29 May 2011

27 Mei 1964, atau tepat 47 tahun silam Sir Pandit Jawaharlal Nehru seorang tokoh yang berpengaruh di kawasan Asia-Afrika menghadap kepada sang Penciptanya. Keluarga, sahabat dan jutaan orang India di dunia tak terkecuali di Indonesia waktu itu, begitu bersedih. Nehru bagi orang Indonesia dalam sejarahnya bukalah orang asing. Kedekatannya dengan Bung Karno, sebagai salah satu tokoh pendiri Gerakan  Non Blok, dan seringnya berkunjung ke Indonesia, seolah menjadikan negeri ini sebagai tanah air keduanya.

Karena pengaruh Nehru pula, orang-orang India di Indonesia yang tesebar di berbagai kota seperti Jakarta, Medan, Surabaya dan Bandung begitu mudah menyatu. Nehru seolah menjelma menjadi penyatu warga keturunan India dengan aneka suku yang ada di Indonesia. Tampaknya beliau memang menjadi pewaris ‘ajaran’ Mahatma Gandhi yang menjadikannya sebagai tokoh kharismatik radikal yang pernah dimiliki India dalam memperjuangkan kemerdekaannya dari Inggris.
Sewaktu penulis masih duduk di bangku SD, pernah menganggap Nehru sebagai orang Indonesia.  Maklum penampilannya yang sederhana dengan peci yang menjadi ‘trademark’nya menjadikan Nehru lebih mirip Melayu ketimbang Bangsa Hindustan yang biasanya lebih meyukai menggunakan penutup kepala ala sorban.

Mengapa Nehru begitu dekat dengan Bung Karno dan umumnya rakyat Indonesia? Sebab Ia seorang tokoh terkemuka dalam gerakan kemerdekaan India yang merdeka dua tahun lebih muda dari Indonesia, yakni 15 Agustus 1947. Saat pernyataan kemerdekaan itu, Nehru tampil heroic mengibarkan bendera kebangsaan India seorang diri. Lebih dari itu, bersama-sama dengan Bung Karno, Gamal Abdul Nasser dari Mesir mendirikan gerakan negara-negara Non Blok, sebagai betuk independensi dimana dunia kala itu itu dikuasi dua grup besar, yakni Amerika dengan Blok Baratnya dan Sovyet dengan Blok Timurnya.

Nehru juga dikenal sebagai tokoh plural, yang mencintai  keragaman dan penyatu antara kaum Hindu dan Islam di tanah India, dan bersama-sama dengan Bung Karno kerap tampil di symposium-simposium dunia yang getol memperjuangkan nasib bangsa Asia dan Afrika. Sama dengan Bung Karno sebagai Presiden RI pertama, Nehru  juga sebagai pemangku jabatan Perdana Menteri pertama di India setelah memenangkan pemilu pertama di India tahun 1952. meski begitu, beliau tetap tampil bersahaja, dan berusaha mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Makanya Nehru dikenal dengan nama lengkap Sir Pandit Jawaharlal Nehru yang berarti ‘Tuan Guru (sarjana) Jawaharlal Nehru’.

Nehru tak hanya dikenal sebagai tokoh politik kharismatik, beliau juga seorang advokat yang amat peduli pada pendidikan bagi anak-anak dan remaja India, kepercayaan itu penting untuk kemajuan masa depan India. pemerintahannya mengawasi pembentukan banyak institusi pendidikan tinggi, termasuk Segenap Lembaga India Ilmu Kedokteran, Institut Teknologi India and the Institut Managemen India. Nehru juga menjelaskan komitmen dalam rencana lima tahun untuk menjamin pendidikan dasar gratis dan wajib untuk semua anak-anak India. Dengan tujuan tersebut, Nehru dapat mengawasi pembuatan program pendaftaran warga desa serta pembangunan ribuan sekolah.

Nehru juga meluncurkan inisiatif seperti penyediaan susu gratis dan makanan untuk anak-anak untuk memerangi kekurangan gizi. Pusat pendidikan orang dewasa, sekolah kejuruan dan teknik juga diselenggarakan untuk orang dewasa, terutama di daerah pedesaan. Tentunya sebuah pelajaran berhargaga bagi bangsa ini, ketika kita baru mengenal pelayanan ‘gratis’ justru jauh setelah puluhan tahun kita merdeka.

Lalu apa yang bisa dipetik dari seorang Nehru bagi warga Indonesia keturunan India? Kita berharap banyak. Di negeri ini nama Raam Punjabi dan istrinya Rakhee Punjabi, dikenal sebagai raja sinetron tanah air. Harapannya keluarga Punjabi bisa memberikan suguhan mendidik bagi generasi ini, sebagaimana layaknya Nehru kepada anak-anak dunia tanpa perbedaan satu sama lain. Selain itu kita mengenal sosok HS. Dillon, seorang tokoh aktifis Hak Azasi Manusia dan Sosial Ekonomi dan pernah menjabat sebagai Penasehat Menko Perekonomian bidang penanggulangan kesmiskinan di tahun 2001. serta sederet artis tanah air keturunan India seperti Ayu Azhari bersaudara, Arafiq.  

Di Indonesia, warga keturunan India bukalah warga ‘kelas dua’. Mereka telah menyatu dengan aneka suku bangsa di tanah air. Sebagaimana cita-cita Nehru dan Bung Karno menyatukan bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Semoga Tuan Guru, tenang di alam sana….(**)

(Untuk saudara-saudara ‘Indiaku’ di  Passer Baroe..Selamat  beraktifitas)

Jakarta di Pagi Hari, 27 Mei 2011.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX