31 May 2013

Pagi-pagi buta ibu saya menelpon, tentu saja saya merasa kebingungan lantaran tidak seperti biasanya ibu melakukan hal seperti ini. Firasat tak baik sebelum menjawab telepon itu terus saja menghantui, apalagi ibu langsung menangis. Rasanya sekujur tubuh gemetaran dengan segudang dan pertanyaan dikepala. Ada apa?. Benar saja, paman tercinta Andi Latief  pukul 04.30 dihari WITA, Jumat 31 Mei 2013  telah berpulang keharibaan-Nya, karena sakit komplikasi sejumlah penyakit yang dideritanya. Padahal usianya baru kepala lima.

Saya merenung, tercengang, bersedih dan tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi tak bisa mengantar kepergian jenazah almarhum. Saya hanya bisa mengucap kalimat ‘inna lillahi wainna ilaihi rojiun’ dan tak lupa berdoa, sembari meminta maaf kepada ibu, karena tak sempat pulang ke Sulawesi. Keaadaan tak memungkinkan, karenanya rasa berdosa berlipat-lipat menyelimuti perasaan ini. Ibu saya mahfum dan berkata “tak apa-apa Nak, kami di Sulawesi memahami kondisimu, tetap fokus belajar di Jakarta Nak!”.

Bagi saya, Paman Andi Latief punya banyak kesan, beliau begitu membaggakan saya sebagai keponakannya. Beliau pula pembela saat saya masih remaja tatkala banyak keluarga mencemooh saya sebagai ‘pemalas’ karena tak bisa kerja ‘empang’ seperti saudara-saudara lainnya. Beliau berkata “Kamu tetap sekolah, sebab itu yang akan mengangkat derajat dirimu dan orangtuamu kelak, dan jika suatu saat nanti berhasil, jangan lupa adik-adik sepupumu. Sebab Pamanmu ini sudah sakit-sakitan dan tak bisa bekerja lagi,” begitu pesannya.

Tiga bulan lalu ketika saya sempat ke kediaman beliau di Kolaka, beliau lagi-lagi berpesan dan sedikit ‘malu’ memperlihatkan kakinya yang buntung dan agak ‘membusuk’ karena ‘gula basah’ yang dideritanya. Saat itu ia berpesan lirih, “Nak, saya sudah capek dengan penyakit ini, dan saya ikhlas jika Allah SWT memanggil saya saat ini juga,” begitu katanya, seolah-olah penyakit itu aib dan telah menjadi beban bagi keluarga.

Ketika saya memaksa untuk memperlihatkan penyakitnya itu. Wajah ‘Puang Lati’ begitu saya memanggil paman ini terlihat merona. Bukan malu, tetapi ia seolah memiliki semangat hidup, sebab ia sendiri berasumsi  jika penyakitnya tak ubahnya ‘kusta’ tak pantas dilihat orang, tetapi jika ada yang menjenguknya maka harapan hidup itu timbul kembali. Satu pesan beliau ketika saya mau kembali ke Jakarta. “Nak, tunjukkan pada keluarga jika kamu bisa sekolah setinggi-tingginya, tunjukkan pada keluarga jika kemiskinan itu akan berubah dengan pendidikanmu, saya bangga meski kamu tak bisa melihat jasad saya terakhir kali, mungkin saat kamu masih di Jakarta” katanya.

Ya Allah....ternyata itu pesan terakhir beliau pada saya. **







1 comment:

  1. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun...
    Turut berduka cita ya papa reva... Semoga Amal ibadah Puang Latief diterima Allaah SWT... Dan keluarga yg ditinggal diberi ketabahan & kesabaran, aamiin YRA...

    ReplyDelete

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX