02 December 2011

Dosen saya bilang, fanatisme saya pada sosok Prabowo Subianto ‘sudah kelewat batas’. Saya hanya bisa tersenyum mendengar kata-kata itu, sambil berkata, “Cita-cita sangat sederhana, saya ingin meraih gelar Doktor karena Prabowo Subianto, karenanya mindset otak saya tentu diarahkan pada sosok Pak Prabowo”. Cita-cita itu telah lama membenam dalam pikiran, meski terkesan berlebihan, jika tak dimaknai lebih detail tentang pernyataan itu.

Karena itu jujur saya mengakui jika ‘energi’ saya terkuras untuk mengetahui seluk beluk seorang sosok Prabowo Subianto, siapa sebenarnya beliau, bagaimana sepak terjangnya, hingga fenomenanya di masyarakat, sehingga kedepan ketika kelak magister saya rampung dan Tuhan memperkenankan saya untuk sekolah ke jejang pendidikan Doktor (semoga terkabulkan), maka saya telah memiliki bahan disertasi bertajuk ‘Fenomenologi Prabowo Subianto’. Sederhana bukan?

Energi yang saya maksudkan berbentuk ‘kegigihan’, tidak sekedar menuliskannya di blog ini, tetapi  mencoba menyelami Pak Prabowo dengan menggunakan apa yang saya istilahkan dengan ‘Teori Obat Nyamuk’, sebuah pengistilahan yang saya maknai sebagai proses belajar tentang sosok Presiden masa depan Indonesia itu dari lingkaran luar hingga ke titik utamanya, yakni pribadi Pak Prabowo itu sendiri. Makanya beberapa hari belakangan ini, saya harus mengurangi jam tidur malam untuk mencari informasi lebih mendalam tentang beliau, mulai dari sopir taksi, ojek, pedagang warteg hingga orang-orang terdekat beliau ketika masih aktif di militer. Rasanya capek juga, tetapi demi sebuah cita-cita, tantangan itu seolah menjadi ‘madu’, meski saya tak tahu kapan ‘madu’ itu akan datang di genggaman tangan saya.

Semalam, saya sengaja keliling Jakarta Pusat dengan menggunakan taksi. Tentu ongkosnya jauh lebih mahal ketika menggunakan ojek atau bajaj. Saya hanya ingin mengetahui apakah sopir taksi mencermati fenomena seorang Prabowo Subianto? Ada empat taksi yang saya kendarai hanya untuk mengetahui ‘isi otak’ mereka tentang Presiden RI 2014. semuanya menjawab satu kalimat pendek. “Prabowo Subianto”. Yang berbeda, ada seorang diantaranya tak mengetahui partai asal Prabowo Subianto, karena salah menjawabnya.

“Bang, kira-kira siapa presiden RI mendatang” Kata saya
“Ow, itu lho dari Hanura.” Kata Sopir taksi itu.
“Wiranto ya” saya menegaskannya lagi.
“Bukan Bang, Prabowo Subianto. Oh iya beliau kan Gerindra,” kata Sopir itu meralatnya.

Percakapan sederhana itu mengasumsikan, jika sebenarnya ke populeran Prabowo Subianto memang perlu diimbangi dengan kepopuleran Partai Gerindra sebagi partai pengusungnya, dan saya juga sepakat dengan ‘hasil survey’ dari sejumlah lembaga survey jika partai ini harus lebih giat bersosialisasi di masyarakat.

Seorang sopir taksi lainnya berpendapat, ia dengan tegas menyebut nama Prabowo Subianto, namun ia juga membawa pesan agar Pak Prabowo tidak seperti dengan pemimpin-pemimpin yang popular lainnya, yang dikelilingi sejumlah oknum yang banyak terlibat kasus-kasus korupsi. “Pak Prabowo akan jadi Presiden, tapi beliau tidak boleh dikelilingi orang-orang bermasalah,” begitu pesan Pak Sopir taksi itu.

Pernyataan para sopir itu, tampaknya sedikit memberi gambaran jika Pak Prabowo kini mengalami masa yang disebut sebagai sebuah ‘fenomena’. Dimana-mana orang membicarakan peluangnya untuk menjadi Presiden. Bahkan seorang kawan, mantan aktivis  dari Kendari bilang pada saya, “seandainya Pak Prabowo tidak mencalonkan diri sebagai Presiden, lalu siapa figure yang layak sebagai Presiden RI di 2014, serta dianggap mampu membawa Indonesia ke gerbang kemakmuran? Saya kira tak ada yang sebaik Prabowo Subianto untuk saat ini,” katanya.

Belakangan saya berkesempatan bertemu dengan sejumlah mantan anggota Kopassus anak buah Pak Prabowo. Dua diantaranya adalah orang-orang dekat beliau. Baik ketika Pak Prabowo di medan pertempuran maupun di kesatuan. Di Pasukan, saya telah mengenal Letkol (Purn) Petrus Sunyoto, dan ajudan beliau Kapten (Purn) Azaldin Gea. Keduanya adalah kopasssus-kopassus pilihan Pak Prabowo yang begitu setia. Saking setianya, mereka rela memilih pensiun dini untuk mengabdikan diri dan hidupnya buat seorang Prabowo Subianto. Padahal dari segi umur, khususnya Bang Gea, masih terbilang sangat muda, dan jika seadainya terus berkarir di dunia militer, tentu ia akan mendapatkan pangkat yang lebih baik lagi. Sementara Pak Petrus, meski tubuhnya telah di benam usia, tetapi beliau rela meninggalkan anak dan istri tercintanya di Riau, hanya untuk menjalankan kepercayaan dan amanah dari seorang Prabowo Subianto. Sebab mereka amat meyakini, jika Prabowo Subianto adalah pemimpin yang ditunggu Bangsa Indonesia untuk hidup lebih baik.

Saya banyak belajar pada kedua orang ini, tentang arti dari sebuah kesetian. Kesetiaan dan sumpah seorang kesatria sejati. Saya pun bergumam dalam hati dengan kalimat-kalimat pendek. “Pantas saja mengapa Kopassus begitu menjadi kebanggaan militer Indonesia? Bukan saja mahir dalam medan peperangan, tapi jiwa mereka penuh dengan kesetiaan. Mereka merasa tak akan berarti apa-apa, jika satu diantara mereka mengalami sakit, terpinggirkan, bahkan merasa terhianati. Korsa mereka begitu menjiwa di batin mereka. Bahkan rahasia seorang kawan-pun adalah rahasia mereka hingga mati.

Bang Gea berkata, “Saya akan menuliskan apa yang saya alami selama menjadi ajudan Pak Prabowo, jika umur saya telah mencapai 99 tahun, jadi tunggu saja”. Pernyataan itu menggambarkan sesuatu yang tak mungkin terjadi secara logika. Sebab jarang ‘orang Indonesia’ bisa mencapai usia tersebut. Saya hanya bisa menyimak, bahwa ‘kehidupan’ Pak Prabowo cukup menjadi cerita mereka, sebab suatu kelak, Rakyat Indonesia akan mengetahui ‘siapa sebenarnya’ Prabowo Subianto, bagaimana komitmennya kepada bangsa ini, siapa sebenarnya ‘yang berdosa’ dengan sejarah, dan bagaimana kecintaan Jenderal Kopassus itu kepada rakyatnya.

Rasa-rasanya, cerita tentang Pak Prabowo bagai buih dilautan. Ketika dekat hanya sebagai percikan air biasa, namun jika di pandang jauh, ia menjelma menjadi gulungan ombak, berwarna putih, dan di bawahnya jutaan kehidupan hadir di dalamnya. Saya hanya bisa berharap, tulisan sederhana bisa menggugah hati kita tentang makna sebuah kesetiaan. Semoga berkah dan bermanfaat.

Jangalah takut akan kehidupan, berdamailah dengan kenyataan!
Selamat Malam.

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX