24 November 2013

Entahlah, gemuruh hati ini luruh tatkala nada dawai itu mengalun lirih, larut dalam kidung-kidung tak berlirik, saya menikmatinya dan seolah bernafas dalam desah-desah alunan yang penuh makna. Benar-benar menikmatinya…

Dawainya menghadirkanku pada lorong-lorong masa silam saat pertama kali menapaki hidup di ibukota. Kini baru tersadar, mengapa musik begitu ‘liar’ dalam pikiran banyak para seniman. Mengapa musisi selalu mengagungkannya seperti serpihan cahaya pagi yang selalu tersenyum menyambut waktu. Musik tak sekedar irama bernada, tetapi ia mampu menenggelamkan pikiran banyak manusia, larut dan menjawab kegundahannya. Seperti itu pula makna yang terekam ketika menikmati alunan music benda berdawai ini. Biola. Benda yang mungkin banyak dalam benak, hanyalah mainan bagi mereka yang tertinggal zaman.

Bersama dawainya,.. bersama angin malam menyambut pagi…bersama kicauan burung dan rimbun taman di pusat metropolitan itu, ragaku menyendiri larut dalam denting-denting iramanya. Seperti berkelana dalam rimba yang tak bertepi, dan berjalan di gurun yang tak berbatas. Dentingnya seperti pagi yang selalu membawa senyum. Dentingnya seperti lisan yang bermakna dalam. Dentingnya seperti menghadirkan wanita pujaan dan kuberkata padanya; saya mencintaimu…
Seperti pagi, kau selalu tersenyum….
--------------------------------------------
Suropati, menanti minggu pagi, 24 Nov 2013






Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX