26 May 2013

Orang-orang daerah seperti saya kerap penasaran membayangkan situasi rumah para tokoh penting di republik ini. Dulu, jika menyebut nama Cendana 7, maka pasti semua tahu jika itu kawasan rumah Pak Harto. Bayangan saya kala itu, pastilah gedung mewah bak istana dengan sejumlah fasilitas ‘wah’ lainnya. Waktu kecil selalu terbayang jika Cendana itu kawasan keramat dan keindahannya seperti cerita istana Ratu Bulqis. Begitulah media mengungkap ‘kekeramatan’ Cendana, maklum saja jika ada seseorang yang dipanggil ke Cendana, maka dipastikan orang tersebut bakal menjadi pejabat tinggi negara. Begitu media memberitakannya.  Wajar saja itu terjadi, sebab media massa kala itu membeo pada kekuasaan. Dalam sebutan ilmiahnya ‘pers autoritharianism’.

Saat ini tiga tahun sudah melabuhkan diri di Jakarta, tinggal di kawasan Menteng-Jakara Pusat tak jauh-jauh dari Cendana, jaraknya hanya sekitar 500 meter. Tetapi selama itu,  baru beberapa bulan ini sempat ‘mengintip’ kondisi ‘istana’ Cendana masa kini, meski hanya sekedar melintas untuk melepas rasa penasaran itu. Awalnya sempat kebingungan, dimana letak Cendana, maklum posisinya tidak berada di poros utama dan terbilang sepi, panjang jalanan ini juga tak seberapa jauh. Kira-kira hanya 300 meter. Boleh jadi Cendana, merupakan jalan terpendek di ibukota. Itu asumsi saya.

Sepi? Tentu saja, maklumlah orang-orang yang berdomisili di seputaran Cendana tentu bukan ‘orang biasa’, mulai dari keluarga besar Pak Harto dan orang-orang yang belum saya ketahui, yang pasti bisa ditebak jika tinggal di Cendana pastilah seorang ‘penggede’. Sebab hingga sekarang Cendana benar-benar masih sepi dari aktifitas kendaraan. Menciptakan kesunyian dan sepi di belantara keramaian adalah gaya orang gedean Jakarta jika punya uang banyak, sebab jalanan publik pun bisa ‘dibeli’, buktinya beberapa jalanan publik di portal khusus, punya pengawasan, dan ada saat-saat tertentu bisa melintas di area itu. Kalau dipaksakan masuk, siap-siap dapat ‘push up’ dari aparat keamanan. Seperti orang menjenguk Narapidana, ada jam bezuk yang harus dipatuhi. Hehehe. (saya tergelak, tentu punya makna).

Lalu bagaimana istana Pak Harto di Cendana? Istana? Dimana istananya?. Saya benar-benar mencari dimana istana itu sampai-sampai Satpam menegur saya. “Cari apa bang”. Saya kikuk dan pura-pura menjawab, “lihat-lihat kondisi saja Pak”. Jawabku. Satpam itu seolah mengerti, dia malah menujukkan rumah Pak Harto. “Itu Pak, tapi jangan dekat-dekat ya?”. Katanya. Saya kepikiran hebat betul sosok Pak Harto ini, sudah wafat saja, rumahnya tetap saja ‘dikeramatkan’, tak boleh dekat-dekat.

Melihat bangunan-bangunan milik Pak Harto, saya tersadar jika sebenarnya rumah Pak Harto itu tak bisa diapologikan sebagai istana. Bangunannya tidak bertingkat ala pencakar langit Jakarta, bahkan terbilang ‘sederhana;’ untuk ukuran seorang Presiden yang berkuasa selama 32 tahun. Bangunan itu dibangun horisontal, memang cukup luas, tapi arsiteknya biasa-biasa saja. Sedikit berornamen Jawa, dan dibangun ala rujab-rujab peninggalan Belanda atau Jepang. Pak Harto tidak ‘berlebihan’ soal rumah. Bahkan menurut saya, cukup banyak orang-orang daerah memiliki rumah gaya Pak Harto. Cat-nya pun mulai tampak kusam, dan terkesan agak redup karena banyaknya pepohonan palem di kawasan ini, juga beberapa beringin-beringin peneduh. Saya ingat kalau Beringin ini lambang Partai Golkar, partai yang dibesarkan Pak Harto.

Makin penasaran dengan situasi Cendana 7 ini, kenapa rumah ini harus nomor 7, padahal Pak Harto belum tahu ‘CR7’ pemain bola Portugal itu..heheh ngaco pikiranku. rasanya ingin masuk ke pekarangan sekedar mengamati lebih dekat dan ingin merewind masa lalu Pak Harto. Bagaimanapun beliau adalah pemimpin bangsa terbaik republik ini. “Bang, Jangan Masuk Bang!” bentak Pak Satpam, saya grogi dan sedikit ketakutan, saya pun segera melajukan motor kebanggaan saya. “Terima Kasih Pak” saya teriak, Pak Satpam seperti kebingungan.**


1 comment:

  1. sy jg penasaran pengen bgt skali dlm seumur hidup melihat-lihat msk ke rumah cendana. rumah yg mnjdi saksi bisu sejarah klrg Pa Harto

    ReplyDelete

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX