31 August 2010

-->
Ku tak pernah lelah memandang singgasana itu...
Bukan ke meneropong tinggi belaka...
Tapi berharap bisa memberi yang ada di bawah...
(Hamzah Palalloi)

Hamzah Palalloi. Nama yang aku gandrungi dalam setiap mempublish tulisan-tulisan sederhanaku. Sebenarnya, namaku hanya ‘Hamzah’ saja tanpa embel-embel. Kata Palalloi, adalah nama kecil ayahku yang sering kudengar bila Sang Ayah disapa oleh Kakek-Nenek juga saudara-saudaranya. Kuingin namaku dan nama ayahku terpatri satu dalam kata. Hamzah Palalloi. Nama yang bila sering dipikir, menjadi khas dan bertalenta, bahkan mungkin berkarakter  (puji diri nih...).

Sengaja kuperkenalkan nama ini, untuk memulai letupan arus kata dalam benakku yang tak tahu harus memulai dari mana. Banyak sekali, sehingga kata-kata itu seolah berlomba dan meminta, “ayo mulai dari Aku”...”Ceritakanlah sugesti pikiran-pikiranmu, siapa tahu kelak bisa bermanfaat bagi dirimu dan juga mahluk yang ada di sekitarmu”...

Kehadiranku di Jakarta dimotivasi keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Dan pilihan itu jatuh pada Universitas Mercu Buana Jakarta. Orang Jakarta meringkasnya dengan sebutan UMB, sama dengan sebutan UMB bagi Universitas Muhammadiyah Buton yang ada di kotaku.  Karena persamaan itu, saya pernah diolok sama rekanku. “Kenapa kuliah di UMB, katanya mau ke Jakarta, kandas ya?” begitu protesnya, karena menganggap UMB itu Universitas Muhammadiyah Buton di Kota Bau-Bau Sulawesi Tenggara.

Kepincut Nama-nama Besar
Tentu saya bangga masuk di Mercu Buana Jakarta...apalagi di pasca sarjana program Magister Ilmu Komunikasi. Minatku sudah kupatok dari awal pendaftaran, Komunikasi Politik. Entah kenapa itu yang kupilih, yang pasti egoisme kemanusianku juga ikut berkata. “Bagus itu, bergengsi dan lagi trendy”. Mungkin saya latah melihat kesuksesan seorang Effendi Gozali, Yudi Latif, Farid Hamid, Hardiyanto Jatmiko, dan beberapa pakar komunikasi lainnya yang kerap bermunculan dari berbagai media massa. Saya latah, tetapi saya ingin berbeda dari semua nama besar itu, yang ternyata juga dosen-dosen pengajarku, kelak hingga selesai. Amien.

Bukan sekedar latah-latahan, nama besar Universitas Mercu Buana memang merebak kemana-mana. Kadang terdengar kalau kampus berjaket almamater merah cerah ini, adalah kampus beberapa selebriti tanah air, kampusnya kaum elit dan eksekutif, mahasiswinya cantik-cantik, sehingga ada yang berpesan padaku “Jaga isi kantong saja, disitu Anda bergaul dengan para selebriti,”...



(foto atas : Rektor UMB, Dr. Ir. H. Suharyadi, MS, tengah : Direktur Pemasaran UMB : Ir. Yenon Orsa, Bawah : Ketua Yayasan Menara Bakti : Bp. Probosutedjo)

Memang benar, Mercu Buana memiliki mahasiswi yang cantik dan pesolek, yang bisa membuat libido kehidupan kita ikut bergairah (hehehe), memang benar disini banyak selebriti, sebab abang-none Jakarta banyak di ‘produk’ dari kampus ini. Memang benar, elit dan eksekutif banyak hadir di Mercu Buana...sebab kampus ini dibawah naungan Yayasan Menara Bakti pimpinan Bapak Probosutedjo, adik mantan Presiden Soeharto. Tapi jangan heran kalau biaya pendidikan Magister di kampus ini sangat terjangkau, bahkan jauh lebih murah dibanding perguruan tinggi lainnya di negeri ini.

Nama besar Probosutedjo juga ikut andil ‘memaksaku’ kuliah di Mercu Buana. Tentu pula sejumlah akademi berlaber proffesor dan doktor.  Ya!, saya dipengaruhi nama besar Probosutedjo. Kenapa? Apakah ia karena Adik penguasa Orde Baru? Ya!, saya harus menjawabnya secara jujur. Apalagi membaca pikiran dan visi sosok Probosutedjo, yang pernah berkata semasa ia kecil dan kesulitan menempuh pendidikan. “Andai saja kelak saya dewasa dan sukses, maka saya akan mendidirikan lembaga pendidikan,” luar biasa..!!

Bukan itu saja, hampir semua daerah di Indonesia diserang virus dan wabah kelas jauh dari sejumlah perguruan tinggi, baik level negeri maupun swasta yang menawarkan ‘paket-paket gampang’. Gampangnya, karena kuliah ‘keseringan’ di daerah, ‘hanya sekali’ ke kampus (karena kejauhan, letaknya ada di Jakarta, Makassar, Surabaya dan kota-kota lainna) satu tahun lebih sudah dapat gelar Magister dengan berbagai model, ya M,SI, MM, M.Sc, MBA dll. Saking banyaknya lulusan seperti ini, ada rekan saya mengistilahkannya alumni STIA..Sekolah Tidak, Ijazah Ada...(heheheheh...maaf ya? Kalo ada STIA yang beneran)

Saya tidak ingin menggunakan paket gampang itu, saya ingin serius dan Mercu Buana-lah pilihan saya, apalagi nama besar Prof Dr. Didik J. Rachbini adalah guru besar yang bercokol di Mercu Buana sejak lama. Seorang ekonom besar di negeri ini, mantan anggota DPR-RI, meski pada Pemilu lalu, Prof Didik ‘kalah’ dari kepopuleran seorang Eko Patrio. Pelawak kenamaan negeri ini...(Maaf Prof, saya hanya mengutip pernyataan Pak Rektor saat pengarahaan mahasiswa baru...) Atau ada yang ingin berkata...pantas negara ini sudah jadi lawakan...professor aja kalah dari pelawak....hahahah...

Besarnya minat Saya bergabung di Mercu Buana, sebesar arti nama Mercu (Sumbu) dan Buana (Dunia), Saya ingin menjadi penerang dunia dalam hal apa saja, yang paling sederhana, adalah melalui tulisan-tulisan yang sederhana pula.

Saya memandang kampus ini, bagai spektrum angkasa raya, yang berhias kerlap bintang dan planet-planet. Siapa yang bisa kesana, tentu hanya orang yang memiliki kemampuan khusus, yang kelak bisa menjadi warna indah dimalam hari. Saya pun berkata, Adakah Bintang kelak lahir di Mercu Buana?
Menyelami Pikiran Rektor

Seorang rekan seangkatan dan sejurusan asal Ambon, kebetulan berprofesi sebagai jurnalis bernama Taufik membuatku terkekeh-kekeh saat acara pengukuhan mahasiswa angkatan 17 tahun 2010 dalam percakapannya Taufik berkata begini;

“Bang Hamzah, nama Rektor tuw sapa?
“Abang harus tau itu, jangan sampai ditanya dorang, sapa pung Rektor tidak tau..malu kan? Nanti kita dibilang Dorang, STIA lagi, Sekolah Tidak, Ijazah Ada..malu kan, saya ini jauh-jauh dari Ambon...”

Saya pun balik bertanya. “Tofik tau kah?, beberapa rekan disampingku juga bingung, terus merogoh berkas-berkas yang ada. Si Taufik tidak kalah sigap. “Ow..Doktor eh...saya kira Proffessor. Namanya Doktor Insinyur Haji Suharyadi, MS..Bang Hamzah, Em Es itu apakah?”

Saya hanya mencermati keluguan seorang Taufik dengan gaya Bahasa Ambon yang khas, Taufik memang belum paham kalau rektor itu ‘jabatan politik’ disebuah perguruan tinggi. Juga tidak membahasnya kalau sebenarnya MS itu gelar dari mana, tidak juga menjelaskan, kalau sebelumnya gelar yang digunakan rektor awalnya adalah PHd, gelar akademik luar negeri yang sama dengan doktor. Itu menurut sepengetahuan Saya.

Ketika Rektor  tampil memberi sambutan dan meperkenalkan pejabat struktural Kampus Mercubuana, sejumlah nama Guru Besar dan juga Doktor ikut disebut satu persatu, termasuk memperkenalkan sosok Ir. Yenon Orsa, MT, direktur Program Kelas Karyawan yang belakangan ini sukses merekrut mahasiswa cukup banyak dengan tingkat selektifitas yang gradual pula. Maklum untuk kelas ini, Pak Yenon mampu merebut 1200 mahasiswa lebih tahun ini. Bahkan untuk Magister, diperkenalkan kepada mahasiswa, jika Mercu Buana, adalah PTS terbesar di Indonesia. Tentu, kata yang menjadi motivasi bagi mahasiswa yang telah mendaftar kesana.

Taufik pun sempat nyeleneh...”Abang, beuh..ternyata torang kuliah di sini tidak main-main. Abang, beta mo kasi liat orang di Ambon, kalo beta so kuliah di Mercu Buana, itu bargengsi...bargengsi samua...hehehhe...Taufik terkekeh dan sangat serius mendengar pengarahan Rektor. Setetes keringat terlihat jelas di dahi Taufik, wajahnya sumringah, aroma ‘nafas kasturi puasa’ sedikit menebar kemana-mana... “Abang..kepalaku so siap balajar”, Taufik tampak tak sabar menunggu kapan diriya disibukkan dengan jadwal perkuliahan.

Diatas tribun, Rektor sementara menyampaikan pesan-pesannya. Ada satu pokok pikiran yang menurtku perlu dikaji dan dikritisi lebih akademisi. Pak Rektor  menyebut Universitas Mercubuana kini tengah membangun moral.

“Caracter Buliding, menjadi hal yang tak lepas di Mercubuana”
“Budayakan hidup sehat tanpa merokok, kampus ini bebas rokok, kalaupun ada, silahkan di kawasan Kantin”
“Dan yang paling penting, kampus ini bebas Narkoba, saudara-saudara jangan coba-coba membawa narkoba di kampus ini, tidak ada ampun disini, sekali ketahuan, maka terpaksa kami mengeluarkan Saudara”
“Bagi saudara yang pernah menjadi pecandu dan kini telah dianggap sembuh, kami Ingatkan untuk tidak mengulangi lagi...”
“Bangsa ini harus dibangun dengan penuh semangat, dedikasi, moral yang baik, dan tentu kita ingin menjadi yang terdepan,” begitu kata-kata Rektor yang sempat saya kutip.

Saya menilai, ungkapan Pak Rektor bukan sekedar pesan, gaya berbicara, langgam bahasa, dan body lagguage seorang Rektor menurutku, pengambaran kepribadiannya, Saya menangkap sosok Pancasilais dalam cara berpikirnya. Sebuah idiologi yang kini tak pernah lekang dalam ingatanku. Sebuah idiologi yang menurutku perlu ditanamkan di kampus..sebuah idiologi yang menurut orang ‘dogma Soeharto’ tapi menurutku itu yang terbaik.

Ada beberapa kalimat yang sangat Saya ingat hingga saat ini dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kalimat itu diantaranya; ....ada beberapa hal yang harus dipakai dalam negara Pancasila seperti ini, yakni tidak boleh mengembangkan fanatisme yang berlebihan, sistem Free Fight Liberalisme, dan sistem Etatisme, dan monopoli....(wah Pancasilais buanget...)

Yang pasti, Saya punya niat kelak saya ingin mendebat Pak Rektor dalam hal-hal membangun caracter building...kelak  pula Saya punya waktu, ruang dan dana yang cukup untuk menulis sebuah buku tentang seputar kehidupan di Mercu Buana.....

Maaf..sebenarnya tulisan ini masih panjang..tapi waktu berbuka sudah menanti...kali waktu saya sambung lagi....

Cikini-Menteng, pukul 16.05
31 Agustus 2010




1 comment:

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX