07 May 2014


Kali ini saya begitu salut dan ingin memberi pujian pada Partai Gerindra di Pemilu 2014, bukan karena posisi ‘tiga besar’ yang diraihnya di Pemilu legilatif 9 April lalu, tetapi karena partai ini terbilang banyak melahirkan ‘wakil-wakil’ rakyat usia muda yang akan berkantor di Senayan beberapa bulan kedepan hingga 2019 nanti. Asumsi saya, ini pembuktian visi Pak Prabowo Subianto, dalam komitmennya membangun masa depan bangsa melalui kepeduliannya pada anak muda potensial negeri ini.

Salah satu pemuda itu adalah Haerul Saleh, akrab disapa ‘Aco’, adalah calon anggota DPR-RI yang terpilih dari Dapil Sulawesi Tenggara. Ya, sangat muda, ia kelahiran 12 Agustus 1981 di Kolaka, sebuah daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung Nikel Indonesia. Menilik tanggal lahirnya ini berarti Aco baru berumur 32 tahun. untuk ukuran politisi yang akan bermain di pentas nasional, tentu ia sangat belia. Kerap saya membatin dan bertanya pada diri sendiri, apakah dengan usia muda itu, Aco sudah bisa menantang derasnya arus politik di level Jakarta?

Tetapi ketika merekam jejaknya sebelum terpilih pada Pemilu lalu, saya kemudian tercengang setelah mengetahui jika sebelumnya ia juga tercatat dalam lembar negara sebagai Calon Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara setahun silam berpasangan dengan politisi kawakan di provinsi itu, Ridwan Bae, Ketua DPD Golkar Sultra dan mantan Bupati Muna dua periode, meski pada pertarungan ini, Aco belum beruntung setalah dikalahkan pasangan incumbent saat itu.

Tetapi jejak dan langkah politik anak muda ini menarik untuk dicermati. Usia sangat muda, tetapi karir politiknya terbilang cemerlang. Sebagai orang yang bergelut di akademisi komunikasi politik, saya kerap bertanya pada diri sendiri, apakah Aco mampu menunaikan tugas mulia-nya di DPR-RI nanti? apakah ia mampu meredam jiwa mudanya dalam pergolakan politik level nasional? tetapi saya juga bangga, jika negeri ini sudah bisa melahirkan pemikir-pemikir bangsa dari mereka yang masih belia. saya teringat kalimat Bung Karno, “Berikan saya sepuluh pemuda, maka saya akan mengguncang dunia”…

                                                                                      **
Pukul 14.00 WIB, Senin kemarin, ponsel saya berdering. “Assalum Alaikum, Kak Saya Aco, Haerul Saleh. saya ingin sekali bertemu kebetulan saya lagi di Jakarta”. begitu kalimat dibalik ponsel saya. Sempat tercengang, siapa Aco ini, dan darimana ia mendapatkan nomor ponsel saya. ternyata ia memperoleh dari kerabat saya yang tinggal di Kolaka, kampung dimana saya dibesarkan dalam suasana pedesaan.


Di kampus tempat saya menimba ilmu, Aco meluangkan waktunya menemui saya. Berkenalan sejenak sembari menikmati makanan kecil di kantin kampus. Dari perbincangannya, saya menilai jika Aco adalah pemuda yang sangat pandai bergaul, santun dan ia pandai menempatkan diri. Usut punya usut, ternyata Aco pernah menimba pendidikan di Pondok Pesantren, pantas jika peragainya menandakan ia seorang yang religius, tetapi punya daya pikir yang menurut saya melampaui usianya. Diskusi-diskusinya juga terkesan sangat nasionalis. wajar saja jika kemudian Partai Gerundra memberikan ruang besar baginya untuk di calonkan di Pemilu lalu. Ia bahkan teramat paham dengan visi misi tokoh idolanya, H. Prabowo Subianto. Tetapi ia juga punya cara pandang yang tak melupakan ‘akarnya’ sebagai seorang putra daerah. “Pantas saja jika ia terpilih ke Senayan” pikirku.

Di sela-sela diskusi, kerap saya bertanya, siapa Aco ini, darimana asal usulnya? mengapa tiba-tiba ia tercatat sebagai Calon Wakil Gubernur, dan kemudian menjadi calon ‘jadi’ anggota DPR-RI? apakah ia putra seorang tokoh di Kolaka sana? apakah ia seorang anak dari orang yang kaya raya?. “Maaf Kak, saya anak dari kalangan sederhana, saya hanya selalu membangun perkawanan dengan siapa saja, hidup ini akan terasa ada jika kita bisa saling menghargai, saling memotivasi, dan saling peduli dengan sesama kita,” ungkap Aco dengan kalimat-kalimat yang penuh makna. Boleh jadi ini ‘resep’ besarnya sebagai seorang Caleg yang sukses menembus Pemilu 2014 dan siap-siap melenggang ke Senayan.

Satu hal yang penting terekam diingatan saya sebagai simpulan diskusi dengan Aco, bahwa ia sosok pemuda yang sangat nasionalis. “Saya bergabung dengan Gerindra dan Bapak Prabowo Subianto karena keinginan saya, agar bangsa ini bisa lebih baik, bangsa ini harus lebih mandiri. Tak ada yang lebih dari kita sebagai warga negara, terkecuali hidup dan pikiran-pikiran kita untuk bangsa dan negara. sekecil apapun apa yang bisa kita lakukan,” katanya.

Banyak hal yang kami diskusikan berdua, termasuk menyangkut pendidikan yang saya tempuh. “Kak, semoga kuliahnya cepat selesai, dan abdikan diri kakak untuk kebaikan bangsa ini.” imbuhnya.

“Benar-benar hangat dan nasionalis pemuda ini, saya bangga bisa berkenalan dengannya”. pikirku. Sesaat ia kembali bersama beberapa rekan-rekan dari Kolaka, hasrat menulis saya kembali bergairah, tetapi saya ‘kalah’ dengan kedalaman cara berpikir anak muda ini, sehingga sulit merangkainya dalam banyak kata dan kalimat. Saya hanya bisa berharap, semoga kelak di Senayan nanti, suaranya benar-benar untuk rakyat yang telah memilihnya, dan pikirannya untuk bangsa besar bernama Republik Indonesia. Amin…

----------------------------------------
Menteng di Pagi Hari, 7 Mei 2014



Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX