26 April 2013

LAMA tak terdengar kiprahnya di Sulawesi Tenggara pasca tugasnya sebagai walikota Baubau dua periode (2003-2008 dan 2008-2013), terasa ada kerinduan untuk mengetahui kemana pria kelahiran 18 September 1954 itu ‘bergerak’?. Sama seperti banyak rekan yang bertanya, apa kabar Pak Amirul belakangan ini? Kemana beliau? dan apa aktifitasnya saat ini?. Pertanyaan-pertanyaan lazim yang kerap saya terima sejak beliau masih aktif sebagai walikota. Saya memakluminya, semata-mata karena saya dianggap memiliki kedekatan emosional dengan tokoh ini. Namun, beberapa bulan belakangan saya juga kurang menangkap ‘sinyal’ Pak Amirul. Seperti kawan-kawan lainnya, saya pun merasa ingin mengetahui kemana jejak beliau. Di Jakarta? Di Kendari? Atau di Baubau? Entahlah!

Dua hari lalu, ponsel saya berdering. Nomornya langsung aku kenali. Ya! Pak Amirul. “Kamu ganti nomor ya? Kalau di Jakarta, sore kita ketemu” katanya. Saya mengiyakan. Pastilah. Bagi saya, mantan Ketua Assosiasi Pemerintah Kota (APEKSI) kawasan Timur Indonesia di tahun 2010 ini tidak sekedar sebagai pimpinan, tetapi juga telah menjadi ‘orang tua sendiri’, karenanya kesantunan selalu terjaga, sama seperti ketika menghadapi para tetua di Pulau Buton sana. Satu hal yang terasa lain dari Pak Amirul dibalik ponselnya, adalah nada bicaranya yang menurut saya ‘melemah’. Apakah karena ia bukan lagi seorang pejabat? Yang pasti saya merasakan ada perbedaan nada bicara. Sesuatu yang menjadi tanda tanya dalam pikiran saya. Tetapi saya tak perlu terlalu jauh mencari jawabannya sebab sore akan bertemu beliau juga.

                                                                                  **
GERIMIS membasahi kawasan Cikini berbaur dengan alunan musik senada dengan waktu yang beranjak malam. Pak Amirul berkemeja putih tampak begitu ‘fresh’, benar-benar fresh, sehingga hingga usianya yang sebentar lagi  ‘kepala enam’ itu   tertutupi dengan wajah rupawan yang dimilikinya. “Mungkin beliau telah terbebas dari beban berat sebagai kepala daerah yang membuat pikirannya ruwet” pikirku membatin sembari mencermati diskusinya dengan seorang rekan dari Kota Kendari. Sesekali jemari Pak Amirul mengamit sebatang rokok bawaan rekan bicaranya. Sesuatu yang jarang dilakukannya, sebab ia bukanlah perokok. Ini ‘gaya’ Pak Amirul menghargai teman-teman diskusinya, baik itu kalangan pejabat hingga warganya sekalipun.

Sekian lama berdiskusi, Pak Amirul selalu tertawa lepas. Humor-humornya tetap mengemuka di sela-sela diskusi tentang suasana Rakernas PPP di Bangkalan-Madura, Maret lalu. Tampaknya Pak Amirul begitu ‘serius’ dengan partainya. Maklumlah, ia dipercaya sebagai Sekretaris PPP Provinsi Sulawesi Tenggara, dan diamanahkan untuk menjadi salah satu Caleg DPR-RI dari provinsi ini. Apalagi ketuanya, Bapak Buhari Matta (Bupati Kolaka-Sultra), kesandung masalah hukum sehingga amanah partai banyak berada di pundaknya. Tetapi soal Pak Buhari, ia tak neka-neko. “Pak Buhari itu manusia yang kuat, meski kesandung masalah hukum dan dalam keadaan sakit, beliau selalu bertutur dengan lembut, tidak berpikir macam-macam, dan sepertinya beliau pasrah dengan apa yang akan terjadi dengan masa depannya. Karena itu sebagai sekretaris beliau, dan pernah sama-sama menjadi kepala daerah, dan berpasangan sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur, saya sangat menghargai privacy beliau. Mungkin Tuhan punya rencana lain dengan kehidupan Pak Buhari,” ujarnya.

Lalu apa bagaimana kesiapan Pak Amirul sebagai calon anggota DPR-RI? “kesiapan itu tentu sudah ada sejak bergabung dengan PPP. Insya Allah jika Tuhan mengizinkan dan rakyat Sultra memilih saya Sebagai wakil rakyat di Senayan pada Pemilu 2014 mendatang, maka yang terpenting adalah bagaimana keberadaan para anggota dewan ini benar-benar menjadi ‘jembatan penghubung’ aspirasi, rakyat dengan pemerintah di pusat. Kemasannya pada fungsi pokok anggota dewan itu sendiri, baik di fungsi legislasi, budgeting dan lain-lain. Sebagai mantan kepala daerah di daerah ini, dan pernah menjadi birokrasi di Pemprop Sultra tentu saya banyak memahami, apa yang menjadi kebutuhan mendasar orang Sulawesi Tenggara. Yang pasti sudah ada di ‘kepala’, tinggal action saja,” ujarnya.

Soal ini, Pak Amirul sepertinya belum ingin berdiskusi serius. Ia hanya berkata “Yang pasti warga Sultra mulai memahami jika saya ‘nyaleg’ mewakili mereka di DPR-RI dari PPP, soal bagaimana membangun konsensus, akan kita sampaikan terang-terangan jika tiba saatnya kampanye. Toh, tanpa perlu banyak bicara, warga Sultra tentu banyak mengetahui apa-apa yang pernah saya lakukan ketika menjadi kepala daerah. Tidak sekedar apa yang menjadi keunggulan personal saya, tetapi mereka juga bisa memahami dimana kelemahan saya. Masyarakat kita sudah cerdas, mereka tak perlu digurui lagi. Dan kawan-kawan lain juga yang nyaleg di partai berbeda tentu juga punya plus minus, dan saya amat menghargai perbedaan-perbedaan cara berpikir itu. Pokoknya tolong doakan supaya saya dan kawan-kawan lainnya yang punya tujuan sama, supaya tetap sehat dan amanah jika terpilih kelak,” katanya merendah.


Lama berdiskusi soal politik Indonesia 2014, saya kemudian mengingatkan kondisi kekinian Baubau. Ingin sekali mendengar apa komentar Pak Amirul tentang kota yang dipimpinnya selama 10 tahun itu. Lagi-lagi Pak Amirul sepertinya tak ingin diajak bicara serius, tetapi ia tetap memberi wejangan. Bagaimanapun ia adalah tokoh peletak dasar kota itu. “Tugas staf itu adalah membantu kepala daerah semaksimal mungkin, jangan terkotak-kotak. Baubau harus tetap terbangun siapapun kepala daerahnya, dan saya punya keyakinan jika kota kita akan terus berkembang dari waktu ke waktu, dan memiliki daya saing dengan daerah-daerah lainnya,” ujarnya optimis.

Sikap optimisme dalam mengurai satu persoalan, memang menjadi ‘gaya kepemimpinan’ Pak Amirul, dan sepertinya ia tak ingin terjebak dengan politik praktis yang banyak diberitakan media massa belakangan ini. “Saya bagaimanapun kini stastusnya politisi, tetapi saya memandang politik itu tidak sekedar alat untuk merebut kekuasaan, tetapi lebih penting dari itu menjadi pintu utama untuk memperbaiki kemaslahatan orang banyak. Yang pasti berbuatlah yang terbaik. Sebab apapun yang kita lakukan selalu punya resiko, sekalipun itu adalah kebaikan,” sergahnya.

Saya terdiam, ungkapan ini mengingatkan memori saya ketika menulis tiga buku biografi Pak Amirul  sekaligus dalam waktu setahun. Mulai dari buku yang berjudul, “Dari Timur Membangun Peradaban” yang sempat menjadi diseminar-khususkan di Universitas Hasanuddin Makassar, hingga dua buku berikutnya; masing-masing “Kilometer 9” dan “10 Tahun Pak Amirul”. Ketiga buku ini, selalu terangkai satu kalimat penting dan bermakna bagi saya sebagai penulis, “Berbuatlah yang terbaik, Sebab apapun yang kita lakukan selalu punya resiko, sekalipun itu adalah kebaikan”.

                                                                                         **

Malam telah larut, jarum jam menujukkan pukul 00.00 WIB, beberapa ruangan telah digelapkan pemiliknya. Tapi Pak Amirul terus saja mengajak kami berdiskusi dalam suasana ringan dan santai. Soal yang satu ini tak ada beda ketika masih menjadi kepala daerah. Selalu saja bermain dalam diskursus-diskursus menarik. Termasuk ketika beliau memberi saya ‘sangu’ ketika ingin pulang (heheheh..yang ini selalu diicar mahasiswa seperti saya). “Tetap semangat ya, belajar yang baik, anda diberi ruang oleh daerah untuk belajar di Jakarta maka berikan prestasi yang terbaik” kata Pak Amirul memberi motivasi.

Ada yang ingin disampaikan pada warga Kota Baubau? Saya bertanya lagi sebelum Pak Amirul beranjak pulang. “kalau yang ini amat politis” jawabnya. Apa itu pak? Tanyaku lagi. “Sampaikan salam saya  pada segenap warga Baubau dan Sulawesi Tenggara, salam hangat saya, sampaikan pula jika saya bermunajat untuk menjadi Caleg DPR-RI dari PPP. Semoga saja bisa kita bersama lagi. Bukankah Bersama itu Lebih Baik? Itu yang politisnya” kata Pak Amirul sambil tertawa kecil.

Lagi-lagi ini ‘gaya’ Pak Amirul. Meski dalam suasana bermain, ia selalu terbuka menyampaikan apa yang menjadi keinginannya, termasuk dalam persoalan-persoalan politis. Tetapi apapun prestasi yang pernah ditorehkan Pak Amirul, baik dalam posisinya sebagai birokrasi di Sulawesi Tenggara, maupun sebagai walikota dua periode di Kota Baubau, tetapi langkah Pak Amirul menjadi ‘duta sultra’ di Senayan, terletak di tangan warga Sulawesi Tenggara itu sendiri. “Kita bismillah saja, semoga kita semua dalam keadaan sehat-walafiat, dan niat kita dilapangkan oleh-Nya” Pak Amirul menutup pembicaraannya.

Saya mengamini, seperti malam yang selau setia menyambut pagi hari. Seperti Anda yang selalu setia mencermati kata demi kata tulisan ini...Sukses selalu.

---------------------
Jakarta Dini Hari, 26 April 2013

Baca juga tulisan terkait berikut ini:


Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX