlah untuk menemukan aturan-aturan yang mengatur peristiwa, namun untuk mengungkapkan bagaimana orang memahami pengalamannya sendiri.
                Para pendukung teori ini sangat mengandalkan pada subjektifitas atau keunggulan dari pengalaman masing-masing individu. Mereka biasanya menekankan pada bahasa sebagai pusat dari pengalaman, mempercayai bahwasanya bahasa menciptakan suatu dunia makna, dimana seseorang itu berada dan dimana seluruh pengalaman yang dilalui.

Teori Interaksi (Interakstionist Theorie)
               
                Teori ini memandang kehidupan sosial sagai sebuah proses interaksi. Dengan demikian, komunikasi merupakan bentuk interaksi. Komunikasi adalah kendaraan atau alat yang digunakan untuk bertingkah laku dan untuk memahami serta memberi makna terhadap sesuatu disekitar kita.
                Teori ini memandang struktur sosial sebagai produk, bukan penentu dalam interaksi. Struktur sosial tidak memungkinkan komunikasi untuk terjadi, namun komunikasi memungkinkan struktur sosial untuk terwujud.
                Fokus perhatian teori ini adalah bagaimana bahasa digunakan untuk membentuk struktur sosial dan bagaimana bahasa dan sistem simbol lainnya di produksi, dipelihara dan diubah selama penggunaannya.

TEORI KONTEKSTUAL KOMUNIKASI
                Cara lain untuk mengelompokkan atau melakukan klassifikasi terhadap berbagai teori komunikasi adalah menetukan level atau tingkatan komunikasi. Level komunikasi juga disebut Konteks Komunikasi. Disebut begitu, karena komunikasi terjadi dalam berbagai konteks, ruang dan situasi tertentu.
                Pembagian paling umum dari pengkallasifikasian teori komunikasi ini meliputi : Komunikasi interpersonal, kelompok, organisasi dan komunikasi massa.
               


Komunikasi interpersonal
 


Level Umum Komunikasi
 
komunikasi massa

 
Komunikasi organisasi
 
Komunikasi kelompok
 
                                                                                     











ooooOOoooo

DAFTAR BUKU REFERENSI
  1. Teori Komunikasi, Stephen W.Littlejhon dan Karen A. Foss, edisi 9, Salemba Humanika, Jakarta,  2009
  2. Teori Komunikasi, Morissan dan Andy Cory Wardani, 2009
  3. Ilmu Komunikasi, Sebuah Pengantar. Deddy Mulyana, Rosda, Bandung 2009
  4. Filsafat Ilmu Komunikasi, Elvinaro Ardianto & Bambang Q-Aness, Rosda, Bandung, 2007

---------------------------
I.          Jenis-Jenis Teori Komunikasi dan Konsekwensi Logisnya
h.            Teori Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal
i.              Teori Komunikasi Kelompok (small group)
j.              Teori Komunikasi Organisasi
k.            Teori Komunikasi Massa
l.              Teori Komunikasi Antar Budaya
 

1. TEORI KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI (PERSON)
Komunikasi antar pribadi  adalah komunikasi 2 orang atau lebih baik dalam masyarakat, organisasi bisnis atau non bisnis dengan media seperti telepon, handphone, face to face atau bahasa untuk mencapai tujuan.
Tujuan dari komunikasi pribadi adalah menumbuhkan simpati melalui sikap positif dari lubuk hati misalnya dengan menjadi sukarelawan, memberikan dukungan moriil, atau memberikan dana, obat, makanan, pakaian, atau bangunan kepada mereka yang membutuhkan; menyampaikan informasi; berbag pengalaman baik yang menyenangkan atau yang menyedihkan; menjalin kerja sama; menceritakan kekecewaan atau mencurahkan hati dalam rangka mendapat nasehat atau solusi; dan memotivasi dengan bentuk financial atau non financial.
Beberapa teori dalam teori Kmunikasi Antar Persona ini antara lain:
  1. Social Exchange Model (Model Pertukaran Sosial)
  2. Self Disclosure Model (Model Pengungkapan Diri)
  3. Social Penetration Model (Model Penetrasi Sosial)
  4. Transactional Analysis Theory (Teori Analisis Transaksional)
  5. Teori Kinesik

Konsekwensi logisnya : Mengasah kemampuan diri pribadi dan harmonisai antar personal dapat tercipta bila menguasai teori-teori dalam komunkasi personal ini.

2. TEORI KOMUNIKASI KELOMPOK

Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konferensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat
  1. Teori Psikodinamika dari Fungsi Kelompok
  2. Fundamental Interpersonal Relations Orientation (FIRO) Theory
  3. Model Fisher
  4. Teori Perkembangan Kelompok
  5. Model Chesebro, Cragan, dan McCullough

Konsekwensi logisnya : Mengasah kemampuan diri pribadi dalam berkelompok sebagai mahluk sosial yang tidak dapat dipisahkan dengan individu lainnya.

3. TEORI KOMUNIKASI ORGANISASI

            Teori ini terjadi dalam sebuah organisasi, baik formal maupun non formal, berlangsung dalam jaringan besar daripada komunikasi kelompok, oleh karenanya dapat disebut sebagai kelompok dari kelompok-kelompok. Komunikasi Organaisasi seringkali melibatkan juga komuniaksi diadik, komunikasi antarpribadi dan adakalanya komunikasi publik. Komunikasi formal adalah komunikasi menurut struktur organisasi, yaitu kebawah, keatas dan horisontal. Sedangkan komunikasi informal tidak bergantung pada struktur organisasi, seperti antar sejawat, juga selentingan dan gosip.[15]    

4.         TEORI KOMUNIKASI MASSA

Komunikasi Massa (Mass Communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (Surat Kabar, Majalah) atau elektronik (radio, televisi) yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar dibanyak tempat. Beberapa tori komunikasi yang masuk dalam domain komunikasi massa diantaranya;
  1. Teori Pengaruh Tradisi (The Effect Tradition)
  2. Teori Pengharapan Nilai (The Expectacy-Value Theory)
  3. Teori Ketergantungan (Dependency Theory)
  4. Teori Ko-orientasi
Konsekwensi Logisnya : meskipun khalayak ada kalanya menyampaikan pesan kepada lembaga (dalam bentuk saran-saran yang sering tertunda), proses komunikasinya masih didominasi oleh lembaga, karena lembagalah yang menentukan agendanya.[16]

5.                  TEORI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosioekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini.  Menurut Stewart L. Tubbs,komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan sosio ekonomi).Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.[17]
Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries. Misalnya; dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatap muka diantara orang-orang yang berbeda budayanya.
  Intercultural communication generally refers to face-to-face interaction among people of diverse culture.
Guo-Ming Chen dan William J. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka dalam menjalankan fungsinya sebagai kelompok.
Selanjutnya komunikasi antarbudaya itu dilakukan:
1)      Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satu konteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan;
2)    Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung daripersetujuan antarsubjek yang terlibat dalam komunikasi, sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi dalam proses pemberian makna yang sama;
3)     Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita;
4)    Menunjukkan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan pelbagai cara.
.
ooo000ooo

Sumber :
v           Teori Komunikasi; karangan S. Djuarsa Sendjadja
v           Teori Komunikasi, karangan Morissan dan Andy Corry Wardhany.
v           Komunikasi Antarpribadi; karangan Alo Liliweri.
v           wikipedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_antarbudaya


PARADIGMA ILMU KOMUNIKASI
  1. Paradigma Positivisme/Klasik
  2. Paradigma Post Positivisme
  3. Paradigma Kritikal/Paradigma Konstrutivisme
 

Paradigma
Istilah Paradigma berasal dari kata Yunani, paradeigma artinya memperagakan atau mendemonstrasikan. Istilah tersebut dipopulerkan oleh Thomas Kuhn[18] dalam bukunya berjudul The Structure of Scientific Revolutions. Dalam buku tersebut, Kuhn mendefinisikan sebuah paradigma ilmiah sebagai : Apa yang diamati serta  diamati dengan cermt, Jenis pertanyaan yang akan diajukan dan  dijelajah untuk mencari jawaban dalam kaitannya dengan subjek, bagaimana pertanyaan tersebut akan distruktur, dan bagaimana hasil kajian ilmiah akan  ditafsirkan.

a.      Paradigma Positivisme/Klasik
Paradigma Positivisme mendefenisikan komunikasi sebagai sebuah proses linear atau proses sebab akibat yang mencerminkan pengirim pesan (komunikator, encoder) untuk mengubah pengetahuan (sikap atau prilaku) penerima pesan (komunikasn, dekoder) yang pasif [19].
                Dalam sejarahnya, Positivisme paradigmanya menarik metode Ilmu Alam ke Ilmu sosial. Positivisme adalah aliran filsafat ilmu yang didasarkan atas keyakinan atau asumsi-asumsi dasar yakni (1) ontologi : realisme (2) Epistimologi : Dualisme (3) metodologi : eksperimental.
                Positif berarti “apa yang didasarkan fakta objektif”. Secara tegas yang “positif” berarti yang nyata, yang pasti, yang tepat, yang berguna, serta yang mengklaim memiliki keabsahan mutlak. Kebalikan dari yang positif adalah yang khayal, yang sia-sia, dan yang mengkalim memiliki kesahihan relatif. Perbedaan ini harus dibaca dalam kerangka biner, bahwa yang satu benar dan yang lainnya adalah salah [20].
                Doktrin pertama Positivisme adalah Kesatuan Ilmu. Doktrin ini menyatakan bahwa keabsahan ilmu harus disandarkan pada kesatuan metodik dan bahasa.

b.      Paradigma Post Positivisme
Pada tahun 1970/1980-an muncullah gugatan-gugatan mengenai kebenaran positivisme, pemikirannya dinamai Post Positivisme. Beberapa asumsi dasar post positivisme, pertama, fakta tidak bebas melainkan bermuatan teori. Kedua, falibilitas teori, Tidak satupun teori yang sepenuhnya dijelaskan dengan bukti-bukti empiris, bukti empiris memiliki kemungkinan untuk menunjukkan fakta anomali. Ketiga, fakta tidak bebas melainkan penuh dengan nilai. Meski demikian prinsip-prinsip Post Positivisme masih mengikti paradigma Positivisme.
Perspektif Post Positivisme membawa pengaruh yang besar pada ilmu sosial termasuk ilmu komunikasi. Melalui kritik yang mendasar terhadap positivisme yang realis, bebas nilai, dan memisahkan subjek dan objek penelitian., Post Postivisme memberikan model penelitian khas ilmu sosial. Manusia bukanlah benda yang ketika diteliti hanya menyajikan efek yang sama, manusia itu hidup dan dapat mengonstruksi tanggapan tertentu ketika diteliti. Maka keobjektifannya tidak bisa dapat ditemukan sejauh hubungan dengan teori yang digunakan.

c.       Paradigma Critical / Konstruktivisme

Konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme, bahasa tidak lagi dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan [21].
                Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta hubungan-hubungan sosialnya. Subjek memiliki kemampuan melakukan kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana.
                Komunikasi dipahami diatur dan dihidupkan oleh pernyataan-pernyataan yang bertujuan. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan pencapaian makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri sang pembicara. Oleh karena itu, analisis dapat dilakukan demi membongkar maksud dan makna-makna tertentu dari komunikasi.
                Bagi kaum konstruktivis, semesta adalah suatu konstruksi, artinya bahwa semesta bukan dimengerti sebagai semesta yang otonom, akan tetapi dikonstruksi secara sosial dan karenanya plural. Konstruktivimse menolak pengertian ilmu sebagai yang “terberi” dari objek pada subjek yang mengetahui. Unsur subjek dan objek sama-sama berperan dalam mengonstruksi ilmu pengetahuan. Dengan demikian, paradigma konstrukstivisme mencoba menjembatani dualisme objektivisme-subjektivisme dengan mengafirmasi peran subjek dan objek konstruksi ilmu pengetahuan[22].

-ooo000ooo-


DAFTAR BUKU REFERENSI
  1. Teori Komunikasi, Stephen W.Littlejhon dan Karen A. Foss, edisi 9, Salemba Humanika, Jakarta,  2009
  2. Teori Komunikasi, Morissan dan Andy Cory Wardani, 2009
  3. Ilmu Komunikasi, Sebuah Pengantar. Deddy Mulyana, Rosda, Bandung 2009
  4. Filsafat Ilmu Komunikasi, Elvinaro Ardianto & Bambang Q-Aness, Rosda, Bandung, 2007

========
PERSPEKTIF DAN TEORI KOMUNIKASI
  1. perspektif Sistem
  2. Perspektif Rules
  3. Perspektif Covering Laws


Perspektif adalah suatu kerangka konseptual, suatu perangkat asumsi, nilai atau gagasan yang mempengaruhi kita dan pada gilirannya mempengaruhi cara kita bertindak dalam suatu situasi (Fisher, 1990:86)[23].

Sejumlah teori komunikasi menggunakan metode dan logika penjelasan[24] yang terdiri dari empat perspektif yang mendasari pengembangan teori dalam ilmu komunikasi. Diantara perspektif itu adalah:

1. Perspektif System
Secara umum sistem mempunyai empat ciri:
a)     Sistem adalah suatu keseluruhan yang terdiri dari elemen- elemen yang masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri.
b)     Sistem berada secara tetap dalam lingkungan yang berubah.
c)     Sistem hadir sebagai reaksi atas lingkungan.
d)     Sistem merupakan koordinasi dari hirarki.
Ada banyak jenis sistem,tetapi yang sering terkait dengan teori komunikasi adalah sistem terbuka dan structural-functional. Sistem terbuka (open sistem) ditandai dengan: Unsur-unsur yang ada dalam sistem. Fungsi dari masing-masing sistem, Hubungan antara unsur dalam sistem,  Lingkungan sosial budaya di mana sistem berada.

2. Perspektif Rules

Pemikiran perspektif ini berdasarkan pada prinsip praktis bahwa manusia aktif memilih dan mengubah aturan-aturan yang menyangkut kehidupannya. Agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik individu-individu yang berinteraksi harus menggunakan aturan-aturan dalam menggunakan lambang-lambang.

Bukan hanya aturan mengenai lambang itu sendiri, tetapi juga harus ada aturan atau kesepakatan dalam hal giliran berbicara, bagaimana bersikap sopan santun atau sebaliknya, bagaimana harus menyapa, dan sebagainya, agar tidak terjadi konflik atau kekacauan.

Perspektif ini memiliki dua ciri utama:
a)     Aturan pada dasarnya merefleksikan fungsi-fungsi perilaku dan kognitif yang kompleks dari kehidupan manusia.
b)     Aturan menunjukan sifat-sifat dari keberaturan yang berbeda dari keberaturan sebab akibat. Para ahli penganut aliran evolusi mengemukakan bahwa dalam mengamati tingkah laku manusia, perspektif ini menunjuk tujuh kelompok di mana masing-masing mempunyai penekanan yang berbeda dalam pengamatannya.

Memfokuskan perhatiannya pada pengamatan tingkah laku sebagai aturan. mengamati tingkah laku yang menjadi kebiasaan. menitikberatkan perhatiannya pada aturan-aturan yang menentukan tingkah laku. mengamati aturan-aturan yang menyesuaikan diri dengan tingkah laku. memfokuskan pengamatannya pada aturan-aturan yang mengikuti tingkahlaku. mengikuti aturan-aturan yang menerapkan tingkah laku memfokuskan perhatiannya pada tingkah laku yang merefleksikan aturan.
Dalam konteks komunikasi antarpribadi, pemikiran perspektif ini menekankan bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil atau refleksi dari penerapan aturan yang disepakati bersama. Dalam hal ini ada empat proposisi yang diajukan:
a)     Tindakan-tindakan yang bersifat gabungan, kombinasi dan asosiasi merupakan ciri-ciri perilaku manusia.
b)     Tindakan-tindakan di atas disampaikan melalui pertukaran informasi simbolis.
c)     Penyampaian informasi simbolis menuntut adanya interaksi antarsumber, pesan, dan penerima yang sesuai dengan aturan komunikasi yang disepakati.
d)     Aturan-aturan komunikasi ini mencakup pola-pola umum dan khusus.


3. Perspektif Covering Laws

Pespektif ini berangkat dari prinsip sebab-akibat atau hubungan kausal. Rumusan umum dari prinsip ini antara lain dicerminkan dalam pernyataan hipotesis. Menurut Dray penjelasan Covering Law Theories didasarkan pada dua asas:
a)     Teori berisikan penjelasan yang berdasarkan pada keberlakuan umum/hukum umum.
b)     Penjelasan teori berdasarkan analisis keberaturan. Dalam Covering Law Theories terdapat tiga macam penjelasan:

Prinsip Covering Laws ini pada dasarnya memiliki keterbatasan:
a)     Keberlakuan prinsip universalitas bersifat relatif.
b)     Formula statistik Covering Law Theories sulit diterapkan dalam mengamatia tingkah laku manusia. Karena pada dasarnya tingkah laku manusia suka berubah dan sulit diterka.
c)     Manusia dalam kehidupannya juga terikat pada ikatan budaya tertentu. d. Kehidupan manusia penuh keragaman dan kompleks.
d)     Terlalu berdasar pada hitungan statistik yang belum tentu sesuai dengan realitas.

Sumber Bacaan:
  1. Teori Komunikasi oleh Littlejhon dan Fozz, edisi ke-2 tahun 2009
  2. Ilmu Komunikasi, Suatu pengantar, Deddy Mulyana, Rosda, Bandung 2009
  3. Fisafat Ilmu Komunikasi, Elvinaro Ardianto, dan Bambang Q Aness , Rosda 2007



[1] Steven W.Littlejhon dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi, edisi 9, Penerbit Salemba Humanika, 2009, hal. 11
[2] James A. Diefenback, A Celebrations of Subjektive Thought (Carbondale: Southern Illionis University Press, 1984) dalam Stephen W. Littlejhon, Teori Komunikasi, ibid.
[3] Sebagai contoh, lihat Charles R. Berger dan Steven H. Caffee, “The Study of Communication as a science” dalam Handbook of Communication Science, ed., Charles R. Berger dan Steven H Caffee (Newbury Park), CA Sage, 1987), dalam Stephen W. Littlejhon, Teori Komunikasi, edisi 9, Penerbit Salemba Humanika, 2009, hal. 13
[4] Pernyataan Robert T Craig, “Why Are There So Many Communication Therory?” dalam Stephen W. Littlejhon, Teori Komunikasi, ibid.

[5] Berbagai macam defenisi komunikasi bersumber dari Appendiks A of Dance & Larson, dalam Miller. 2002:   4-5 yang disadur kembali dalam buku Filsafat Ilmu Komunikasi, Elvinaro&Bambang.2007: 18-19
[6] Filsafat Ilmu Komunikasi, Elvinaro&Bambang.2007: 23
[7] Abraham Kaplan (June 11, 1918 - June 19, 1993) was an American philosopher, known best for being the first philosopher to systematically examine the behavioral sciences in his book "The Conduct of Inquiry" (1964). Sumber : Wikipedia.
[8] Cantril. 1940, seperti disitir Gonzales, dalam Jahi.1987.
[9] Theories of Human Communication, 2009
[10] Stephen W. Little Jhon, ibid
[11] David Émile Durkheim (15 April 1858 - 15 November 1917) dikenal sebagai salah satu pencetus sosiologi modern. Ia mendirikan fakultas sosiologi pertama di sebuah universitas Eropa pada 1895, dan menerbitkan salah satu jurnal pertama yang diabdikan kepada ilmu sosial, L'Année Sociologique pada 1896 (wikipedia)
[12] Ferdinand de Saussure (lahir di Jenewa, 26 November 1857 – meninggal di Vufflens-le-Château, 22 Februari 1913 pada umur 55 tahun) adalah linguis Swedia yang dipandang sebagai salah satu Bapak Linguistik Modern [1][2] dan semiotika. Karya utamanya, Cours de linguistique générale [3] diterbitkan pada tahun 1916, tiga tahun setelah kematiannya, oleh dua orang mantan muridnya, Charles Bally and Albert Sechehaye, berdasarkan catatan-catatan dari kuliah Saussure di Paris. Konsepnya yang paling terkenal adalah pembedaan tanda bahasa menjadi dua aspek, yaitu signifiant (yang memaknai) dan signifie (yang dimaknai). Dalam semiologi, Saussure berpendapat bahwa bahasa sebagai "suatu sistem tanda yang mewujudkan ide" dapat dibagi menjadi dua unsur: langue (bahasa), sistem abstrak yang dimiliki bersama oleh suatu masyarakat yang digunakan sebagai alat komunikasi, dan parole (ujaran), realisasi individual atas sistem bahasa.
[13] Teori Komunikasi, Morissan dan Andy Corry Wardhani, Ghalia Indonesia 2009:10
[14] Untuk pendalaman lebih lanjut mengenai teori kritis ini, lihat Mike R. Allen “critical and traditional scince. Implication for communications Research”, Western Journal of Communication, vol 57. 1993
[15] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi, sebuah pengatar, Rosda. Bandung 2009: 83
[16] Deddy Mulyana. Op cit. hal 84
[17] Wikipedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_antarbudaya
[18] Thomas Kuhn lahir di Cicinnati, Ohio pada tanggal 18 juli 1922. Kuhn lahir dari pasangan Samuel L, Kuhn seorang Insinyur industri dan Minette Stroock Kuhn. Dia mendapat gelar B.S di dalam ilmu fisika dari Hravard University pada tahun 1943 dan M.S. Pada tahun 1946. Khun belajar sebagai fisikawan namun baru menjadi pengajar setelah mendapatkan Ph.D dari Harvard pada tahun 1949. Tiga tahunnya dalam kebebasan akademik sebagai Harvard Junior Fellow sangat penting dalam perubahan perhatiannya dari ilmu fisika kepada sejarah(dan filsafat) ilmu.
[19] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi sebuah pengantar,Rosda Bandung. 2000:58.
[20] Elvinaro Ardianto & Bambang Q-Aness, filsafat ilmu komunikasi, Rosada, 2007 hal. 90-91.
[21] Elvinaro Ardianto & Bambang Q-Aness, filsafat ilmu komunikasi, Rosada, 2007 hal. 151.

[22] ibid
[23] Elvinaro Ardianto, Fisafat Ilmu Komunikasi, Rosda Bandung, 2007.h.75
[24] Littlejhon, teori komunikasi,edisi 9,2009

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX