22 November 2014

Untuk anak-anakku, Refa (12 tahun ), Refi (10 tahun) dan Noval (8 tahun), semoga Allah senantiasa memberimu nikmat dunia dan nikmat akhirat. Semoga hidup kalian lebih dari hidup masa kecil ayah dan ibumu. Semoga kalian menjadi yang berguna bagi keluarga, agama dan tanah kelahiranmu. Amin...
Begitu doa ayahmu diseperdua malam ini. Malam di mana ayahmu mengimpikan kalian menjadi lebih baik dari apa yang ayah-ibu alami di masa kecil yang penuh kesahajaan dan kesederhanaan. Dimana ayah-ibumu hidup dalam keterbatasan. Tetapi apapun itu, ayah-ibumu kini bangga memiliki kalian, bangga menghidupi kalian, dan selalu berharap yang terbaik selalu menjadi milik kalian. Amin…
Malam ini, diperantaraan jarak dan waktu antara Jakarta dan Sulawesi, hanya nafas dan ingatanmu yang selalu hadir, wajah-wajah mungilmu yang selalu ceria, menjadi inspirasi ayah untuk membanggakanmu, menjadi inspirasi ayah agar kelak kalian bangga memiliki makna sebuah perjuangan, bahwa segala sesuatu itu tak akan pernah dicapai dengan cara yang instan, perlu pengorbanan, dan pengorbanan itulah yang kelak membuatmu bahagia. Seperti bahagianya Ayah dan ibumu yang memiliki kecerianmu, candamu, tawamu bahkan tangismu.
Malam ini, rembulan meredup berganti rona  fajar, siap-siap menyambut pagi yang mengantarmu ke sekolah. Aku mengingat kalian bersama cinta ibumu. Mengingat ‘dosa‘ ayahmu yang selalu memisahkan diri dari kalian, hanya sebuah keegoisan untuk mengejar gelar duniawi, yang mungkin bukan itu yang kalian harapkan.
Tetapi apapun itu, ayahmu selalu percaya, jika perjuangan dan pengorbanan itu adalah kebanggaanmu di masa datang. Seperti ayah membanggakan hidup kakek-nenekmu, yang dengan kesederhanaannya membesarkan ayah dan paman-pamanmu dari keringat dan terik matahari yang membakar kulitnya. Yang rela menanggung malu, melepas harga diri dari cerita kemiskinannya, membongkah tanah dan batu, memulung kayu dan ranting, serta menelusuri lorong-lorong waktu untuk sebuah kasih saying pada ayah dan paman-pamanmu.
Seperti ayah, kalian harus bangga memiliki kakek dan nenek seperti mereka. Bahwa dibalik bahu kekarnya, dibalik kasar dan legam kulitnya, dibalik uban dan kerut wajahnya, mereka meneteskan darah ‘perjuangan’ di tubuh kalian, yang kelak mengantarkanmu kuat menghadapi hidup yang serba instant ini. Berjanjilah  anak-anakku, bahwa kalian adalah cucu-cucu yang suatu saat membuat kakek-nenekmu selalu tersenyum dan bangga memiliki pewaris generasi di masa dating. Berjanjilah, meski janji itu hanya ada dalam nafas dan jiwamu, sebab kalian belum tahu mengucap, apalagi memberi makna di balik janji itu….
Anakku, kutahu engkau tertidur malam ini….tetapi peluklah ayahmu dari jauh, seperti engkau mendekap ibumu saat ini. Tertawalah, tersenyumlah, dan bila perlu menangislah, jika tangisan itu yang kemudian membuat bangga ayahmu dan ibumu.  Sebab ayahmu selalu hadir di jiwa kalian, meski jarak dan waktu itu terasa begitu merenggang.
(Mungkin) malam ini kalian tengah bermimpi memliki rumah berhias kolam renang. Bermimpi menikmati mobil impianmu, bermimpi menikmati apartemen-apartemen seperti anak-anak para jutawan negeri ini. Tetapi ayah dan ibumu pasti lebih bangga, ketika kalian dalam tidur bermimpi menjadi anak-anak yang saleh, yang selalu terbangun di sepertiga malam mendirikan tahadjud, dan selalu mendoakan ayah dan ibumu untuk selalu sehat dalam hidupnya, yang mendoakan ayah dan ibumu tak terbuang ke jurang kepongahan manusia. Ayah dan ibumu pasti berbangga, ketika kalian menelpon, dan berkata. “Etta, etta buat apa? sudah sholat? Etta sudah belajar? Kapan pulang?”
Ayah kini tersenyum. Ayah tentu berbangga di tepi mata yang mulai meredup, menanti pagi yang mengantarkan ayahmu ke sebuah gedung ibukota untuk meraih mimpi. Mimpi yang kalian titip pada ayah-ibumu, untuk menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. Seperti mimpi kakek-nenekmu, yang tak pernah lelah membangun impiannya. Impian dimana anak-cucunya menjadi orang-orang yang pandai bersyukur.
Anakku jangan pernah berhenti untuk bermimpi. Sebab Allah memang memberikan mimpi itu buat manusia, juga memberi jalan untuk mewujudkan impian itu. Rawatlah mimpi-mimpimu, rawatlah harapanmu. Seperti ayah kini merawat harapan yang kalian titipkan. “Nak, Bung Karno, tokoh besar bangsa ini bahkan meminta kita untuk bermimpi setinggi langit. Sebab beliau meyakini, jika pun kita terjatuh, kita kan terjatuh di antara bintang-bintang. Nak, apakah engkau telah mengerti makna mimpi-mimpi itu? Ayah tak memaksamu. Tetapi ayah yakin, mimpi itu ada dalam tawa, senyum bahkan tangismu”…
Anakku…berkatalah dunia tak akan runtuh, sebelum mimpi kita terwujud. Mimpi menjadi manusia yang bisa berbagi kebahagiaan dengan sesama mahluk. Sebab itu jauh lebih baik dari segala harta, yang tak pernah cukup bilangannya dalam benak manusia. Amin…
**
Jakarta, 22 November 2014
Doa ayahmu dalam bait kata di sepertiga malam

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX