Selamat datang d Blog pribadi Hamzah Palalloi.....Silahkan memberi komentar di bacaan Anda..






Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

Era Perkotaan Humanisme

BARU sadar pada sebuah pertanyaaan, mengapa Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil- Walikota Bandung begitu fenomenal, begitu diagungkan, bahkan sempat ‘dipaksa-paksa’ menjadi calon Gubernur DKI Jakarta? tentu banyak jawaban pembeda yang bisa disematkan padanya. Jawaban yang berkisar pada siapa dirinya, dan apa saja yang dibuatnya di kota berjuluk ‘Paris van Java’ itu. 

Paling tidak persaksian mata di kota ini, mematahkan asumsi yang selalu meng-agung-kan kepala daerah yang getol membangun serupa dengan Kang Emil. Padahal tidak. Kang Emil tetaplah berbeda, pembangunan Kota Bandung jauh lebih memanusiakan warganya. Itu kenapa saya sebut ‘tidak serupa, berbeda’, bahkan sekalipun dengan keberhasilan Pak Ahok di Jakarta, juga kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Bicara fisik, Bandung mungkin tak seheboh daerah-daerah lainnya, bukan dengan bangunan megah, atau jalan beraspal puluhan kilometer. Sebab kota ini secara infrastrutur telah terbangun sejak era penjajahan silam, yang juga mewariskan heritage-heritage mengagumkan. Paling tidak kita bisa berkata Bandung terwariskan infrastruktur Eropa yang mengagumkan. Itu modal awal kota jelita ini.

Bandung memang kota macet, tetapi warganya selalu menebar senyuman, sebab di kemacetan mata selalu termanjakan dengan taman-taman jalan, pot-pot kembang yang sengaja digantung di pepohonan, plus wanita-wanita cantik yang ada di mana-mana. Toh jika berpapasan dengan preman sangar, tampangnya pun tak sesangar dengan preman-preman perkotaan yang berotot, berperangai kasar, dan kerap menyertakan umpatan. Teringat sinetron ‘preman insaf’ yang berlatar Kota Bandung itu. Ada kelucuan di sana, bahkan kebahagiaan. Bahagia menyusur setiap lekuk-lekuk Kota Bandung.

Kata ‘bahagia’ ini, memang menjadi indikator keberhasilan Kang Emil dalam memimpin. Sebutannya indeks kebahagian warga kota, yang ia ukur dari seberapa banyak warga keluar rumah di malam hari. Bukan apa-apa, tetapi menikmati keromantisan kotanya. Analoginya sederhana, warga yang berdiam dalam rumah di malam hari karena merasa tidak aman dan tak nyaman. 

Sepertinya konsep pembangunan Kang Emil seolah mendeskripsikan Kota Bandung sebagai adalah rumah besar yang aman, nyaman, menyenangkan, dan menyediakan apa saja bagi warganya, juga bagi mereka yang berkunjung. Pokoknya siang dan malam, situasinya sama saja. Sama-sama menyenangkan. 

Karenanya, tak mengherankan jika spot-spot kota ini selalu diselimuti pedestrian (trotoar) yang nyaman bagi pejalan kaki. Jika lelah, ada saja tempat nongkrong berupa kursi panjang yang disediakan di setiap jengkal radius meter pedestrian itu, plus spot-spot wifi internet yang tersebar di mana-mana, dengan taburan pot-pot bunga serta bola-bola beton yang menjadi hiasan sekaligus berfungsi sebagai pembatas jalur kendaraan, yang biasanya menggunakan trotoar sebagai areal parkir. Singkatnya, kehidupan Kota Bandung benar-benar memanusiakan warganya. Ini yang bisa disebut sebagai kota humanis, yang patut menjadi contoh bagi kota lainnya dalam menderukan pembangunan fisik perkotaan. 

Tak berlebihan jika tulisan ini menyematkan Kang Emil sebagai sosok pemimpin pembangunan perkotaan humanis. Sematan yang dilatarbelakangi oleh inovasi Kang Emil yang memanfaatkan kehidupan sejarah, dinamika warga, dan masa depan kota ini yang selalu menawarkan romantisme. Ia seakan sadar, bahwa sejarah telah menuliskan jika kota ini memang menyenangkan. Sebagaimana pesan seorang filsuf Belanda WA. Bouhower seabad siilam dengan mengatakan, “Bumi Parahyangan (Bandung) terlahir saat Tuhan sedang tersenyum”. Kalimat filosofis yang begitu bermakna.

Soal figur kepemimpinan, nama Kang Emil di mata warganya jauh lebih populer dibanding nama sebenarnya, Ridwan Kamil; dua penyebutan yang teramat berbeda, juga derajat berbeda. Kang Emil lebih merakyat, lebih merasuk ke relung-relung hati warganya. Makanya wajar jika sopir-sopir angkot dan akang-akang becak di sana, lebih suka menyebut nama ini ketimbang Ridwan Kamil. Mungkin ini ‘terapi’ yang dibuat Kang Emil agar ia mudah mempengaruh pikiran orang Bandung dalam mensukseskan apa saja yang ada di benaknya.

Tak ada salahnya kita belajar pada sosok ini!

Mengintip 'Istana' Cendana Masa Kini

Orang-orang daerah seperti saya kerap penasaran membayangkan situasi rumah para tokoh penting di republik ini. Dulu, jika menyebut nama Cendana 7, maka pasti semua tahu jika itu kawasan rumah Pak Harto. Bayangan saya kala itu, pastilah gedung mewah bak istana dengan sejumlah fasilitas ‘wah’ lainnya. Waktu kecil selalu terbayang jika Cendana itu kawasan keramat dan keindahannya seperti cerita istana Ratu Bulqis. Begitulah media mengungkap ‘kekeramatan’ Cendana, maklum saja jika ada seseorang yang dipanggil ke Cendana, maka dipastikan orang tersebut bakal menjadi pejabat tinggi negara. Begitu media memberitakannya.  Wajar saja itu terjadi, sebab media massa kala itu membeo pada kekuasaan. Dalam sebutan ilmiahnya ‘pers autoritharianism’.

Saat ini tiga tahun sudah melabuhkan diri di Jakarta, tinggal di kawasan Menteng-Jakara Pusat tak jauh-jauh dari Cendana, jaraknya hanya sekitar 500 meter. Tetapi selama itu,  baru beberapa bulan ini sempat ‘mengintip’ kondisi ‘istana’ Cendana masa kini, meski hanya sekedar melintas untuk melepas rasa penasaran itu. Awalnya sempat kebingungan, dimana letak Cendana, maklum posisinya tidak berada di poros utama dan terbilang sepi, panjang jalanan ini juga tak seberapa jauh. Kira-kira hanya 300 meter. Boleh jadi Cendana, merupakan jalan terpendek di ibukota. Itu asumsi saya.

Sepi? Tentu saja, maklumlah orang-orang yang berdomisili di seputaran Cendana tentu bukan ‘orang biasa’, mulai dari keluarga besar Pak Harto dan orang-orang yang belum saya ketahui, yang pasti bisa ditebak jika tinggal di Cendana pastilah seorang ‘penggede’. Sebab hingga sekarang Cendana benar-benar masih sepi dari aktifitas kendaraan. Menciptakan kesunyian dan sepi di belantara keramaian adalah gaya orang gedean Jakarta jika punya uang banyak, sebab jalanan publik pun bisa ‘dibeli’, buktinya beberapa jalanan publik di portal khusus, punya pengawasan, dan ada saat-saat tertentu bisa melintas di area itu. Kalau dipaksakan masuk, siap-siap dapat ‘push up’ dari aparat keamanan. Seperti orang menjenguk Narapidana, ada jam bezuk yang harus dipatuhi. Hehehe. (saya tergelak, tentu punya makna).

Lalu bagaimana istana Pak Harto di Cendana? Istana? Dimana istananya?. Saya benar-benar mencari dimana istana itu sampai-sampai Satpam menegur saya. “Cari apa bang”. Saya kikuk dan pura-pura menjawab, “lihat-lihat kondisi saja Pak”. Jawabku. Satpam itu seolah mengerti, dia malah menujukkan rumah Pak Harto. “Itu Pak, tapi jangan dekat-dekat ya?”. Katanya. Saya kepikiran hebat betul sosok Pak Harto ini, sudah wafat saja, rumahnya tetap saja ‘dikeramatkan’, tak boleh dekat-dekat.

Melihat bangunan-bangunan milik Pak Harto, saya tersadar jika sebenarnya rumah Pak Harto itu tak bisa diapologikan sebagai istana. Bangunannya tidak bertingkat ala pencakar langit Jakarta, bahkan terbilang ‘sederhana;’ untuk ukuran seorang Presiden yang berkuasa selama 32 tahun. Bangunan itu dibangun horisontal, memang cukup luas, tapi arsiteknya biasa-biasa saja. Sedikit berornamen Jawa, dan dibangun ala rujab-rujab peninggalan Belanda atau Jepang. Pak Harto tidak ‘berlebihan’ soal rumah. Bahkan menurut saya, cukup banyak orang-orang daerah memiliki rumah gaya Pak Harto. Cat-nya pun mulai tampak kusam, dan terkesan agak redup karena banyaknya pepohonan palem di kawasan ini, juga beberapa beringin-beringin peneduh. Saya ingat kalau Beringin ini lambang Partai Golkar, partai yang dibesarkan Pak Harto.

Makin penasaran dengan situasi Cendana 7 ini, kenapa rumah ini harus nomor 7, padahal Pak Harto belum tahu ‘CR7’ pemain bola Portugal itu..heheh ngaco pikiranku. rasanya ingin masuk ke pekarangan sekedar mengamati lebih dekat dan ingin merewind masa lalu Pak Harto. Bagaimanapun beliau adalah pemimpin bangsa terbaik republik ini. “Bang, Jangan Masuk Bang!” bentak Pak Satpam, saya grogi dan sedikit ketakutan, saya pun segera melajukan motor kebanggaan saya. “Terima Kasih Pak” saya teriak, Pak Satpam seperti kebingungan.**

Olong dan Stereotipe Poligami ‘Pria Bugis’ Kaya

SAYA tak mengenal banyak tentang sosok Ahmad Fatanah alias Olong. Tetapi ketika diberitakan media massa tentang sepak terjang pria ini dengan sejumlah wanita cantik, saya jadi bergeming, apalagi sempat di ‘tagline’ sebagai seorang flamboyan asal Sulawesi Selatan, lagi-lagi saya bergeming. Mungkin karena kedekatan emosional sebagai sesama orang Sulsel. Tetapi framing media terhadap Olong sepertinya cenderung diarahkan jika Olong tak sekedar ‘jagoan’ daging impor yang menyeretnya ke KPK, tetapi juga ‘daging lain’ yang lebih segar. Seperti itukah? Publik yang bisa menjawabnya.

Tetapi apapun masalah Olong dengan wanita-wanitanya, bagi saya itu hak privat Olong. Seorang Presiden sekelas Soekarno pun ‘jagoan’ di sektor ini. So what gitu lho! Terkecuali masalah hukumnya ini baru milik publik. Olong tentu harus mendapat ganjaran yang setimpal sebab ini urusan hukum yang melibatkan publik sebagai objek yang dirugikan!

Kisah Olong, mengingatkan banyak cerita yang sepertinya menjadi anggapan yang melekat pada pria Bugis-Makassar yang kaya secara materi. Bahwa semakin kaya, semakin berharta dan memiliki status sosial, umumnya diopinikan jika mereka suka berpoligami. Bahkan candaan anak-anak muda dikampung saya kerap mengakronimkan nama BUGIS sebagai singkatan dari ‘Banyak Uang, Ganti Istri’. Duh!, inilah yang dalam kajian ilmu sosiologi komunikasi disebut sebagai ‘stereotipe’. Sama kira-kira jika mengopinikan orang Cina selalu berorientasi pada uang,  orang Padang itu pelit, orang Jawa plin-plan dan berbelit-belit, orang Batak orangnya to the point dan kasar, dsb.

Menurut Baron dan Paulus (Mulyana: 2005) ada beberapa faktor yang menyebabkan adanya stereotip. Pertama, sebagai manusia kita cenderung membagi dunia ini ke dalam dua kategori : kita dan mereka. Karena kita kekurangan informasi mengenai mereka, kita cenderung menyamaratakan mereka semua, dan menganggap mereka sebagai homogen.

Kedua, stereotip tampaknya bersumber dari kecenderungan kita untuk melakukan kerja kognitif sedikit mungkin dalam berpikir mengenai orang lain. Dengan kata lain, stereotip menyebabkan persepsi selektif tentang orang-orang dan segala sesuatu disekitar kita. Stereotip dapat membuat informasi yang kita terima tidak akurat. Pada umumnya, stereotip bersifat negative. Stereotip tidak berbahaya sejauh kita simpan di kepala kita, namun akan bahaya bila diaktifkan dalam hubungan manusia. Stereotipe dapat menghambat atau mengganggu komunikasi itu sendiri.

**

Lepas dari ‘teori streotipe’ di atas, lagi-lagi saya ingin beropini panjang sepak terjang ‘pria kaya’ orang Bugis ala Pak Olong. Apakah benar kecenderungannya memang suka berpoligami? Tentu masih butuh pembenaran objektif, sebab umumnya pria-pria kaya di mana saja di belahan dunia ini tak mengenal merek suku dan ras,  selalu saja mudah mengagumi wanita-wanita cantik (jika tak ingin disebut terbius). Syukur-syukur jika poligami, artinya pria tersebut bertanggung jawab dengan wanitanya, tetapi jika hanya ‘dibayar dan dipakai?’ tentu kodrat wanita terlecehkan.
   
Ataukah ada ‘faktor x’ yang menyebabkan pria kaya orang Bugis lebih mudah terlekati streotipe poligami? Saya ingat pesan-pesan para tetua Bugis di kampung, jika Orang Bugis kerap menggunakan ‘tiga ujung’ dalam pertarungan kehidupannya. Yakni; ujung lidah, ujung badik dan ujung kemaluan. Ketiga ujung ini bernilai spirit tinggi sebagai benteng rasa harga diri (siri’). Ujung lidah dimaksudkan pada kemampuan bernegosiasi, ujung badik sebagai simbol keberanian, dan ujung kemaluan sebagai cara terakhir untuk berafiliasi dengan orang lain.  Kira-kira pesannya seperti ini, “ Jika kalian tak mampu menggunakan bahasa yang baik untuk menyelesaikan sesuatu, maka tunjukkan keberanianmu, jangan pernah takut untuk mati, namun jika kalian masih mengalami masalah, maka kawin/nikahilah diantara mereka”.
Spirit inilah kemudian menjadikan orang-orang Bugis bermental perantau dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Apakah ini juga masuk dalam ‘karakter’ Olong? Pro kontra tentunya. Yang pasti pria Bugis umumnya pekerja keras, memegang teguh konsep harga dirinya, ulet, dan selalu pantang untuk ‘kalah’ dalam kehidupannya. Toh jika harus ‘kalah’, umumnya menghindari rasa malu yang menyebabkan nilai ‘siri’-nya kehilangan, sebab jika ini terjadi, maka badik-lah yang berbicara. Tetapi jika kesuksesan datang, maka tentu mereka akan menikmatinya.

Tante pernah memberi nasehat pada diri pribadi saya, beliau berkata, “Kamu itu murni berdarah Bugis tetapi beristri suku lain. Umumnya ‘suami-suami’ Bugis itu berkarakter ‘raja’, selalu ingin terlayani dengan baik dalam segala hal, apalagi jika sudah sukses. Jangan lupa diri,  apalagi cari istri lagi,” katanya. (Nah, Lho, kok begitu Tante?)

Lalu apakah fenomena Olong memang fenomena pembenaran sterotipe itu? Wallahu alam bissawab. “Gunung Antum akan meledak” begitu sebait kalimat percakapan antara Ahmad Fatanah alias Olong pada Luthfi Hasan Ishak, mantan Presiden PKS dalam kasus ‘daging impor’. Heheheh (gak ada hubungan bro)

Jakarta dinihari, 22 Mei 2012

------------------------------------
Baca juga Tulisan berikut ini:
- Kawanku Kawin Lagi

Tol Ciawi, Kemacetan, Asongan, dan Polantas

KEMARIN, saya baru saja melintas di poros tol Ciawi-Bogor mengantar sepasang manten kerabat. Rasanya betul-betul tidak nyaman. Tol yang seharusnya dibuat untuk bebas hambatan, cepat dan aman, namun kenyataannya tidaklah seperti itu. Malah sebaliknya, tol ini jadi ‘ajang macet-macetan’, yang bagi banyak warga Jabodetabek dianggap sebagai suatu ‘kelaziman’. Aneh menurutku. Sebab kesalahan yang berlarut-larut bagi pengambil kebijakan di negeri ini sepertinya terbiarkan begitu saja dan menjadi kebenaran. “Ini biasa bang, apalagi waktu libur, pasti macet”. Jawab sang sopir, yang menurut saya telah diperbodohi oleh sistem yang dibuat oleh pihak yang bertanggung jawab soal tol ini.

Dalam amatan subjetifitas saya, kemacetan yang terjadi di jalan Tol, tidak semata disebabkan karena volume kendaraan yang berlebihan. Ini dibuktikan dengan jalan-jalan umum tidak semacet jalan Tol. Saya membatin, “Kondisi jalan utama di Jabodetabek kok begini. Jalan tol-nya macet, sementara jalan umumnya biasa-biasa saja. Harusnya terbalik”, ini logika saya, karenanya saya berpikir, bila bisa dipastikan ada sistem yang salah dalam proses pemanfaatan fungsi dari jalan-jalan raya di Indonesia, termasuk penggunaan jalan tol itu sendiri.

Asumsi ini dilatar belakangi kenyataan jika setelah lepas dari pintu Tol Ciawi menuju Sukabumi, jalanannya amat sepi, dan karenanya banyak kendaraan tancap gas, dan merasa bebas dari ‘penjara jalanan’. Jujur saya ingin berkata, proses penjagaan di pintu Tol tampaknya perlu di evaluasi bagaimana kemacetan jangan terjadi justru di pintu tol itu sendiri.


Yang menarik lagi, ternyata di sepanjang jalan Tol Ciawi dari arah Bogor ternyata banyak warga yang berdagang asongan dengan menjajakan makanan khas setempat, seperti tahu, gorengan dan lain sebagainya. Bahkan dengan nekatnya berada di depan kendaraan dengan ‘gaya mencegat’. Sepertinya para asongan ini, merasa bersyukur jika volume kendaraan di hari libur meningkat sebab rezei juga bertambah. Lebih aneh lagi, tak jauh dari para pedagang asongan ini, cukup banyak Polantas yang mengatur kendaraan. Menurut saya, seharsnya Polantas ini ikut ‘melarang’ asongan berdagang tentengan pada kendaraan-kendaraan di jalan Tol. Selain resiko kecelakaan, asongan ini juga menjadi penyebab kemacetan. Belum lagi ditambah warga yang ‘masuk tol’ menawarkan jasa sebagai penunjuk jalan menuju kawasan-kawasan hunian untuk para traveller maupun bagi yang sekedar ingin menginap di Ciawi.

Kondisi ini tentu mengasumsikan jika, pihak terkait di jalan Tol, pedagang asongan, Polantas dan para penawar jasa tersebut, sepertinya telah ada kongkalingkong dalam menciptakan ‘situasi macet parah’ yang dianggap sebagai sebuah kelaziman. Apalagi ini telah berlangsung sejak lama. Duh!!!

Lebih memprihatinkan lagi, begitu keluar tol dan memasuki jalan-jalan umum, beberapa warga baik berstatus pemuda dan orang dewasa di kawsan itu, meminta recehan sambil menunjuk ‘lubang’ jalan di sekitarnya. Ini juga dilakukan oleh banyak orang. Saya bertanya pada diri sendiri “ini minta bantuan atau malah jadi pemalak?” tanyaku. Lalu siapa yang perlu disalahkan? Semoga saja ada pihak terkait membaca keluahan ini.

Jakarta 10 Mei 2013

Baca juga tulisan berikut ini :

- Politik Bukan Dunia Saya

Tanah Abang yang Gelagapan

Ini judul biasa. tak ada yang istimewa, sebab orang semua tahu bagaimana kehidupan Kota Jakarta yang serba ’gelagapan’. Saya menyebut gelagapan, sebab terlambat sedikit, semuanya akan berubah. Itu kesimpulan kehidupan yang kutangkap setelah dua tahun ’terputar’ dalam arus kehidupan Jakarta yang dinamikanya begitu tinggi. Saking tingginya, warga Jakarta menjadi manusia-manusia yang hyperaktif. Jika tidak, dipastikan akan tergilas oleh kehidupan. Meski begitu, Jakarta ini tetap menjadi impian orang-orang Indonesia, sekejam apapun kota ini. Sebab, roda putaran kehidupan terus bergerak tanpa henti. Tanpa memandang kasta gender, lelaki-wanita diperlakukan seperti sama. Kalaupun ada pembeda, biasanya dalam tataran simbolik belaka atau sekedar pemanis kata dalam ruang dan waktu

Locus delicti yang menjadi pedoman saya menilai Jakarta, tidak dari bundaran HI-nya, juga bukan dari hiruk-pikuk orang-orang yang menghabiskan waktunya di mal-mal besar atau perkantoran-perkantoran yang menjulang tinggi, bukan juga dari kemacetan dan ruwetnya jalanan ibukota yang dihiasi berjuta rambu dan marka jalan.. Saya justru menikmatinya dari pinggiran kota, dari stasiun-stasiun kereta api antar kota di kawasan Jabodetabek. Suasananya begitu sibuk, apalagi sepulang jam kerja. Semuanya terus bergerak, semua mata mawas seolah menggambarkan  begitu pentingnya kedisiplinan terhadap waktu. 

Pelajaran berharga itu saya simak di kawasan stasiun kereta api Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kawasan yang dikenal sebagai pusat grosir terbesar di Asia Tenggara, sekaligus dikenal sebagai kawasan keras bagi mereka yang berprofesi sebagai pengembara jalanan. Maklum, Tanah Abang dari aktifitas manusianya menggambarkan putaran ekonomi yang begitu cepat, dari pagi hingga malam hari. Wajar saja jika kawasan ini menjadi rebutan, dari kaum intelek, kaum borjuis, hingga kaum preman. Saya mereka-reka, boleh jadi pemberian nama Tanah Abang, bukan karena ’tanah yang berwarna merah’ tetapi tanah tempat mereka yang memiliki kekuatan untuk ditakuti oleh setiap orang. Seperti kita menyebut kata ’Bang’ sebagai penghormatan kepada seorang pria yang dituakan. 

Menguntit Stasiun Tanah Abang jelang malam, seolah mengintip aktifitas manusia-manusia pekerja Jakarta. Dimana-mana terlihat kesibukan memburu jadwal kereta yang mengantar mereka pulang, dan tak jarang terlihat sepasang kekasih menjadikan stasiun ini sebagai arena melepas kepenatan, berciuman sejenak, lalu kemudian saling menggemgam jemari, mengokohkan cinta mereka, lalu bergerak menuju gerbong kereta. Cerita tak berhenti di situ, gerbong-gerbong kereta seolah menjadi ’jembatan’ penghubung antara masa kerja dan masa istirahat. Saya curiga, stasiun ini juga menjadi arena kekerasan psikis terhadap para wanita pekerja. Maklum ketika kereta tiba, pria dan wanita bergerak serentak berebut memasuki gerbong-gerbong. Saya menangkap satu gerakan tangan yang mengesankan pelecehan terhadap seorang wanita. Tapi semuanya menjadi diam, karena lebih focus dengan tujuan masing-masing. Cuek, tapi hati tetap mendera, bila ini tak boleh terjadi di ruang-ruang public, dimana privasi seseorang tetap terjaga dalam dinamika waktu yang begitu tinggi.

Tanah Abang, Jakarta. Menjadi pelajaran hidup bagi setiap orang. Saya memperoleh cerita seorang kawan yang bertutur tentang seorang anak kecil yang tiap harinya bekerja sebagai penyapu gerbong kereta. Di tangan kanannya memegang sapu tak bergagang, di tangan kirinya, kardus sebagai tempat sampah. :”Sungguh mulya pekerjaan mereka, membersihkan gerbong dengan mengharap belas kasih para penumpang,” begitu cerita kawan saya, yang pertama kali menikmati Kereta Api jurusan Tanah Aabang-Sudimara Bintaro.

Tapi suasana keprihatinan itu menjadi berubah setelah untuk kesekian kalinya menikmati jalur kereta itu. Ternyata, anak-anak kecil itu tidak sekedar membersihkan, tetapi ia juga menjadi pembuang sampah, yang kemudian di sapunya lagi, dibuangnya lagi, di sapunya kembali. Waduh! Ternyata, membersihkan dan membuang sampah dalam kereta adalah pekerjaan terstruktur ’mencari uang’ setiap kereta tiba. Inilah ketidak jujuran yang timbul karena sulitnya mengarungi kehidupan. Tapi apapun namanya, mereka mampu ’menciptakan uang’ dengan caranya sendiri. Yah..itulah Jakarta, semuanya seperti fatamorgana, indah dari kejauhan tetapi kemudian hilang ketika mendekat.

Siapa suruh datang Jakarta! Lagu ini tergiang lagi.

BBM, Satu isu Asing Mengadu Bangsa Kita!

Apakah layak menurunkan Presiden SBY saat ini? Saya menjawabnya lantang. “sangat layak!” Saya sepakat pernyataan Adnan Buyung Nasution, jika menurunkan SBY dari kekuasaannya kini adalah konstitusional. Sah dan sangat wajar. Alasannya sederhana, Pak Beye tidak common sense lagi dengan anak bangsanya sendiri. Dugaan akan kecenderungan tergantung dengan negara asing begitu tampak. Pak Beye seolah kehilangan akal, seolah negara ini hancur lebur jika BBM tidak dinaikkan. Seolah bangsa ini menghilang dan lenyap ditelan masa jika harga bensin itu tetap pada ‘angkanya’ sekarang.

Bagi saya, sikap penolakan PDIP, Gerindra, Hanura dan serta pernyataan beberapa elit terkait kenaikan harga BBM, adalah penggambaran jika mereka memiliki solusi keterpurukan ekonomi negara selain menaikkan harga BBM. Mengapa ‘mereka’ tidak di ajak mencari jalan keluar? ‘mereka’ pasti punya pemikir yang bisa menemukan jalan keluar untuk masalah ini. Pak Beye pasti paham bahwa dirinya seorang Presiden yang merupakan kulminasi dari kepemimpinan nasional. Ia bisa mengajak elemen-elemen anak bangsa yang ahli soal BBM, jika ia mau. Sayang, Pak Beye sebagai presiden terkesan hanya miliki kelompok tertentu saja. Lebih mengutamakan pertemuan di Luar Negeri, ketimbang harus fokus dengan urusan anak negeri yang kini telah larut dalam situasi bentrok. Khususnya mahasiswa dan polisi.

Tahukah kita? Mengapa mahasiswa di sejumlah daerah kini lebih memilih memblokade Bandar Udara (Bandara) sebagai trend ketika berunjuk rasa? Sementara mahasiswa paham jika bandara adalah sarana vital yang regulasinya berstandar Internasional, dan tidak boleh di demo? Tentu karena mereka memahami, bahwa ini satu-satunya cara untuk melemahkan ‘citra’ Pak Beye di mata asing, yang selalu diapologikan sebagai orang yang tunduk dengan kemauan kaum liberal, tunduk dengan kemauan asing, tanpa melihat realitas sosial yang terjadi pada masyarakatnya. Jika itu benar. Apakah rakyat Indonesia layak mempertahankan Pak Beye sebagai pemimpin kita? 

Saya tak merekonstruksi pemikiran kita untuk mengajak menjatuhkan Pak Beye. Tapi saya merekonstruksi pemikiran kita, bahwa bangsa ini benar-benar tak lagi berdaulat dengan kekuatannya sendiri. Saya memandangnya dari satu sisi subjektif saja, bila isu BBM adalah cara asing untuk mengadu domba bangsa ini. Saya ingin bertanya, mengapa bangsa ini dikenal sebagai prdusen minyak tetapi rakyatnya menjadi sengsara karena minyak? Sesuatu yang amat tidak logis. Sebab banyak negara di dunia ini, sama sekali tak memiliki kekayaan minyak bumi, tetapi ia tetap bisa bertahan sebagai negara yang berdaulat.

Sebagai mahasiswa, hati saya terperikan melihat adik-adik terluka dan tertembak peluru ‘ayahnya’ sendiri. Tetapi sebagai bagian dari orang yang menyandang status sebagai aparatur, hati saya gundah, apakah benar ini cara terbaik memimpin bangsa ini. Sepertinya kita telah masuk dalam perangkap politik ‘devide at impera’ gaya baru, yang di produksi oleh kaum kapitalis. Saya curiga, bangsa-bangsa lain akan tersenyum bahkan terbahak-bahak menyaksikan adegan bentrok berdarah ini. Mereka tahu, Indonesia kini begitu rapuh, ideologinya menjadi abu-abu, dan layak menjadi tontonan pagi hari di televisi dan koran-koran mereka.

Saya juga curiga, kaum kapitalis asing itu juga bertepuk tangan ketika mereka menyimak berita, jika Indonesia yang dulu dikenal ramah dan berbudaya itu, kini menjadi bangsa pemarah dan mudah di adu domba, dengan cara memindahkan satu isu ke isu yang lain. Seperti isu bentrok antara mahasiswa dan polisi yang bisa mengubur isu korupsi yang melibatkan para petinggi di negeri ini. Sebuah skenario hebat yang luput dari pengamatan para pemimpin bangsa ini. 

Saya merasa geli ketika seorang rekan berkata, ”bangsa kita kini sulit tertawa, sebab tak ada lagi pelawak yang bisa menghibur, sebab beralih profesi menjadi politisi”. Saya justru berfikir sebaliknya, ”bahwa kita tidak memiliki politisi sebab politisnya telah menjadi pelawak-pelawak bangsa asing, yang pantas jadi penghias berita di televise dan koran-koran mereka. entahlah”.

Saya menutup kalimat ini seperti judul di atas; BBM, Satu isu Asing Mengadu Bangsa Kita!

**

BBM = Bakar - Bakar Muka?

Kemarin saya keliling Jakarta, dimana-mana ada aksi unjuk rasa menentang kenaikan bahan bakar minyak, khususnya dating dari kalangan mahasiswa. Agak sulit mencari makna lain dari sebuah pertanyaan, mengapa setiap kali ada rencana pemerintah menaikkan harga BBM maka secara spontan mahasiswa turun ke jalan menggelar unjuk rasa, dan salah satu ‘menu wajibnya’ selain orasi adalah acara ‘bakar-bakar muka’ (BBM juga..). tentu yang dibakar adalah wajah para petinggi negara atau pihak-pihak yang dianggap terkait dengan itu. Bagus jika acara bakar-bakar itu tidak berlanjut ke penangkapan para pengunjuk rasa. Tetapi umumnya, setiap ada acara ‘BBM’ dari mahasiswa, maka pihak keamanan pasti berupaya menangkapnya, dengan kedok melecehkan nama baik atau pelecehan terhadap simbol-simbol negara.

Lagi-lagi saya ingin bertanya? Apakah ada jeratan hukum bagi penguasa yang tidak memahami kondisi rakyatnya? Tentu agak sulit menjawabnya, sebab penguasalah yang membuat aturan itu lalu kemudian menjalankannya. Sayangnya saya belum membaca aturan main (ruler of law) bahwa penguasa yang tidak mengetahui penderiataan rakyatnya, harus ditangkapi, dipukuli, atau ditembak dengan gas air mata. Seandainya ada regulasi seperti itu, saya amat yakin jika penguasa pasti memeras otak sebelum membuat kebijakan yang tidak popular, seperti kenaikan harga BBM itu.

Kini pola pikir saya sudah membenam sebuah prilaku, jika rencana menaikkan harga BBM di negeri ini, selalu berbanding lurus dengan aksi ‘BBM’ pula dari mahasiswa. Saya hanya bisa menjawabnya dengan pendekatan teori kemungkinan, bila aksi-aksi mahasiswa berhulu dari ketidakpercayaan kepada penguasa di negeri ini dalam menjalankan tugas-tugasnya. Berhulu dari dugaan makin berkaratnya prilaku koruptif dari para elit di negeri ini, sehingga apapun alasan enaikkan BBM, selalu saja tidak diterima, dan selalu saja ada aksi ‘bakar-bakar muka’. Alasannya amat sederhana, kenaikan harga BBM akan berdampak pada seluruh sendi kehidupan rakyat Indonesia, terutama diikuti dengan naiknya harga barang-barang di semua sektor. Saya meyakini, bahwa realitas ini dipahami oleh penguasa, tetapi sulit mencari jawaban lain, sehingga selalu jawaban ini yang dijadikan senjata,  “jika harga BBM tidak dinaikkan,. Maka negara akan bangkrut”.

Habis akal tampaknya penguasa di republic ini, sehingga hanya jawaban itu yang bisa dilontarkan. Saya lalu berfikir, bagaimana dengan negara yang sama sekali tidak memiliki kekayaan minyak? dan mengandalkan hidupnya dari BBM impor? Apakah juga mereka akan bubar? Bagaimana dengan Kamboja? Bagaimana dengan sejumlah negara di Eropa Timur yang tak memiliki lading minyak? Bubarkah mereka?sungguh amat tragis, jika sebuah negara  sebagai produsen minyak seperti Indonesia tapi harus membunuh rakyatnya dengan kenaikan harga?

Saya bukan pengamat perminyakan seperti Bapak Qurtubi, tetapi selayaknya memang pemerintah republic ini, harus mencari cara lain untuk menekan naiknya harga BBM yang dipengaruhi oleh ‘kondisi luar’ dari negara ini. Entah apa caranya. Saya tak tahu sama sekali, sebab saya hanya pemakai BBM bukan pemikir apalagi pebisnis BBM. Kalaupun terlibat dalam persoalan BBM, pasti hanya dalam level posisi ‘bakar-bakar muka’ juga.

Saya hanya ingat, ketika zaman Pak Harto berkuasa. (iklim demokrasinya memang beda), bahwa tiap kali ada kenaikan harga BBM, tetap ada aksi mahasiswa yang menolak, tetapi pada umumnya rakyat tidak resah, bukan karena otoritas Pak Harto dengan kekuatan otoriternya, tetapi Pak Harto memang masih dipercaya sebagaian besar rakyatnya. Kepercayaan bisa diartikan sbagai ‘ketakutan’, bisa diartikan sebagai ‘itu urusan pusat’, yang tentunya diartikan sebagai komunikasi politik Pak Harto dalam menjalankan kepemimpinannya.

Mungkin saatnya mahasiswa dijadikan satu pilar khusus dari setiap proses pengambilan kebijakan di negeri ini, meski mahasiwa bukan termasuk bagian dari pemeran kekuasaan, seperti pikiran Monsteqieu (Eksekutif, Legislative dan Yudikatif), tetapi dijadikan penyeimbang sebagai wakil dari suara rakyat. Maklumlah, anggota DPR kita, kini  juga terasa tak mewakili rakyatnya lagi. Sebab DPR kita selalu membangun dramaturgi ala Erving Guffman, di panggung depan berkoar membela aspirasi rakyat, tetapi di panggung belakang justru membangun perbanditan prilaku koruptif yang amat menyakiti rakyat.

Bakar-Bakar Muka! Mungkin ini pilihannya dari pada ‘Bakar-Bakar Mereka’ yang tidak lagi peduli dengan rakyatnya. Sayangnya, penguasa kita punya kekuatan senjata, yang selalu saja melakukan aksi ‘Bela-Bela Muka’ paara penguasa itu. seandainya saja, pilihan bangkrut sebagai negara adalah jalan akhir dari sebuah resiko tidak naiknya harga bahan bakar minyak, maka saya akan berkata “dari pada jutaan rakyat akan sengsara, menderita, dan susah bernafas, maka biarlah kita bangkrut, sebab elit kita pasti akan mengatakan dirinya ‘kami tetap tidak bangrut, sebab kami adalah penguasa dan anda adalah rakyat!’.

Selamat bejuang adik-adikku!

Kesetiaan (Renungan Awal Tahun)

Quetes : Hamzah Palalloi

Mungkin kita semua meyakini jika semua manusia pernah di uji dengan hal yang bernama ‘kesetiaan’. Kesetiaan pada pasangan hidup, kesetiaan pada keluarga, pada kelompok, organisasi bahkan kesetiaan terhadap bangsa dan negara. Karenanya, sebuah kesetiaan kerap di awali dengan kata penyumpahan, ikrar bahkan ada yang lebih ekstrim, jempol darah.

Tetapi apapun bentuk dari sebuah kesetiaan, tak akan pernah bermakna apa-apa, jika tidak dibarengi dengan sebuah kematangan dalam mencerna prilaku apa yang kita perbuat. Kesetiaan bagi seseorang akan lebih dimaknai oleh orang lain, jika kita patuh dengan satunya kata dan perbuatan. Dan, itu adalah hal tersulit yang akan di alami oleh setiap orang.

Kesetiaan, akan selalu diperhadapkan dengan hal yang bernama kepentingan. Semakin tercukupi kepentingan itu, umumnya orang itu makin setia. Sebaliknya, jika kepentingan itu merenggang, maka kadar kesetiaan juga ikut menurun. Ini bukan fenomena. Ini sifat ‘kemanusiaan’ seseorang. Maka hal bijak yang perlu dilakukan adalah ‘semakin mendekatkan kepentingan seseorang dengan nilai-nilai kesetiaan itu’.

Lalu siapa yang bisa mendekatkan kepentingan itu? Jika Anda seorang pemimpin, atau merasa sebagai pemimpin, maka Anda-lah yang memiliki tugas berat itu. Sebab kadar kesetiaan, hanya terletak pada ‘siapa yang dipimpin’ bukan pada pemimpinnya. Kesetiaan itu hanya terletak pada level ‘siapa yang diatur’ bukan ‘pengaturnya’.

Pemimpin atau pengatur pada hakikatnya adalah pihak yang menciptakan situasi itu. Pemimpin yang tak mampu menciptakan situasi ‘kesetiaan’ maka yakinlah suatu saat ia akan hidup sendiri, dan tak ada lagi yang namanya kesetiaan. Yang ada hanyalah, cerita-cerita dan impian akan cerita masa lalu. Karena tidak mengherankan jika kita menemukan banyak orang yang amat suka mengangungkan masa lalunya, yang pada dasarnya adalah masa dimana ia pernah hidup dalam manisnya dunia kesetiaan.

Tahukah kita, jika kesetiaan itu pada dasarnya memiliki jangka waktu? Ia bersifat periodic, temporer dan tidak permanent. Terkecuali, jika sifat ‘manusianya’ telah menghilang dan menjelma menjadi malaikat. Kesetiaan akan menjelma menjadi permusuhan, jika tak ada lagi yang pertautan hati. Kesetiaan akan menjelma menjadi pergolakan, jika tak ada lagi kesamaan pandangan. Karenanya, hal terbaik untuk mempertahankan kesetiaan itu, adalah hidup sejajar dalam berfikir, bertindak, dan berprilaku.

Sekali lagi. Kesetiaan akan langgeng jika ada kedekatan antara kepentingan dengan nilai-nilai kesetiaan itu sendiri. Memang sungguh sulit untuk mewujudkannya. Tetapi memberikan ‘pendekatan’ adalah langkah yang terbaik. Dalam hal apa saja.!

Selamat merenung…mentari esok masih bersinar.

Ancaman Anas dan Sepinya Berita '7 Milyar'

Ancaman gugatan hukum yang dilontarkan kuasa hukum Anas Urbaningrum kepada Nazaruddin atas isi bbm-nya yang diterima sejumlah media, dan juga peringatan pada media atas pemberitaan terkait, tampaknya menjadi jurus ampuh Anas meredam pemberitaan negatif tersebut. Beberapa hari ini media jarang lagi memberitakannya. Apakah media mulai takut? Ataukah memang kebenaran isi pesan bbm Nazaruddin mulai diragukan?

Pastinya, seiring dengan meredupnya pemberitaan pesan bbm Nazaruddin, ada kesan yang muncul bila kasus ini seolah ‘mulai dihentikan’, dan fokus memburu dimana keberadaan Nazaruddin. Apakah ini sebuah cara untuk menghilangkan ingatan publik terhadap dugaan-dugaan korupsi yang menimpa sejumlah kader Partai Demokrat?

Sebagai tokoh besar yang reformis dan dikenal anti korupsi, sebaiknya media tak perlu mendapat imbas ancaman terhadap kebenaran isi pesan bbm Nazaruddin. Publik akan semakin mencintai sosok Anas bila benar tidak terlibat dalam kasus itu. Sebaliknya media juga tak perlu berhenti memberitakan kasus-kasus yang disebut Nazaruddin, tentu dengan menggunakan azas praduga tak bersalah. Memang, dampak dari pemberitaan itu akan menurunkan popularitas Anas dan partainya, namun sebaliknya, bila informasi itu tidak benar, justru akan melambungkan popularitas sosok Anas dan tentunya partai demokrat itu sendiri.

Peran Dewan Pers
Terkait dengan kebenaran isi bbm Nazaruddin yang diberitakan sejumlah media, sudah selayaknya Dewan Pers ‘bekerja’, dalam posisi ini melakukan pengawasan atau bila perlu membuat teguran terhadap media-media terkait. Sebab munculnya ancaman dari pihak Anas Urbaningrum, adalah bentuk mudahnya media menyerap informasi yang belum tentu kebenarannya, sekaligus penggambaran bila pihak Dewan Pers hanya berfungsi ‘pasif’ sebagai penunggu laporan. Padahal di tengah ‘kemerdekaan’ pers dewasa ini, maka idealnya Dewan Pers harus lebih aktif bergerak. Tujuannya, menghindari penghakiman yang dilakukan media (trial by the press). Menyangkut masalah ini, tentu Dewan Pers lebih tahu.

Yang pasti, sepinya informasi ke publik tekait kasus-kasus korupsi Nazaruddin dan pihak-pihak yang di duga terlibat, bisa menjadi tiruan sekaligus ‘gayabaru’ meredam media massa. Bila ini terjadi, maka publik tak lagi mendapatkan hak azasinya untuk mendapat informasi yang seluas-luasnya, dan media massa adalah pemeran untuk itu. Jika media salah memberitakan dan menyampaikan fakta, UU Pers telah mengaturnya, dan paling penting publik akan meninggalkan media itu. Apalagi publik juga tahu bila sejumlah media massa adalah milik para elit politik negeri ini. Publik tahu cara menghakimi media dengan baik.

Semoga Bang Anas tetap tegar, dan berbesar hati.
Apakah media masih takut ancaman?

Jakarta dihari, 9 Juni 2011




Istana Bogor, Semedi Cinta Bung Karno

13061920151446274700
di depan Istana Bogor


Dear darling Yury,
Today I cannot come.
I’m so busy, that
I cannot find time to
see you. But I do
see you in my heart.
Take good care of yourself

Inilah kalimat dalam sepucuk surat cinta Bung Karno kepada istri mudanya Yurike Sanger, perempuan 16 tahun yang amat dicintainya. Terbayang begitu dalamnya cinta Soekarno yang dituangkan dalam goresan penanya. “See You in My Heart”, penggalan kalimat yang teramat dahsyat, untuk seorang gadis belia seperti Yuri. Desahannya begitu terasa menembus relung hati, melewati ruang dan seolah mendinginkan revolusi yang membara kala itu. Beliau benar-benar piawai memainkan dawai cintanya. Wanita pun bertekuk lutut dalam kharismanya.

Saya kurang paham, siapa sebenarnya tokoh yang di idolakan Bung Karno dalam hidupnya? Mengapa beliau begitu mendewakan cinta dan wanita sebagai simbol pembuktiannya? Apakah ada misteri atau hubungan antara ‘kegilaannya’ terhadap wanita dengan kepemimpinannya sebagai tokoh revolusioner yang menggaung tak hanya di negerinya, tetapi menembus batas lintas negara di benua Asia, Afrika hingga Eropa.

Saya baru bisa menangkap sebagian kesan itu ketika berkunjung ke Istana Bogor beberapa hari lalu. Istana yang bagi Saya tidak sekedar menjadi gedung kerja, tetapi lebih dari itu, menjadi istana semedi cinta seorang Bung Karno. Kenapa? Sebab aroma cinta, aroma wanita begitu terasa pada istana ‘warisan’ dari  dua gubernur jenderal yang pernah mendiaminya, masing masing Sir Stanford Raflesh dari Inggris, dan Herman Willem Daendels dari Belanda. Apalagi istana ini berdiri kokoh dalam hamparan areal yang sangat luas, sejuk, sepi dan menghijau. Terbayang bagaimana romantisme Bung Karno memanjakan wanita-wanitanya.

Hampir semua sudut ruangan Istana Bogor ‘beraroma’ wanita. Begitu Anda memasuki gedung utama, maka disambut dengan patung wanita tanpa busana yang menggambarkan kemolekan lekuk tubuh seorang wanita. Tak hanya itu, di taman, di halaman utama, belakang istana, semuanya terdapat patung-patung wanita. Satu diantara patung itu, tepatnya di halaman utama, adalah patung wanita yang dikirim langsung dari Beograd, Yugoslavia sebagai sumbangan Presiden Josep Bross Tito pada Bung Karno. Nampaknya, Tito paham selera Bung Karno soal wanita.

Juga ada satu patung wanita yang letaknya disamping istana, patung ini di beri nama ‘Si Denok’. Dalam riwayatnya, Si Denok mirip seorang wanita Sunda yang suaminya pernah menjadi pegawai istana yang dikagumi Bung Karno. Wah!!...sepertinya Saya seolah ‘menuduh’ Bung Karno kalau beliau punya affair dengan wanita itu. Tetapi apapun kisahnya, Bung Karno mewujudkan impiannya pada seorang wanita tak sekedar pada simbolisasi patung wanita. Beliau pun terang-terangan menikahi sejumlah wanita, meskipun hanya seorang yang berposisi sebagai ibu negara yakni adalah Ibu Fatmawati. Ibu dari mantan Presiden Megawati Soekarno Putri.

13061926041826591872
Si Denok

 Salah satu wanita fenomenal yang dinikahinya adalah Dewi Syuga, wanita Jepang yang amat cantik dan pernah menghebohkan dunia di awal tahun 1990-an dengan pose-pose yang mempengaruhi libido kaum Adam. Tentu menjadi sorotan dunia, sebab Dewi adalah istri seorang tokoh yang sangat berpengaruh di kawasan Asia-Afrika, dan mempengaruhi Eropa dan Amerika kala itu.

Aroma wanita dalam istana, tidak sekedar tersimbolisasi melalui patung. Di ruang tengah terdapat lukisan sang maestro Basuki Abdullah, juga melukiskan seorang wanita. Bahkan di ruang kerja hingga ruang istrahat, aroma wanitanya sangat terasa dengan foto-foto Bung Karno bersama istri-istri yang amat di sayanginya. “Benar-benar lelaki tulen, seniman, arsitek, revolusioner, dan pencinta, adalah gambaran paripurna seorang Bung Karno” ujarku.
1306192111988780637
patung ruang masuk

1306192331284489995
kiriman dari Tito di Beorgad

1306192439250816900
patung samping kanan istana


Istana Bogor telah menyadarkan Saya, bahwa sebenarnya cerita tentang Bung Karno dan kegilaannya pada wanita bukanlah sekedar ‘tools’ syahwat seorang lelaki berkarakter seperti beliau. Tetapi wanita bagi Bung Karno adalah punya kajian filosof tinggi. Bahwa apapun yang kita bangun, seberat apapun tanggung jawab dalam mengemban tugas, maka unsure keindahan, kelembutan, seni, keramahtamahan, kecantikan, etika adalah sesuatu yang tak bisa ditinggalkan. Dan, Bung Karno seolah mewujudkannya semua itu dalam rahasia pada sosok wanita. Wajarlah kemudian beliau banyak memiliki istri, yang begitu dicintainya, dan diperlakukannya dengan baik.

Andai saja, beliau hidup seperti saat ini dimana kajian-kajian feminist telah merambah di semua lini, Saya yakin Bung Karno tak akan dinilai sebagai ‘bangkotan’, ‘play boy’ atau apapun istilahnya, sebab meski memiliki banyak istri, Bung Karno teramat sangat mencintainya..

Bung Karno juga amat piawai bermain ‘interaksi simbolik’. Semisal kegemaran beliau menggunakan istilah “Srihana-Srihani”. Srihana adalah samaran Bung Karno, sementara Srihani adalah Hartini, juga seorang istri beliau. Istilah ini, masih bisa Anda temui ketika berkunjung pada sebuah rumah di Jalan Bonang 62, Jakarta Pusat, dimana pada tembok terasnya tertulis ”Srihana-Srihani”. Tulisan itu cukup mencolok, berwarna kuning keemasan setinggi 40 sentimeter.

Sukarno memang puitis..dan gaya ini juga menular juga ke Fatmawati. Saat Bung Karno meninggal pada 21 Juni 1970, Fatmawati tidak hadir melepas kepergian suaminya. Namun, ia mengirim karangan bunga bertuliskan: ”Tjintamu jang selalu mendjiwai rakjat. Tjinta Fat.’

Dalam sejarah hidup Bung Karno, terdapat delapan wanita yang pernah menjadi istrinya. Diantarnya Inggit Ganarsih, Fatmawati (sebelumnya bernama Fatimah, diganti menjadi fatmawati bagi Bung Karno berarti Bunga Melati), Hartini, Ratna Dewi (Dewi Syuga), Haryati, Yurike Sanger (Yuri).

1306192692537170041
penulis dan patung kemiskinan
Jujur, sebenarnya Saya ragu menuliskan petualangan ‘Istana Bogor’ ini. Tapi bagi kita generasi pelanjutnya tentu punya cara bagaimana belajar dari keagungan yang ada dalam Istana Bogor, mengenal sosok dan karakter seorang Bung Karno dan belajar dari apa yang pernah dilakukannya. Sebab meski Soekano seorang pencinta, tapi Bung Karno tidak melupakan kemiskinan rakyatnya. Simbolisasi kemiskinan itu juga disimbolkan melalui patung yang terpajang di samping tangga utama masuk Istana Bogor.
Bila Anda belum percaya.segeralah ke Istana Bogor..pelajaran menanti….

Catatan pagi hari, Jakarta, 24 Mei 2011.

Pelajaran Merah Putih Dari Victoria Park

“Kak, Aku tetaplah wanita Indonesia…
“Seberapa jauh kakiku melangkah hingga ke Hongkong..
“Seberapa banyak dollar kuraih, dan seberapa gedung dan gemerlap kota yang membiusku..
“Aku masih sadar, Aku tak bisa mengubah wajah Indonesiaku…
“Aku tetap merindukankan gemercik air di hutan itu..
“Aku tetap merindukan kampung kecilku yang damai, tenang dan penuh keriangan..
“Kak, saatnya nanti pita merah putih itu akan tetap terselempang…
“Aku tetap akan memberikan hormat pada kibaran benderaku…
“Aku tetaplah merah putih dari negeri Victoria Park…

Begitu tuturan Tri Handayani melalui teleponnya semalam (15/5) dari Hongkong, negara koloni Inggris tempatnya bekerja sebelas tahun silam sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Namun kerinduannya dengan Indonesia begitu membuncah. Fasilitas yang serba modern, aturan ketenagakerjaan Hongkong yang lebih ‘manusiawi’ dibanding  Jiran dan Timur Tengah, tak pernah memupuskan impiannya untuk menikmati hari tuanya di negeri kelahirannya, Indonesia.

Tri Handayani dan Ratna Dewi Irawan, dua mantan siswaku yang kini jadi TKW
Wanita 29 tahun berdarah Blitar Jawa Timur yang terlahir di desa eks transmigrasi di penghujung Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara sana, tak pernah membayang menikmati suasana Hongkong yang gemerlap, tinggal dengan majikan di sebuah apartemen mewah di kawasan Central Distrik.. Ia juga tak pernah membayang indahnya suasana The Peak, gunung tertinggi di Hongkong Island. Tak pernah bermimpi menikmati Golden Bauhinia Square, yang dikenal sebagai tempat upacara kenegaraan yang sangat penting dalam sejarah Hong kong, dan juga tak pernah ada dibenaknya akan menikmati taman bunga di Ocean Park, sebuah taman bermain paling popular yg menempati rangking ke-7 di dunia.

“Bagi Aku, ini semua itu hanyalah mimpi Kak.”
“Alam nyata yang sebenarnya tetap kuharapkan adalah Indonesiaku…”
“Indonesia yang punya Kota Bandung yang sejuk, ramah, dan menawan”
“Punya Borobudur dan Prambanan yang maha indah..”
“Punya Surabaya yang heroik, Jakarta yang meski padat tapi gemerlap di malam hari”
“Punya Jogjakarta yang sangat gemulai dan berbudaya, Bali yang mempesona”
“dan pantai-paintai nan indah di kawasan Timur Indonesia..”
“Mimpiku yang sebenarnya, adalah berkeliling menikmati Indonesia-ku dari Sabang hingga Marauke. Semoga Aku bisa Kak”

narsis-narsisan di negeri orang...
Tri menghabiskan waktu berjam-jam lamanya menelpon kartu ‘simpati’-ku untuk mengungkapkan rasa nasionalismenya. Menumpahkan uneg-uneg ke-indonesia-annya melalui fasilitas telkomsel itu setelah lama mencari dan menemukanku di blog kompasiana. Ia memang rajin searching mencari orang-orang yang dikenalnya, dengan perangkat teknologi yang telah dikenalnya.

Aku terenyuh beberapa saat lamanya, sebab wanita yang pernah menjadi ‘adik’ binaanku di Gerakan Pramuka semasa SMP dan SMA beberapa tahun silam, ternyata punya memori yang kuat tentang kecintaannya dengan Indonesia. Ia menganggapku sebagai kakak kandungnya, tempatnya berbagi, curhat, bahkan mengkritisi sikapku yang cenderung lebih terobsesi ke dunia barat.

“Di Pramuka, Kakak telah mengajariku tentang Indonesia, dan Aku sangat bangga. Sejauh mana pun kakak melanglang dunia, ke Cina, Amerika, janganlah pernah melupakan Indonesia.  Apapun ilmu yang Kakak peroleh di negeri orang, pulanglah ke Indonesia dan bangunlah negara kita, Aku sangat yakin Indonesia akan lebih maju dari negara lainnya di dunia ini. Percayalah, kita lebih hebat dari negara manapun. Aku pun bgitu Kak, kelak nanti ke mbali ke tanah air, bisa berbuat bagi negeriku, meski itu hanya di desa kecil.” Tri tiba-tiba mengajariku pentingnya bangga sebagai warga negara.

Ungkapan-ungkapan renyah dari seorang TKW seperti Tri, mengingatkanku pada cerita petualangan Mayang dalam film ‘Minggu Pagi di Victoria park’, yang menjadi jawara dalam The Movie Award 2011 yang disiarkan sebuah stasiun TV nasional beberapa malam yang lalu.  Dalam film itu, Mayang, anak pertama dari pasangan Sukardi dan Lastri diberangkatkan ke Hong Kong sebagai TKW. Penuh dengan ketidak tahuan dan rasa takut, ia belajar dan bekerja sekaligus bertahan hidup di keluarga dan negara yang sangat asing baginya.

Tetapi kisah Mayang dalam film berbeda dengan Tri Handayani. Tri ke Hongkong bukan karena paksaan orang tuanya seperti kisah Mayang, tetapi semata ‘berburu’ dollar meski berstatus sebagai pembantu rumah tangga. Uniknya Tri rela berpisah dengan suami yang baru di nikahi-nya 10 bulan lalu.

“Apa yang kulakukan, termasuk berpisah dengan suami, semata-mata untuk hidup Kak. Saya tak perlu takut dengan cerita orang, yang penting Aku jalan yang benar. Bicara dosa pun tak ada gunanya, sebab dosa adalah urusan Aku dan Tuhanku. Sekalipun ada dosa yang kuperbuat, mereka juga tak menanggung dosaku...” ujar Tri pelan, dan suaranya seolah serak  menahan tangis.

Kampanye Indonesia dan Melawan Diskriminasi

Tri tidak sekedar curhat, Dia juga mengungkapkan sikap ‘narsisnya’ ke Indonesia-annya di Hongkong. Ia bertutur bagaimana bangganya menjadi orang Indonesia ketika Timnas PSSI bertarung di Piala AFF. “Aku yakin Kak, Timnas bisa ke Piala Dunia, seperti tim bulu tangkis kita.. Hidup Indonesia !!!..hehehe” ujarnya terkekeh di telepon.

Para TKW di Hongkong begitu percaya diri (baca : pede) meski hanya bersatus sebagai pembantu rumah tangga. Bila ada liburan. Mereka bisa berkumpul menggelar pengajian dengan sesama TKW, mengikuti seminar-seminar ‘ke-indonesia-an’ yang digelar Konsulat Jenderal RI, hingga menyalurkan minat dan bakat masing-masing.  “Kami tak pernah malu sebagai orang Indonesia, meski kami adalah TKW,” ujarnya singkat

Kenapa? “Karena merek sebagai ‘pembantu’ di Hongkong tidak ada Kak. Di sini kami adalah pencari kerja yang punya hak sama dengan warga lainnya dan dilindungi undang-undang ketenaga-kerjaan Hongkong, sama posisinya dengan tenaga kerja professional lainnya di negara itu. Mungkin ini yang membedakan Hongkong dengan Malaysia atau negara-negara Timur tengah lainnya, makanya kita bebas berekspresi sesuai bakat masing-masing. Karena Aku pernah dilatih Pramuka, maka yang kulakukan adalah mengkampanyekan Indonesia dengan caraku sendiri. Setidaknya ketika di tanya, apa itu Indonesia, Aku langsung menjawabnya Indonesia adalah negara yang nyaman dan indah,” Katanya berargumen.

Takaran ke-Indonesiaan’ Tri Handayani mungkin sederhana. Tapi kepolosannya mengungkap dan menyerukan nama Indonesia di negara lain sungguh perbuatan yang sepatutnya menjadi sikap yang patut di contoh. Tri memang wanita polos dan hanya ber-ijazah SMA, besar di desa, pengetahuannya tidak seberapa luas, tetapi dogma Indonesia begitu melekat di pikirannya. Ia pun seolah mengigatkanku pada sosok ‘penatar P-4’ asa zaman pemerintahan Presiden Soeharto.

Kecintaannya kepada Indonesia juga diungkapkannya dalam bentuk sikap kritis melawan diskriminasi yang kerap dirasakan para TKW ketika pulang ke Indonesia. “Kak, kalau di Airport di Indonesia, saat kita pulang sering ada diskriminasi pada TKW. Kami diberikan ruang terpisah berbeda dengan penumpang umum lainnya. Padahal kami juga penumpang biasa, membayar pajak, biaya pesawat, tapi begitu masuk air port, kami seolah-olah masyarakat rendahan. Kenapa harus dibedakan seperti itu, sementara syarat dan kelengkapan Kami ke luar negeri juga dipenuhi? Ujarnya.

“Diskriminasi seperti ini layaknya diperhatikan pemerintah kita..”
“Kita adalah bangsa besar yang menghargai perbedaan, menghargai kesederajatan..”
“Tapi kenapa TKW sepertinya kelompok sendiri, dan mendapat perlakuan berbeda”
“Harusnya ini tak ada lagi di negara kita”

Tri Handayani  pamit. Suaranya tenggelam di belah malam. Sebab esok pagi ia harus melayani dan merawat majikannya. Seorang Chinese tua berumur 80-an tahun. Senyap-senyap dari kejauhan Tri dan majikannya berbahasa Mandarin. Oww.. Tri ternyata telah mengerti bahasa asing.  “Kak, suara itu suara majikan Saya”. Ia pamit dengan ucapan selamat malam dari Victoria Park.

 Apakah kita punya jiwa ke Indonesiaan seperti layaknya Tri yang TKW itu?


Jakarta, 15 Mei 2011

Terorisme dan Ideologi Kabur

Konsep ideologi bernegara yang kurang jelas (absurd) penerapannya oleh pemerintah saat ini, sepertinya menjadi pemicu tumbuh dan berkembangannya aktifitas terorisme di Indonesia. Kaum teroris seolah menangkap peluang besar bila republik ini sangat lemah, karena mudah mengadopsi ideologi-ideologi bernegara yang baru tanpa menetapkan satu ideologi bersama dan punya konsekuensi bila tidak dipatuhi. Kelemahan itu menjadikan semua aktifitas begitu mudah digerakkan tanpa bisa dideteksi oleh negara.

Satu hal yang patut di contoh dalam perjalanan panjang bangsa ini, yakni penerapan ideologi Pancasila dan UUD 1945 di zaman pemerintahan Presiden Soeharto yang begitu kuat dijalankan oleh aparatur hingga lapisan masyarakat. Tiga poin penting  yang dijabarkan dalam ideologi tersebut, yakni setiap warga negara Indonesia menghindari fanatisme yang berlebihan, free fight liberalism, sistem monopoli dan etatisme. Rumus inilah yang kemudian melemahkan segala aktifitas ‘liar’ di negeri ini, dan negara langgeng dalam menjalankan aktifitasnya.

Kondisi ini berbanding terbalik di zaman pemerintahan Presiden SBY. Berdalih membesarkan demokrasi, negara seolah melupakan  pengawasan terhadap aktifitas masyarakatnya. Wajar bila kemudian, negara hanya disibukkan pada tataran memberantas, tapi tak mampu mendeteksi apalagi mencegah aktifitas negatif tersebut. Negara baru terkesiap bila sesuatu telah terjadi dan memberi label terorisme. Opini publik pun terbentuk, seolah negara melawan sebuah kekuatan besar bernama terorisme yang memiliki jaringan-jaringan di berbagai tempat dan digerakkan oleh kekuatan luar. Menariknya, kita berpuas diri dan bertepuk tangan ketika menyaksikan drama penumpasan teroris di televisi dan mendapat pengakuan dari negara-negara lain di dunia.

Mengawasi masyarakat bukan berarti membelenggu kemerdekaan dalam berpendapat,  berkumpul dan berserikat. Tetapi pengawasan dimaksudkan untuk mengarahkan masyarakat pada aktifitas-aktifitas yang mendukung terciptanya ketentraman, ketertiban dan kedamaian. Bila aktifitas itu melanggar etika bernegara, maka ketegasan sangat diperlukan, sebab demikianlah konsekwensi bernegara. Masyarakat adalah unsur penting sebuah negara, selain adanya wilayah dan pemerintahan yang berdaulat, juga ideologi yang jelas dan matang.

Kecerdasan Teroris

Bom di Masjid Mapolres Cirebon Kota baru-baru ini adalah kisah nyata betapa lemahnya pengawasan negara pada masyarakat. Bukan hanya dilakukan di rumah ibadah disaat umat Muslim ingin melaksanakan Salat Jumat, tetapi membobol masuk dalam ‘ruang’ institusi kepolisian, memberi gambaran bila terorisme makin memahami karakter bernegara bangsa ini, memahami bagaimana prilaku pemerintahannya, dan mengetahui kelemahan institusi pengamanan masyarakat.

Selain itu, aktifis teroris sepertinya juga memahami bila intelejen negara tidak mampu lagi mengendus aktifitas yang terjadi di masyarakat. Teroris seolah memiliki kecerdasan untuk memancing perhatian media massa dengan pemberitaan yang ‘membiasakan’ intelejen, dan institusi kepolisian dengan aktifitas teroris, seperti  ‘bom buku’, doktrin, hingga dakwah-dakwah fanatisme, yang kemudian menjelma menjadi sesuatu yang rutin dan dianggap tak lagi membahayakan.

Aktifis teroris juga seolah memahami karakter Presiden SBY yang terkadang ambigu dalam menyikapi persoalan terorisme di Indonesia, seperti pernyataan presiden yang mengatakan teroris tak terkait dengan masalah agama dan politik, tetapi menyangkut kejahatan yang terkait dengan hukum. Celah ini bisa dimanfaatkan oleh teroris untuk berlindung dalam ruang agama dan politik.

Bahkan boleh jadi aktifis teroris ini memahami bahwa Indonesia bukan lagi negara militer, dimana TNI sangat lemah dalam fungsi pengawasan masyarakat, sebagaimana dwi fungsi ABRI dulu tidak lagi berlaku. Tak ada lagi Babinsa di masing-masing kelurahan, dan pure pada pelaksanaan pengamanan negara. Bahkan teroris seolah memahami, bila peran dan fungsi aparatur pemerintahan dari gubernur hingga lurah/kepala desa, RW, RT  tak memahami lagi kondisi warganya. Sederhananya, teroris memahami bahwa penyelenggara negara ini layaknya sebagai tambal ban, yang hanya bisa menambal dan menunggu kapan ada kebocoran lagi.

Dalam kajian ilmu komunikasi politik (menurut penulis), kecerdasan aktifis teroris ini adalah sebuah langkah awal mewujudkan cita-cita besar untuk mengganti ideologi bernegara yang saat ini kabur. Sebab mereka seolah memahami bagaimana pesan ideologi yang ingin disampaikan, media apa yang digunakan, siapa yang menggerakan dan apa efek yang muncul dari pergerakan itu. Mereka mampu mencermati cara pandang aparatur negara ini, dimana pemimpin bangsa ini masih memilah perbedaan gerakan antara teroris dan separatis. Teroris seolah belum dianggap sebagai separatis yang mengganggu keamanan negara, tetapi sekedar mengganggu stabilitas keamanan di masyarakat. Apa bedanya? Bukankah masyarakat adalah bagian dari negara?.

Memberantas Teroris

Memandang teroris sebaiknya negara melihatnya dalam bingkai separatis, yang sudah mengganggu stabilitas bernegara. Sehingga pemberantasan teroris haruslah menggunakan cara pemberatasan sebagaimana diterapkan untuk kalangan separatis. Teroris tidak hanya dipandang sebagai sebuah kegiatan ‘pengacauan’ tetapi lebih dari itu, teroris saatnya dipandang sebagai upaya politis untuk mengganti ideologi negara yang sudah ‘mengabur’ ini dengan ideologi lain.

Teroris yang terus berkembang di negara ini bukan lagi sekedar kerja intelejen dan kepolisian, dan TNI, tetapi semua insitusi negara selayaknya perlu menyiapkan strategi khusus untuk mencegahnya. Terutama peran penyelenggara pemerintahan dari tingkat atas hingga RT-RW, yang mampu mendeteksi apa aktifitas masyarakatnya. Mengharapkan peran langsung masyarakat di zaman seperti ini sungguh naïf, karena masyarakat kini disibukkan untuk mencari kelangsungan hidupnya, meski kita berharap peran aktif masyarakat untuk ikut memantaunya. Bangsa ini tak perlu malau untuk mengatakan Indonesia kini lemah di sektor ini, sebab bagaimanapun kejahatan teroris sangat biadab, tak bisa dimaafkan, dan harus hilang di bumi pertiwi ini. Ini pun jika kita masih punya sikap nasionalisme dengan bangsa yang bernama NKRI ini. (***)

*Penulis adalah Pemerhati Ilmu Komunikasi Politik
Dari Kota Baubau, Tinggal di Jakarta


BLT, Kerajaan Bakso Indonesia

Ketika masih berdomisili di Kendari, Sulawesi Tenggara Saya pernah terkesiap melihat satu warung makan berlebel ’Bakso Lapangan Tembak’ (BLT). Kupikir itu hanya branding biasa yang kerap dipakai para wirausahawan untuk menciptakan kesan lain dari yang lain. Maklum di sekitar warung BLT Kendari, tidak ada sama sekali aroma ‘lapangan tembak’, yang ada hanya kumpulan ‘pete-pete’ (baca : metromini) yang lalu lalang dan mengeluarkan asap knalpot, seperti layaknya metromini Jakarta yang lusuh dan kotor.

Di Makassar juga begitu. Saya juga menemukan warung BLT di beberapa tempat. Bakso ini sepertinya bersaing dengan branding kuliner Makassar sekelas Coto dan Konro, Sup Saudara dan Ikan Bakarnya serta minuman segar sekelas Pisang Ijo. (Duh nikmatnya...). Bahkan BLT ini ikut bersaing dengan saudara ’kompatriotnya’ asal Makassar pula yakni ’Bakso Mas Daeng’. Bakso yang di produksi asli orang Makassar, namun kerap dipanggil Mas, karena penjaja-nya disangka  Orang Jawa. Heheheh...

Di Baubau lain lagi. Di kota yang dikenal sebagai kota pemilik benteng terluas di dunia ini juga terdapat branding BLT. Nah, ini yang namanya mendekati kebenaran, sebab lokasi warung bakso ini, terletak di kawasan terminal antar kota, dimana orang Baubau menyebutnya ’Terminal Lapangan Tembak’, maklum lokasi terminal ini milik TNI dan sebelum difungsikan sebagai terminal, adalah tempat latihan pasukan Yonif 725 Woroagi. Kupikir BLT yang ada di Kendari dan Makassar adalah ’saduran’ dari BLT yang ada di Baubau.

Soal kota Baubau ini sedikit unik. Beberapa nama kawasan di kota yang terletak di Pulau Buton ini, mirip dengan nama kawasan yang ada di Jakarta. Diantaranya,  kawasan Blok M, kawasan Tanah Abang dan juga Mangga Dua.. Entah bagaimana asal muasalnya, Saya kurang paham. Yang pasti, Baubau adalah kota Budaya dan kota wisata yang layak dikunjungi. Maklum kota ini pusat warisan kesultanan Buton masa lalu, dan pernah menjadi ibukota Sulawesi Tenggara, sebelum dipindahkan ke Kendari.

Kembali ke soal Bakso Lapangan Tembak alias BLT ini (Maaf yah..ikut pak Beye nyingkat nama dengan SBY), semalam (4/12) Saya  menyempatkan diri ke Senayan, sekedar ’gaya-gayaan’ ingin latihan menembak. Di depan tempat ini, terdapat bangunan khas joglo yang ramai dikunjungi para penikmat kuliner. Seorang rekan megajak Saya ikut mencicipi apa yang ada di dalamnya. Nah ini dia asli Bakso Lapangan Tembak itu....

Aromanya Menggigit..
Saya tak mampu membahasakan letupan kata tentang kenikmatan Bakso Lapangan Tembak (BLT) Senayan ini. Maklum orang sekelas Saya yang bukan penikmat bakso, biasanya ’menyamaratakan’ bakso itu hanya kuliner mie, bercampur bulatan ’yoknyang’, bihun plus bumbu-bumbu lainnya. Namun, ketika menikmati BLT Senayan ini, Saya berubah jadi penggila Bakso, kupesan dua mangkok sekaligus...hehehehe ”Ini mujizat” pikirku lalu tergelak.

Ya! Saya benar-benar merasakan sensasi ’berbakso ria’, bulatan bakso-nya yang terasa berserat seolah menggigit lidah. Bumbunya terasa memenuhi ruas-ruas tenggorakanku, plus aroma bumbu yang merasuk ke hati. Memang BLT Senayan ini, lain dari yang lain. Apalagi setelah itu, terus ’mencucinya’ dengan segelas jus segar...pasti sebuah sensasi...wajar kemudian jika pengunjung berbondong ria ke sana.

Tapi bukan itu saja...mungkin kenikmatan Bakso ini bertambah dengan tata ruang khas keraton plus suara gamelan di gerbang depan seperti memberi kata sambutan pada Anda. Pelayannya juga rada sopan dan cukup cantik, khas Jogjakarta...klop dah....Apalagi bukan hanya bakso yang bisa dinikmati di sini. Sejumlah pangan khas Jogja juga ada, dari ayam bakar, goreng hingga beberapa aroma seafood lainnya.

Sebuah Kerajaan
Ternyata bukan hanya Jogja yang bisa jadi kerajaan. Dan bukan hanya Sri Sultan HB-X yang bisa jadi Raja. Pedagang bakso pun bisa, seperti pemilik BLT Senayan ini. Apa yang Saya saksikan di Kendari, Makassar ataupun di Baubau, ternyata bagian dari ’imperium’ BLT Senayan ini.

Dari peta  persebaran pemakai Branding BLT Senayan yang terpampang di bagian teras menunjukkan bila bakso ini telah menjelma menjadi sebuah kerajaan kuliner di Indonesia. Saya senang menyebutnya, sebagai Kerajaan Bakso Indonesia, pasalnya hampir semua provinsi ada cabangnya bahkan di beberapa kabupaten kota di Indonesia terdapat Bakso Lapangan Tembak Senayan.

Entah bagaimana mekanisme manajemen BLT ini. Saya kurang tertarik. Saya justru tertarik dengan siapa pendiri BLT ini...Bakso Lapangan Tembak (BLT) didirikan oleh Ki Ageng Widyanto Suryo Buwono, nama yang dianugerahkan Sultan Hamengkuwono IX tahun 1980-an. Pada tahun 1971.

Widyanto keluar-masuk kampung menjajakan bakso pikulnya. Di siang hari, biasanya ia mengelilingi gang kampung Petamburan, Slipi, Pejompongan dan Gelora Senayan. Dan malam harinya, ia biasa mangkal di kawasan Lapangan Tembak Senayan (kini telah berubah menjadi Hotel Mulia). Hingga  akhirnya, di tahun 1982 ia memutuskan mangkal tiap hari di luar pagar kompleks Lapangan Tembak Senayan. Tahun 1983 ia diizinkan memboyong gerobak baksonya ke dalam kompleks, dan sejak itu baksonya dikenal masyarakat dengan sebutan Bakso Lapangan Tembak Senayan.

Saya ingin mengatakan, dengan memberi sesuatu yang terbaik pada orang lain, Anda bisa membuat Kerajaan dan Anda layak jadi Rajanya. Yang pasti Bakso adalah kuliner khas Indonesia yang sudah populer di publik Indonesia. Bahkan seorang Presiden Amerika, Barrack Obama pun tak bisa melupakan ’kegilaannya’ terhadap Bakso.

Bravo Bakso!!....

Tugu Tani dan Hely Bos Arya Duta

 Rasanya bicara petani di Kota Jakarta di era saat ini tentu barang yang aneh. Tidak ada lagi cangkul dipikul dan bakul yang digendong. Warganya sibuk alih profesi di sector jasa. Baik jasa ‘ulur tangan’ hingga  jasa ‘daging mentah’. Lainnya disektor perdagangan, industri, pemerintahan, militer, dan lain-lain. Yang pasti, kalau Anda bertanya tentang apa itu petani bagi anak-anak Jakarta, maka sudah pasti mereka hanya menjawab dengan hayalan.

Untung saja ada Tugu Tani di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat yang mengingatkan anak-anak itu tentang karakter seorang petani. Mungkin ketika tugu ini dibangun, tujuannya mengingatkan karakter Indonesia sebagai Negara agraris. Tapi sekarang sudah lain. Tugu ini seolah menjadi symbol kemiskinan, kemelaratan ditengah Kapitalisme Jakarta.
Tugu Tani yang terkepung kendaraan dan gedung (foto :zah)
Saksi bisu kapitalisme (foto : zah)
 Setiap harinya, Sang ‘petani’ dikepung arus lalu lintas yang begitu padat, tubuhnya hanya bermandi polusi kendaraan yang sibuk entah kemana. Sepasang petani ini juga seolah menyaksikan kekejaman dan ketidakadilan Jakarta. Bahkan kepongahan gedung-gedung pencakar langit disekitarnya.

Hely Bos Arya Duta
Andai saja ‘Tugu Tani’ ini juga bicara, maka setiap harinya Ia akan berkata. “Noh liat keatas, Bos Arya Duta datang lagi dengan Helikopternya”. Saya sendiri sempat berpikir, betapa kayanya ‘Sang Bos’ Arya Duta ini. Bagaimana tidak, cerita bila Bos Arya Duta dari rumah ke kantor menggunakan Hely ternyata benar. Saya telah menyaksikannya, Selasa Sore ini (26/10), sebuah Hely meliuk-meliuk di angkasa tanpa macet. Kemudian mendarat mulus di puncak Hotel Arya Duta.
Heli 'Bos' Hotel Arya Duta sesaat sebelum mendarat (foto: zah)
 Penasaran, tentang siapa Sang Bos itu? Percuma. Untuk apa? Yang Saya tahu, Bos Arya Duta bermukim di BDS Tanggerang, dan bila ke Hotelnya, pasti menggunakan Helykopter. Beda dengan kami, yang hanya bisa naik Oplet, Bajaj, Metromini, Ojek bahkan mungkin jalan kaki.

Saya cemburu, kapan juga bisa menikmati perjalanan dari rumah ke kantor pakai Hely? Mungkin suatu saat nanti. Tapi andai saja Sang Bos mau ‘mendermakan’ biaya perjalanannya sehari dalam sepekan kepada orang miskin Jakarta, maka sungguh Sang Bos Arya Duta ini, punya amaliah yang tidak terkalahkan. Mudah-mudahan.

Yang pasti Saya hanya bisa memotretnya dengan kamera ‘pocket butung’ ini, bagaimana nasib Bapak dan Ibu Tani Cikini, dan juga gemuruh Hely sang Bos Arya Duta. Maaf Saya belum bisa bercerita panjang. Tapi mungkin foto ini bisa mewakili cerita singkat ini. (**)

                                                            Cikini sehabis Jalan Kaki, 26 Oktober 2010