19 May 2013

MENJADI lulusan terbaik dari sekolah maupun perguruan tinggi ternyata bukan jaminan seseorang untuk melangkah ke jenjang pendidikan yang diimpikan, selalu saja ada ‘uji coba’ yang membuat langkah kita ‘terpeleset’. Saya merasakan itu setelah dinyatakan ‘belum lulus’ masuk di S3 Komunikasi Universitas Indonesia (UI) tahun ini. Padahal segala persyaratan akademik dipenuhi, teruji dan tentu terkualifikasi dengan baik. Saya lalu merefleksi diri “ada apa dengan diri ini?”. Saya terus membatin, sebab satu-satunya yang bisa dikambing-hitamkan adalah kemampuan berbahasa inggris yang terbilang buruk. Tapi apakah ini ‘algojo’ penjegal saya dalam mencapai gelar akademik tertinggi di republik ini?

Saya tak jumawa dan tak ingin kehilangan impian, pilihan terakhir saya adalah Universitas Sahid Jakarta. Kampus swasta satu-satunya dan pertama penyelenggara doktoral ilmu komunikasi di Indonesia. Memang, banyak pilihan di kampus Negeri, seperti Bandung, Jogja, Surabaya dan Makassar, tetapi alasan ekonomi dan ‘jelajah karir’ saya tetap memilih Jakarta. Jika tidak, maka tentu saya akan kembali mengabdi sebagai aparat pemerintah daerah dengan gelar akhir magister nun jauh di Sultra sana.

Tentu saya kecewa, tetapi saya tak mampu melawan kodrat Tuhan dan juga keterbatasan akademik yang menjadi standar kampus UI. Saya hanya membatin, jika Sang Pencipta mungkin punya ‘agenda setting’ lain dengan alur kehidupan saya, juga ujian dari sebuah perjalanan yang mungkin sadar atau tidak telah saya jalani dalam sebuah ritme hidup yang bernama ‘dosa’. Mungkinkah dosa akademik? Saya menolak, sebab selama kuliah magister, saya bukanlah penjiplak, atau pembeli ijazah. Tetapi ditanya soal kemampuan ‘bilingual’, saya mungkin meng-iya. Boleh jadi dialah sang algojo itu. Yang pasti saya hanya mengembalikan kata ini jika ‘ada jalan Tuhan’ yang mungkin lebih baik yang akan saya terima. Disinilah misteri Sang Khalik, yang tak satupun makhluk bisa menebaknya.

Tetapi dibalik itu, lagi-lagi saya bertanya, apakah memang nasib saya untuk sekolah dan kuliah di level swasta? Pertanyaan ini timbul setelah memutar balik alur waktu ke masa silam, jika ternyata saya hanya menikmati ijazah ‘sekolah negeri’ hanya dijenjang SD dan SMP. Sementara di SMA hanya setahun, selebihnya setelah pindah tempat mengikuti orang tua, saya tamat di SMA swasta. Beberapa tahun kemudian mendapat gelar ‘sarjana hukum’ di kampus swasta, lalu mendapat gelar ‘master’ juga di kampus swasta. Dan, jika seandainya Tuhan mengizinkan saya masuk S3 di Universitas Sahid, itu berarti saya bersiap-siap dalam beberapa tahun ke depan akan ‘doktor’ juga keluaran kampus swasta. Insya Allah, jika panjang umur dan tak ada halangan!

Alasan-alasan ini, sepertinya jadi misteri hidup saya. Memang tak perlu mempersoalkan label tempat pendidikan, sebab zaman sekarang ini ‘negeri’ dan ‘swasta’ tak berbeda lagi. Kompetisinya sama, dan peluang kerjanya sama. Saya hanya bertanya, apakah saya memang dilahirkan untuk sekolah dan kuliah di kampus swasta? Allah SWT, Tuhan Yang Maha Mengetahuilah kemana alur hidup saya. Tetapi saya masih bisa tersenyum, dan percaya jika Tuhan punya hal terbaik untuk saya, istri, anak-anak, orang tua dan semua orang yang saya cintai. Buktinya, saya ternyata bekerja diinstitusi pemerintahan negeri ini.

Apapun bentuk ‘evaluasi’ yang saya terima hari ini, bukan lagi gelegar petir dan guntur di musim hujan. Tetapi ia angin yang memberi saya hembusan rasa dan asa, bahwa saya bisa menjadi yang terbaik dimanapun tempatnya. Saya ingat belasan tahun silam. Tamat SD dengan lulus terbaik, di SMP juga terbilang juara, SMA lulus terbaik, S1 luls cumlaude, S2 jadi wisudawan terbaik dan berprestasi. Lagi-lagi saya berkata, mungkin memang saya dilahirkan untuk sekolah dan kuliah di swasta.

Saya hanya ingin berkata pada angin di subuh ini? Berikan saya waktu untuk berbuat yang terbaik pada bangsa ini, berikan saya waktu untuk memberi yang terbaik untuk masyarakat kelak saya kembali pada mereka. Dan berikan saya waktu untuk mengajarkan anak-anakku dan generasiku sesuatu yang terbaik.

Akhirnya saya bisa tersenyum, tatkala azan Subuh memanggilku, kekecewaan itupun sirna, dan apapun itu Sang Pencipta tetaplah segalanya..ini hanya permainan duniawi, seperti cerita dalam dramaturgi Erfing Goffman, semuanya punya panggung. Saya hanya berharap pagi akan menemaniku dengan sejuta senyuman dan selalu berkata “kamu tetap akan menjadi yang terbaik. Buktikan itu!” **

Jakarta Jelang Azan Subuh, 19 Mei 2013

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX