18 July 2011


Saya begitu terkesima dengan pertanyaan tante Ulfa, seorang calon doktor ilmu kimia di sebuah perguruan tinggi ternama di Jogjakarta. Dia bertanya, “Nak, waktumu habis untuk mengisi blog dengan tulisan-tulisan, apa memang itu tugas seorang mahasiswa ilmu komunikasi? Kalau tidak, apa target yang ingin diraih dalam blog itu? Yakinkah, bahwa tulisan-tulisan itu kelak akan memberimu makna lebih dalam hidupmu?

Pertanyaan-pertanyaan itu bagai anak panah yang terlepas dari busurnya, menghujam bila tak punya jawaban yang tepat. Ada dua ’kata kunci’ dalam pertanyaan itu, yakni ’menulis’ dan ’blog’. Soal menulis, saya tak menjawabnya dengan mutiara kata Pramudya Ananta Toer, yang menyebut -setinggi langitpun kepintaran seseorang jika ia tak menulis, maka akan tenggelam oleh sejarah, sebab menulis adalah pekerjaan keabadian- Kenapa? Selain terlalu populis, saya meyakini tidak banyak orang yang bisa memenuhi ’kriteria’ Pramudya.

Jawaban sederhana menurut saya yang layak dijadikan jawaban, bahwa menulis itu sebenarnya bukanlah untuk menyampaikan  apa yang dapat kita ucapkan, melainkan mengutarakan apa yang sebenarnya tak mampu kita katakan. Itulah mungkin, mengapa dulu lahir yang namanya ’surat cinta’ sebagai luapan apresiasi dari banyaknya butiran kasih sayang, butiran kerinduan, dan butiran kehangatan, dimana satu kata mengandung banyak makna di dalamnya. Wajarlah kemudian bila sepucuk surat cinta itu tiba di tangan seseorang, seolah ia telah menggemgam sejuta kehidupannya. ”Maka menulislah, sebab tante akan menggemgam sejuta kehidupan itu” kataku pada tante Ulfa.

Lalu, ngeblog itu untuk apa? Saya menjawabnya dengan sebuah kalimat per-andai-an, “Ibarat langit, ngeblog itu birunya”. Langit adalah sebuah benda yang bagi saya hanyalah batas penglihatan manusia, yang melingkupi luasnya angkasa raya, dan warna biru adalah ungkapan betapa tinggi dan agungnya sebuah harapan itu. Mungkin ini pula jawaban mengapa kata ‘biru’ kadang melekat untuk mengibaratkan sebuah para bangsawan dengan sebutan ’darah biru’, sejenis ketika menyebut laut membiru sebagai petanda makna ‘sangat dalam’ atau langit biru sebagai petanda ‘sangat tinggi’.

Saya melengkapi jawaban pada tante Ulfa, bahwa menulis dan blog adalah dua hal yang saling bertatutan satu sama lain, blog tanpa tulisan ibarat rumah tak berpenghuni, blog yang pasif dengan tulisan, ibarat rumah yang penghuninya tertidur lelap. Sepi dan diam, kalaupun ada suara, hanyalah dengkur yang hanya dinikmati bagi yang tertidur, sementara yang lainnya berlalu begitu saja, tak ada interaksi.

Ngeblog, ibarat membangun perpustakaan

Bahkan lebih dari itu, ngeblog bukan sekedar perandaian langit dan warna biru itu. Ngeblog ibarat membangun perpustakaan di tengah perkampungan. Sangat diharapkan keberadaannya, seolah menjadi air pelepas dahaga di siang  bolong. Tentu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika membangunnya; yakni;

1. Menentukan Lokasi
Perpustakaan yang baik lokasinya tentu yang strategis, yang mudah dijangkau dan berada pada kawasan yang aman untuk dikunjungi. Blog juga seperti itu, tidak menyulitkan pengunjung ketika mengaksesnya, tidak lambat loading, serta aman, karena di dalamnya terdapat berbagai macam pengetahuan, serta layak dikunjungi semua kalangan, dari anak-anak  hingga orang dewasa.

2. Bangun dengan Konstruksi Kuat dan Desain Menarik
Perpustakaan yang baik bukan berarti terbangun dengan biaya yang mahal, seperti layaknya bangunan gedung mewah, yang penting kokoh dan kuat. Tentu dengan desain bangunan yang ’ciamik’, untuk menggairahkan orang mengunjunginya. Blog juga seperti itu, tidak harus membeli domain yang dapat menguras kantong, sebab di era kekinian cukup banyak fasilitas blog gratis yang dibangun dengan konstruksi kuat, aman dari spammer, serta punya ’nilai lebih’ bagi para penikmatnya. Anda pun di tuntut untuk mendesain sedemikian menariknya, sehingga pengunjung betah berlama-lama di blog Anda.

3. Siapkan Bilik Baca yang Beragam
Kita tentu telah mengetahui bila perpustakaan yang baik, memiliki bilik baca yang beragam, sehingga pengunjung bisa memilah dan memilih di mana ia harus membaca, jenis buku apa yang diinginkan. Demikian pula dengan blog, meski ’aneka jenis tulisan dan gambar’ hadir di dalamnya, namun selayaknya blog yang baik menyiapkan konten-konten yang di atur secara terpisah, sehingga pengunjung bisa memilah dan memilih tanpa harus mencari ’old posting’ . Bayangkan bila ada 1000 tulisan Anda dalam sebuah blog, tanpa ada pemilahan konten, maka biasanya pengunjung hanya menikmati ’halaman depan’ saja, padahal boleh jadi tulisan dan gambar Anda sebelumnya jauh lebih menarik di banding postingan halaman depan.

4. Lengkapi literatur secara berkala
Seorang pustakawan yang baik, secara berkala terus menambah literatur dan koleksi buku-buku terbaru atau bahan perpustakaan lainnya. Demikian pula blog, juga secara teratur sangat perlu pembaharuan isi, konten, postingan. Seperti yang saya ungkap sebelumnya bahwa menulis dan blog adalah dua hal yang saling bertatutan satu sama lain, blog tanpa tulisan ibarat rumah tak berpenghuni, blog yang pasif dengan tulisan, ibarat rumah yang penghuninya tertidur lelap. Sepi dan diam, kalaupun ada suara, hanyalah dengkur yang hanya dinikmati bagi yang tertidur, sementara yang lainnya berlalu begitu saja, tak ada interaksi.

5. Siapkan Taman
Pentingkah taman bagi perpustakaan? Tentu saja. Sebab kerap pengunjung merasa jenuh sehingga kadang taman perpustakaan di jadikan area bacaan yang lebih nyaman, terbuka dan untuk mendaptkan suasana baru. Di dunia blog, taman bisa di artikan sebagai game, atau aplikasi-aplikasi penghibur pengunjung lainnya. Sebab tak semua pengunjung blog adalah pembaca tulen, mereka yang berkunjung kadang juga seorang yang ingin sekedar  ingin melepas kepenatan dan bersantai ria. Maka game adalah pilihan mereka. Namun sebaiknya, game yang disiapkan dalam blog adalah game yang memiliki limit waktu terbatas, sehingga pengunjung tidak terjebak pada permainan game belaka.

6. Buat Tata Tertib
Di mana-mana, yang namanya perpustakaan pasti memiliki tata tertib. Gak boleh ribut, batas peminjaman buku dan lain sebagainya. Blog juga seperti itu, tata tertibnya tentu di buat oleh admin, yang dimaksudkan agar interaksi pengunjung di blog Anda tidak melakukan hal-hal yang kuran baik bagi pengunjung lainnya. Semisal; meninggalkan komentar yang bernuansa SARA, pornografi dan pornoaksi. Ini penting untuk membangun blog dan internet sehat bagi para pengunjung.

7. Siapkan Buku Tamu
Yang ini tidak perlu dijelaskan secara mendetail bagi Anda penikmat perpustakaan, sebab sedari SD hingga Perguruan Tinggi, perpustakaan selalu menyiapkannya. Tapi bagi para blogger, buku tamu menjadi amat penting untuk mengetahui sejauh mana respon pengunjung dengan blog Anda, tentu ada interaksi yang diharapkan dari kehadiran buku tamu itu. Di dunia blog, cukup banyak widget yang menyediakan konten ini. Bila tidak, ‘kolom komentar’ pada postingan Anda tentu adalah buku tamu bagi blog Anda.

———–

Hmmm…mungkin ini tulisan yang cukup panjang bagi Anda. Tetapi setidaknya saya  bisa menjawab pertanyaan tante Ulfa. Setidaknya tante telah menghayalkan langit itu dengan kebiruannya, membayangkan ’perpustakaan hati’ hadir dalam langit birunya.  Lalu apa akhir dari pertanyaan tante Ulfa?
”Nak, buatkan tante blog, segera!!”
“Banyak yang tante ingin tulis!!”
Wahh…??!!


Catatan dinihari, Jakarta 18 Juli 2011

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX