01 March 2012

Ringkih! Saya tak tahu apa artinya. Saya hanya berteriak lirih dalam hati sesaat melangkah masuk pada sebuah ruangan yang sebelumnya hanya ada dalam cerita kawan-kawan tentang pub Classic, sebuah pub ‘berselimut’ hotel dan motel di kawasan Samanhudi Jakarta Pusat. Gemuruh musik menggetarkan suasana, seluruh ruangan menebarkan beraroma alcohol, plus wanita-wanita yang menggelayut manja tanpa sedikitpun rasa malu pada lelaki lelaki-lelaki haus hiburan. Saya mengalihkan pikiran pada runtun perjalanan kehidupan yang pernah saya lewati di berbagai kota di Indonesia. Pada hunian-hunian yang pernah saya hinggapi berteduh, dari kelas melati hingga bintang lima. Tetapi sejenak di pub itu, Classic telah menawarkan cerita baru bagi kehidupan saya, tentang arti sebuah ‘kerendahan’ manusia di mata Penciptanya. Itu normalnya! Tapi jika punya asumsi lain,  saya tak tahu lagi.

Saya tersadar sejenak, saya memasuki ‘dunia baru’ kehidupan ketimuran orang Indonesia. Saya tak menyangka jika wajah Jakarta di malam hari ‘sejauh ini’? Jika hanya iringan musik lalu kemudian orang-orang bersorak-sorai, berjoget ria, tertawa terbahak-bahak dan menenggak minuman, mungkin masih cerita yang lazim. Sebab hampir di semua kota di Indonesia menawarkan jasa itu. Tetapi jika para wanita berwajah cantik, berkulit mulus, hanya mengenakan sehelai kain tipis penutup (maaf) buah dada, dan celana dalam, lalu menari erotik dan menjadi tontonan orang banyak, mungkin juga masih lazim, sebab media-media massa kerap mengabarkan dan memperontonkan hal itu dalam tayangannya. Tapi sesuatu menjadi tidak lazim bagi saya, ketika wanita-wanita tak sekedar menari erotik dan striptis, tetapi makin panas dengan mempertontonkan dirinya di banyak orang ‘gaya’ yang sebenarnya hanya dalam cerita di atas ranjang. Duh! nafas saya jadi  naik turun. Sungguh saya telah menyaksikan pemandangan yang baru dalam usia yang memasuki 39 tahun ini. 


Sebagai lelaki normal, syahwat dan birahi tentu bercampur aduk. Apalagi adegan dua wanita cantik saling menindih, merintih, mengusap, mempertontonkan fase-fase seks yang bergairah. Saya memandang dua wajah wanita muda itu tidak sekedar menghibur para lelaki haus pengunjungnya. Tetapi aura wajahnya bercerita bahwa ia baru saja menikmati sebuah permainan seks yang sebenarnya. Kain pembalut kewanitaannya (maaf) tampak basah dengan cairan yang bukan keringat. Saya menjadi miris, naluri kelaki-lakian saya tiba-tiba menghilang berganti rasa iba. Ada perih dalam hati, bahwa manusia tak memandang lelaki atau wanita, di mata Tuhan, ia memang makhluk yang terhina.

“Ini belum apa-apa Daeng!, ini hanya adegan dua wanita. Tetapi di Thailand sana, adegannya dipertontokan lelaki dan wanita dengan sebenarnya,” Adik sepupu menyadarkan lamunan saya. Ia tahu saya amat suka mengamati setiap jengkal adegan kehidupan lalu menjadi inspirasi untuk dijadikan sebuah tulisan sederhana.

 “Talenta Daeng itu menulis, saya tahu itu dan suatu saat saya bawa Daeng ke Thailand untuk menyaksikan tontonan yang lebih panas dari apa yang Daeng saksikan malam ini”. Kata-kata sepupu saya terus mengalir dan seakan menggurui realitas kehidupan yang baru saja saya saksikan. Mungkin ia bergurau, tapi saya percaya, ia punya kemampuan membawa saya kemanapun saya mau, sebab ia seorang bisnisman sukses di Kota Jayapura sana dan baru saja kembali menikmati perjalanannya dari beberapa negara di kawasann Asia Tenggara.

 Diam-diam saya juga ikut mencermati dan memaknai setiap jengkal kata dari saudara saya ini. Saya kagum, ia masih bisa ‘bertahan’ menemani saya tanpa alcohol dan wanita penghibur. Kami berdua hanya menikmati masing-masing sebotol air mineral,  ia  tidak merokok lagi, beda dengan saya, dimana hisapan-hisapan zat nikotin itu terus menemani saya dalam setiap dentuman dan rintihan nafas wanita-wanita penghibur Pub Classic. Entalah, apakah ia malu memperlihatkan hoby yang sebenarnya ia miliki, atau memang sekedar memperkenalkan saya situasi baru Kota Jakarta?. Sebab di mata saya, seseorang yang masih muda belia, kaya raya, identik dengan penguasaan dunia malam, hura-hura dan mencari kesenangan belaka..

Saya juga diam-diam memahami ‘keprofesionalan’ para wanita penghibur itu. Meski ditawarkan oleh ‘inang pengasuhnya’, tetapi ketika kita menolak, ia tak merajuk. Mereka seolah paham bila pengunjungnya tidak sekedar mencari nafas birahi melalui tarian erotik, tetapi ada yang sekedar ingin larut dalam suasana malam dan kenikmatan ala Jakarta, seperti kami berdua. Tapi menjadi risih, jika disamping kanan kiri kita, bersilewaran wanita, yang siap  tadah, mau diapakan saja, demi segepok rupiah dan kenikmatan duniawi pengunjungnya. Risih bagi yang  tidak terbiasa, tapi lazim bagi mereka yang hidupnya dihabiskan pada hoby syahwat seperti ini.

60 menit saya berkutat dalam suasana seperti itu. Jarum jam telah menunjukkan pukul 01.00 dinihari. Saya mulai terbiasa dengan suasana malam ini. Tak ada lagi rasa kikuk dan keheranan yang berlebihan. Saya lagi-lagi menikmati sebatang rokok yang telah merengkuh hidup saya selama belasan tahun. Saya mulai merasakan dentuman Jakarta seperti saya menikmati setumpuk bacaan buku-buku berat yang tiap hari mengajak saya bercanda untuk memaknainya. Saya harus keluar dari ruangan ini, mencari suasana baru, udara baru, dan pamit pada saudara yang masih menikmati suasana malam itu.

“Bang, jatahin aku dong!” suara lirih seorang wanita muda dan cantik menepuk pundakku seraya melepaskan gelang ‘tanda masuk’ pub.. Saya kaget wanita penjaga pintu yang berpakaian sopan dan ketika masuk menawarkan senyum manis keramahannya tiba-tiba meminta uang tips. Saya yang awalnya berfikir ia wanita yang ‘beda’ dengan wanita penari erotik itu. Ternyata ia begitu mudah melontar kata meminta imbalan.

Jujur, saya langsung berfikir ia tak berbeda dengan wanita-wanita penghibur itu, meski dengan kerja yang berbeda. tapi saya harus realistis, bahwa kini saya hidup di alam Jakarta. Demi segepok uang, orang tak perlu memiliki rasa sungkan. Jika diberi ia bersyukur, jika tidak, tidak apa-apa. Kehidupan malam Jakarta adalah kehidupan ‘hitam-putih’, bukan abu-abu. Saya memilih untuk tidak memberi. Mungkin dibenak wanita itu saya kikir, tak apalah! sebab saya punya prinsip, belum tentu saya bisa berkunjung ke sana lagi, dan belum tentu ia bisa mengenali wajah saya jika kemudian saya bertemu mereka di keramaian Jakarta. Saya punya pendapat lain, bahwa manusia memiliki watak dan naluri yang berbeda, dan saya menghormati ragam perbedaan itu.

Di lobi hotel, pikiran saya melambung jauh mengalahkan irama musik yang baru saja menghentak malam kehidupan saya. Mengalahkan pesona seks  wanita-wanita itu. Mengalahkan aroma alcohol yang mencandai suara-suara kesenangan pasangan-pasangan itu. Saya memberi makna dalam kesendirian saya. Merenung dalam hati, betapa hebatnya pemilik bisnis ini. Sebab ia mampu ‘menjual’ segala kesenangan duniawi, tanpa di ganggu gugat oleh orang lain, tanpa diganggu gugat oleh Ormas yang kerap mengatas-namakan agama dan kelompok, dan tanpa diganggu-gugat oleh aparat keamanan. Saya merenung dalam hati, bahwa apa yang saya pijak hari ini adalah ‘dunia’, bukan ‘akhirat’. Dunia selalu penuh dengan ketidak-seimbangan. Jika Anda memiliki segalanya, maka Anda bisa berjalan pada apa yang Anda mau!

Malam makin larut saya membelah malam Jakarta. Kasur di kosan saya teringat dalam ingatan, ia seolah lebih menggoda dari wanita-wanita pub itu untuk saya tiduri. Terima kasih Jakarta. Saya suka rintihanmu, saya suka nafas dan dentumanmu! Selamat malam!!.

Semoga memberi makna bagi saudaraku para pembaca blog ini.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX