» » Superman (memang) Harus Mati?

Superman (memang) Harus Mati?

Penulis By on 30 January 2018 | No comments

AMAT beruntung bisa menjadi salah seorang yang pertama menikmati film Superman Vs Batman, itu pun di Makassar beberapa pekan lalu ketika pertama kali film ini di rilis 23 Maret dua tahun lalu. Toh, jika ada yang berkomentar ‘macam-macam’ soal film ini, saya hanya senyum simpul saja; sebab banyak cara orang mengapresiasi dan menarik makna dari apa yang ditontonnya, dan dijadikannya sebagai sebuah pengetahuan. 

Cara berpikir seperti ini disebut sebagai ‘paradigma konstruktivisme’; yakni cara berpikir dimana seseorang mengolah informasi yang ditangkapnya dari dunia luarnya, kemudian dikeluarkan lagi sebagai sebuah pengetahuan baru. Hehehe..ini sih belajar konstruksi teori pengetahuan…

Kita tinggalkan itu!. Saya hanya ingin fokus pada kritik di jalan cerita film pertemuan dua superhero ini, yang sebelumnya di promo besar-besaran pihak distributornya, Warner Bros Pictures. Sebenarnya (bagi saya) tidak terlalu istimewa untuk ditonton, terkecuali bagi para peresensi film, atau para penghayal yang suka menarik makna dari alur-alur cerita film ini. Saya sendiri, hanya mengagumi effek sound-nya saja, yang kerap mengagetkan jantung, khususnya dalam frame-frame menegangkan. Selebihnya hanya persoalan kekaguman pada teknologi film ini, yang memang produser-produser Indonesia masih sulit menjangkaunya.

Yang pasti di ujung cerita, Superman digambarkan wafat, meski kemudian frame akhir memperlihatkan peti mayat Superman bergerak-gerak, yang membawa pesan jika sebenarnya superhero ini belum wafat. “Mungkin mati suri saja ya Om”, kata ponakan saya. Tetapi itulah cara sang produser, untuk menyimpan pesan jika sebenarnya film ini akan berkelanjutan, dan terus merogok kocek Anda untuk terus menontonnya, jika kelanjutan episode film ini datang lagi. Dalam teori politik ekonomi media-nya Vincent Mosco, ini yang disebut sebagai “spasialisasi”, atau cara mengatasi jarak dan waktu agar media bisa tetap bertahan.
Pelajaran penting dari film ini, selain makna-makna ilmu media di atas, bahwa film ini adalah film Amerika, yang kemudian dijadikan arena oleh bangsa Amerika mempertahankan hegomoninya sebagai negara adidaya. Bayangkan karakter “jahat” seperti Lex Luthor yang diperankan Jesse Eisenberg, digambarkan bukanlah orang Amerika, tetapi seorang ilmuan Yahudi Jermani, yang menyalahgunakan keilmuwannya, dengan menciptakan mahluk jahat bernama Domsday. Demikian pula beberapa karakter jahat lainnya, yang menyebut nama seorang Russia, dan seorang Muslim asal Afrika, ketika awal cerita film ini. Seolah-olah Amerika tetaplah sebagai bangsa yang akan melindungi manusia di muka bumi ini. Sebagaimana dulu orang-orang Eropa yang hijrah ke benua ini dengan menyebut “American is hope”. Ini konsep pemahaman ideologi Amerika yang menyalurkan “kebaikan” bangsanya ke seluruh dunia melalui media bernama film.

Ada tiga karakter penting yang membuncah perasaan penonton di sini, masing-masing Batman yang diperankan Ben Affect, Superman oleh Harry Cavill dan Wonder Women yang muncul di akhir cerita diperankan oleh Gal Gadot. Semuanya adalah tokoh-tokoh hero. Amerika. Tetapi penonton “dikibuli” dengan mematikan Superman di akhir cerita. Sederhana memaknainya. Superman bukanlah mahluk Bumi, ia dari planet lain. Sementara Batman adalah manusia bumi dengan mengandalkan teknologi buminya pula. Artinya; manusia tetaplah terhebat di antara mahluk lainnya di Galaksi Angkasa Raya. Dan manusia terhebat itu adalah orang Amerika..heheheh.

Cerita ini, seolah-olah menggiring pikiran ke arah yang sempit, bahwa sehebat apapun “orang lain”, yang terhebat itu tetaplah orang sendiri. Ada konsep pribumi dan non pribumi di sini. Sama seperti ketika membahas pilkada-pilkada, yang penuh dengan politik-politik identitas. Perlawanan orang lokal pada pendatang, pribumi kepada non pribumi. Rasanya ingin menghubung-hubungkan film ini dengan banyak helatan Pilkada di Indonesia, dari keoknya Ahok di DKI, hingga keberanian PDIP menempatkan kader-kadernya di daerah ‘lain’ seperti Jarot Saiful Hidayat, mantan wagub dan Gubernur DKI yang kini ‘dititp’ di Sumatera Utara, ‘Mbak Puti’ Guntur Sukarno Putri di Jawa Timur, padahal selama ini ia bermain di Jawa Barat.

Saya tak tahu. Apakah benar ada hubungan jalan cerita dengan film ini, sy menghubungkan-hubungkan saja dan sekadar menyontek makna film ini, bahwa manusia bumi jauh lebih hebat dari manusia planet lain..hehehe…
Jadi tak perlu penasaran berlebihan dengan kehadiran film ini, terkecuali hanya sekedar hiburan semata yang akan memanjakan mata dan mengagetkan jantung Anda. Toh ini cara Amerika merebut duit dari kurungan dompet kulit Anda. Di dini politik ekonomi media terus menginspirasi banyak orang media untuk terus hidup, dan membumbui pikiran Anda juga dompet Anda. Maaf, saya bukan peresensi film. Jangan sensi!
---------------------
Menonton film lawas
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya
comments

Bagi Pengguna Facebook silahkan komentar di atas