17 April 2013

GIMANA rasanya jika anda digoda seorang wanita muda dan seksi? Tentu suprise, kikuk dan rada grogi. Apakagi nada suaranya rada berbisik dengan lirikan nakal. “Halo..kacamatanya cakep”. Tapi saya hanya tersenyum kecil, berlalu dan kemudian berpikir panjang siapa sosok wanita berbaju kuning dan bercelana jeans itu. Ada apa ia menggoda di tengah keramaian atrium senen itu? “Dess, saya baru sadar, ini mungkin cerita banyak orang tentang banyak wanita mapan yang kerap mencari ‘gigolo’ di keramaian Jakarta, ataukah sekedar ibu-ibu muda yang kerap iseng hanya untuk memperkenalkan diri?” pikirku positif.

Dalam seribu tanya di benak, saya terus berjalan menyusuri etalase-etalase atrium, sekedar menikmati seribu satu belajaan yang memanjakan mata. Tetapi saya juga harus jujur, jika ada keinginan bertemu lagi ibu muda itu saat itu juga, sekedar mengamati ‘tanda-tanda’ seperti yang banyak diceritakan orang, saya juga penasaran apakah ia benar-benar seorang ‘penikmat seks sewaan’, yang banyak dipertontonkan film, sinetron dan tuturan novel-novel ala Jakarta?. Benar saja! Ia masih berdiri di etalase sepatu imporan bersama seorang rekan wanita sebanya dengannya. Saat mendekat, ibu itu kembali tersenyum, tapi tak ada lagi godaan lirih.

Jika saja benar ia seorang wanita penikmat seks sewaan, senyuman kecilnya memberi arti dan memahami jika saya bukan seorang ‘gigolo’ yang bisa memenuhi hasrat seks-nya. Sebab kata banyak orang, seandainya saya memberi respon ‘kata-kata’ maka boleh jadi transaksi akan berlangsung di situ juga. Entah kapan ketemunya, urusan belakangan!. Yang pasti godaan lirih dan senyuman kecil wanita itu menambah ‘derajat’ pengalaman saya tentang ‘seks ala jakarta’. Bahkan asumsi seorang kawan menyebut jika penampilan saya saat itu ‘mengandung’ tanda-tanda jika saya seorang ‘gigolo’ . duh!!, tentu saya bingung, sebab saya memang pria berkacamata, yang saat ke atrium menggunakan setelan jeans dan kemeja lipat kotak biru ala ‘jokowi’.  Gaya yang semua orang biasa menggunakannya. Tak ada ‘tanda’ lebih yang membuat saya dapat disebut sebagai ‘pria sewaan’.

Jika ibu muda itu seorang ‘penyewa’ berarti soal ‘gaya’ tentu biasa saja, ia tampil dengan rambut pendek ala ‘polwan’, tingginya tak lebih dari 165 cm, bercelana jeans biru ketat, dengan warna baju kuning menyolok, plus sepatu hak tinggi. Bagi saya mode semacam ini, biasa dipakai ibu-ibu muda  muda di kota-kota metropolitan. Saya hanya menangkap sedikit rupa ibu itu, sepertinya ia telah bersuami dan berduit. Tampak sekali dengan cita rasa busana serta aksesori yang melekat di tubuhnya terbilang cukup mewah. Tapi soal ‘body’ bagi saya, ia tidak terbilang ‘aduhai’ bahkan parasnya pun masuk dalam kategori ‘lazim’. Dalam hati saya berkata, wanita lebih dari ini cukup banyak di kampus. Plus lagi, karena mereka adalah wanita-wanita intelek, terhormat dan tidak ‘blusukan’ menawarkan dirinya pada pria lain.

 Sekelumit pengamalan hari ini semakin menambah referensi saya menggeluti hidup di Jakarta. Tetapi saya hanya ingin berkata; “Sebenarnya wajah Jakarta tidaklah seperti ini, kehidupan sosial orang Jakarta juga sama dengan yang di daerah, gambaran tentang kehidupan seks bebas juga ada di daerah, hanya saja Jakarta adalah ibukota, semua ada di sini!”

---------

Cikini Jelang Magrib, 17 April 2013







Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX