24 August 2011

sebuah pelajaran dari liputan majalah tempo 2009 silam tentang bagaimana mengelolah potensi sungai dan laut yang terkadang tidak tergarap maksimal. di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara berhasil melakukan revolusi di sektor ini. Tempo menyebutnya revolusi dari pinggir kali. wah..menarik untuk disimak

Di tepi Kali Baubau yang membelah kota pesisir di Sulawesi Tenggara itu, Hayana dan keluarganya menggantungkan hidup pada warung bahan pokok sejak lima tahun silam. Di depan warung mereka, di pinggir jalan aspal selebar tiga meter yang membentang sepanjang sungai, setiap jari warga setempat menikmati pemandangan atau sekedar menonton perahu hilir mudik dari muara. Sore hari, ketika matahari tak lagi menyengat dan angin  sejuk bertiup dari pucuk-pucuk bukit Betoambari, anak-anak bermain kejar-kejaran atau badminton di badan jalan. ”Tepi sungai sekarang ramai, banyak orang belanja,” kata ibu dua anak itu.

Dulu Hayana tak pernah membayangkan akan memiliki warung sebagai sumber penghasilan keluarga. Suaminya bekerja sebagai kuli angkut di Pelabuhan Murhum, Ketika itu belum ada jalan di tepi sungai. Satu-satunya akses hanyalah jalan setapak yang sesekali membentur rumah tetangga yang menjorok ke kali. Orang pun enggan melintas, apalagi berlama-lama di tepian kali yang sekaligus menjadi tong sampah bagi warga sekitarnya itu. Kali Baubau mirip dengan sungai di kota besar di Jawa pada umumnya. Baunya busuk menyengat saat musim kemarau, dan menjadi tempat penimbunan sampah yang mengundang pemulung.

Kondisi itu jelas memprihatinkan mengingat Baubau bagaikan kota metropolitan mini, tergolong paling maju di Sulawesi Tenggara kepulauan. Kota berpenduduk 135 ribu jiwa ini merupakan pintu gerbang bagi warga kawasan Buton Raya-meliputi Baubau, Buton, Buton Utara, Wakatobi dan Muna-yang ingin bepergian ke Makassar dan Jakarta. Ia juga seperti  magnet yang menarik pendatang dari kabupaten sekitarnya. Para pendatang seperti Hayana-dari Wanci, Wakatobi-berpindah dan menyesaki bantaran kali. ”Kondisi Kali Baubau memang memprihatinkan,” kata Pak Amirul mengenang Baubau sebelum tahun 2000-an.

Maka sebuah ’revolusi’ pun di canangkan. Pak Amirul yang mulai menjabat 6 Januari 2003, memprioritaskan program penataan Kali Baubau. Menurut Pak Amirul, cara yang paling efektif untuk membersihkan sungai adalah membalik arah rumah warga, dari yang tadinya membelakangi menjadi menghadap sungai. kami menjadikan sungai sebagai halaman depan,” katanya.

Program itu dipilih karena kalau sekedar mengimbau atau mengancam warga yang membuang sampah ke kali, pasti tak akan membuahkan hasil. Proyek itu di mulai dengan membangun jalan sehingga warga pun mau tak mau mengubah arah rumahnya. Pak Amirul berharap penduduk tak membuang sampah lagi di halaman depan.

Tentu saja membalikkan ratusan rumah penduduk tak semudah mengedipkan mata, apalagi proyek itu menyita tanah mereka. Untuk memuluskan rencana ini, para pamong praja harus sabar membujuk warganya. ”Kami mengundang warga berdialog di Kantor Kelurahan,” kata Pak Tamzir, Kadis kebersihan dan pertamanan Baubau yang juga adik kandung Pak Amirul. Atas arahan sang kakak, Pak Tamzir memutar film tentang proyek bantaran Kali Baubau masa depan.

Berkat dialog yang berulang, warga lama-lama bersedia merelakan sebagian tanah mereka di jadikan jalan. ”Mereka sadar, dengan adanya jalan itu, harga tanah akan naik, dan bisa membuka usaha,” kata Pak Amirul.

Setelah lingkungan dibersihkan dan ditata ulang, dan jalan beraspal dibangun, kini sungai selebar 20 meter itu telah berubah menjadi halaman depan warga yang tinggal di kedua sisinya. Tak ada lagi tumpukan sampah di pinggiran kali. Proyek penataan kali memang belum seluruhnya rampung. Para pekerja masih mengerjakan pembangunan tanggul setinggi lutut orang dewasa di sepanjang sungai. Pembuatan jalan di salah satu sisi kali ke arah muara pun terus di kebut. Tapi yang pasti saat proses pembangunannya berjalan, tak ada lagi bau yang menyengat. Dinas kebersihan bahkan mengoperasikan kapal pemungut sampah untuk menjaga agar Kali Baubau selalu bersih. Kali yang membuat kota yang rimbun itu semakin asri.

Proyek menjadikan sungai sebagai halaman depan rumah penduduk sesungguhnya merupakan bagian dari konsep Baubau sebagai kota menghadap laut (water front city). Konsep ini dianggap cocok untuk Baubau yang memiliki garis pantai sepanjang 42 kilometer.

Setelah kepemimipinan Pak Amirul membangun jalan, di kawasan Betoambari pun mulai banyak rumah baru di buat menghadap pantai. Aisyah, yang sudah lebih satu dekade tinggal di kawasan pantai itu, mengatakan rumahnya dibuat menghadap kali setelah ada jalan aspal. ”Dulu rumah saya membelakangi laut karena pantai kotor. Sekarang tak ada warga yang membuang sampah ke laut,” katanya.

Untuk mengkampanyekan laut sebagai halaman depan, Pak Amirul mendorong pembangunan tempat-tempat publik di pantai. Ruang terbuka Pantai Kamali dan Pelataran Wantiro menjadi tempat favorit warga di sore dan malam hari.

Di Kamali, pengunjung bisa menikmati air laut pantai yang jernih dan aneka jenis ikan di dalamnya. Pantai kota mang kembali dipenuhi ikan setelah penanaman terumbu karang. Dulu, terumbu karang banyak yang hancur karena ulah pengebom ikan. ”Setelah mendapat bantuan modal, mereka beralih profesi menjadi petani rumput laut,” kata Pak Amirul.

Kebersihan pantai Baubau sekarang kontras dengan lima tahun silam. Ketika itu, puluhan bangkai kapal karam berjejer mengotori laut. Semak di tebing pantai menjadi tempat pembuangan sampah. Wajarlah kemudian, bila banyak orang yang meninggalkan Baubau beberapa tahun silam, setelah kembali melihat prubahan tata kota yang begitu drastis. ”Benar, kita mencoba melakukan revolusi pembangunan dalam periode kepemimpinan kami,” ujar Pak Amirul (**)

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX