17 December 2011


Rasanya sulit mengurai kalimat-kalimat apa yang pas untuk menceritakan aktivitas orang-orang itu. Saya tak kenal mereka siapa? dari mana asalnya? apa pekerjaannya? sudah berkeluarga atau belum? sadarkah mereka atau tidak?, tetapi saya yakin tujuannya satu, serupa dan sejenis; mereka ingin memastikan Letjen (Purn) TNI. H. Prabowo Subianto adalah Presiden RI di tahun 2014. Fenomena ini saya simpulkan, ketika belakangan ini saya kerap berkunjung ke Sekretariat Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Gardu Prabowo, yang letaknya di Jalan Kendal No.5 Jakarta Pusat. Setiap kali ke sana ada saja ‘wajah-wajah baru’ bermunculan. Saya bertanya dalam hati, “kok begitu banyak orang datang ke Gardu ini, silih berganti dan seolah-olah ada ‘pasar murah’. Padahal, aktifitas para penggiat Gardu di mata saya biasa-biasa saja”.


Maaf, jika Anda orang kampung seperti saya (tapi bukan kampungan lho!), maka menemui alamat ini tak susah, jika sulit mencari nama Jalan Kendal No. 5, maka cukup sewa ojek atau bajaj dan pastikan Anda melewati ‘Stasiun Sudirman’. Tak lebih dari 200 meter dari stasiun kereta api ini, di sanalah alamat Gardu itu.

Gardu ini singkatan dari ‘Gerakan Rakyat Dukung (Gardu) Prabowo Subianto’, sebuah organisasi yang berafiliasi dengan Partai Gerindra. Saya menyebutnya dengan kata ‘afiliasi’ sebab secara internal, Gardu Prabowo adalah sayap Partai Gerindra, dan secara eksternal adalah Organisasi Massa (Ormas) yang keanggotaannya lebih terbuka dan bersifat umum. Siapa saja boleh masuk ke sana, merek apapun Anda, sepanjang punya kesamaan visi, menjadikan Pak Prabowo  sebagai Presiden RI. (Lucu juga ya? Padahal Pak Prabowo belum tentu mengenal ‘kita-kita’..hehehe…)

Saya juga kadang geli dengan diri saya sendiri, kok saya juga seperti mereka? Padahal dihitung-hitung, saya ke Jakarta bukan maksud ‘mendekat’ ke Pak Prabowo, saya ke kota ini untuk menyelesaikan pendidikan pascasarjana saya, sebuah cita-cita yang sejak lama mendekam dalam otak sejak kecil, sejak bercanda dengan pacul dan cangkul. Saya bilang sama orang tua saya yang petani di kampung, “Pak, saya mau dapat gelar Doktor karena Prabowo Subianto, saya mau suatu saat nanti disertasi saya soal Pak Prabowo, apalah judulnya tidak penting, yang penting itu ada embel-embel Prabowo-nya. Tapi maaf, ini bukan kesombongan akademik, ini cita-cita, siapa saja boleh bermimpi!” kataku.

(Kembali ke Lap..top!!)
Mengapa begitu banyak orang ke Pak Prabowo? Maksud saya, begitu banyak orang memberikan dukungan ke Pak Prabowo, tidak hanya lewat partai, sayap dan ormasnya, tetapi juga melalui situs-situs jejaring sosial. Ini fakta sosial. Pertanyaan itu terus saja menghinggapi pikiran saya saat ini. Apakah ini indikasi jika Pak Prabowo benar-benar akan terpilih.menjadi Presiden RI di 2014?, padahal realitas sosialnya, Pak Prabowo bisa menjadi Presiden jika Partai Gerindra tampil sebagai pemenang Pemilu nanti? Sehingga bisa mengusung Pak Prabowo secara ‘one party’ atau bersama-sama dengan partai lain mengusungnya.

Filing Politik saya berkata, fenomenalnya seorang Prabowo Subianto akan mempengaruhi elektabilitas partai Gerindra secara langsung. Saya amat meyakini, jika partai ini juga akan ikut fenomenal pada waktunya sepanjang mampu meyakinkan khalayak  jika ‘Prabowo adalah Partai Gerindra, dan Partai Gerindra adalah Prabowo’. Teorinya sederhana, Gerindra harus mampu memilah mana ‘politik pencitraan’ dan mana ‘pencitraan politik’. Ada perbedaan mendasar pada keduanya, meskipun keduanya berada pada dua kata yang sama.

‘Politik pencitraan’ letaknya pada ‘komunikator’ atau sumber pesan. Sementara ‘Pencitraan Politik’ terletak pada ‘khalayak’, di sini ada kerja ‘managemen’ atau ‘produk’. Kenapa? Sebab khalayak itu adalah ‘kepala batu’. “Susah dipengaruhi, sehingga butuh Politik Pencitraan dan Pencitraan Politik” kata-kata yang saya timba dari Professor Anwar Arifin, pakar komunikasi politik Indonesia.

Praktisnya, Pak Prabowo bisa berposisi sebagai Komunikator, yang terus menerus meyakinkan publik pemilih  bahwa Partai Gerindra adalah partai yang berkomitmen menciptakan kesejahteraan rakyat Indonesia, mengembalikan kejayaan Indonesia, bersih dari praktek koruptif. Satu kalimat kuncinya; “Jika Anda ingin Prabowo menjadi Presiden, maka Pilih Partai Gerindra, sebab Pemilu kita terlebih dahulu memilih anggota legislative, baru memilih Presiden. Jika tidak, maka jangan bermimpi Prabowo akan menjadi Presiden”. Bila perlu, Pak Prabowo membuat ‘kontrak politik’ dengan kader-kader Gerindra yang duduk di legislative sebagai yang kader yang pro rakyat, sensitive, jujur dan anti korupsi. Tentu dengan segala konsekwensinya.

Dengan demikian, posisi ‘Pencitraan Politik’ letaknya pada Partai Gerindra yang bermain di ranah ‘khalayak’, dengan terus menerus meyakinkan publik, bahwa Partai Gerindra adalah sebuah Partai Politik yang tidak sekedar mengusung Pak Prabowo sebagai Presiden, tetapi partai yang punya kader-kader di legislative yang bersih, jujur, anti korupsi, bekerja untuk rakyat, peduli dan sensitive pada rakyat, dan tetap menjadi penyeimbang pemerintah dalam hal menyuarakan kepentingan yang bersifat nasional.

(Waduh! Terlalu serius, Kembali ke lap..top)
Mengapa begitu banyak orang ke Pak Prabowo? Maksud saya, begitu banyak orang memberikan dukungan ke Pak Prabowo. Saya melihatnya itu ada di Gardu. Belakangan banyak orang datang ke sana. Ada yang bermata sipit, ada yang berambut ikal berkulit gelap, ada yang bergaya selebriti, putih, molek, cantik, tampan, hingga orang kampung bersendal jepit seperti saya. Tentu dengan latar belakang profesi, suku, agama yang berbeda pula. Bahkan saya juga temukan satu kawan yang bingung, ketika ingin mengungkap identitasnya. “Bingung Bang,  suku apa saya? Katanya serius (Heheh.. )

Tetapi ketika berkumpul, semua membaur menjadi satu seoah-olah tidak ada pembeda. Mereka tampil pede dengan  ciri khas bahasa daerah masing-masing. Saya yang Bugis-Makassar, tetap saja suka dengan logat ‘Mi, Ji, Ki’ dan sebagainya. Begitu juga yang dari Sumatera dengan logat Melayu-nya, Nias dengan suara tegasnya, Ambon dengan khas ‘katong’-nya, Papua dengan logat ‘Makan Sudah-nya’, Bali dengan Bli-nya, Manado dengan ‘Jo-nya’, dan lebih-lebih logat Jawa yang mendayu-dayu karena ‘medognya’, Betawi  dengan ‘Lu, Gue-nya’, Madura dengan perulangan katanya’, Sunda dengan ‘situ atuu-nya’, Lombok dengan ‘Side-nya’. Saya kemudian membayang, bagaimana seandainya ada ‘Bangsa Bule’ di situ. Saya pastikan ia akan kebingungan dengan gaya bahasa masing-masing. Pasti si Bule itu akan bingung, Bahasa Indonesia yang benar itu yang mana ya?

Tapi ada kebanggaan tersirat di sana. Jika pembauran dari semua perbedaan itu, menggambarkan realitas sosial bahwa, merekalah ‘anak-anak ideologi’ Prabowo Subianto saat ini, anak-anak Ideologi Bangsa Indonesia. Itulah kemudian mengapa mengapresiasi keheranan saya dengan satu kalimat pendek, “Begitu Banyak Orang Ke Pak Prabowo”. (**)

Masihkah kita berbeda? Itu rahmat! Jayalah Indonesia Raya.

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX