22 October 2011


Niat Banget!. Ini istilah anak Jakarta pada seseorang yang benar-benar fokus terhadap sesuatu, sehingga kerap apa yang diinginkannya begitu mudah diperolehnya. Itu juga yang saya alami beberapa hari ini ketika lagi semangat-semangatnya menulis tentang ‘apa saja’ mengenai sosok Jenderal Prabowo Subianto, ada-ada saja sumber dan cerita yang saya peroleh tentang beliau. Padahal dihitung-hitung, saya tidak memiliki tendensi apa-apa dibalik semua itu selain keinginan mengasah sensitivitas melalui kekuatan sebuah tulisan.

Buktinya sepulang dari kampus, saya ditelepon rekan-rekan sesama aktivis Pramuka asal Sulawesi Tenggara yang baru usai mengikuti sebuah seminar di kawasan Ancol. “Ayo Kak kumpul di Senen, teman-teman ada di Jakarta,” begitu suara Kak Wawan, seorang rekan asal Kota Baubau. Tentu saya bersemangat dengan telepon itu, maklum otak kanan saya berpikir pragmatis lagi, “Hitung-hitung makan gratis lagi,” pikirku sembari tersenyum kegelian. Maklum, mahasiswa dalam kondisi seperti ini, kata ‘gratis’ adalah sebuah rahmat, sehingga dalam waktu 15 menit, Ojek tumpangan saya begitu cepat meluncur hingga ketujuan.

Yang namanya baru kumpul, ada-ada saja materi perbincangan hadir di sana. Salah satunya datang dari Kak Jaenuddin Ladansa, Sekretaris Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sulawesi Tenggara. Saya masih ingat betul, Kak Jaenudin pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kota Kendari dari Partai Gerindra pada Pemilu lalu. Sayang niatnya baiknya itu masih tertunda, karena perolehan suaranya belum cukup. “Kakak masih di Gerindra kan? tanyaku. “Iya, begini-begini saya ketua Bapilu Gerindra di Kendari,” jawab Kak Jaenuddin dengan gaya kocak khasnya.

Pembicaraan pun mengarah pada figur Pak Prabowo. “Beliau (Prabowo Subianto) itu punya panggilan khas, yakni 08, tetapi saya tidak tahu betul makna 08 itu. Saya hanya mendengarnya dari beberapa kader Gerindra Sulawesi Tenggara, jika Pak Prabowo punya sebutan itu,” ujar kak Jaenuddin. Beberapa rekan lain menimpali dengan asumsi-asumsi bahwa angka ‘08’ ada hubungannya dengan jumlah Jenderal pendukung Pak Prabowo dalam menapaki kursi kepresidenan. Lalu siapa 8 orang jenderal itu? Tidak ada yang tahu. Hanya direka-reka. Sama rekaan pada nama pesawat ‘Sempati’ dengan akronim ‘Sembilan Perwira Tinggi’. Tapi siapa sembilan orang itu, juga tidak banyak yang mengetahuinya.

Hampir 2 jam lamanya semua larut dengan diskusi akan misteri angka ‘08’ itu. Ada yang mengatakan mungkin terkait dengan nama perusahaan Pak Prabowo. Juga ada yang memprediksi bahwa 08 itu adalah urutan para Jenderal kuat dan berdedikasi yang pernah ada dalam sejarah panjang Bangsa Indonesia. Rekan saya menyusunnya, mulai dari (1) Jenderal Sudirman, (2) Jenderal Urip Sumiharjo, (3) Jenderal AH. Nasution, (4) Jenderal Ahmad Yani, (5) Jenderal Soeharto, (6) Jenderal M. Yusuf, (7) Jenderal Moerdani dan terakhir (8) Jenderal Prabowo Subianto. Entalah, sebab ini hanya diskusi ‘teka-teki’ belaka.

Meski begitu, saya tak puas dengan ‘diskusi teka-teki’ itu. Saya pun kemudian mencarinya melalui ‘google’. Ternyata benar, Pak Prabowo memang punya sapaan ‘08’ itu juga pengakuan Paranormal Permadi. “Jangan lupa Pak Prabowo biasa dipanggil 08,” terangya.dalam sebuah diskusi setahun lalu, 26 Oktober 2010 yang saya ‘copas’ dari situs okezone.com. bahkan Permadi mengutarakan bila angka 9 hanya bisa ditumbangkan oleh angka 8. entah apa maksud penerawangan Pak Permadi. Tetapi angka 9, mengingatkan saya tentang angka yang sering digunakan oleh kader-kader sebuah partai di tanah air.

Yang menarik, dalam ilmu fengshui Cina, angka 8 diartikan sebagai ‘kemakmuran’ dan merupakan angka favorit selain angka ‘9’. Boleh jadi, ini juga menjadi jawaban, mengapa dalam setiap orasi politik Pak Prabowo, sebutan kata ‘kemakmuran’ itu begitu sering dilontarkannya. Apakah ini prediksi yang benar? Tentu hanya Pak Prabowo yang tahu persis ceritanya.

Image Branding
Terlepas dari teka-teki angka ‘08’ yang melekat pada diri Pak Prabowo, satu hal yang menjadi pelajaran dari hal ini, bahwa Pak Prabowo, sejak awal mengetahui pentingnya ‘image branding’ bagi diri dan partainya, inilah yang kemudian dapat mengarahkan pada proses pembentukan citra. Sebab boleh jadi simbol-simbol tertentu pada sebuah kemasan, akan melahirkan sesuatu yang disebut ‘theater of mind’ (tayangan pemikiran).

Citra politik berkaitan juga dengan sosialisasi politik, karena citra politik terbentuk melalui proses pembelajaran politik baik secara langsung maupun melalui pengalaman empiric. Menurut Prof. Dr. Anwar Arifin, citra politik mencakup beberapa hal yakni; (1) seluruh pengetahuan politik seseorang (kognitif), baik benar maupun keliru; (2) semua preferensi (afeksi) yang melekat kepada tahap tertentu dari peristiwa politik yang menarik; (3) semua pengharapan (konasi) yang dimiliki orang tentang apa yang mungkin terjadi jika ia berprilaku dengan cara berganti-ganti terhadap objek dalam situasi itu. Justru itu citra politik sebalu berubah sesuai dengan berubahnya pengetahuan politik dan pengalaman politik seseorang.

Bagi saya, satu hal yang penting dipetik oleh kader Partai Gerindra dalam mengusung Pak Prabowo Subianto tampil menjadi Presiden RI yakni bagaimana membina ‘pendapat umum’ rakyat Indonesia, bahwa Pak Prabowo adalah sosok visioner, berdedikasi dan menjanjikan sebuah harapan besar bagi bangsa Indonesia kedepan. Lalu bagaimana cara membina ‘pendapat umum’ itu? Gerindra-lah yang bisa menjawabnya sendiri.

Terbanglah Tinggi Sang Garuda!

Comments
1 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX