14 February 2013


hormat08-2Sepekan silam dipenghujung Januari 2013, saya terkesima pada sikap seorang H. Prabowo Subianto yang memberikan penghormatan dari atas podium selama kurang lebih semenit pada kader-kader Partai Gerindra setelah ia mengakhiri pidato politiknya  dalam acara syukuran lolosnya partai ini di Pemilu 2014 dengan nomor urut 6. Penghormatan itu tentu aneh bagi saya, sebab pada umumnya amat jarang seorang yang berlevel ‘pemimpin’ mau memberikan penghormatan pada ‘bawahannya’ sebagai tanda takzim dan rasa penghargaan yang tinggi.

 Sejenak saya berpikir, mungkin ini ‘basa-basi’ ala Pak Prabowo, agar citranya tetap terpelihara di mata kader-kadernya. Namun sebuah pengalaman besar bagi saya secara pribadi, ketika berpapasan dengan calon Presiden RI dan tiba-tiba langsung memberikan hormatnya dengan sempurna. Seperti penghormatan bawahan pada atasan di dunia militer. Saya kikuk, grogi dan tentu bercampur kebanggaan, sembari membalas penghormatan itu dengan sikap membungkukkan badan. Mungkin saya seorang sipil, jadi lupa memberi penghormatan balasan serupa. Sebab tak menyangka jika Pak Prabowo bersikap seperti itu. Apalagi diikuti dengan tegur sapa menyebut nama saya, “Apa kabar Hamzah, sukses ya?” kata Pak Prabowo singkat yang membuat angan-angan saya seolah melambung menembus cerahnya siang itu di angkasa Jakarta.

Sebagai seorang anak daerah yang terlahir dari keluarga sederhana dan tak memiliki pangkat sosial di masyarakat, penghormatan yang diberikan Pak Prabowo bagi saya terasa seperti sebuah pesan penting. Pesan yang memiliki makna cinta untuk seluruh anak bangsa. Pesan bahwa seseorang yang memiliki level sosial tinggi bukan batas pemisah untuk menghargai yang lebih rendah, dan pesan bahwa setiap anak manusia memiliki posisi yang sama di mata Pencipta-Nya.  Atas sikap santun Pak Prabowo ini, mengajarkan makna besar bagi saya dan mungkin orang banyak di negeri ini, bahwa alangkah indahnya Indonesia, jika dipimpin oleh orang-orang yang memiliki sikap ingin menghargai semua orang, melupakan perbedaan sosial dan selalu rukun dalam keragaman.

Lalu apakah ini ‘lagi-lagi’ gaya Pak Prabowo untuk mendapatkan citra baik sebagai calon Presiden RI di 2014? Instuisi ini terbantahkan dengan jawaban Pak Prabowo sendiri dalam pidatonya, “Menjadi kebiasaan saya secara pribadi sejak masih aktif di militer, memberikan rasa hormat dan takzim pada segenap kawan-kawan saya, apalagi jika anggota saya sukses mengemban tugas yang dibebankan oleh negara, maka saya berkewajiban memberi penghormatan,” ungkapnya tegas.

Soal pencitraan diri, Pak Prabowo dengan tegas jika ia tak ingin dipersepsikan sebagai tokoh yang besar karena pencitraan. Baginya pencitraan itu sesuatu yang semu karena tidak lahir dari karakter asli yang bersangkutan, diatur-atur dan mengikuti skenario tertentu seperti jalannya sebuah film atau drama. “Saya tak ingin hidup seperti seorang aktor dalam film, yang hidupnya diatur skenario dan sutradara”. Pernyataan itu juga merembet dalam pandangannya terhadap keberadaan Partai Gerindra, yang menginginkan agar partai ini tumbuh dan besar sebagai partai yang tidak mengandalkan pencitraan semua. “Tidak masalah Partai Gerindra kecil, yang penting menjadi partai yang bersih dan bermanfaat untuk rakyat Indonesia,” katanya.

Bagi saya ini sebuah fenomena, jika Pak Prabowo menginginkan apa yang dipimpinnya selalu bermaslahat bagi kepentingan orang banyak. Tetapi Pak Prabowo juga sadar, jika harapan selalu diikuti dengan pengorbanan. Seperti yang ia tuturkan bahwa “semakin besar harapan seseorang, semakin besar pula pengorbanannya”.  Sebuah kalimat yang sarat makna yang dapat menjadi acuan bagi siapa saja mahluk di dunia ini.

Satu hal yang selalu terekam dalam ingatan saya pada sosok putra begawan ekonomi ini adalah sikapnya yang selalu menghargai keragaman, tidak terkoptasi pada satu kelompok dan corak sosial di masyarakat. Pak Prabowo berkata, “Indonesia akan indah dan besar  jika terbangun dalam semangat yang bersatu dalam keberagaman, mencintai dan saling mengayomi antara satu dengan yang lainnya, sebab Indonesia adalah bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika,” ucapnya..

**

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX