30 August 2010

-->
Saya yakin, siapa yang memimpikan
Sesuatu dengan penuh ihtiar, maka
Energi positif impian itu mengalir padanya
(hamzah palalloi)

18 Ramadhan 1431 H, 26 Agustus 2010...adalah waktu yang membuatku kembali merenungi akan sebuah episode perjalanan kehidupan ini. Meninggalkan istri dan anak-anak yang sangat kusayangi lalu berlabuh di ibukota, jantung Indonesia, hanya tuk menapak sebuah mimpi panjang, membuktikan pada waktu, bila dia kan terus berputar memasuki relung-relung yang hanya bisa dicapai dengan sebuah impian.

Mimpi kecilku tak pernah sejauh ini...tapi aku tersadar, bila masa kecilku yang hidup dari kesederhanaan, kupernah berkata..”saya juga bisa hidup di Jakarta, tapi kapan?” begitulah kata yang pernah terikrar sesaat masih sekolah dasar.

Waktu terus berputar. Sebuah angan yang didukung dengan impian seorang istri mengajakku untuk bertarung dengan derasnya kehidupan Jakarta. Meski hidup sendiri, tapi doa istri dan asa tiga putra-putri harapanku, membawaku hadir dan menjadi satu dari puluhan juta manusia Jakarta. Saya sempat kalut, bingung dan bertanya dalam hati...”apakah Saya bisa hidup di Jakarta ini?, padahal aku buta dengan jalanan, buta dengan hiruk pikuk kekejaman Jakarta. Apakah kumampu menundukkan Jakarta, seperti benak dan niat dipikiranku?. Mungkin ini domain Sang Pencipta, Saya hanya bertanya...sebab hampir semua rekan yang kutemui, berkata “Saya Yakin, Anda bisa survive di sana” Amin....

Kehadiranku di Jakarta, dimotivasi dengan keinginan melanjutkan pendidikan Pasca Sarjana. Sebuah keinginan yang tak pernah ada dibenak kedua-orangtuaku (maklum beliau hanya seorang buruh yang menggantung hidup dari kekuatan fisik). Tapi, Yang Kuasa mengizinkaku...Kini aku tercatat sebagai mahasiswa program magister, jurusuan Media dan Komunikasi Politik, di Universitas Mercubuana. (setelah gagal masuk di Universitas Indonesia). Saat memasuki gerbang kampus , anganku melayang jauh. Jujur saya punya impian panjang tapi sangat sederhana. Apa itu? Saya ternyata hanya ingin kepopuleran, tentu dengan banyak penghasilan (heheheh...). Seorang rekan pernah bertanya, Anda pernah menjadi jurnalis, selanjutnya diterima menjadi PNS, Anda juga sudah Sarjana, punya istri, anak dan tentu kehidupan rumah tangga, Apalagi ?

Kujawab dengan sederhana, “Saya bermimpi bisa menjadi nara sumber yang sering tampil di TV, populer se Indonesia, punya penghasilan lebih, tidak diburu-buru aparat hukum dan kalau bisa jadi Doktor dengan kuliah di Amerika. Saya tidak punya cita-cita jadi pejabat besar” begitu kataku.

Menurutku (mungkin subjektif), untuk mewujudkan impian itu adalah harus bertarung dengan realitas kehidupan Jakarta. Andai saja Saya hanya mengajar gelar master, maka cukup di daerah ku bisa meraih itu. Tapi bukan itu, saya tidak butuh jabatan dan pangkat yang tinggi. Saya hanya ingin seperti yang kuungkap itu...

Motivasi seorang Rektor.
Ketika mengikuti kuliah perdana, Saya makin tersugesti dengan kalimat-kalimat Rektor Universitas Mercubuana Jakarta, Dr. Ir. Suharyadi, MS. Beliau berkata, “Selamat datang di Mercubuana, jumlah mahasiswa Pasca Sarjana Mercubuana, adalah jumlah terbanyak se Indonesia khusus untuk perguruan tinggi swasta, Jangan ragu, disini ada jaminan mutu,”..

Saya makin tersugesti..pesona kutabur pada rekan-rekanku..Saya ingin menjadi yang terbaik ratusan mahasiswa pasca itu. Saya ingin membuktikan, bila kelak seorang anak buruh kasar, bisa menjadi manusia sehebat Soeharto, tapi tidak sekejam Hitler.



 (foto-foto :Tower Rektorat Merubuana dan suasana pembukaan perkuliahan angkatan 17 tahn 2010)

Ketika kampus memberi dua pilihan, apakah Anda ingin kuliah di kampus Meruya atau Menteng? Maka dengan mantap kupilih Menteng. Saya paham, kehidupan Menteng jauh lebih mahal dari Meruya. Saya paham itu. Sugesti Menteng membawaku melambung jauh,,,menerawang angan-angan Jakarta. Apalagi status PNS-ku beralih dari Kota Baubau ke Menar Global Jakarta di kawasan Kuningan, meski hanya sebagai staf biasa.

Menteng bagiku bukan sekedar tempat elit di negeri ini. Saya hanya ingin energi postif  Obama, energi positif Megawati, JK mengalir di angan-anganku. Besarnya keinginan itu membawaku harus ‘ngekos’ di sana. Sebuah kamar harmoni kuperoleh dengan harga yang sepadan, Rp. 650 per bulan. Kata Bu Kost, “Silahkan liat-liat, gunakan listrik sepuasnya, cucian ditanggung, tuh ada kulkas bisa dipake untuk 3 kamar, nih ada kasur, sprei, lemari dan sebagainya,” begitu katanya.

Tak pikir panjang, meski dengan gaji PNS, Rp 1,5 Juta perbulan, rayuan Bu Kosku yang bernama Hajjah Tuti kuterima. Tak pikir panjang, semua barang-barang bawaanku dari Baubau berupa beberapa lembar pakaian, laptop dan sebuah Felbag lipat yang semula kusimpan di rumah kos kawanku (Pak Muni Ika, Pak Suardin, Pak Rahman) di kawasan Rawasari Jakarta Timur kuboyong ke Menteng. Langsung blas..mandi dan menuliskannnya ke blog ini.

Bagiku Muni Ika, sang Calon Doktor Pendidikan, dan Pak Suardin serta Rahman, juga seorang kawan suku Kabaena yang sama sekali tak tau Kabaena karena besar di Ternate bernama Antoni Nurdin (semuanya calon magister) memberiku motivasi besar. Katanya, “Jangan kita ke Jakarta ini, justru menyengsarakan anak-istri di kampung, sebab Jakarta akan memberi berkah tersendiri bagi siapa yang berjuang di dalamnya. “Betul juga dan ini pesan yang amat bermakna,” pikirku.

Tersesat Jalan
Jakarta sebenarnya bukan barang baru bagiku. Sebab beberapa penugasan dinas ke Jakarta cukup membuatku sering mengunjungi kota yang di sebut lebih kejam dari ibu tiri itu. Tapi, setiap kali ke Jakarta, maka pilihan transportasiku adalah Taksi. Yang penting ada duit, aman.

Namun, begitu resmi menjadi ‘penduduk’ Jakarta, saya harus hidup sehemat mungkin. Taksi bukan lagi sasaran utamaku. Sebelum menemukan kos-ku di Menteng, aku pamit sama kawan2 di Rawasari untuk mencari Kos. Kuberanikan diri keluar sendiri. Dari arah Rawasari menuju Senen, adalah pilihanku. Tapi saya berjalan kaki beberapa ratus meter dulu sembari menyaksikan suasana Jakarta yang sebenarnya.

Kecapean karena bulan puasa, kuputuskan menggunakan mikrolet. Tak pikir panjang aku naik. Tiba disebuah pasar di Johar Baru aku turun, bayar Rp 2 ribu. Lama putar-putar di sana, kuputuskan mencari ojek. “Jek, antar aku ke Tugu Tani, sepuluh ribu ya? Ok, kata Sang Ojek.”

Tugu Tani adalah patokanku menuju Kampus B Mercubuana di Menteng Raya. Pas sampai depan kampus, aku jalan kaki, tujuannya mencari Kos. Saya tak sungkan bertanya pada siapa saja, tentang rumah kos. Mataku tertuju pada Kos mewah di Jalan Tembok Besar, belakang kampus. Aku bertanya pada seorang pria yang ternyata tukang ojek juga. “Bang, tuw rumah kos-kosan ya? Berapa ya? Kataku. “Wah yang ini bagus pak, Rp 2,2 juta perbulan, ber-AC, semua fasilitas ada....pakaian dicucikan, pokoknya tinggal tidur aja...,” ujarnya berpromosi, tapi saya tetap realistis sebab tidak mungkin mengambil kos mewah itu.

Sang ‘Joki’ ternyata paham kalau itu terlalu mewah bagiku. Dia pun menawarkan kos di kawasan itu juga, hanya posisinya masuk 30 meter dari poros jalan. Disinilah kutemukan kos yang menurutku sepadan dan layak kujadikan tempat hidup. Itulah kos Bu Hajja Tuti seperti yang kuceritakan sebelumnya. Sebagai ungkapan terima kasihku, sang Joki kuhadiahi uang Rp 20 ribu sebagai jasanya.

Setelah membayar langsung sewa kamar sebulan, resmilah saya menjadi pemilik kamar kos itu. Dari sana aku kembali ke Rawasari..disanalah Saya tersesat, meski sebenarnya itu tak perlu terjadi. Sebab dari rumah kosku Saya menyewa Ojek dengan ongkos PP. Ojek memang menjadi pilhanku, untuk mengetahui jalan-jalan ular Jakarta. Tapi naas, menuju Rawasari berapa kali tersesat sehingga mungkin ada 3 atau 4 kali kembali ketmpat yang sama, padahal sebenarnya posisi kos rekan di Rawasari sudah dekat. Hanya Saya salah menetukan posisi, Tol Lampu Merah Rawasari yang semula  menjadi patokanku, ternyata adalah Tol Lampu Merah Rawamangun, pantas saja keliru. Untung Saya dan si Ojek rajin bertanya, sehingga yang kutuju sampai juga. Itulah sekelumit perjalanku dalam memulai hidup di Ibukota ini. (**)

                                                Cikini-Menteng Kamar Kos baruku, pukul 23.00
                                                Di Tanggal, 30 Agustus 2010.






4 comments:

  1. Selamat datang di Universitas Mercu Buana, kami akan memberikan yang terbaik untuk anda.

    Sebenarnya anda tidak sendiri, puluhan mahasiswa UMB yang mirip dengan anda

    ReplyDelete
  2. Mohon izin ya, tulisan anda ini kami muat di http://www.facebook.com/kelaskaryawanmercubuanajakarta

    ReplyDelete
  3. asyikk... adami tempat nginapku kalo sy ke jkt

    ReplyDelete
  4. @ UMB : Terima kasih telah membacanya, dan trims telah menshare ke fb kampus...eh..untuk Bang Yusran...monggo...pintu terbuka lebar..liat aja nanti....

    ReplyDelete

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX