Selamat datang d Blog pribadi Hamzah Palalloi.....Silahkan memberi komentar di bacaan Anda..






Showing posts with label Prabowo Subianto. Show all posts
Showing posts with label Prabowo Subianto. Show all posts

Anak-anak Muda ‘di Panggung Belakang Politik’ Pak Prabowo


Pilpres 2014 yang ‘head to head’ mempertemukan Pak Prabowo versus Jokowi begitu banyak menawarkan cerita-cerita hangat yang (mungkin) luput dari jangkauan media massa negeri ini. Setidaknya banyak pemerhati media merasa miris jika hal-hal humanis dari calon pemimpin bangsa ini yang seharusnya terbingkai sebagai ‘berita mendidik’ seolah terabaikan dengan volume berita yang justru banyak mengangkat sisi kelam kedua tokoh yang sadar atau tidak, menjadikan publik tergiring untuk berada pada ruang ‘pro dan kontra’. Apakah ini framing media? apakah ini agenda setting media? terserah, tetapi bangsa ini berharap media menjadi ujung tombak mencerdaskan sekaligus membangun moral anak bangsa.

Tetapi bukan ini yang menjadi tema utama tulisan ini, tetapi ingin bercerita satu sisi ‘kehidupan politik’ salah satu Capres RI yakni H. Prabowo Subianto, tokoh yang banyak diidolakan anak negeri ini, termasuk pribadi saya. Dan, yang menarik dalam amatan saya selama ini, bahwa salah satu desain politik Pak Prabowo banyak dinahkodai mereka yang tergolong ‘anak-anak muda’. Padahal sebelumnya, saya beranggapan jika ‘panggung belakang politik’ Pak Prabowo justru diramu oleh mereka yang gaeg, apalagi sejumlah ‘guru besar’ telah menyatakan dukungan penuhnya kepada putra begawan ekonomi republik ini, Bapak Soemitro Djojohadikoesoemo.

Toh, jika menyaksikan di televisi-televisi nasional maka yang selalu muncul di publik adalah Fadli Zon, Ahmad Muzani dan juga ketua umumnya Prof. Suhardi. Ternyata asumsi ini meleset, manakala kita bisa melihatnya secara dekat. Beberapa kali ke DPP Partai Gerindra di Rangunan, termasuk ketika berkunjung ke kediaman Bapak Prabowo di Bojong Koneng-Bogor, maka yang tampak adalah sekumpulan anak muda, yang kerap menjadi teman diskusi Pak Prabowo. Dalam analisa dramaturgi versi Erfing Goffmann, boleh jadi sekumpulan anak muda ini bisa disebut sebagai realitas panggung belakang (backstage) Pak Prabowo.

Saya menyebutnya sebagai anak muda, sebab umur mereka dikisaran 25 hingga 35 tahun. Saya mengenal nama-nama mereka diantaranya adalah Sugiono, seorang pemuda Jawa kelahiran Takengon Aceh yang didapuk Pak Prabowo dalam banyak kerja-kerja politik strategis Pak Prabowo dan Partai Gerindra. Kebetulan saya mengenal dekat pemuda ini karena kebetulan saya dipercaya mendampinginya sebagai Sekjen dan Sugiono adalah ketua umum pada Ormas Gardu Prabowo di tingkat nasional. Termasuk pula Daryono, pemuda yang dipercaya sebagai sekretaris pribadi Pak Prabowo.

Selain nama Sugiono,juga terdapat beberapa nama yang saya kenal diantaranya Prasetyo Hadi, Mas Eko, Abduh, Angga Prabowo dan belasan pemuda lainnya yang menurut saya adalah anak-anak muda kreatif, bertalenta dan memiliki karakter sebagai pekerja di bidang apa saja. Mereka bergabung dalam satu wadah yang di kenal di kalangan ‘orang Gerindra’ sebagai Sentra Strategis Indonesia (SSI). Hampir lupa, juga terdapat nama Dirgayuza, pemuda berkacamata yang saya anggap amat jenius dalam mengkreasikan dunia informasi teknologi Partai Gerindra dan juga pribadi Pak Prabowo. Dirgayuza, sepanjang pengetahuan saya adalah pemuda alumni terbaik dari salah satu perguruan tinggi di Australia.

Secara pribadi, saya angkat jempol dengan pemuda-pemuda ini, dan kerap bertanya-tanya mengapa Pak Prabowo dikelilingi anak-anak muda kreatif? mantan ajudan Pak Prabowo bernama Asaldin Gea menjelaskan ‘fenomena’ itu pada saya. “Jauh sebelum Pak Prabowo tampil menjadi Capres, beliau amat menyukai pemuda-pemuda cerdas untuk di ajak berdiskusi, bahkan beliau sangat peduli dengan masa depan pemuda di negeri ini. Buktinya banyak anak muda dibiayai pendidikannya oleh beliau hingga sarjana,” jelas Bang Gea, sapaan akrab Asaldin Gea.

Apapun cerita tentang anak muda di panggung belakang politik Pak Prabowo, mengisyaratkan jika Pak Prabowo adalah figur yang memahami hakekat membangun sebuah bangsa yang dimulai dari pemudanya, seperti kata Bung Karno, “berikan saya sepuluh anak muda maka akan kuguncang dunia ini”. Hal ini memberikan pemahaman, jika Pak Prabowo adalah sosok yang dekat semua kalangan, dari anak-anak hingga orang-orang dewasa. 

Bahkan cerita soal anak-anak, Pak Prabowo amat gemar tertawa lepas ketika melintas di jalan menuju kediamannya menyaksikan segerombolan ‘murid SD’ tiba-tiba memberikan aba-aba “hormat grak!” kepadanya. Pak Prabowo kerap mampir membelai kepala anak-anak SD tersebut sebagai tanda kasih sayang beliau kepada generasi bangsa ini.

Menyaksikan hal-hal seperti ini, menjadi jawaban saya manakala beberapa kawan-kawan mahasiswa di daerah mempertanyakan komitmen Pak Prabowo kepada generasi muda negeri ini, dengan sebuah pertanyaan menikam. “Bang Hamzah, apa komitmen Pak Prabowo kepada generasi muda negeri ini? bukankah Pak Prabowo dianggap terlibat dalam penculikan aktivis di tahun 1998?”.

Saya tak langsung menjawabnya sebab bagi saya ini amat ‘low konteks’ ketika komitmen ‘kepemudaan’ dihubung-hubungkan dengan cerita-cerita yang menurut saya sepenuhnya  masih abu-abu dan selalu menjadi komoditas di setiap event politik di mana Pak Prabowo ada di dalamnya.

Bagi saya, menjelaskannya dengan fenomena-fenomena humanis seperti banyaknya pelibatan anak muda dalam kerja-kerja strategis Pak Prabowo, adalah cermin kedekatan Pak Prabowo dengan generasi muda bangsa ini. Bahkan ketika menyaksikan langsung Pak Prabowo bersama Pak Hatta Rajasa mendaftar sebagai Capres-cawapres di KPU dua hari lalu, belasan ribu pengantarnya adalah anak-anak muda usia, yang datang dengan berbagai kreatifitasnya. Saya mengklaim bahwa Pak Prabowo tetap menjadi idola anak muda negeri ini, meski Pak Prabowo tak terbiasa menampilkan perhatiannya kepada anak muda dengan simbol tangan ‘metal’. Tetapi perhatian itu diberikannya dalam bentuk diskusi-diskusi interaktif, atau ikut bermain bola dengan anak-anak kampung, bahkan mendirikan lembaga-lembaga kepemudaan berbasis kebangsaan, hingga keterlibatan beliau dalam mengangkat prestasi atlet silat Indonesia di pentas dunia.

Satu hal yang masih tergiang dalam ingatan saya ketika berdiskusi langsung dengan Pak Prabowo, beliau berkata; “saya mengimpikan sepak bola Indonesia masuk ke pentas dunia. Bukan hanya itu semua olah raga harus berlevel dunia, termasuk di bidang seni budaya, dan itu harus di mulai dengan mendorong dan membangun semangat anak-anak muda Indonesia”.

Hal lain yang saya petik dari kepedulian kepemudaan itu, adalah keaktifan beliau membangun dinamika anak muda bangsa ini juga ditunjukkannya di dunia politik. Beberapa Caleg DPR-RI dari Patai Gerindra yang melenggang ke Senayan adalah anak-anak muda usia. Termasuk menghidupkan sayap dan ormas kepemudaan di partainya. Sebut saja Tidar (Tunas Muda Indonesia Raya), Satria (Satuan Relawan Indonesia Raya), Gardu Prabowo, adalah organisasi yang keanggotaannya berbasis anak muda.

Seperti Bung Karno,  Pak Prabowo sadar anak muda adalah tonggak membangun kekuatan sebuah bangsa.   “Jangan lupa; pemuda adalah tulang punggung bangsa Sumpah Pemuda adalah bagian inti yang menjadikan Indonesia, Indonesia”. begitu ungkapan Pak Prabowo di Hari Sumpah Pemuda setahun silam.

**
Cikini di Pagi Hari, 23 Mei 2014

Persaudaraan dan kesederhanaan Prabowo di Hari Pemilu

Beberapa jam usai mencoblos, atas ajakan kawan-kawan saya menyempatkan diri ke kantor DPP Gerindra yang terletak di Ragunan Jakarta Selatan. entah apa yang dihelat disana, tetapi seperti biasanya jika usai helatan politik, maka ‘markas’ Gerindra selalu ramai, sebab biasanya tokoh politik partai berlambang garuda emas itu berkumpul disana sekedar merasakan hangatnya gelegar politik di Tanah Air. Suasana seperti saya rasakan sebelumnya dalam dua momentum, yakni ketika Partai Gerindra dinyatakan KPU lolos dalam Pemilu, dan saat kemenangan Gubernur DKI Joko Widodo-Basuki Tjahaya Purnama setahun silam.

Tetapi kali ini sedikit berbeda, memang ramai tetapi keramaian ini banyak diisi oleh awak media, dan beberapa pentolan partai itu, sekedar meliput dan mendapatkan berita eksklusif langsung dari Prabowo Subianto sebagai Capres partai ini. tentu pertanyaan-pertanyaan para jurnalis ini bisa ditebak, terkait koalisi Gerindra pada Pilpres mengingat tiga partai pemenang hasil Quick Qount dari beberapa lembaga survey yakni PDIP, Golkar dan Gerindra ‘mengisyaratkan’ perlunya koalisi dengan Parpol lain.

Sebelum memasuki aula lantai 4 tempat menyaksikan Quick Qount, saya yang kebetulan mengenakan kaos oblong dan jeans sekenanya serta sendal jepit merasa kurang ‘pede’ memasuki aula itu, maklum audiens yang hadir umumnya berpakaian rapi khas Gerindra, putih-kream, yang tampak elegan dan berwibawa jika dipandang.

Ketidak-pede-an itu karena khawatir bertemu Pak Prabowo dan merasa kurang sopan dengan ‘fashion’ seperti itu. Tetapi pikiran saya ternyata tidak benar. Sesaat ingin memasuki lift, saya berpapasan dengan Pak Prabowo dan beliau langsung menyapa.
“Oh Hamzah, dimana aja sekarang kok jarang bertemu saya” kata Pak Prabowo.

Sayapun langsung menyalami sembari sedikit membungkukkan badan tanda hormat saya pada putra begawan ekonom republik ini, Soemitro Djojohadikoesoemo. “Siap pak, saya di kampus saja Pak” jawab saya. Beliau pun langsung menepuk bahu saya sembari mengucapkan terima kasih. “Terima kasih ya, sudah banyak membantu, kapan-kapan kita diskusi lagi,” kata Pak Prabowo lagi. Saya hanya melempar senyum pada beliau sebagai tanda setuju.

Tak lebih dari 3 menit percakapan singkat antara saya dan Pak Prabowo. dan tak mengikutinya masuk ke lift. Saya pikir beliau pasti dikawal ketat. Ternyata biasa-biasa saja. Hitungan saya, ada sekitar 7 orang masuk ke lift, dan semuanya bukanlah para ajudan Pak Prabowo. Mereka adalah kader-kader Partai Gerindra dan beberapa awak media. Pak Prabowo hanya melambaikan tangan kepada ‘pengantri lift’ sembari melempar senyum ramahnya. teramat jauh dari kesan sangar yang banyak dipersepsikan banyak orang.

Usai mengantri, akhirnya saya ke lantai 4 juga. Disana, Pak Prabowo tak langsung memasuki ruangan tempat dimana ia akan menyampaikan pidato singkatnya terkait hasil Quick Qount, sebab ia langsung dicegat puluhan awak media. hampir semua jurnalis TV nasional dan media cetak ada di sana. Pak Prabowo pun melayani dengan ramah, bahkan silih berganti TV nasional itu meminta wawancara khusus.

Hal-hal seperti ini amat biasa dalam pemandangan keseharian beliau yang sering diikuti media. Tetapi menyaksikan kondisi seperti itu, sebagai akademisi yang bergelut di bidang komunikasi politik, saya kerap bertanya, mengapa pernyataan-pernyataan beliau jarang di publis media khususnya televisi, sementara pernyataan-pernyataan Pak Prabowo adalah pernyataan layak publis, bertutur tentang nasionalisme, dan masa depan bangsa Indonesia? apakah media memberikan perlakuan khusus dalam membuat ‘agenda setting’ terhadap sosok Prabowo Subianto?

Sebagai simpatisan tentu sedikit curiga, dan saya agak kecewa dengan kondisi seperti ini. Sebab sepertinya Pak Prabowo memang diperlakukan ‘kurang adil’ oleh media jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh penting lainnya di republik ini. Tetapi ketika menghubungkan dengan teori-teori media, bagi saya ini pembenaran. Sebab menurut Shoemaker & Reese (1991), media selalu tergantung dengan idiologi pemiliknya. juga menurut Altschull (1984) yang mengatakan “Konten media selalu mencerminkan kepentingan mereka yang mendanai pers”.

Saya meyakini Pak Prabowo mahfum kondisi ini. Tetapi apapun itu, Pak Prabowo yang saya lihat sendiri memperlakukan media itu sebagai seorang sahabat yang baik. Toh jika ada pernyataan beliau tentang media yang sedikit ekstrim itu hanya sebagai cara untuk membangun institusi media untuk bekerja lebih profesional. Buktinya, beliau selalu mengucapkan kata ‘terima kasih’ pada media yang meliputnya dan selalu mengikut arahan media ketika dimintanya wawancara atau sekedar foto bersama. Saya menangkap jiwa persaudaraan Pak Prabowo begitu kuat dan tanpa tendensi apa-apa.

Bagi saya, ini juga cermin jiwa Prabowo jika sebenarnya ia seorang yang sangat terbuka dan demokratis, apalagi Pak Prabowo bukanlah sosok yang teramat serius ketika membahas sesuatu. bahkan ketika media mewawancarainya, berkali-kali ia menlontar joke-joke ringan yang membuat banyak orang tertawa.

Di akhir pidato singkatnya. Pak Prabowo mengucapkan rasa terima kasihnya kepada banyak orang yang dinilainya banyak membantu perjuangannya. Bahkan ia mengatakan secara sadar, jika dirinya sebenarnya banyak dibesarkan oleh ‘jenderal-jenderal tak dikenal’ yang sudah ikut bersama dengannya khususnya mereka-mereka yang berada di daerah-daerah. Istilah ini tentu memberi makna besar jika Prabowo amat menghormati jasa banyak orang di negeri ini. bagi saya ini sebuah bentuk kesederhanaan dan kuatnya rasa persaudaraan seorang Prabowo Subianto.

Sesaat beranjak pulang dari kantor DPP Gerindra, saya dan kawan-kawan kembali bertemu dan bersalaman dengan tokoh ini. Beliau kembali memberi pesan sederhana dan mendalam pada saya. “Terus ajarkan sikap berpikir positif pada bangsa ini, salam buat keluarga,” kata Pak Prabowo singkat.

Pernyataan ini mungkin sederhana. tetapi bagi kita yang berpikir positif, sesungguhnya ini adalah watak dan karakter seorang negarawan, seorang tokoh yang memang layak memimpin bangsa besar ini. **

Jangan Benturkan Prabowo dan Jokowi

MEMANG tak bisa ditampik jika dicapreskannya Jokowi oleh PDIP membuat ekskalasi politik jelang Pemilu ikut meninggi, setidaknya membuat sederet kandidat Capres harus menghitung kembali taktik dan strategi yang dibuat sebelumnya, tak terkecuali seorang Prabowo Subianto, tokoh nasional yang setahun silam amat getol memperjuangkan Jokowi sebagai Gubernur DKI berpasangan dengan Ahok. Apalagi saat itu Jokowi berjanji, akan menuntaskan lima tahun kepemimpinannya di DKI dan tidak menjadikan jabatan Gubernur DKI sebagai batu loncatan untuk meraih jabatan yang lebih besar lainnya. (Baca berita pada foto dibawah ini)

Tetapi politik berbicara lain. Jokowi menerima mandat dari Megawati Soekarnoputri sebagai Capres PDIP, karenanya dapat diasumsikan jika pergerakan politik mantan Walikota Solo ini sebagai bentuk pengingkaran atas apa yang dijanjikannya setahun yang lalu. Secara psikologis, sangat manusiawi jika Prabowo merasa terhianati, belum lagi perjanjian ‘Batu Tulis’ yang terabaikan begitu saja, menjadikan Prabowo benar-benar merasa dipojokkan dalam karir politiknya. Bahkan (mungkin) masih segar dalam ingatan dalam waktu yang tidak begitu lama usai Pilkada DKI tahun lalu, muncul istilah ‘penumpang gelap’ yang lagi-lagi memojokkan posisi Partai Gerindra dari koalisinya dengan PDIP. Jika di scooring, Prabowo terhianati dalam posisi 0:3, dari orang-orang yang dihormati dan diperjuangkannya. (asumsi penulis).

Dalam teori komunikasi politik hal-hal seperti ini memang lumrah terjadi, dan siapapun boleh berkata bahwa inilah yang namanya ‘realitas politik’ atau ‘seni berpolitik’. Penulis sendiri mengasumsikan perlakuan berpolitik yang diterima Prabowo Subianto membenarkan pendapat banyak ahli di bidang ini, yang mengatakan komunikasi politik sebagai seni mendesain apa yang mungkin dan seni mendesain apa yang tidak mungkin (art of possibble and art of impossibble’) (Anwar Arifin, 2012).

Menjadi pertanyaan, apakah saling menjegal di dunia politik menjadi sesuatu kebiasaan yang harus dipertahankan dalam iklim demokrasi di negeri yang Pancasilais ini? tentu kita berharap tidak demikian, sebab politik juga dipahami sebagai pendistribusian nilai-nilai (Weinstein, 1971:41), karenanya politik juga mengatur adanya konsensus atau kompromi melalui pembicaraan politik (Alfian, 1985).

Dalam konteks teori-teori komunikasi politik tersebut di atas, maka menjadi menarik jika kedua tokoh ini tak perlu dibenturkan satu dengan yang lainnya. Toh, penetapan Capres belum memasuki tahapannya (dilaksanakan usai Pemilu legislatif), ini berarti segala kemungkinan masih saja bisa terjadi. Bisa saja Jokowi di ‘capreskan’ sekadar membuat kejutan politik untuk mengangkat perolehan suara PDIP di pemilu legislatif, namun setelah itu ada re-evaluasi atas pencapresan itu saat Pemilu Capres-Cawapres akan digelar nanti. Sama dengan posisi Prabowo Subianto saat ini, masih sebatas sebagai kandidat Capres, segala sesuatu masih mungkin terjadi.

Toh, jika Jokowi serius di capreskan dan kemudian terpilih, maka posisi Jokowi sebagai presiden diprediksi akan tersandera oleh siapa yang memberinya mandat sebagai Capres. (istilah saat ini sebagai boneka politik). Pun, jika Jokowi berhasil membebaskan dirinya dari ‘sandera’ ini, maka Jokowi lagi-lagi (mungkin) akan di cap oleh banyak kalangan sebagai sosok non loyalis.  Menjadi pertanyaan, apakah rakyat di negeri ini rela dan ikhlas jika pemimpinnya dijadikan sandera oleh sebuah kekuatan elit tertentu? tergantung dari persepsi masing-masing.

Kembali ke persoalan semula. Jangan  benturkan Prabowo-Jokowi, sebab energi bangsa ini akan habis terserap dalam mencari kelemahan kedua figur ini. itu tidak penting. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi Jakarta jika benar-benar Jokowi meninggalkan kursi gubernurnya, artinya butuh energi lagi mencari gubernur, meski secara konstitusional, Ahok-lah yang akan menjadi ‘pemimpin baru’ di ibukota. Tentu akan selalu ada aksi-reaksi, jika Ahok menjadi Gubernur. itu yang paling standar. Lalu bagaimana (semisal) Ahok diminta partainya menjadi Cawapres mendampingi Prabowo Subianto? Maka warga Jakarta akan kehilangan ‘pemimpinnya’. Untung saja, Ahok hingga saat ini belum masuk dalam area wacana seperti ini.

Karenanya, mungkin lebih bijak jika iklim demokrasi ini berjalan dalam kerangka damai, tidak saling memojokkan dan mencari kelemahan. Kita tunggu saja Pemilu Presiden 9 Juli nanti. Toh diluar figur Prabowo dan Jokowi, bangsa ini masih punya segudang pemimpin, dan mereka masih bisa saling berbagai senyuman sebagai tanda sikap saling menghargai. Jangan biarkan demokrasi negeri ini berjalan dengan cara yang instan, sebab tentu akan menghasilkan hal-hal yang instant pula.

**
Menteng pagi hari, 18 Maret 2014

Prabowo dan cerita fasilitas Treadmill

Asaldin Gea, Mantan ajudan Prabowo Subianto
KERAP saya bertanya, mengapa begitu banyak orang khususnya mantan-mantan tentara ketika diceritakan sosok Prabowo Subianto seperti menyalakan  bara dan semangat mereka lagi? Apakah karena tentara saat itu menjadi ‘raja’ dalam percaturan politik di negeri ini, dan Pak Prabowo bagian dari itu? Sulit menjawabnya. Tetapi saya sempat mendengar cerita, jika sewaktu Pak Prabowo mundur sebagai prajurit TNI dengan pangkat Letnan Jenderal, ada puluhan tentara yang berangsur-angsur mundur dari tentara sebagai bentuk kesetiaan pada tokoh ini?

Jika asumsi itu benar, maka begitu besar magnitude seorang Prabowo pada orang-orang yang pernah mengenalnya. Sebab mundur dari tentara juga seperti menggadai masa depan yang telah digemgamnya. Setahu saya, menjadi tentara adalah salah satu pilihan dari banyak orang di republik ini, baik yang sekedar mencari kerja, hingga mengangkat nama baik keluarga. Sebab di kampung saya di Sulawesi, ketika seorang anggota keluarga menjadi tentara, nama baik keluarganya itu ikut terangkat bahkan dibangga-banggakan. Tetapi kemudian mundur dengan mengatasnamakan kesetiaan, bagi saya itu sangat luar biasa, sebab tentu banyak hal yang tergadai sebagai konsekuensi dari sikap itu.

Senin sore ini (9/9) saya bertemu Asaldin Gea di salah satu kawasan di sekitar Grand Indonesia. Gea begitu panggilannya,  seorang mantan prajurit Kopassus dengan pangkat akhir Kapten TNI. Ia juga dikenal oleh banyak tentara sebagai mantan ajudan Prabowo di zaman kemasannya. Usianya masih terbilang muda, 43 tahun dan juga memilih mundur sebagai tanda kesetiaannya pada sosok Prabowo. Tetapi ia enggan bicara banyak alasan-alasan kemundurannya. Sebab ia sangat menghormati lembaga yang pernah membesarkannya itu. “Bicara TNI, sampai akhir hidup saya tetap menjadi kebanggan meski saya memilih pensiun muda, itu privacy saya. Yang pasti kesetiaan ini tak terbatas untuk seorang jenderal bernama Prabowo Subianto,” katanya singkat.

Sembari diskusi kecil tentang pergerakan politik Pak Prabowo jelang Pilpres 2014, tiba-tiba Gea tergelak setelah melihat treadmill yang dipajang di salah satu etalase. (treadmill; fasilitas olah raga lari dan jogging yang biasa dipakai di ruangan). “Bang, fasilitas treadmill sepert ini  membuat saya pernah gemetaran di depan Pak Prabowo,” katanya sembari tertawa keras, seolah-olah ia mengingat sesuatu yang teramat lucu.

Gea kemudian bercerita panjang soal treadmill ini. Katanya, suatu waktu Pak Prabowo dari Jalan Cendana menyempatkan diri jalan-jalan ke kawasan Plaza Indonesia, dan mencoba menikmati treadmill. “Bagus juga fasilitas ini ya, olah raga bisa di ruangan saja?” kata Prabowo pada ajudannya itu.  Gea hanya berkata “siap!” sebagai tanda setuju.

Pak Prabowo meminta Gea mengecek harga treadmill itu, siapa tahu bisa dibelinya. Namun ternyata barang itu tak jadi dibelinya. Entah karena alasan apa. Padahal di benak Gea sebagai ajudan, uang Prabowo cukup  banyak untuk membeli barang itu. Tentu karena ia seorang perwira tinggi militer dengan posisi Danjen Kopassus, mantu Pak Harto dan anak dedengkot ekonomi besar bangsa ini. Sehingga tak ada alasan tidak cukup uang untuk membelinya.

Sepintas Gea berpikir jika komandannya itu, mungkin memilih waktu dan kesempatan lain untuk mendapatkannya. Karenanya ia  tetap mengingat-ingat, kapan-kapan Pak Prabowo membutuhkan barang itu. Yang pasti Gea merasa barang itu sangat dibutuhkan Pak Prabowo, sehingga ia mencatatnya dalam buku hariannya, was-was jika ia sampai lupa dengan kebutuhan pimpinannya itu.

Jelang sepekan setelah ‘acara mencoba’ Treadmill di Plaza Indonesia, di suatu malam Prabowo kedatangan seorang perwira logistik dari sebuah kesatuan pasukan yang pernah dipimpin Pak Prabowo beberapa tahun sebelumnya. Karenanya Gea membatin, ada apa perwira ini menghadap Prabowo sementara ia bukan lagi anak buah langsung Pak Prabowo. “Dik, saya ingin menghadap Danjen Kopassus, sangat penting” kata Lekol itu pada Gea. (namanya perwira itu tidak disebutkan, tetapi ia berpangkat Letkol).

Sebagai ajudan, ia kemudian melaporkan ke Pak Prabowo. Tanpa basa-basi, Pak Prabowo memerintahkan Gea untuk mengajak letkol yang ingin menghadap itu. “Segera antar ke sini, beliau itu mantan anggota saya di kesatuan, pasti sangat penting sehingga ia ingin menemui saya,” sergah Prabowo.

Saat bertemu kata Gea, wajah perwira ini cukup cemas seolah-olah punya beban berat. “Silahkan sampaikan apa yang ingin saudara sampaikan,” kata Prabowo. Mendapat peluang itu sang Letkol menceritakan kondisi logistik di kesatuannya sangat menipis, sehingga ia butuh dana sesegera mungkin agar bisa menutupi kebutuhan pasukan di kesatuannya. Tetapi tak tahu kemana ia harus membicarakan hal ini, dan ia memilih menemui Pak Prabowo, sebagai perwira yang juga pernah memimpin di kesatuan itu.

Mendengar hal itu, Prabowo tanpa basa-basi pula meminta Gea mengeluarkan selembar cek dan menuliskan angka ratusan  juta rupiah untuk dicairkan di Bank Perindustrian. “Segara urus pasukanmu dengan baik, semoga dana ini cukup untuk anak buahmu,” kata Prabowo pada perwira logistic itu.

Di benak Gea, kok Prabowo begitu mudah mengeluarkan dana pribadinya pada kesatuan yang tak lagi dipimpinnya? Tetapi ia enggan bertanya. Yang teringat hanyalah fasilitas Treadmill yang pernah ingin dibeli Pak Prabowo. Karenanya Gea juga memanfaatkan kesempatan itu dengan mengeluarkan selembar cek untuk ditandatangani pimpinannya itu.

Prabowo menoleh pada Gea dan bertanya, “untuk apa lagi cek itu Gea!” tanyanya. “Siap Pak, untuk kebutuhan fasilitas alat olah raga lari Bapak” jawab Gea. Mendengar  hal itu, Prabowo dengan tegas dan lantang berkata; “Kamu harus tahu, kebutuhan prajurit jauh lebih penting dari alat lari yang tak penting itu,” tegas Prabowo.

Setelah sang perwira logistic itu pamit pulang.  Gea terdiam ia tak lagi banyak bicara. ia merasa sangat bersalah dan ketakutan. Karenanya ia tak berani lagi menyinggung fasilitas treadmill itu hingga karirnya sebagai ajudan berakhir.  Tetapi mengenang cerita itu, ia paham jika pimpinannya itu punya kepedulian besar pada nasib banyak orang, sementara ia merasa lucu dengan tingkahnya menyodorkan selembar cek, dengan harapan Prabowo bisa menikmati kebutuhannya sendiri.**

Berharap Isu ini Benar. Calon Istri Pak Prabowo Seorang Dokter?

Selalu saja banyak menarik dari sisi seorang Prabowo Subianto, tokoh militer yang terjun di dunia politik dan digadang banyak publik di negeri ini sebagai calon kuat Presiden RI di 2014 mendatang. Saya yang merasa dekat dengan beliau tentu merasa bangga dengan kondisi ini, paling tidak harapan besar terhadap perubahan bangsa ini di masa mendatang jika beliau tampil sebagai Presiden akan tercipta. Insya Allah.

Beberapa bulan belakangan ini saya jarang bertemu beliau, terakhir tiga bulan silam ketika dipanggil beliau ke kediamannya untuk sekedar berdiskusi dan mengetahui pokok-pokok pikiran beliau. Lagi-lagi saya merasa bangga bisa berbicara dan bertatap muka langsung dengan tokoh idola saya ini. Banyak hal yang saya petik dari sosok ini diantaranya, nasionalis, sederhana, cerdas, berspirit tinggi, dana selalu berpikir positif. Amat jauh dari kesan militeristik seperti yang pernah saya dengar sebelumnya.

Rentang tiga bulan itu, saya menjadi ‘buta’ dengan situasi politik yang mengiringi perjalanan Pak Prabowo. Mungkin karena kondisi partainya lagi proses ‘caleg’ dan saya seorang PNS jadi agak menjauh dari situasi itu. Namun kawan-kawan daerah, teman-teman kampus, ketika ingin mengetahui lebih jauh tentang sosok ini, mereka bertanya pada saya. Tentu saya menjawab sesuai apa yang saya ketahui, dan rasa-rasanya hadir kebanggaan ketika orang bertanya tentang beliau kepada saya. Padahal sebenarnya sangat sedikit informasi beliau yang saya pahami. Saya hanya ‘mencap’ Pak Prabowo sebagai tokoh yang sangat layak menjadi pemimpin di republik ini. Amin!

Ada satu hal yang membuat saya merasa ‘kehilangan’ informasi tentang Pak Prabowo, yakni informasi yang bersileweran dikalangan kawan-kawan saya tentang calon istri Pak Prabowo. Katanya sih seorang dokter. Saya tak tahu darimana asal-usulnya. Mendengar itu, saya langsung berkata “Amin, semoga saja isu itu benar”. Peng-aminan itu dilandasi karena ‘apologi’ bahwa seorang Presiden itu harus memiliki ‘ibu negara’, dan publik banyak mengetahui lewat media massa tentang status Pak Prabowo yang membujang, karena disebut telah berpisah dengan ‘Mba Titiek’, istri yang memberinya satu putra tampan dan berdomisili di luar negeri. soal Mba Titiek, semua tahu jika beliau adalah putri mantan Presiden Soeharto.

Saya sendiri merasa ingin secepatnya Pak Prabowo menikah, tentu dengan harapan menjawab pertanyaan banyak orang, apalagi banyak mittologi Jawa yang menyebutkan jika pemimpin baru menjadi ‘lengkap’ jika memiliki pendamping hidup. Seperti juga memiliki keris, sebagai simbol kekuatan diri. Soal keris ini, saya sendiri telah melihat langsung di perpustakaan pribadi Pak Prabowo di kediamannya, jika beliau juga seorang kolektor benda pusaka warisan leluhur ini.

Kembali soal siapa calon pendamping Pak Prabowo. Saya jadi senyam-senyum sendiri membayangkan jika benar-benar Pak Prabowo menikah, maka para pendukung pasti ‘all out’ ikut terlibat mempersiapkan segalanya. Saya bayangkan bagaimana ‘gembiranya’ banyak pendukung beliau, yang selalu tak bisa menjawab jika ada pernyataan yang mengatakan, “sulit beliau jadi Presiden, jika tak punya pendamping hidup”. Lho kok bisa?

Lalu apa respon Pak Prabowo ketika banyak orang berbicara tentang dirinya? Beliau selalu santai, bahkan kerap bercanda. Ini yang paling saya gemari dari sosok ini, sebab Pak Prabowo ternyata seorang humoris. Katanya begini. “Memang sulit jadi Prabowo, mau begini diributkan, tidak begitu diributkan,” canda beliau sembari melepas tawa.

Yang pasti, apapun yang terjadi pada diri tokoh ini. Banyak publik selalu berharap, jika saja kelak beliau mampu memimpin bangsa ini dengan membawa perubahan besar, sehingga Indonesia kembali menjadi ‘Macan Asia’.

Lalu apakah benar yang akan jadi ‘Ibu Negara’ itu adalah seorang dokter? Hmm..ini area privacy beliau. Saya dan mungkin pembaca banyak berdoa, semoga saja ini menjadi kenyataan. Yuk berdoa..!

Jakarta Ba’da Isya, 25 Mei 2013

Baca tulisan-tulisan lainnya di sini.

Hormat, Pesan Cinta Prabowo Untuk Anak Bangsa


hormat08-2Sepekan silam dipenghujung Januari 2013, saya terkesima pada sikap seorang H. Prabowo Subianto yang memberikan penghormatan dari atas podium selama kurang lebih semenit pada kader-kader Partai Gerindra setelah ia mengakhiri pidato politiknya  dalam acara syukuran lolosnya partai ini di Pemilu 2014 dengan nomor urut 6. Penghormatan itu tentu aneh bagi saya, sebab pada umumnya amat jarang seorang yang berlevel ‘pemimpin’ mau memberikan penghormatan pada ‘bawahannya’ sebagai tanda takzim dan rasa penghargaan yang tinggi.

 Sejenak saya berpikir, mungkin ini ‘basa-basi’ ala Pak Prabowo, agar citranya tetap terpelihara di mata kader-kadernya. Namun sebuah pengalaman besar bagi saya secara pribadi, ketika berpapasan dengan calon Presiden RI dan tiba-tiba langsung memberikan hormatnya dengan sempurna. Seperti penghormatan bawahan pada atasan di dunia militer. Saya kikuk, grogi dan tentu bercampur kebanggaan, sembari membalas penghormatan itu dengan sikap membungkukkan badan. Mungkin saya seorang sipil, jadi lupa memberi penghormatan balasan serupa. Sebab tak menyangka jika Pak Prabowo bersikap seperti itu. Apalagi diikuti dengan tegur sapa menyebut nama saya, “Apa kabar Hamzah, sukses ya?” kata Pak Prabowo singkat yang membuat angan-angan saya seolah melambung menembus cerahnya siang itu di angkasa Jakarta.

Sebagai seorang anak daerah yang terlahir dari keluarga sederhana dan tak memiliki pangkat sosial di masyarakat, penghormatan yang diberikan Pak Prabowo bagi saya terasa seperti sebuah pesan penting. Pesan yang memiliki makna cinta untuk seluruh anak bangsa. Pesan bahwa seseorang yang memiliki level sosial tinggi bukan batas pemisah untuk menghargai yang lebih rendah, dan pesan bahwa setiap anak manusia memiliki posisi yang sama di mata Pencipta-Nya.  Atas sikap santun Pak Prabowo ini, mengajarkan makna besar bagi saya dan mungkin orang banyak di negeri ini, bahwa alangkah indahnya Indonesia, jika dipimpin oleh orang-orang yang memiliki sikap ingin menghargai semua orang, melupakan perbedaan sosial dan selalu rukun dalam keragaman.

Lalu apakah ini ‘lagi-lagi’ gaya Pak Prabowo untuk mendapatkan citra baik sebagai calon Presiden RI di 2014? Instuisi ini terbantahkan dengan jawaban Pak Prabowo sendiri dalam pidatonya, “Menjadi kebiasaan saya secara pribadi sejak masih aktif di militer, memberikan rasa hormat dan takzim pada segenap kawan-kawan saya, apalagi jika anggota saya sukses mengemban tugas yang dibebankan oleh negara, maka saya berkewajiban memberi penghormatan,” ungkapnya tegas.

Soal pencitraan diri, Pak Prabowo dengan tegas jika ia tak ingin dipersepsikan sebagai tokoh yang besar karena pencitraan. Baginya pencitraan itu sesuatu yang semu karena tidak lahir dari karakter asli yang bersangkutan, diatur-atur dan mengikuti skenario tertentu seperti jalannya sebuah film atau drama. “Saya tak ingin hidup seperti seorang aktor dalam film, yang hidupnya diatur skenario dan sutradara”. Pernyataan itu juga merembet dalam pandangannya terhadap keberadaan Partai Gerindra, yang menginginkan agar partai ini tumbuh dan besar sebagai partai yang tidak mengandalkan pencitraan semua. “Tidak masalah Partai Gerindra kecil, yang penting menjadi partai yang bersih dan bermanfaat untuk rakyat Indonesia,” katanya.

Bagi saya ini sebuah fenomena, jika Pak Prabowo menginginkan apa yang dipimpinnya selalu bermaslahat bagi kepentingan orang banyak. Tetapi Pak Prabowo juga sadar, jika harapan selalu diikuti dengan pengorbanan. Seperti yang ia tuturkan bahwa “semakin besar harapan seseorang, semakin besar pula pengorbanannya”.  Sebuah kalimat yang sarat makna yang dapat menjadi acuan bagi siapa saja mahluk di dunia ini.

Satu hal yang selalu terekam dalam ingatan saya pada sosok putra begawan ekonomi ini adalah sikapnya yang selalu menghargai keragaman, tidak terkoptasi pada satu kelompok dan corak sosial di masyarakat. Pak Prabowo berkata, “Indonesia akan indah dan besar  jika terbangun dalam semangat yang bersatu dalam keberagaman, mencintai dan saling mengayomi antara satu dengan yang lainnya, sebab Indonesia adalah bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika,” ucapnya..

**

5 Jam Bersama Prabowo Subianto

SEHARI sebelum H. Prabowo Subianto berziarah ke makam ibundanya (Almarhum Ibu Dora Sigar) di Sulawesi Utara yang jatuh bersamaan hari ibu 22 Desember 2012 lalu, saya mendapat kehormatan bertamu dikediaman beliau di Bojong Koneng Bogor-Jawa Barat. Saya menganggap kehormatan, sebab anak daerah ‘sekelas’ saya amat jarang bisa bertemu dengan sosok yang dibicarakan banyak orang sebagai Capres paling populer di Indonesia saat ini, seperti yang digambarkan beberapa lembaga survey. Apalagi pertemuan dengan Pak Prabowo ‘tidak tanggung-tanggung’, berbicara langsung dalam waktu yang cukup lama. 5 Jam!. Ya, saya diterima Pak Prabowo sejak pukul 10.00 WIB dan berakhir di pukul 16.00 WIB. Jeda pembicaraan kami, hanya waktu shalat zhuhur dan makan siang.

Awalnya, saya berpikir panjang dan bertanya-tanya, mengapa Pak Prabowo meminta saya bertemu beliau. Usut punya usut, ternyata purnawirawan jenderal bintang tiga ini adalah sosok yang amat suka menggunakan sosial media, seperti facebook, twiter dan blog. Beliau mengakui jika ia kerap membaca tulisan-tulisan saya melalui blog, baik di Kompasiana maupun blog pribadi saya (Baca disini) Wajar jika saya merasakan kebanggan berlebihan.

Sebelum diajak bertemu dan berbicara dengan beliau, seribu pertanyaan ada di benak saya yang kemudian membentuk opini ‘miring’ terhadap pribadi beliau, yang kerap dipersepsikan keras. Termasuk berita-berita negatif yang mengitari karir militernya, seperti isu pencobaan kudeta pada Pak Harto yang juga mertuanya, pelanggar HAM, terkesan borjuis dan lain sebagainya. Tetapi semua berubah tatkala saya bertemu, tidak seperti yang saya bayangkan. Pak Prabowo saat itu menggunakan sarung dan kaos oblong putih langsung menyapa saya. “Ayo Hamzah, sarapan dulu”. Kalimat yang membuat saya merasa mengenal beliau sudah lama. Bahkan ketika menjabat tangan beliau, saya berupa merendahkan badan tanda takzim, tapi Pak Prabowo mengatakan, “Jangan berlebihan, kita semua sama. Yuk, sarapan dulu, ini masih pagi” katanya. Memang, menurut mantan ajudan beliau, Asaldin Gea, kebiasaan Pak Prabowo menerima tamu-tamunya, justru di ruang makan. Terkecuali dalam hal-hal formil baru di ruang tamu atau di ruang perpustakaan pribadi beliau.

Satu jam pertama pertemuan itu, Pak Prabowo banyak membahas tentang kondisi Indonesia saat ini, yang menurutnya Indonesia amat kaya, namun terlalu banyak kekayaan Indonesia itu terserap keluar negeri, dan hanya sebagian kecil yang ‘mandeg’ di dalam negeri. padahal, seharusnya kata Pak Prabowo, jika pemerintah mampu menekan ‘kebocoran’ itu, kesejahteraan rakyat Indonesia pasti bisa lebih baik. Cukup panjang pembicaraan beliau soal ini, mulai dari hitungan angka-angka yang membuat kepala saya pening, hingga menjelaskan tentang konsep ‘nasionalisasi’ perusahaan-perusahaan asing di Indonesia. Dalam kacamata ekonomi Pak Prabowo, ia tak terlalu menyukai istilah ‘nasionalisasi’, sebab bagaimanapun Indonesia bukanlah negara yang berdiri sendiri di muka bumi ini. Pak Prabowo lebih suka menyebutnya dengan istilah ‘Kepentingan Nasional’. “Demi ‘kepentingan nasional’ tentu kita akan memikirkan kondisi perusahaan asing di Indonesia, jika menguntungkan Indonesia, yuk bekerja sama, tetapi jika merugikan, tunggu dulu!, kasihan rakyat Indonesia” tegasnya.

Di jam pertama itu, saya lebih banyak menyimak didampingi sejumlah staf beliau. Saya lebih suka menulis tangan ketimbang menggunakan notebook untuk mencatat point-point penting argumentasi ekonomi beliau. Meski kerap Pak Prabowo meminta saya untuk memberinya ‘argumentasi’ pembanding. Saya pun bertanya sesekali saja, segan jika memotong langsung ‘kehangatan otak’ beliau dalam berpikir. Tetapi saya merasa seperti seorang jurnalis kawakan yang mendapat kesempatan wawancara eksklusif, seperti yang banyak dipertontonkan tv-tv nasional. “Andakan seorang magister, berikan pembanding dong” canda Pak Prabowo memecah keheningan.

Disela-sela mengurai argumentasinya, Pak Prabowo kerap mengingat binatang-binatang peliharaannya. Ternyata beliau seorang pencinta dan penyayang binatang. Yang paling digemarinya adalah kuda. Karenanya ia amat mencintai olahraga berkuda. “Kuda itu punya filosofi tinggi, sebab tak mudah menaklukkan bidatang liar seperti itu, jika kita tak memiliki rasa ‘saling memahami’ antara pemilik dan kuda itu” katanya.

Tak terasa, waktu terus bergulir. Memasuki jam kedua dan ketiga, saya dan beberapa orang staf beliau mulai ‘berani’ untuk bertanya seputar opini negatif yang berkembang di publik yang kerap mengitari perjalanan beliau, seperti isu kudeta dan pelanggaran HAM. Tetapi Pak Prabowo menjawabnya dengan tawa dan candaan yang hangat. “Itu fitnah, fitnah dan fitnah, kalau membahas itu-itu terus, habis energi kita, dan saya berharap bangsa ini tidak menghabiskan energi pada hal-hal yang tidak mencerdaskan rakyat Indonesia” katanya. Meski begitu Pak Prabowo mengurai dan memberi jawaban secara detail tentang opini itu, namun Pak Prabowo enggan untuk dipublikasikan. “Off the record sajalah, sebab saya masih menghormati komitmen saya, tak baik bicara tentang tudingan, sebab kita juga bisa menuding orang lain. Yang pasti di negeri ini masih banyak orang baik, masih banyak tokoh yang bisa diteladani, itu saja, dan saya mengajak Anda untuk bicara pada hal-hal positif. Suatu saat, jika tiba waktunya  saya akan menjelaskannya,” kata Pak Prabowo.

Lepas dari pembicaraan seputar hal di atas, saya lebih  suka mencermati hal-hal humanis yang dimiliki Pak Prabowo, seperti doyan makan buah mangga matang, apel, dan jenis-jenis sayuran. Termasuk mencermati jika Pak Prabowo ternyata seorang humoris. Banyak sekali joke-joke segar beliau yang membuat saya ikut melepaskan tawa besar. Melihat kondisi itu, saya ingat pesan seorang Kompasianer, Yusran Darmawan yang meminta saya untuk menulis ‘sisi sisi humanis’ Pak Prabowo. Ini benar, sebab bicara teori politik, seorang pakar bernama Erving Guffman, membagi dunia politik seseorang dalam dua hal, yang disebutnya ‘front stage’ (panggung depan) dan ‘back stage’ (panggung belakang). Dan yang paling banyak muncul dipermukaan adalah panggung depan politik seseorang.  Karenanya saya menyela beliau. “Pak seorang rekan saya yang tengah kuliah di Ohio, USA menitip pesan untuk menulis hal-hal humanis yang mengitari kehidupan Bapak. Sebab Bapak hanya selalu di opinikan sekedar sebagai jenderal, mantan danjen kopassus, isu pelanggaran HAM, keras, dan lain-lain sebagainya” pinta saya.

Jawaban Pak Prabowo diluar dugaan saya. “Hamzah, saya tak ingin jadi bintang film, yang semua kehidupannya diatur sutradara. Biarlah saya tampil dengan diri saya sendiri, seperti yang anda lihat saat ini, dan suatu saat nanti publik di Indonesia, juga akan tahu bagaimana kondisi saya yang sebenarnya. Saya bukan raja atau dewa, saya manusia biasa, sama dengan Anda.” Katanya.

Pak Prabowo menjelaskan, jika hal-hal seperti itu dibuat secara sengaja, publik juga tahu jika itu yang disebut ‘pencitraan’.  “yang dibutuhkan sekarang bukan itu, tetapi komitmen untuk membangun bangsa ini, dan mengupayakan kesejahteraan rakyat menjadi lebih baik,” jawabnya.  Karena waktu telah menunjukkan pukul 13 lewat, Pak Prabowo izin sejenak salat duhur. “silahkan nikmati makanan yang ada, saya ke kamar dulu” katanya. Sekretaris Pribadi beliau pun meminta saya beristirahat pada sebuah kamar yang memang kerap dipersiapkan untuk tamu-tamu beliau.

Saya menikmati suasana bersantai sejenak, tanpa pikiran-pikiran briliant Pak Prabowo yang menurut saya ‘belum sampai’ untuk mendalaminya. Saya sendiri membatin, “Saya masih perlu belajar keras untuk untuk ‘membanding’ pikiran beliau,  mungkin begini otak seorang calon presiden,” pikirku sedikit culun. Di kamar, saya banyak memandangi foto-foto kala beliau masih muda, memandangi cincin besar hadiah sebagai ‘perwira terbaik Akabri 1974’, dan rebah-rebahan sedikit. “kapan lagi tidur-tiduran dirumah seorang Capres” pikirku lagi.

Setelah merasakan itu semua, saya juga ‘jeprat-jepret’ dengan handpone seputar kediaman beliau yang sejuk dan asri. Maklumlah rumah yang didesain berarsitektur Jawa dengan sedikit ornamen Eropa ini begitu nyaman dan terasa tinggal di istana apalagi posisinya berada di puncak bukit. Soal ini, Pak Prabowo berkata jika rumah di bukit adalah cita-citanya sewaktu masih bertugas di Timor-Timur. Katanya, “Kalau pensiun nanti saya ingin punya kediaman di bukit ini,”. Yang dimaksud Pak Prabowo adalah di sebuah bukit di Kota Dili yang berhadapan langsung dengan lepas pantai, namun ternyata dugaannya meleset. Ia justru tinggal di bukit di kawasan Bogor. “yang penting di Bukitlah” kata Pak Prabowo.

Pukul 15.00 WIB, pak Prabowo melintas di depan kamar yang saya tempati beristirahat. Pak Prabowo kali ini tampil rapi dan sedikit trendi. Beliau menggunakan kemeja biru langit dan celana gelap. Lebih fresh, tampaknya.  Ia juga berjalan berduaan dengan seorang tamu pria bule, asal Amerika. Saya lupa namanya. Tetapi dalam percakapan beliau dengan menggunakan bahasa Inggris yang fasih, sepertinya si ‘Bule’ itu seorang penulis atau mungkin pekerja media. Sebab pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan berciri seorang jurnalis. Saya diam saja, dan mengikuti beliau memasuki ruang makan lagi. Lagi lagi untuk berdiskusi.

Ini jam keempat dan kelima bersama Pak Prabowo. Lagi-lagi ia bercanda dan membuat joke-joke segar. Soal yang ini Pak Prabowo mewanti-wanti. “jangan-jangan kita tertawa begini, orang lain menganggap saya mengangkat konsultan humoris lagi, repot memang jadi seorang Prabowo”. Asumsi Pak Prabowo ia ungkapkan setelah ia membaca headline sebuah koran nasional yang menyentil dengan judul ‘Pak Prabowo belajar Humor’. “Ada-ada saja, begini salah, begitu salah. Tetapi itulah dinamika di negeri kita dan saya sangat menghormati itu,” katanya.

Pak Prabowo pun banyak mengulas langkah-langkah politiknya. Termasuk visi-misinya membangun bangsa Indonesia jika kelak ia dipercaya rakyat Indonesia sebagai pemimpin di Republik ini. Tapi Pak Prabowo berkata singkat, “ jika rakyat Indonesia memilih saya, tentu saya akan mengabdi, sebab itu amanah. Jika tidak, tidak masalah pula, tugas kita jadilah warga negara yang baik, yang berdedikasi pada negara, dan selalu menjaga semangat kebersamaan, kita bisa besar karena bangsa ini adalah bangsa yang kaya.

Tak terasa waktu telah menujukkan pukul 16.00 WIB, saya pun harus pamit kembali ke kos-kosan saya di Jakarta. Pak Prabowo pun berpesan, “Anda harus selalu berpikir positif, untuk bangsa ini, terhadap sejarah, hari ini dan masa depan bangsa ini,”. Saya pun menjawabnya singkat. “terima kasih wejangannya Pak”.

Ada rasa kebanggan menyelimuti perjalanan saya kembali ke Jakarta. Entah kapan lagi bisa bertemu dengan tokoh-tokoh sekelas beliau. Sesampai di kawasan Kuningan   Jaksel, tiba-tiba sebuah mobil menderu  dari arah belakang. Saya menandainya jika itu mobil pribadi beliau. “Begitu sibuk seorang tokoh, baru beberapa jam berbicara, bercanda, kini ia berada lagi dalam pusaran ibukota. Entah untuk apa” pikirku. (**)

Antara Prabowo, Gajah Mada dan Politik Dunia


Saya baru saja membaca sebuah buku monografi Pak Prabowo Subianto yang bertajuk ‘dari Cijantung Menuju Istana’ yang merupakan buku best seller saat Pemilu lalu. Isi buku ini materinya hampir sama dengan tulisan-tulisan saya yang terkonstruksi melalui blog ini. Intinya ‘menjual’ Pak Prabowo sebagai sosok yang paling layak sebagai pemimpin republik di masa datang. Meski juga harus mengakui jika ini semata pandangan subjektif saya. Entalah bagi pembaca lainnya.

 Mata saya kemudian tertuju pada status facebook Pak Prabowo yang menuliskan bagaimana seorang Prabowo Subianto memahami sebuah sejarah kepemimpinan Gajah Mada di masa lalu, yang dikenal dengan sebutan "panca titi darma". Yakni "handayani hanyakra purana". Seorang pemimpin harus selalu mendorong yang muda untuk memiliki cita-cita mulia, beribadah dengan amal-karya, melangkah ke masa depan tanpa ragu-ragu apalagi sikap putus-asa. Kedua, "madya hanyakra pangaribawa". Seorang pemimpin ketika berada di tengah-tengah rakyatnya hendaklah mampu menjadi pembina dan perekat mereka untuk bersatu padu bersama membangun bangsa dan negara. Ketiga "ngarsa hanyakra prabawa". Seorang pemimpin harus selalu tampil dimuka menjadi panutan yang tegas, dan teladan utama melalui satunya perbuatan dan tutur-kata.

Sikap keempat adalah "nir bala wikara". Seorang pemimpin harus mengedepankan musyawarah mufakat untuk penyelesaian masalah, jangan sampai rakyat menjadi korban, terluka, dan sengsara. Dan sikap kelima adalah "ngarsa dana upaya". Seorang pemimpin hendaklah mau berkorban harta, tenaga, dan juga jiwa untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara agar hidup rakyat tenang, damai, sejahtera, dan bahagia.

Saya begitu senang dengan status facebook beliau itu. tentu karena saya tengah berfikir, bahwa Pak Prabowo mencoba mereduksi sebuah sari sejarah yang kelak melatarbelakangi pikiran Pak Prabowo ketika menjadi pemimpin republik ini di masa datang. Mencoba menggeluti pikiran-pikiran Gajah Mada yang masih ‘abadi’ diterapkan di masa kini, dan mencoba menjamah sebuah sejarah, bahwa Indonesia punya banyak pemimpin dengan pikiran-pikiran briliyan dan tak lekang oleh ruang dan masa. Bahwa Pak Prabowo juga adalah pengingat sejarah, seperti pesan Bung Karno pada dunia, “Jangan sekali-kali melupakan Sejarah”.

Ini adalah sebuah interaksi simbolik yang menjadi janji pemikiran beliau ketika kelak benar-benar menjadi Presiden. Tetapi kemudian saya juga berfikir lain, bahwa cara ini pula menjadi panggung belakang (back stage) politik Pak Prabowo yang tak banyak di ketahui publik di nusantara ini. Dalam analogi politik Erving Guffman, selalu disebutkan bahwa seseorang politisi memiliki dua panggung utama, yakni back stage (panggung belakang) dan front stage (panggung depan), meski beberapa peneliti juga telah menemukan adanya middle stage (panggung tengah).

Karenanya, sebagai pengagum Pak Prabowo, saya ingin banyak mengetahui cerita-cerita ‘panggung belakang’ beliau. Bagaimana kehidupan beliau di masa kini? bagaimana cerita-cerita beliau yang amat menyayangi binatang? bagaimana humor-humor beliau dengan staf dan bagaimana Pak Prabowo dengan segala dinamika sosialnya ketika berinteraksi di masyarakat. Saya mengharap mendapatkan itu semua. Bahkan seorang blogger kawan saya yang kini tengah kuliah di Amerika, Yusran Darmawan, mengingatkan saya, bahwa amat menarik menuliskan sisi-sisi lain seorang Prabowo Subianto, sebab publik hanya banyak tahu, jika Pak Prabowo seorang militer, jenderal kopassus, yang selalu dihubung-hubungkan bahwa militer itu kaku. Sementara Pak Prabowo tentu memiliki kelembutan, memiliki rasa humor yang tinggi dan juga sense of belonging pada banyak orang.

Tetapi di tengah pemikiran mencari back stage Pak Prabowo, kini saya memicingkan mata, melihat geliat Pak Prabowo menatap dunia yang lebih luas, bahwa Indonesia adalah satu mata rantai politik dunia, apapun dinamika politik di negeri ini adalah konsumsi public dunia. Memang politik di Indonesia adalah politik internal orang Indonesia, tetapi efeknya pada warga dunia secara Universal. Memang Indonesia bukanlah adikuasa seperti Amerika, yang bisa mempengaruhi mekanisme berpolitik di banyak negara, tetapi Indonesia adalah salah satu Negara berkembang di dunia yang juga punya pengaruh besar bagi negara-negara lainnya. Karenanya wajar, jika Pak Prabowo dalam kapasitas pribadinya melawat ke beberapa negara, (mungkin) sekedar belajar apa ada di dunia luar, atau (mungkin) juga tengah membangun hubungan baik yang memang seharusnya dilakukan oleh calon-calon pemimpin di negeri ini.

Saya sedikit terkejut membaca sebuah media yang mengetengahkan jika public Amerika melalui media-media negeri Paman Sam itu ‘sudah menyukai’ Pak Prabowo sebagai calon Preriden di negeri bernama Indonesia ini. Banyak kawan-kawan yang bertanya, apa pentingnya dukungan Amerika atas suksesi kepemimpinan di negeri ini? Saya juga belum bisa menjawabnya secara detail dan teknis. Tetapi saya hanya belajar dari perjalanan kepemimpinan republic ini, bila hamper semua Presiden yang terpilih di Indonesia, selalu saja ‘by design’ dan campur tangan pihak Asing.  Itu juga belum bisa saya jelaskan secara detail, tetapi saya berkeyakinan pembaca memahami cara berfikir seperti ini.

Prabowo dalam politik dunia? Ya! Sekali lagi saya tak bisa menjelaskan detail bentuk dan modelnya. Tetapi saya hanya menarik satu kesimpulan, bahwa seorang calon pemimpin di negeri ini bukanlah calon instant yang dibentuk dan tumbuh seperti ‘katak dalam tempurung’. Tetapi menyiapkan konsep Indonesia yang sejahtera dan bermartabat di mata dunia. Saya hanya membuat cetak tebal, bahwa inilah yang menjadi salah satu kelebihan Pak Prabowo Subianto dibanding tokoh-tokoh lainnya di negeri ini. Apakah kita menyukai Pak Prabowo sebagai calon pemimpin kita? Saya pribadi menjawabnya ‘Ya!”. Lalu bagaimana dengan Anda?....
(**)

Gardu Prabowo, Mengapa Saya Memilihmu?


Ibarat terpesona kemolekan gadis Ibukota, saya jatuh cinta…hati saya luluh di tengah ambisi merebut gelar akademik seperti mereka yang kini bertaruh dengan syahwat pendidikannya... Saya luluh pada dunia baru saya, dunia yang menguji nyali kepemimpinan  saya dan nyali hidup saya sebagai seorang pengembara di belantara kemajukan ibukota..  Benar! Ini memang adu nyali,..nyali sebagai  orang kampung, dan nyali untuk memulai hidup baru sebagai bagian dari sejarah panjang seorang calon pemimpin baru di negeri ini..Pak Prabowo Subianto…dan cinta itu mulai tersemai di sebuah ormas bernama Gardu Prabowo….

Gardu Prabowo….,namanya memang tak semolek organisasi lain. Tak sedikit yang  mempertanyakan ‘kerendahan’ nama Gardu ini, sebab otak mereka berpikir tentang ‘gubuk’, ‘pos ronda’, ‘gardu listrik’ dan sebagainya....tidak masalah dan wajar saja jika ada yang berfikir semacam itu, sebab memang demikian makna sederhananya. Tapi kebanggaan menjadi terpencar ketika mengurai akronim Gardu sebagai ‘Gerakan Rakyat Dukung’ Prabowo’ apalagi kawan-kawan mempercayakan satu posisi leader di sini sebagai Sekretaris Jenderal di tingkat Nasional...

Saya paham, maklum dan mengerti, jika posisi Sekjen ini tentu menjadi mimpi banyak orang…apalagi posisi ini erat sekali hubungannya dengan sosok Prabowo Subianto…mimpi-mimpi dimana tidak sedikit orang mempersepsikan jika posisi ini adalah nilai tawar seseorang untuk menduduki posisi strategis tatkala Pak Prabowo menjadi Presiden di negeri ini…tapi karena angan-angan itu saya lalu tertawa kecil, karena berusaha menyelami alur pikir dan angan-angan orang-orang  itu, yang menurut saya ‘tidak semudah’ itu menggapainya....sebab bagaimanapun, Gardu Prabowo hanyalah Ormas, bukan partai…yang kerap ‘jatah-jatahan’ posisi tatkala mereka berhasil menjadi penguasa dan pemenang dalam sebuah perhelatan politik..

Lalu mengapa saya memilih Gardu Prabowo? Saya memandang organisasi ini sekedar wahana menyalurkan kemampuan berorganisasi, menguji teori-teori yang selama ini saya peroleh di bangku perkuliahan…menguji hasrat bercengkrama dengan elit-elit Pak Prabowo yang amat kental dengan kesuksesan Orde Baru, dan juga bercengkrama dengan petinggi-petinggi militer yang pernah dekat dengan sosok Prabowo Subianto…kalaupun ada stigma banyak orang , bahwa posisi saya sebagai Sekjen adalah gambaran ke depan hidup saya di perhelatan public nasional, saya menganggapnya sebagai doa besar. Namun saya tentu tak bisa berharap banyak dan berlebihan, sebab jika tidak terpenuhi, maka muka saya ibarat terpercik kotoran yang membuat malu muka sendiri… saya ingin mengulang kata-kata saya sebelumnya…ini organisasi massa..bukan partai politik…

Bagi saya..Gardu Prabowo diantara dinamikanya yang menjadi rebutan banyak orang dan elit, karena terklaim sebagai ormas terbaik dalam merekrut massa, terbesar dan paling militant dalam mendompleng massa Pak Prabowo..tentu banyak pula ‘mainan’ yang menjadi ‘cobaan’ dalam memimpin Ormas ini bersama para dewan pimpinan nasional lainnya. ‘mainan-mainan’ ini diantaranya; banyaknya oknum yang selalu menjelajah ke lini public yang selalu menjual dan menggaransikan nama Pak Prabowo, bila ormas ini menjanjikan masa depan seseorang…saya sadar ini Jakarta..saya sadar ini politik…saya sadar jika saya tengah bersama nama besar seorang Prabowo Subianto..dan saya sadar jika saya tengah berada dan telah masuk dalam putaran permainan politik, yang sarat dengan konflik dan intrik…tapi saya percaya Allah Sang Penguasa, selalu membuka cakrawala dan semesta berfikir, bahwa yang benar itu benar, dan akan memutar balik klaim opini, bila dunia politik tidak selamanya penuh dengan intrik hitam yang saling menyikat dan menyikut…tetapi dunia politik juga menjadi  dunia untuk membawa rakyat Indonesia kearah yang lebih baik…saya masih percaya itu..meski saya berada pada ruang yang abu-abu pemikiran banyak orang…

Kini saya telah larut dalam Gardu Prabowo ini…saya hanya ingin berkata pada public, bahwa Gardu Prabowo mengajarkan pada saya tentang makna kehidupan yang penuh dinamika….Gardu Prabowo mengajarkan saya pada makna sebuah loyalitas…mengajarkan saya pada arti dan cara menyemai hidup dalam dunia logika yang terbalik…bahwa Gardu memang bukan partai…tetapi Gardu telah menyemai semangat anak bangsa, untuk bangkit dan tidak terpuruk dalam dunia pragmatism…Gardu mengajarkan saya mana lawan dan kawan..Gardu mengajarkan saya tentang cara berfikir seorang jenderal bernama Prabowo Subianto….

Karenanya saya juga ingin mengajak untuk hidup bersama dalam sebuah ‘gerakan’ bukan sekedar ‘menggabung’…Gerakan Rakyat Dukung Prabowo…se ibarat air yang terus bergerak dan mengalir menuju ke hilir…sebab air yang tenang dan diam kerap menjadi sumber penyakit, tak layak konsumsi, dan tak bisa di pakai bersuci (dalam konsep Islam)… karena itulah, saya ingin menjawab sendiri pikiran saya..inilah alasan mengapa saya memilih ‘Gerakan Rakyat Dukung Prabowo’….Gardu Prabowo….Merah Putih!!

                                                                                **

Catatan kecil di sela-sela ingatan G30 S/PKI…47 tahun silam…

Semesta Pak Prabowo Yang Penyayang



Sebuah poster kecil terpampang didepan meja kerja saya di DPN Gardu Prabowo. Poster itu adalah potret pak Prabowo menggunakan kopiah khas Bali, dengan kedua telapak tangan  didekapkan depan dada beliau sendiri. Seolah menyembah orang banyak. Sebelahnya lagi, ada potret beliau melambaikan tangan pada banyak orang.  Saya mencermati secara seksama, apakah ini hanya sekedar bentuk pencitraan politik beliau dalam merajut impiannnya menuju kursi kepresidenan di tahun 2014 mendatang? Apakah ini yang disebut sebagai bagian dari teori politik ala ‘Erfing Guffman’ tentang back stage dan front stage itu? Mungkin ada benarnya. Tetapi sebagai orang yang suka menuliskan tentang apa saja dalam diri Pak Prabowo adalah sebuah analisa menarik tersendiri bagi saya. Setidaknya ingin menelisik lebih jauh tentang sosok pemimpin masa depan bangsa Indonesia ini.

Saya banyak mendapatkan informasi tentang hal ini dari beberapa orang dekat beliau, bila sebenarnya prilaku seperti ini adalah prilaku ‘tak sadar’ Pak Prabowo ketika bertemu orang banyak. “Mungkin ini didikan keluarga beliau sejak kecil, sehingga setiap bertemu orang banyak secara dekat, beliau langsung berjabat tangan atau  melakukan gerakan tangan seperti menyembah.Jika dari kejauhan, beliau selalu melambaikan tangan” kata Bang Asaldin Gea, mantan ajudan beliau  saat masih aktif di militer siang ini (17/9). Hanya itu informasi yang saya peroleh.

Saya ingin mengkajinya dalam prilaku psikologi komunikasi  berdasarkan analisa subjektif saya, dengan mengkaitkan kultur yang mempengaruhi kehidupan Pak Prabowo,  bahwa hal-hal ‘tak sadar’ selalu muncul dalam setiap momentum, menggambarkan pribadi orang itu. Bukan by design atau sekedar bentuk kesengajaan untuk mempengaruhi orang lain.

Prilaku mengapitkan telapak tangan di depan dada, dalam adalah bentuk ‘penyembahan kesedarajatan’ atas diri Pak Prabowo dengan manusia lainnya. Sikap inilah yang disebut dengan egaliter atau menghargai kesederajatan sebagai umat manusia. Jika apitan tangan itu lebih tinggi lagi, biasanya dilakukan pada junjungan raja yang biasanya dilakukan di zaman kerajaan-kerajaan dulu. Sementara lambaian tangan selalu dipersepsikan sebagai bentuk kedekatan dengan orang lainnya. 

Tentu dapat ditarik kesimpulan, jika prilaku ini menggambarkan ‘inner personal’ Pak Prabowo yang sebenarnya. Bahwa beliau sosok yang sangat menghargai kesederajatan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Secara sederhana saya menyebutnya sebagai bentuk dan sifat penyayang Pak Prabowo.

Saya tak ingin melintas dalam diri Pak Prabowo yang kini telah merambah dunia politik tanah air. Saya hanya ingin membangun persepsi, bahwa dibalik ketegasan beliau yang ditempa pendidikan dan pengalaman sebagai prajurit yang setia dengan sumpah marga-nya, beliau memiliki sifat amanah, menyantuni, tahu nilai-nilai kultural bangsa Indonesia, dan selalu menghargai kesederajatan seseorang, sebagai sesasama hamba Tuhan. Saya ingin sekali masuk dalam wilayah semesta kultural Jawa yang sarat nilai-nilai itu. 

Bahwa Pak Prabowo adalah sosok pribadi  yang mampu menterjemahkan alam pikiran budaya Indonesia, untuk terus ditumbuhkembangkan dalam membangun Republik Indonesia. Saya hanya berfikir, bahwa mungkin inilah salah satu jawaban, mengapa Pak Prabowo begitu aktif memperjuangkan sosok Joko Widodo-Basuki dalam Pilkada DKI, yang dinilai publik sebagai sosok yang santun. Semoga benar demikian. Sebab sikap penyayang Pak Prabowo yang dalam, amat layak menjadi panutan para pemimpin bangsa ini. Bahwa bangsa ini dibangun atas dasar kasih sayang, menghargai kesederajatan, dan terus menularkan virus-virus positif bagi semesta rakyat Indonesia. Semoga Allah SWT merakhamati. 

(**)

Tidak Sekedar Tegas, Pak Prabowo Juga Cerdas!


Sebagai pengagum Pak Prabowo, saya amat bangga bisa berhubungan dengan orang-orang yang pernah dekat dengan beliau, mulai dari beberapa ajudan, hingga mereka yang pernah menjadi bagian hidup Pak Prabowo semasa aktif di militer. Lebih bangga lagi, setelah pernah bertemu beliau dalam beberapa kegiatan. Banyak hal yang saya petik dari cerita-cerita Pak Prabowo, mulai kisah masa kecilnya hingga impiannya menuju Presiden Republik Indonesia di masa datang.

 Senin kemarin (31/7) saya bertemu kawan se kampus. Kawan ini menyodok saya dengan satu pertanyaan. “Apa modal Pak Prabowo maju sebagai Calon Presiden? Apakah karena beliau memiliki dana? Mantan tentara? Keyakinan yang kuat? Atau karena ia berasal dari kelompok Cendana? Ataukah hanya karakter  tegas yang dimilikinya, sehingga Pak Prabowo mampu memikat hati jutaan rakyat Indonesia?”

Saya jawab “semua itu benar, apa yang ada dalam pertanyaan Saudara, dimiliki Pak Prabowo”, tetapi ada satu hal yang Pak Prabowo miliki belum diketahui orang banyak. Yakni kecerdasan!,  beliau memiliki kecerdasan intelektual, dan Pak Prabowo mampu mengaktualisasikan kecerdasannya itu” begitu jawaban sederhana saya.

Asumsi sederhana saya dalam memandang kecerdasan Pak Prabowo terekam dalam ingatan ketika saya dan kawan-kawan di undang di kediaman beliau di Hambalang Bogor beberapa waktu lalu. Meski yang melekat di performa Pak Prabowo adalah seorang jenderal, tetapi lebih dari itu, Pak Prabowo cerdas dalam menyikapi Indonesia sebagai negara maritim dan agraris. Beliau memiliki konsep-konsep sederhana dan aplikatif dalam mensejahterakan rakyat Indonesia dengan sumber-sumber kekayaan alam itu. Pak Prabowo juga amat cerdas dalam ‘menerawang’ masa depan Indonesia sebagai ‘the sleeping giant’  yang ketika digerakkan pada posisi yang tepat, maka Indonesia akan bangkit seketika dalam tidur panjangnya. itu kesimpulan saya saat itu, tetapi teramat sulit membahasakannya, sebab saya terbuai dengan kecerdasan intelektual beliau.


Tetapi korelasi kecerdasan dengan aktifitas keseharian Pak Prabowo amat selaras. Saya baru saja membaca status  facebook beliau, yang kemarin terbang ke Singapura untuk membawa kuliah umum di sebuah Universitas ternama di negeri singa itu. Saya bergumam, hal inilah yang belum banyak diketahui publik di Indonesia tentang sosok Pak Prabowo. Saya hanya menghubung-hubungan korelasi itu dengan kesaksian saya ketika ke kediaman beliau di Hambalang, dimana saya menyaksikan ribuan judul buku dalam perpustakaan pribadi beliau. Menariknya, Pak Prabowo hafal satu persatu dimana buku-buku itu tersimpan, judul dan sari isi dari buku itu.

Saya bergumam “ The great!, ternyata Pak Prabowo seorang akademisi juga”. Beliau sosok ‘kutu buku’, yang jika ada waktu yang lowong dihabiskan untuk membaca buku-buku itu. Mungkin ini asumsi subjektif, tetapi saya memahaminya dari penuturan beliau, ketika saya mengambil satu buku, dan Pak Prabowo menceritakan sari pati buku tersebut. Saya terbengong-bengong sendiri, sebab buku yang saya pegang berbahasa Inggeris dan baru saja saya ingin ‘mengejanya’ (maklum saya lemah di bahasa Inggeris) inti buku itu, tetapi beliau langsung menjelaskannya. Begitu juga beberapa pengalaman beberapa kawan  yang mencermati satu persatu buku yang dipegangnya, dan diceritakan pula isi buku itu “Luar biasa”, kataku dalam hati.

Pak Prabowo seolah menyadari, jika prilaku kutu bukunya itu tak banyak yang mengetahuinya. Beliau lalu berkata pelan-pelan. “Saudara-saudara, merugilah kita jika waktu kita yang lowong tak dihabiskan dengan belajar dan membaca, Agama juga mengajarkan kita seperti itu, makanya saya harus banyak membaca agar bisa memberi solusi-solusi terbaik buat bangsa tercinta ini, tentu dengan menghubungkan realitas sosial yang dialami bangsa ini,” kata Pak Prabowo singkat.

Pada saat itu pula, Pak Prabowo mengajak perguruan tinggi di Indonesia untuk dapat ‘mengaudit’ dirinya, tentang visi-misinya buat masa depan Bangsa Indonesia. “Saya juga bersedia di undang ceramah, kuliah umum di perguruan tinggi di negeri ini, silahkan saja, atur jadwalnya,” ajak Pak Prabowo pada beberapa kawan doktor yang sempat hadir.

Kekuatan Pak Prabowo dan kecintaannya pada dunia membaca, menurut beberapa mantan ajudannya adalah kebiasaannya sejak masih muda. Asaldin Gea misalnya, ajudan Pak Prabowo sejak tahun 1991-1999 mengatakan, bila Pak Prabowo punya kebiasaan membaca dan menelaah sebuah permasalahan setelah melaksanakan tugas-tugasnya di kantor maupun dilapangan. “Itu kebiasaan lama beliau, tak ada waktu tanpa membaca buku. Di mobil, kantor maupun di rumah, buku harus selalu kami siapkan, sebab beliau selalu mempertanyakan tentang buku-buku bacaannya. Bahkan kami juga harus pandai membuat ‘slide’, sebab beliau selalu membuat pemetaan terhadap ilmu yang diperolehnya,” kata Asaldin Gea pada saya. Hal senada diungkap Mas Eko, juga mantan ajudan beliau. “beliau memang kutu buku. Pokoknya selalu ada waktu untuk membaca,” ungkapnya.

Realitas yang saya saksikan, dan penuturan beberapa kerabat dekat Pak Prabowo, telah menjawab asumsi saya selama ini, bahwa Pak Prabowo seorang pribadi yang cerdas, cendekiawan, selain posisinya sebagai jenderal yang bersinar pada zamannya. “Kecerdasan beliau tak perlu diragukan, sudah bibitnya begitu, anak Profesor begawan ekonomi negeri ini,” timpal Petrus Sunyoto, mantan pasukan Pak Prabowo saat operasi di Timor-Timur yang kini memimpin ormas DPN Gardu Prabowo.
Karena itu secara subjektif, saya juga ikut berkata; “Pak Prabowo memiliki semua modal untuk menjadi pemimpin di Republik ini, Semoga!”

**


Pak Prabowo, Kami Rindu, Datanglah!


Pukul 08.00 waktu Cikini di HariJumat 13 Juli 2012. Handpone saya berdering. Tak jelas siapa pemilik telpon itu, sebab hanya terpampang nomor tanpa nama. Saya langsung mengangkatnya tanpa pikir panjang.
“Assalamu Alaikum. Maaf dengan Siapa?” tanya saya.
“Ini Pak Rustam Sutrisno, mantan Kades Wowoli, Ingat nggak!” jawabnya.
“Saya ingat Pak, sangat Ingat. Gimana kabar Pak!”, tanya saya lagi.

 Begitu awal percakapan saya dengan Pak Rustam. Sosok yang sudah sepuh di Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara. Benar, ia mantan kepala desa (kades) puluhan  tahun di sebuah wilayah eks transmigrasi. Maklum, sejak transmigrasi masuk di kawasan itu di tahun 1980-an, Pak Rustam dipercaya warganya menjadi Kades hingga memasuki awal tahun 2000-an. Baru ketika ada pengaturan tentang ‘masa jabatan’ Kades, Pak Rustam tidak diperbolehkan lagi.

Saya yang mengenal beliau ketika masih berdiam di sana, pernah menyebut beliau sebagai Kades seumur hidup. Memang di daerah transmigrasi, jabatan Kades menjadi incaran banyak orang. Tetapi Pak Rustam punya kharismatik sendiri. Ia tak sekedar Kades, pria asal Banyumas Jawa Tengah ini juga dipercaya etnik Jawa di wilayah itu sebagai tokoh di Kerukunan Keluarga Jawa Langgeng (KKJG) di Kabupaten Kolaka. Sebuah paguyuban yang telah menyatu dan berafiliasi dengan suku lokal wilayah itu.

Setelah acara ‘rindu-rinduan’ lepas. Pak Rustam mengutarakan uneg-unegnya tentang Pak Prabowo.  Saya tak tahu mengapa ia bicara pada saya, ia begitu yakin jika saya dekat dengan Pak Prabowo, sementara saya sendiri mengatakan jarang bertemu Pak Prabowo. Saya hanya mengatakan, jika saya suka menulis tentang Pak Prabowo dan jalan pikirannya, tentang cerita-cerita yang mengiringi perjalanannya, dan tentang impiannya untuk Indonesia di masa depan.

“Dik Hamzah, tolong sampaikan pada beliau, Kami sangat merindukan Pak Prabowo”
“Saya berharap Pak Prabowo mau berkunjung melihat kami di Sulawesi Tenggara”
“Kami adalah ribuan warga etnik Jawa di Sulawesi, kami adalah keluarga beliau, kami ingin beliau memimpin Republik ini, Kami telah menyiapkan acara untuk beliau, jika beliau datang.” tegas Pak Rustam dengan suara serak.

Saya mencoba menerobos ingatan ke masa silam tentang kehidupan saya saat masih menjadi warga di wilayah itu. Ketika bercanda dengan Pak Rustam yang khas ‘ngapak’-nya belum hilang. Saya mengerti, mengapa ia begitu merindukan Pak Prabowo. Dulu, ketika saya masih SMA, Pak Rustam pernah bercerita tentang sosok Pak Prabowo muda, ketika Pak Harto masih berkuasa. Ia benar-benar pengagum fanatik Pak Prabowo. Beliau bahkan telah meramal jauh di masa lalu, jika sosok impiannya itu adalah Presiden masa depan Indonesia.

Nama Haji Prabowo Subianto terus menyeruak dalam ingatan dan benak Pak Rustam ketika menjadi Cawapres Megawati di Pemilu 2009 silam. Namun semangat fanatismenya terus tumbuh ketika Pak Prabowo sukses mengkampanyekan Jokowi-Basuki sebagai pemenang Pilkada DKI putaran pertama.

“Zah, Bapak amat yakin Pak Prabowo itu Presiden kita, percayalah”
“Yakinkan pada semua orang dengan caramu, bahwa beliau (pak Prabowo) akan mengantarkan Indonesia ke gerbang kemakmuran”
“Zah, jangan pernah takut dengan fitnah yang menjatuhkan Pak Prabowo”
“Jika beliau benar pelanggar HAM, beliau sudah lama di tangkap”
“Pokoknya itu hanya fitnah yang ingin menjatuhkan nama baik beliau”
“Biasalah, orang yang besar itu, badainya pasti lebih kencang”

Hampir sejam lamanya Pak Rustam berbicara via handpone. Panas juga kuping ini rasanya. Tapi semangatnya yang membara dan kerinduannya pada sosok Prabowo Subianto, menjadi angin sepoi yang menyejukkan hati saya. Tentu karena figur yang saya puja-puji dengan bait-bait kalimat yang belum tentu berarti buat Pak Prabowo, diterjemahkan orang lain sebagai bentuk kedekatan saya pada sosok mantan Danjen Kopassus ini.

Saya hanya berjanji pada Pak Rustam, jika impiannya itu juga menjadi catatan-catatan ringan saya terhadap Pak Prabowo.
“Ingat Dik, kami sangat merindukan Pak Prabowo”
“Kami punya hajatan Syuro empat bulan kedepan, semoga beliau bisa datang”
“Kami mendoakan beliau, semoga tidak saja sukses mengantarkan Jokowi-Basuki sebagai Gubernur DKI, tapi juga mengantarkan dirinya menjadi Presiden RI. Amin.

Pak Rustam sepertinya tak ingin berhenti berbicara. Saya menagkap intonasi bicaranya yang begitu cepat, adalah rasa jiwa emosional orang Jawa Transmigran di Sulawesi Tenggara sana.
(**)

Prabowo dan Jokowi-Basuki, Magnet Ketemu Magnet

Warga Jakarta boleh riuh dengan Pilkadanya, dan pendukung Jokowi-Basuki (JB) boleh bergembira dengan raihan suaranya. Sah-sah saja, sebab realitas politik yang tampak di 11 Juli 2012 ini menjadi sebuah fenomena baru perpolitikan Indonesia, bahwa posisi sebagai ‘Incumbent’ bukanlah jaminan memenangkan pertarungan, sekaligus menegaskan jika ‘siapa saja’ boleh memimpin Ibukota. Itu yang ditunjukkan pasangan ‘Jokowi-Basuki’ yang bisa dipastikan mendapat tiket menuju putaran kedua, seandainya saja 50 persen plus satu sebagai syarat utama menuju Balaikota Jakarta tidak tercukupi.

Tetapi saya amat tertarik membahas kegigihan Prabowo Subianto memperjuangkan pasangan Jokowi-Basuki menuju DKI-1. Saya memandang jika Pak Prabowo menyadari dirinya telah menjadi magnet jutaan rakyat Indonesia, dan menyadari jika Jokowi-Basuki juga demikian, sehingga harus menggelontorkan dana iklan, bahwa Prabowo adalah Jokowi-Basuki, dan Jokowi-Basuki adalah Prabowo, meski pasangan ini juga didukung oleh PDIP dan pribadi keluarga Megawati Soekarnoputri.

Saya juga menangkap, fenomena kemenangan Jokowi-Basuki adalah realitas politik masa depan seorang Prabowo Subianto sebagai Presiden 2014. Terkecuali, jika dalam perjalanannya kemudian, Jokowi-Basuki gagal ‘memperbaharui’ Jakarta, sebab bagaimanapun rakyat selalu menilai jika ada hubungan ‘garis lurus’ antara Jokowi-Basuki dan Prabowo Subianto juga sebaliknya. Saya pernah menulis dengan satu tema, bahwa pasangan Jokowi-Basuki(Ahok) adalah simbol kepedulian Prabowo pada rakyat Indonesia.

Magnet ketemu Magnet, begitu saya mengandaikan keberadaan Prabowo Subianto dan pasangan Jokowi-Basuki. Bahwa keunggulan Jokowi-Basuki tak lepas dari ‘cara menjual’ Pak Prabowo yang intens di media, bahwa Jokowi-Basuki adalah pasangan yang mampu ‘memanusiakan’ Jakarta di tengah kesembrawutan, kemacetan dan banjir yang kerap melanda. Bahwa Prabowo mampu mencitrakan ‘Jokowi-Basuki’ sebagai sosok sederhana, anti money politic, jujur, merakyat dan menginspirasi. Saya memandang, politik pencitraan yang dibangun Pak Prabowo sukses. Hanya satu yang tersisa, apakah magnet Jokowi-Basuki juga nantinya mampu mengangkat nama Prabowo sebagai Presiden impian jutaan rakyat Indonesia? tentu terlalu dini memprediksinya. Tetapi andai saja Pilpres dan Pilkada DKI digelar bersamaan pada hari ini, boleh jadi Prabowo juga akan tampil sebagai Capres yang memperoleh suara terbanyak. Sebab nafas politik publik Indonesia saat ini lebih didominasi Prabowo dan Jokowi-Basuki.

Kekuatan seorang Prabowo Subianto tampak dari sikap yang selalu konsisten dalam memperjuangkan sesuatu. Itu yang tampak pada Pilkada DKI kali ini, beda dengan sejumlah tokoh lainnya, yang terkesan ‘diam-diam’ bahkan ada yang dikabarkan ke luar negeri dan membiarkan ‘calonnya’ bertarung sendiri. Sementara pasangan Jokow-Basuki selalu konsisten dengan kesederhanannya, konsisten dengan anti money politic-nya dan konsisten untuk terus bersama, berjalan dengan rakyat kecil tanpa melupakan keberadaan warga yang berada di level menengah ke atas. Lagi-lagi, saya berkata fenomena ini adalah ‘magnet ketemu magnet’. Tinggal menunggu, apakah Jokowo-Basuki akan menduduki posisi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI? Dan apakah Prabowo Subianto melenggang ke kursi Presiden. Saya berasumsi singkat, “Tinggal mengokohkan saja!”
(**)

Prabowo Subianto, Fenomena Sosial Bukan Fenomena Politik

Tidak sedikit opini yang mempersoalkan fenomena Prabowo Subianto sebagai pemimpin republik, sebab ia adalah warisan orde baru yang kontroversial. Menariknya, sejumlah lembaga survey telah mentasbihkan putra begawan ekonomi bangsa ini sebagai Calon Presiden (Capres) terkuat, terpercaya, dan memiliki elektabilitas tertinggi dibanding sejumlah tokoh lainnya pada Pemilu 2014 mendatang.  Mengapa hal itu terjadi? Saya memandang Pak Prabowo sebagai sebuah fenomena sosial tersendiri di publik bangsa ini.

Mengapa fenomena sosial? Saya menjawabnya dengan logika terbalik, bahwa Pak Prabowo bukan fenomena politik. Apa bedanya? tentu subjektif jika saya mengatakan,  jika hal itulah yang membedakan Pak Prabowo dengan sejumlah tokoh politik yang ‘besar’ karena dibingkai oleh kerja-kerja politik dari sebuah partai yang telah memiliki infrastruktur dan suprastruktur politik yang kuat pula. Inilah yang sebut dengan istilah fenomena politik. Sementara fenomema sosial bagi saya adalah, lahirnya satu figur kuat karena dorongan kuat publik, bukan partai atau lembaga afiliasi politik lainnya, atau karena sebuah pencitraan yang secara kontinue berlangsung karena figur tersebut memiliki wadah untuk mencitrakan diri dan partainya.

Saya melihat ini ada pada diri Pak Prabowo. Ia tokoh yang tak lepas dari cerita ‘status quo’ Orde Baru, memiliki Partai masih terbilang ‘seumur jagung’, tetapi sejumlah lembaga survey mengokohkannnya sebagai figur kuat yang paling dirindukan publik Indonesia untuk memimpin bangsa ini kedepan. Lalu, apakah sebuah fenomena sosial akan dikalahkan oleh fenomena politik?

Bagi saya, ini tugas berat Pak Prabowo jika benar-benar menginginkan posisi sebagai Presiden RI di 2014 mendatang. Sebab regulasi perpolitikan di Indonesia cenderung lebih memilih fenomena politik ketimbang fenomena sosial. Hal ini ditunjukkan dengan regulasi yang menyebutkan, jika seseorang Capres haruslah diusung oleh Partai Politik yang memenuhi persyaratan undang-undang, bukan kerja-kerja sosial atau sekedar arus kuat dari publik. Terbukti Capres dari jalur Independen ditiadakan oleh Mahkamah Konstitusi.

Meski demikian, saya tidak menyepelekan kerja politik Pak Prabowo dengan Partai Gerindra-nya, sebab survey juga membuktikan jika popularitas Partai Gerindra masih tertinggal dibanding partai besar lainnya seperti Golkar, PDIP maupun Partai Demokrat. Bagi saya, seseorang dipastikan bakal bisa merebut posisi sebagai Presiden, jika seseorang mampu ‘mengawinkan’ antara fenomena sosial dengan fenomena politik. Atau dengan kata lain bahwa modal fenomena sosial Pak Prabowo tak cukup untuk mendapatkan porsi sebagai Presiden jika tidak didukung penguatan politik yang kuat pula.

Tetapi saya juga tidak berani mengatakan, jika Partai Gerindra sebagai partai besutan Pak Prabowo memiliki infrastruktur dan suprastuktur politik yang lemah. Saya sekedar berasumsi, bahwa Gerindra memang masih perlu kerja keras, dan menyampaikan kepada publik bahwa Prabowo adalah Gerindra, dan Gerindra adalah Prabowo. Ini bukan pekerjaan yang sulit jika Gerindra mau. Yang paling sederhana yang bisa dilakukan adalah setiap kelembagaan partai Gerindra mulai dari pusat hingga ranting selalu memampangkan potret diri Pak Prabowo. Mungkin ini telah diketahui pihak Gerindra, dianggap bukan sesuatu yang baru, tetapi kenyataan dilapangan menunjukkan, partai sepertinya masih ‘berdiri sendiri’, dan Pak Prabowo juga ‘berdiri sendiri’.  Efeknya, publik masih banyak yang belum mengetahui bahwa keduanya adalah sama, khususnya publik yang berdiam di wilayah pedesaan.

Fenomena ini pernah ditunjukkan Partai Demokrat pada Pemilu 2004 silam. Demokrat belum dikenal, masih dipandang sebelah mata, dan belum terhitung sebagai partai idola. Tetapi partai tetap percaya diri memampangkan potret pak SBY sebagai ‘magnet’ di setiap papan nama partai demokrat dari pusat hingga ranting. Hasilnya memuaskan, secara instant, demokrat menjelma sebagai partai besar dan berhasil mengantarkan SBY sebagai Presiden, mengalahkan ‘incumbent’ saat ini. Saya melihat SBY yang kala itu sebagai sebuah fenomena sosial mampu mengawinkan partai dan dirinya dengan sebuah fenomena politik.

Kini, Pak Prabowo telah menjelma sebagai magnet besar yang dirindukan publik Indonesia sebagai Presiden 2014 mendatang. Pak Prabowo telah menjadi fenomena sosial. Yang terisa, apakah fenomena politik juga akan berpihak padanya? Masih sebuah tanda tanya besar. (**)
----------------------------

Nasionalisme Hercules, Nasionalisme Prabowo


Publik Indonesia banyak yang tahu akan nama besar Hercules Rosario. Seorang yang masa lalunya selalu dipersepsikan sebagai penguasa jalanan, salah seorang raja preman dan dikenal sebagai penguasa Tanah Abang, kawasan grosir Jakarta sekaligus yang terbesar di Asia Tenggara. Saya dapatkan itu, dari sejumlah literatur yang ada. Mungkin benar, tapi saya ingin melihat sisi lain Bang Hercules, sisi lain anak Pulau Timor yang kini aktif membangun ormas baru bernama GRIB, Gerakan Rakyat Indonesia Baru.

Meski saya belum mengenalnya secara dekat, tetapi terasa ada magnet kuat yang dimiliki Bang Hercules hingga mendorong saya menulis melalui dialog imaginatif saya, bila Bang Hercules memiliki jiwa raga yang sebenarnya ia peruntukkan untuk kejayaan Indonesia Raya. Karenanya ia mewujudkan semangat nasionalismenya itu dengan mendukung Pak Prabowo Subianto sebagai Presiden RI di masa mendatang. Saya sendiri berkata, nasionalisme Bang Hercules, adalah nasionalisme Pak Prabowo

Bagi saya ini fenomena baru, sebab jika membaca literatur masa lalu Bang Hercules, maka amat naïf jika berfikir tentang keinginannya melihat Indonesia jauh lebih maju. Sebab biasanya ‘otak’ orang Indonesia selalu memposisikan mantan preman di sisi yang gelap. Jarang sekali melihat sisi ’terang’ dari apa yang dilakukannya. Apakah ini hidayah dari Tuhan? Sehingga menggerakkan hati Bang Hercules untuk sama-sama bercita-cita menuju kejayaan Indonesia Raya. Wallahu Alam Bissawab. Tapi saya amat meyakini, upaya yang dilakukan bang Hercules dengan GRIB-nya adalah salah satu langkah kongkrit dan sikap positif yang patut didukung oleh segenap elemen bangsa, bahwa Pak Prabowo adalah sosok terbaik di negeri ini, siapapun boleh menggiringnya ke tahta istana yang menaungi jutaan rakyat Indonesia.

Menyoal nasionalisme Bang Hercules bukanlah cerita rekayasa. Beliau ternyata penerima lencana Bintang Seroja dari Pemerintah RI, ini sebuah tanda bila Bang Hercules punya sepotong hati yang sebenarnya dia abdikan untuk negaranya. Bagi saya ini luar biasa. Sebab seorang terpelajar sekalipun, amat jarang menerima penghargaan seperti ini. Lebih luar biasa lagi, sebab pengikut-pengikut GRIB tidak semata anak buah Bang Hercules dari jalanan, banyak diantara mereka adalah pemikir-pemikir cerdas, bertalenta dan berkarakter yang hidupnya ia abdikan untuk cerita masa depan bangsa Indonesia. Saya sendiri, amat tertarik dengan Ormas ini, dan tertarik dengan pribadi Bang Hercules yang amat nasionalis. Sepertinya saya mendapat ‘guru baru kehidupan’ di tengah kabut-kabut Jakarta yang bermandikan kebebasan, sikap pragmatis, dan sikap ketidak-pedulian antara satu dengan yang lainnya. Saya pun ikut membenarkan pengistilahan banyak orang; ”Memang lebih baik jadi mantan preman, ketimbang mantan orang baik”...

Lagi-lagi saya menghidupkan diskusi imajinatif saya soal Bang Hercules dan GRIB-nya. Ketika melintas di beberapa kawasan di Kota Jakarta, kibaran-kibaran bendera GRIB banyak mewarnai jalan-jalan ibukota. Saya amat salut, bahwa simbol ’garuda’ yang ikut melekat pada nafas GRIB sepertinya menggambarkan hati Bang Hercules, bahwa beliau amat menginginkan nilai-nilai ’Pancasila’ harus dihadirkan kembali dalam ’jiwa baru’ orang Indonesia, yang kini seolah kehilangan ideologi ke-pancasila-annya. Saya juga banyak melihat kader-kader Satgas GRIB yang menggunakan seragam mirip militer. Awalnya agak gelagapan, dan bertanya-tanya, ada apa kader-kader GRIB menggunakan seragam itu? Apakah ini sekedar menakut-nakuti rakyat? Tentu bukan. Bagi saya ini interaksi simbolik yang coba dihadirkan Bang Hercules, bahwa rakyat Indonesia butuh perlindungan dari para pemimpinnya. Karenanya wajar jika, ada kegiatan social GRIB, para kader itulah yang begitu rajin turun dan ikut membantu rakyat kebanyakan. Saya ingat slogan ABRI di masa lalu “Manunggal Rakyat”, atau bersatu dengan rakyat.

Meski begitu, saya juga masih bertanya-tanya, apa sebenarnya cita-cita panjang Bang Hercules, sehingga harus bersusah payah menghabiskan waktu, dana dan jaringannya untuk membantu Pak Prabowo menuju kursi Presiden? Apakah ini untuk melanggengkan kekuasaan Bang Hercules? Ataukah Bang Hercules ingin melintas ke arena politik? Saya tidak menangkap itu. Yang saya dengar, bang Hercules kini telah berada dalam posisi ‘sadar’, tak ingin sekedar dianggap sebagai penguasa jalanan Jakarta. Selalu di persepsikan dalam posisi salah.

Cerita kawan-kawan, bang Hercules kini menghabiskan hidupnya untuk kebaikan orang banyak. Membantu rakyat kecil, dan hal itu tentu tak bisa dilakukannya sendiri-sendiri. Sepertinya Bang Hercules sadar, bila jika ingin berbuat yang terbaik buat jutaan rakyat Indonesia, harus masuk dalam sistem kekuaasaan di republik ini. Dan jalan yang dipilihnya, adalah menggabungkan jiwa nasionalismenya bersama jiwa nasionalisme Pak Prabowo. Bagi saya ini jalan yang tepat, sebab tak mudah berbuat yang terbaik jika berjalan sendiri. Bang Herculees bukanlah Robin Hood. Hercules tetaplah Hercules yang sejati, yang hidupnya ia abdikan pada bangsa dan negara yang dicintainya. Ia pun mewujudkan impian dan cita-cita gemilangnya bersama patriotisme Pak Prabowo.

Saya pun ingin bertanya pada jutaan rakyat Indonesia yang menginginkan kemajuan, kejayaan bangsanya. Bahwa seorang Hercules saja telah mencurahkan hidupnya dan sikap politiknya pada Pak Prabowo, lalu mengapa kita tidak? Saya yakin kita semua bisa!.

Selamat berjuang Bang Hercules. Tunjukkan Merah Putihmu!!