24 January 2010


Seni dan Teknik Pencitraan

Pendahuluan

Satu hal menarik dalam dunia komunikasi politik adalah kemampuan para politikus atau aktivis politik untuk melakukan berbagai ‘cara’ mendapatkan tujuan politiknya. Cara itulah yang kemudian disebut sebagai teknik berkomunikasi yang diarahkan untuk mencapai dukungan legitimasi (otoritas sosial), yang meliputi tiga level, yakni pengetahuan, sikap sampai dengan prilaku khalayak[1]. Kegiatan komunikasi politik meliputi juga upaya untuk mencari, mempertahankan dan meningkatkan dukungan politik dengan jalan melakukan pencitraan dan membina opini public yang positif.

Secara umum cara ini dapat disebut sebagai ‘kampanye’ yang menurut Anwar Arifin adalah bentuk aplikasi komunikasi politik yang dilakukan oleh sesorang, sekelompok orang atau organisasi politik untuk membentuk dan membina citra atau opini public yang positif, agar terpilih dalam suatu pemilihan (pemilu, pemilukada, pilpres)

Masih dalam litratur yang sama disebutkan beberapa bentuk atau jenis seni dan teknik aplikasi (penerapan) komunikasi politik yang sudah lama dikenal dan dilakukan oleh para politisi atau aktivis politik antara lain rethorika politik, agitasi politik, propaganda politik, loby politik dan tindakan politik yang dapat dilakukan dalam kegiatan politik yang terorganisasi seperti public relation politik, pemasaran politik dan kampanye politik. Tujuannya sangat jelas dan tegas, bahwa hal tersebut berkaitan dengan upaya memenangkan pemilihan umum agar meraih kekuasaan atau kedudukan politik di lembaga legislative atau eksekutif sehingga dapat membuat kebijakan politik sesuai dengan visi, misi, dan program politik para komunikator politik terutama para politikus dan partai politiknya.
Pembahasan
1. Rethorika Politik
            Rethorika berasal dari bahasa Yunani, retorica berarti seni berbicara, yang awalnya digunakan dalam perdebatan-perdebatan di ruang pengadilan atau perdebatan antar persona, sehingga awalnya komunikasinya bersifat dua arah atau dialogis. Tetapi dapat juga dari satu orang ke banyak orang untuk saling memengaruhi dengan cara persuasive dan timbal balik. Sehingga kemudian berkembang menjadi kegiatan seni, yakni seni berbicara, lalu kemudian menjadi ilmu pengetahuan sendiri.[2]

Umumnya rethorika dapat dicapai berdasarkan bakat alam dan keterampilan teknis (Hendrikus dalam Anwar Arifin: 2011). Retorika juga bisa berarti kemampuan menyusun argumentasi dan pembuatan naskah pidato, karena berkaitan dengan persuasi, Sedangkan sebagai ilmu pengetahuan, hanya dapat dikuasi melalui pendidikan.

Retorika Politik atau Pidato Politik sebagai suatu seni berbicara dengan menggunakan daya persuasi politik yang tinggi dengan menggunakan bahasa lisan yang indah (irama, mimik dan intonasi suara). Tetapi kemudian dapat berbahaya jika menjadi wahana propaganda. Plato telah mengecam retorika persuasi sebagai racun yang membunuh demokrasi. Kecaman Plato itu mendorong untuk melahirkan dialectica rhetoric, yakni kemampuan untuk mempengaruhi dan mengarahkan manusia pada cara positif ke arah kebenaran. [3]

            Sebagai lambang dari rethorika adalah Pidato politik yang dikenal ada 4 jenis, masing-masing :
  1. Impromptu : pidato yang diucapkan secara spontan tanpa persiapan sebelumnya.
  2. Manuskrip : pidato yang dipersiapkan secara tertulis
  3. Memoriter : pidato yang ditulis dan diingat kata demi kata (hafal)
  4. Ekstempore : yaitu pidato yang dipersiapkan sebelumnya berupa garis besar dan pokok-pokok yang menunjang pembahasan. Biasa digunakan oleh juru pidato mahir.

2. Agitasi Politik
            Agitasi berasal dari bahasa latin, agitare (bergerak, menggerakkan), dalam bahasa Inggris, agitation, merupakan salah satu bentuk seni dan teknik berkomunikasi. Blumer dalam Anwar Arifin (2011:131) mengatakan Agitasi dimulai dengan cara membuat kontradiksi dalam masyarakat dan menggerakan khalayak untuk menentang kenyataan hidup yang dialami selama ini. (penuh ketidakpastian dan penuh penderitaan)

Agitasi juga berusaha agar khalayak bersedia memberikan pengorbanan yang besar bagi tujuan yang langsung bersedia mengorbankan jiwa untuk mewujudkan sebuah cita-cita poltik. Orang yang melakukan agitasi ini disebut ‘agitator’ atau orang yang berusaha membuat ketidakpastian, kegelisahan, atau pemberontakan orang lain. Napheus Smith dalam Anwar Arifin (2011:131), karenanya agiasi biasanya dipersepsikan sebagai sesuatu yang negative karena mengandung unsure menghasut, ancaman, menggelisahkan, dan agresif.

3. Propaganda Politik
Berasal dari bahasa latin, propagare yang berarti menyamaikan tunas suatu tanaman. Diartikan bebas sebagai ‘menggalang’, orang yang melaksanakannya disebut sebagai ‘propagandis’. Awalnya digunakan oleh para misionaris dalam menyebarkan agama. Seperti yang dilakukan oleh Paus Gregorius XV dengan membentuk Congregatio de Propaganda Fide.

Propaganda politik merupakan kegiatan komunikasi politik yang dilakukan secara terencana dan sitematik untuk menggunakan sugesti (mempermainkan emosi) untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang. Atau khalayak yang lebih besar untuk menganut sebuah ide yang kesadarannya sendiri tanpa merasa dipaksa atau terpaksa.[4]

4.  Loby Politik
Istilah loby sesungguhnya adalah tempat para tetamu menunggu atau para tamu menunggu atau berbincang bincang dihotel. Karena banyak dipakai para politikus melakukan pembicaraan politik secara santai atau informal, sehingga kemudian melekat sebagai sebuah kegiatan yang sangat penting.

Meskipun sangat informal, namun hasil pembicaraannya dapat diperkuat secara formal dalam rapat politik, persidangan maupun forum musyawarah, baik di dalam partai politik maupun di parlemen dan lembaga-lembaga politik lainnya.[5] Berparadigma interaksional dan biasanya bersifat dialogis,

5.  Tindakan Politik
Tindakan yang dapat dipandang sebagai komunikasi dalam paradigma pragmatis, juga merupakan bentuk seni dan teknik dalam berkomunikasi yang selalu digunakan dalam kegiatan politik. Jadi, retorika, kampanye, loby dapat juga disebut sebagai tindakan politik[6].

Secara umum tindakan politik adalah sebuah bentuk peristiwa politik yang sengaja dibangun untuk memberi makna tertentu sebagai sebuah symbol politik. Seperti pakaian seragam, karpet merah untuk tamu istimewa kepresidenan, plat merah untuk kendaraan dinas dll. **

Sumber Referensi Tunggal
Anwar Arifin, Komunikasi Pilitik. Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi dan Komunikasi Politik Indonesia, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2011


[1] Anwar Arifin, Komunikasi Pilitik. Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi dan Komunikasi Politik Indonesia, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2011. p.125

[2] ibid
[3] ibid

[4] Ibid. 135
[5] Ibid. 135
[6] Ibid. 139

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX