17 May 2013

SAYA belum tahu Amerika, tetapi melihat tingkah si kecil ARA-putri rekan Yusran Darmawan, yang lucu dan seolah baru mendapat ‘dunia baru’ sepertinya Amerika tak sesulit apa yang dibayangkan banyak orang.  Ara kecil digelap malam Jakarta, disudut-sudut kaki lima Kramat Sentiong, ‘berburu’ sekedar mencandai dengan seekor kucing, lalu kegirangan menatap ikan-ikan di kolam hotel serta merasa nyaman ketika menunggangi motor CBR-ku.  “Ara sepertinya kaget melihat banyak orang dan kendaraan lalu lalang, sebab selama di Amerika suasananya tidak seperti ini,” ujar Yusran, sang Ayah yang baru saja boyongan ke Indonesia selepas menimba ilmu di negeri Obama sana.

Saya membatin dalam-dalam terhadap keluarga kecil ini, membatin setelah  menyimak banyak cerita-cerita Yusran tentang Amerika, membatin saat melihat Dwi-istri Yusran- yang tetap ‘bertahan’ sebagai ibu berkarakter Bugis, dan membatin tatkala memandang Ara yang terus ‘sibuk’ dengan dunia bermainnya. Bahwa seberapa jauh mereka melintas benua, Indonesia adalah negeri mereka, Sulawesi tetaplah impian mereka. Kesimpulan saya, dua tahun lebih mereka berkutat ‘di negeri harapan’ orang-orang di dunia ini, Amerika tak mengubah pola hidup dan prilaku mereka.

Bahkan seorang rekan Yusran asal Hakatotobu-Kolaka bernama Abdul Hakim yang juga ikut mengenyam beasiswa Ford Foundation di Ohio University-Amerika, masih ‘asli khas Kolaka’ baik canda dan nada bicaranya. Melihat beliau saya susah menahan tawa, sebab aroma ‘Kolaka-nya’ lebih kental ketimbang saya yang juga besar dan tumbuh di sana, sementara saya hanya berkutat di Ibukota Jakarta ini. Apalagi kata Yusran, Hakim adalah seorang yang konsent di dunia ‘paccarita’, dongeng khas orang-orang Bugis. Saya pun bertanya pada diri sendiri? “Mengapa jauh-jauh ke Amerika jika harus tetap berposisi sebagai pendongeng? Mungkin ini istilah banyak orang , America is hope  many people in the word!

Terkecuali ARA yang sesekali melepas bahasa dalam bahasa Inggris. Mungkin karena ia ‘besar’ di sana. Saya sendiri berkata pada mereka, andaikata Ara ‘tersimpan’ di Amerika dua atau tiga tahun, maka mungkin ia ‘menjadi’ anak Amerika. Sebab tingkahnya, gaya bercuap-nya, kulit serta rambutnya mulai ke-bule-bulean. Ara benar-benar tampak seperti ‘bayi bule’, lucu dan menggemaskan.

Ara kecil (dok. yusran)
Yusran seolah paham apa yang ada menjadi alur pikiran saya. Ia tahu jika saya juga seorang ambisius di dunia pengetahuan. Ia juga tahu jika saya juga punya keinginan besar melintas benua. Karenanya ia tak lupa memberi cenderamata saya kaos oblong bertuliskan Ohio dan juga selembar mata uang amerika bernilai 5 dollar. Mungkin sekedar sugesti, jika saya tetap dalam ‘nafas memburu ilmu, tidak kendor dan layu’ meski hanya di Jakarta. “Saya tak pernah memandang sesorang kuliah di negeri mana, di kampus mana, yang penting serius dan bisa menjadi yang terbaik, untuk apa jadi ekor naga, jika kita masih bisa menjadi kepala meski hanya kepala cacing,” ujar Yusran memotivasi saya untuk tetap memburu ‘doktor’ impian itu.

Saya sendiri memandang cendera mata itu sebagai sesuatu yang amat bernilai, kaosnya langsung kupakai, dan dollarnya dijadikan ‘jimat’ dompet. Saya menjadi kampungan. Soal dollar bagi saya memang bukan barang baru, tetapi kali ini saya menerimanya dari orang yang baru saja pulang memeras keringat di dunia Ilmu, bukan menerimanya dari orang-orang berduit hasil rampokan pajak-pajak negara, atau ‘jame-jame’ daging impor, atau elit-elit Senayan yang suka bermain anggaran. Yang pasti dibalik lembar 5 dollar pemberian Yusran itu terdapat nilai keseriusan, nilai keteladanan, dan semangat orang-orang kecil merengkuh kehidupan yang tak instant.

Yang pasti, saya bangga pada mereka, bangga pada kejuangan dan spirit hidup mereka. Dan tentu saya berharap, kelak mereka menjadi inspirasi kehidupan banyak orang. Sebab dewasa ini, orang-orang sederhana seperti itu seolah mencari jarum dalam sekam. **

Jakarta, Jumat Malam, 17 Mei 2013 

Baca juga tulisan berikut ini :

- Rekonstruksi Pemikiran Gowa dalam Negeri 5 Menara
- Kesahajaan Petarung Samudera


2 comments:

  1. good..lets the dream come true

    ReplyDelete
  2. ok..thanks..i'm always waiting miracle from my god..

    ReplyDelete

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX