25 February 2012


Simpatisan dan rakyat pendukung H. Prabowo Subianto boleh berbangga saat ini, dengan hasil survey sejumlah lembaga yang menempatkan Pak Prabowo sebagai calon presiden yang paling popular, paling siap dan paling dielukan sebagai presiden masa depan di republik ini. Itu sesuatu yang wajar jika mendalami psikologi masyarakat Indonesia yang membutuhkan dan merindukan figur tegas, cekatan dan dianggap mampu menyelesaikan situasi yang membelit bangsa ini, diantaranya mengguritanya prilaku koruptif, ketidakjelasan ideology bernegara, hingga persoalan lunturnya semangat nasionalisme karena prilaku henodisme sejumlah elit serta struktur sosial bermasyarakat yang cenderung liberalis dan jauh dari symbol-simbol ‘ke-pancasila-an’.

 Artinya, figure H. Prabowo Subianto diasumsikan sebagai figure yang mendekati harapan rakyat Indonesia untuk membenahi situasi tersebut di atas, ini juga berarti Pak Prabowo diasumsikan memiliki figure yang selalu di ‘interaksi simbolik-kan’ dengan keaadan-keadaan tersebut. Sehingga Pak Prabowo dalam sejumlah survey menjadi paling diunggulkan untuk menduduki puncak kepemimpinan nasional di negeri ini.

Pertanyaannya kemudian, apakah ‘melekatnya’ asumsi rakyat Indonesia itu bertahan hingga Pemilu 2014 mendatang? Belum ada jaminan! Sebab ‘perang pencitraan’ masih terus berjalan kurang lebih 1000 hari lagi. Dan Pak Prabowo secara infrastruktur dan suprastruktur politik ‘masih lemah’ dibandingkan dengan figure-figure elit lainnya, seperti Aburizal Bakrie dan Surya Paloh yang memiliki media pencitraan yang paling besar di negeri ini, yakni keberadaan sejumlah tv nasional dan persurat-kabaran yang tentunya sangat efektif menjadi ‘peluru’ dalam meninabobokkan khalayak pemilih di Indonesia. Sementara Pak Prabowo bermain di ranah teknologi informasi yang bergerak di level media jejaring sosial dan hanya sesekali bercitra lewat iklan TV nasional.

Mengapa media itu dianggap mampu meninabobokkan khalayak Indonesia? Secara teoritis, media diaggap mampu menciptakan agenda setting terhadap figure tertentu. Sebagai contoh kasus, lolosnya Partai Nasdem sebagai salah satu peserta Pemilu 2014, tidak lain sebagai hasil dari ‘ulah’ media yang dimiliki Surya Paloh yang tiap hari memborbardir khalayak dengan iklan-iklan yang bertutur tentang partai ini. Tokoh-tokoh yang sebelumnya tidak di kenal tiba-tiba muncul dan membekas di hati khalayak. Karenanya banyak orang yang secara spontan ingin menjadi pengurus partai dari jenjang pusat hingga daerah-daerah. Ini berarti media mampu membentuk sikap opportunitas publik.

Mengapa khlayak begitu mudah mengikuti? Sebab khalayak Indonesia tidak banyak memiliki waktu untuk ‘mengkroschek’ kebenaran dari subjek yang ‘di jual’ media. Berdasarkan sifatnya, media selalu tampil sebagai ‘cermin masyarakat’, yang sebenarnya media itu tidak lain hanya menyampaikan sebuah ‘realitas buatan’ atau ‘realitas tangan kedua’ (reality second hand), dengan kata lain, apa yang disajikan media adalah sebuah bentuk ‘permak’ dari ‘yang tidak sebenarnya’, karena melalui pengolahan di tingkat redaksional. Media tahu bahwa publik itu memiliki sifat khas yakni ‘kepala batu’ (osbinate theory), sehingga public senantiasa dan secara kontinuitas harus ‘disiram’ dengan informasi terkait dengan subjek yang dijualnya. Inilah yang disebut sebagai pencitraan.

Jujur. Proses ‘agenda setting’ inilah yang kemudian tidak banyak dimiliki oleh infratruktur dan suprastruktur politik Pak Prabowo. Saat ini menurut amatan penulis, infratruktur dan suprastruktur politik Pak Prabowo hanya mengandalkan situasi khalayak Indonesia yang merasa ‘resah’ dengan lemahnya system kepemimpinan nasional, yang kemudian disambung-sambungkan melalui pembahasan secara internal para pendukung Pak Prabowo melalui sistus jejaring sosial atau tulisan-tulisan melalui website atau blog, yang jika dikaji secara mendalam sebenarnya hanya bersifat ‘sementara waktu’, ‘tidak permanen’ dan dapat berubah sewaktu-waktu. Jika itu terjadi, maka sangat dibutuhkan kerja keras lagi, untuk mengambil dan merebut simpati khlayak.

Tidak cukup banyak pilihan bagi Pak Prabowo dan partainya serta ormas-ormas pendukungnya untuk tetap bertahan dalam posisi sebagai ‘yang terbaik’ sebagai Capres yang paling diunggulkan, jika saja tidak ada evealuasi secara menyeluruh terhadap infrastruktur dan suprastruktur politik Pak Prabowo. Mulai dari keberadaan partai pendukung, keberadaan ormas-ormas pendukung, hingga tim khusus yang dibuat untuk memenangkan Pak Prabowo pada Pilpres mendatang.

Dalam pendekatan komunikasi politik, meningkatkatnya popularitas Pak Prabowo semata diuntungkan oleh figure Pak Prabowo itu sendiri, yang selalu dipersepsikan sebagai figure yang tegas, cakap, cerdas, ganteng, dan dianggap mampu mengembalikan kejayaan berbangsa dan bernegara. Sehingga idealnya, Pak Prabowo senantiasa harus turun ke lapangan memantau langsung bagaimana kondisi Partai Gerindra hari ini, mulai dari pusat hingga ke level terbawah. Pak Prabowo juga sebaiknya senantiasa memberi semangat langsung pada ormas-ormas yang di bentuknya, dan tidak selalu mendelegasikan pada orang-perorang tertentu. Bagaimanapun nafas pergerakan para simpatisan Pak Prabowo semata di dasari kecintaan orang pada figure Pak Prabowo..

Ilmu Politik juga selalu mengajarkan, jika dalam dunia politik selalu saja berhadap-hadapan antara loyalitas versus oportunitas. Loyalitas tidak hanya terbentuk berdasarkan doktrin-doktrin tertentu, tetapi selalu berbanding lurus dengan kepentingan. Semakin di dekatkan kepentingan itu, maka semakin loyal-lah orang pada subjek itu. Sebaliknya, oportunitas akan menghilang jika ada kedekatan antara figure dengan person tersebut. Dalam pemahaman penulis, orang-orang oportunis tidak selalu ‘harus dimatikan’, sebab ia bisa menjadi alat indikator untuk mengecek dimana letak kelemahan-kelemahan sebuah infrastruktur dan suprastruktur politik. Tetapi tidak berarti harus ‘memelihara’ subjek-subjek  oprtunis tersebut.

Cara bertahan yang paling efektif yang dimiliki Pak Prabowo saat ini tidak terlepas dari cara Pak Prabowo dan insrastruktur politiknya, dalam ‘merawat ketokohannya’, ‘merawat kelembagaannya’, serta ‘membangun konsesnsusnya’ dengan khalayak. Itu semua sangat ditentukan oleh Pak Prabowo sendiri untuk secara continue mendekatkan dirinya dengan khalayak. Bagaimana caranya? Pak Prabowo pasti lebih tahu!!

Sebuah catatan dari hasil survey yang meninabobokkan kita semua!

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX