23 May 2014


Pilpres 2014 yang ‘head to head’ mempertemukan Pak Prabowo versus Jokowi begitu banyak menawarkan cerita-cerita hangat yang (mungkin) luput dari jangkauan media massa negeri ini. Setidaknya banyak pemerhati media merasa miris jika hal-hal humanis dari calon pemimpin bangsa ini yang seharusnya terbingkai sebagai ‘berita mendidik’ seolah terabaikan dengan volume berita yang justru banyak mengangkat sisi kelam kedua tokoh yang sadar atau tidak, menjadikan publik tergiring untuk berada pada ruang ‘pro dan kontra’. Apakah ini framing media? apakah ini agenda setting media? terserah, tetapi bangsa ini berharap media menjadi ujung tombak mencerdaskan sekaligus membangun moral anak bangsa.

Tetapi bukan ini yang menjadi tema utama tulisan ini, tetapi ingin bercerita satu sisi ‘kehidupan politik’ salah satu Capres RI yakni H. Prabowo Subianto, tokoh yang banyak diidolakan anak negeri ini, termasuk pribadi saya. Dan, yang menarik dalam amatan saya selama ini, bahwa salah satu desain politik Pak Prabowo banyak dinahkodai mereka yang tergolong ‘anak-anak muda’. Padahal sebelumnya, saya beranggapan jika ‘panggung belakang politik’ Pak Prabowo justru diramu oleh mereka yang gaeg, apalagi sejumlah ‘guru besar’ telah menyatakan dukungan penuhnya kepada putra begawan ekonomi republik ini, Bapak Soemitro Djojohadikoesoemo.

Toh, jika menyaksikan di televisi-televisi nasional maka yang selalu muncul di publik adalah Fadli Zon, Ahmad Muzani dan juga ketua umumnya Prof. Suhardi. Ternyata asumsi ini meleset, manakala kita bisa melihatnya secara dekat. Beberapa kali ke DPP Partai Gerindra di Rangunan, termasuk ketika berkunjung ke kediaman Bapak Prabowo di Bojong Koneng-Bogor, maka yang tampak adalah sekumpulan anak muda, yang kerap menjadi teman diskusi Pak Prabowo. Dalam analisa dramaturgi versi Erfing Goffmann, boleh jadi sekumpulan anak muda ini bisa disebut sebagai realitas panggung belakang (backstage) Pak Prabowo.

Saya menyebutnya sebagai anak muda, sebab umur mereka dikisaran 25 hingga 35 tahun. Saya mengenal nama-nama mereka diantaranya adalah Sugiono, seorang pemuda Jawa kelahiran Takengon Aceh yang didapuk Pak Prabowo dalam banyak kerja-kerja politik strategis Pak Prabowo dan Partai Gerindra. Kebetulan saya mengenal dekat pemuda ini karena kebetulan saya dipercaya mendampinginya sebagai Sekjen dan Sugiono adalah ketua umum pada Ormas Gardu Prabowo di tingkat nasional. Termasuk pula Daryono, pemuda yang dipercaya sebagai sekretaris pribadi Pak Prabowo.

Selain nama Sugiono,juga terdapat beberapa nama yang saya kenal diantaranya Prasetyo Hadi, Mas Eko, Abduh, Angga Prabowo dan belasan pemuda lainnya yang menurut saya adalah anak-anak muda kreatif, bertalenta dan memiliki karakter sebagai pekerja di bidang apa saja. Mereka bergabung dalam satu wadah yang di kenal di kalangan ‘orang Gerindra’ sebagai Sentra Strategis Indonesia (SSI). Hampir lupa, juga terdapat nama Dirgayuza, pemuda berkacamata yang saya anggap amat jenius dalam mengkreasikan dunia informasi teknologi Partai Gerindra dan juga pribadi Pak Prabowo. Dirgayuza, sepanjang pengetahuan saya adalah pemuda alumni terbaik dari salah satu perguruan tinggi di Australia.

Secara pribadi, saya angkat jempol dengan pemuda-pemuda ini, dan kerap bertanya-tanya mengapa Pak Prabowo dikelilingi anak-anak muda kreatif? mantan ajudan Pak Prabowo bernama Asaldin Gea menjelaskan ‘fenomena’ itu pada saya. “Jauh sebelum Pak Prabowo tampil menjadi Capres, beliau amat menyukai pemuda-pemuda cerdas untuk di ajak berdiskusi, bahkan beliau sangat peduli dengan masa depan pemuda di negeri ini. Buktinya banyak anak muda dibiayai pendidikannya oleh beliau hingga sarjana,” jelas Bang Gea, sapaan akrab Asaldin Gea.

Apapun cerita tentang anak muda di panggung belakang politik Pak Prabowo, mengisyaratkan jika Pak Prabowo adalah figur yang memahami hakekat membangun sebuah bangsa yang dimulai dari pemudanya, seperti kata Bung Karno, “berikan saya sepuluh anak muda maka akan kuguncang dunia ini”. Hal ini memberikan pemahaman, jika Pak Prabowo adalah sosok yang dekat semua kalangan, dari anak-anak hingga orang-orang dewasa. 

Bahkan cerita soal anak-anak, Pak Prabowo amat gemar tertawa lepas ketika melintas di jalan menuju kediamannya menyaksikan segerombolan ‘murid SD’ tiba-tiba memberikan aba-aba “hormat grak!” kepadanya. Pak Prabowo kerap mampir membelai kepala anak-anak SD tersebut sebagai tanda kasih sayang beliau kepada generasi bangsa ini.

Menyaksikan hal-hal seperti ini, menjadi jawaban saya manakala beberapa kawan-kawan mahasiswa di daerah mempertanyakan komitmen Pak Prabowo kepada generasi muda negeri ini, dengan sebuah pertanyaan menikam. “Bang Hamzah, apa komitmen Pak Prabowo kepada generasi muda negeri ini? bukankah Pak Prabowo dianggap terlibat dalam penculikan aktivis di tahun 1998?”.

Saya tak langsung menjawabnya sebab bagi saya ini amat ‘low konteks’ ketika komitmen ‘kepemudaan’ dihubung-hubungkan dengan cerita-cerita yang menurut saya sepenuhnya  masih abu-abu dan selalu menjadi komoditas di setiap event politik di mana Pak Prabowo ada di dalamnya.

Bagi saya, menjelaskannya dengan fenomena-fenomena humanis seperti banyaknya pelibatan anak muda dalam kerja-kerja strategis Pak Prabowo, adalah cermin kedekatan Pak Prabowo dengan generasi muda bangsa ini. Bahkan ketika menyaksikan langsung Pak Prabowo bersama Pak Hatta Rajasa mendaftar sebagai Capres-cawapres di KPU dua hari lalu, belasan ribu pengantarnya adalah anak-anak muda usia, yang datang dengan berbagai kreatifitasnya. Saya mengklaim bahwa Pak Prabowo tetap menjadi idola anak muda negeri ini, meski Pak Prabowo tak terbiasa menampilkan perhatiannya kepada anak muda dengan simbol tangan ‘metal’. Tetapi perhatian itu diberikannya dalam bentuk diskusi-diskusi interaktif, atau ikut bermain bola dengan anak-anak kampung, bahkan mendirikan lembaga-lembaga kepemudaan berbasis kebangsaan, hingga keterlibatan beliau dalam mengangkat prestasi atlet silat Indonesia di pentas dunia.

Satu hal yang masih tergiang dalam ingatan saya ketika berdiskusi langsung dengan Pak Prabowo, beliau berkata; “saya mengimpikan sepak bola Indonesia masuk ke pentas dunia. Bukan hanya itu semua olah raga harus berlevel dunia, termasuk di bidang seni budaya, dan itu harus di mulai dengan mendorong dan membangun semangat anak-anak muda Indonesia”.

Hal lain yang saya petik dari kepedulian kepemudaan itu, adalah keaktifan beliau membangun dinamika anak muda bangsa ini juga ditunjukkannya di dunia politik. Beberapa Caleg DPR-RI dari Patai Gerindra yang melenggang ke Senayan adalah anak-anak muda usia. Termasuk menghidupkan sayap dan ormas kepemudaan di partainya. Sebut saja Tidar (Tunas Muda Indonesia Raya), Satria (Satuan Relawan Indonesia Raya), Gardu Prabowo, adalah organisasi yang keanggotaannya berbasis anak muda.

Seperti Bung Karno,  Pak Prabowo sadar anak muda adalah tonggak membangun kekuatan sebuah bangsa.   “Jangan lupa; pemuda adalah tulang punggung bangsa Sumpah Pemuda adalah bagian inti yang menjadikan Indonesia, Indonesia”. begitu ungkapan Pak Prabowo di Hari Sumpah Pemuda setahun silam.

**
Cikini di Pagi Hari, 23 Mei 2014


Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX