02 May 2013

(Catatan Kecil di Hari Pendidikan Nasional)

SEORANG kawan bertanya, bagaimana menyelesaikan tesis supaya tidak ‘bertele-tele’ dan bisa cepat rampung kuliahnya? Saya menjawab sederhana; “Jalan terbaik adalah perbaiki hubungan emosional dengan pembimbing tesis Anda; cek nilai-nilai perkuliahan Anda sebelumnya; dan laporkan kepada prodi jika ada masalah”. Itu ‘resep’ yang selama ini saya pakai ketika menyelesaikan pendidikan pascasarjana magister Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Jakarta. Alhamdulillah, resep ini mengantarkan saya selesai dengan cepat, tepat waktu, nilai baik, serta hubungan yang amat baik dengan para dosen di sana. Tak terkecuali dua orang pembimbing saya, bapak Prof. Dr. Burhan Bungin, dan Dr. Heri Budianto. Padahal jika ‘diintip-intip’ kesibukan dua pembimbing ini, bagi saya  sebuah ‘misi imposible’. Sebab, Prof Burhan dalam waktu bersamaan aktif ‘terbang’  ke Malaysia, sementara Pak Heri, juga lagi ‘sibuk-sibuknya’ meneyelesaikan doktoral di UGM Jogjakarta saat itu.

Karena hubungan yang baik dengan kedua pembimbing itu, saya ‘terbimbing’ dengan berbagai cara. Semisal Prof Burhan ketika  berada di Malaysia, saya harus rajin-rajin ‘email’ bahkan ‘chating’ dengan beliau, sementara Pak Heri, jika lagi berada di Jogja atau sibuk mengajar diberbagi kampus, maka saya perlu menunggu waktu, kapan waktu jedanya. Boleh jadi cara itu bisa membuat pembimbing ‘kesal’ dengan ulah kita, tetapi saya amat meyakini, jika ‘kesungguhan’ juga merupakan satu item penilaian pembimbing.

Lalu bagaimana jika tak sempat bertemu keduanya? Lagi-lagi saya tak merasa kehilangan. Kerap saya bertemu Pak Dr. Farid Hamid, sebagai ketua program studi (Kaprodi). Bagi saya meski beliau bukan ‘pembimbing langsung’, tetapi penilaian keseriusan juga point penting dari seorang ketua program studi. Artinya, prodi memiliki kewenangan untuk ‘mempengaruhi’ pembimbing ketika seorang mahasiswa mengalami kendala dalam penyelesaian bimbingan tesisnya.

                                                                             **

SEKELUMIT cerita di atas, menjadi pengantar saya memaknai Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2013 ini. Sebab tak mungkin saya upacara bendera lagi seperti ‘anak sekolahan’ di tingkat dasar dan menengah. Memberi sprit kepada kawan-kawan, dan juga mengenang dinamika yang terjadi di kampus dengan menulis di blog ini, adalah cara saya memperingati hardiknas ini. Mungkin tidak terlalu penting, tetapi ini apresiasi saya pada para dosen di kampus Universitas Mercu Buana Jakarta, khususnya di Prodi Magister Ilmu Komunikasi. Bahkan bagi saya, tulisan ini juga sebagai ucapan terima kasih atas nilai IPK 3.96 yang saya raih dari pergumulan dinamika antara saya dengan para dosen di Magister Ilmu Komunikasi Mercu Buana ini.

Menarik mencermati dinamika para dosen saya di sana. Ketika di semester satu, saya bertemu tiga dosen sekaligus. Ibu Dr. Umaimah Wahid yang mengajarkan ‘perspektif teori komunikasi’. Dr. Asep Saifuddin, yang mengajarkan ‘strategi perubahan dan komunikasi’ serta Dr. Amiruddin yang mengajarkan ‘penelitian komunikasi kuantitatif’. Bu Umay, begitu saya menyebut Ibu Umaimah Wahid, perempuan ini terbilang tegas di kelas, namun asyik di ajak berdiskusi, sebab ia sosok yang bisa diajak terbuka dalam hal perkuliahan. Sementara Pak Asep, seorang senior di bidang komunikasi, karena pernah menjabat dirjen di ere ‘menteri penerangan’ adalah sosok yang selalu memberi motivasi bagi mahasiswa. Usia menujukkan kematangan emosional Pak Asep. Halnya dengan Pak Amiruddin, ilmu kuantitafnya yang amat dengan ilmu ‘hitung-hitungan’, menjadi sosok dosen yang selalu ingin mengajak mahasiswa mengetahui ‘dasar-dasar ilmu penelitian’. Pak Amir amat teliti, saya sendiri mendapat nilai A minus (A-) di mata kuliahnya, satu dari dua nilai (A-) yang  saya peroleh selama menempuh perkuliahan S2. Lainnya nilai istimewa. (A).

Di semester kedua saya bertemu enam  dosen sekaligus. Prof. Khomsahrial dari Lampung yang mengajarkan ‘komunikasi organisasi dan kepemimpinan’, Prof. Burhan Bungin dan Dr. Heri Budianto yang mengajarkan ‘sosiologi media dan komunikasi’, dan Dr. Farid Hamid yang mengajarkan ‘Meteode penelitian Komunikasi Kualitatif’, serta Dr. Lelly Arriannie dan Dr. Udung Noor Rosyad. Rasanya tensi perkuliah begitu tinggi. Tetapi sugesti para dosen menjadi cambuk untuk cepat selesai. Agak sulit bercerita satu persatu tentang dinamika dosen ini, tetapi yang pasti mereka punya karakter sendiri membangun mahasiswanya.

Prof Khomsahrial misalnya, dosen ini pernah memberi tugas 60 halaman dengan perintah ‘tulis tangan’. Meski banyak yang protes karena dianggap ‘ketinggalan zaman’, tetapi makna besar di balik itu yakni bagaimana mahasiswa menghargai ‘proses’. Kata kawan saya “tiga pulpen tintanya habis, ini baru pemecahan rekor untuk sebuah tugas. Hehehe”. Soal Prof Burhan dan Pak Heri, tak perlu saya ceritakan sebab beliaulah berdua ‘pembimbing saya. Saya mengistilahkan beliau berdua ‘jinak-jinak merpati’. Harus punya ‘cara khusus’ bagaimana bisa dekat dengan kedua dosen ini. Halnya dengan Pak Farid, kaprodi yang selalu sibuk mengurus mahasiswa, bisa saya sebut sebagai ‘kepala sekolah’ yang murah hati, gak ada capeknya, beliau terus bergerak dari lantai 1 hingga lantai 8, kerap naik tangga darurat jika lift kampus dalam keadaan ‘over load’. Bahkan tak capek bolak balik antara kampus Meruya dan kampus menteng.  Hemmm...gaya anak muda bro!


Selanjutnya ada ibu Lely dan Pak Udung, dua-duanya ‘berbau bandung’ meski ibu lely bersuku Minang, alumnus Unpad ini selalu ceria dalam kelas, dan mengajak alam berpikir kita masuk ke ranah berpikir para politisi di Senayan sana. Bu Lely, piawai merebut hati mahasiswa. “nyamanlah” pikirku. Sementara Pak Udung yang setiap sabtu  hilir mudik Bandung-Jakarta, selalu mengingatkan mahasiswa dengan satu kalimat penting. “Tesis yang baik adalah tesis yang cepat selesai”. Tentu kami tergelak dan tertawa, sebab Pak Udung bukan tipe yang suka menggerus otak mahasiswa. Ia ingin mahasiswanya cepat ‘lenyap’ di kampus ini..hehehe..cepat master maksud beliau.

Semester tiga adalah masa-masa rawan perkuliahan kami. Sebab disini sudah ada pembagian jurusan. Saya dan 14 rekan lainnya memilih komunikasi politik, lainnya memilih marketing dan media massa. ‘perpisahan’ ini tentu membuat semangat sedikit menurun. Aroma ‘cinta-cinta lokasi’ yang kerap terbangun diruangan, harus pisah dengan pembagian jurusan ini. Tetapi ada juga yang merasa sudah menjadi ‘specialis’. Maklumlah, ilmu komunikasi lagi hits-hitsnya di Tanah Air, sebab aroma politik menebar kemana-mana, dari kelas Pilpres hingga pemilihan kepala desa.

Disemester ini saya bertemu Prof Dr. Anwar Arifin yang mengajarkan ‘Politik Pencitraan’, Dr. Firdaus Syam dan Dr (cand) Afdal Makkuraga yang mengajarkan “komunikasi dan informasi publik’, serta strategi negosisasi dan persuasi oleh Dr. Yusuf Hamdan. Lagi-lagi banyak pengalaman baru bagi saya dan kawan-kawan. Prof Anwar misalnya, akademis sekaligus politisi senior Golkar ini, punya trik khusus dalam mencerdaskan mahasiswanya. Kerap beliau bertanya pada mahasiswa ‘kamu butuh pintar atau butuh nilai’. Pertanyaan yang tentu membingungkan. Maklumlah, salah jawab bisa ‘berabe’. Sebab professor ini, terbilang ‘langka’ di Indonesia. Beliau salah satu pencetus ‘teori pers’ dari tujuh teori pers dunia, yang disebutnya ‘teori pers pancasila’.

Jujur, saya amat takut berhadapan dengan prof ini. Maklum saya sama-sama dengan beliau ‘dari Bugis’, yang selalu membawa penilaian ‘perangai’. Sesuatu yang lazim di Bugis-Makassar. Tetapi alhamdulillah saya dapat nilai A minus (A-). Kata kawan saya, “syukur-syukur dapat nilai segitu, kita-kita ini mentoknya di nilai B.” Saya tersenyum mendengarnya. Lain lagi dengan pak Firdaus Syam, penulis buku BJ Habibie ini, mengajar dengan cara yang lebih lembut. Beliau punya suara sedikit ‘kecil’, sehingga butuh konsentrasi tersendiri untuk menyimak perkuliahan beliau. Jika saya tak mengerti di kelas, kerap saya diskusi dengan pak Firdaus usai ba’da magrib di Mushalla kampus. Pokoknya asyik.

Sementara Pak Afdal, adalah dosen muda yang punya talenta akademik yang baik. Mungkin karena beliau juga tengah mengikuti perkuliahan doktor, sehingga kelas ‘selalu berdinamika’. Kawan-kawan amat menyukainya, sebab perkuliahan beliau selalu di warnai hal-hal yang lagi hits di tanah air. Se- type dengan Pak Udung, kami punya Pak Yusuf Hamdan. Saya memanggil beliau dengan panggilan ‘pak uztads’. Maklumlah, gaya mengajar beliau mengingatkan saya sosok ‘AA Gim’. Kawan-kawan selalu bercanda ketika menghadapi ujian beliau. “jangan lupa tulis ‘Bismillah’ dengan bahasa arab”. Beliau pasti suka, dan saya mengikuti ‘saran’ ini. Soal tulisan Arab, saya membanggakan diri, sebab pernah tercatat sebagai ‘khaligrafer Sulawesi tenggara’ yang pernah ikut di kejuaraan MTQ Nasional.

Serentetan dosen-dosen inilah yang mempengaruhi cara berpikir saya.sebab di semester empat, saya tinggal menyelesaikan perkulian ‘writing courses’, seminar dan tesis. Mungkin masih banyak dosen komunikasi yang tidak saya sebutkan satu persatu, ada bapak Dr. Irwansyah, Dr. Toto Sugito (penguji tesis saya), ibu Dr. Henny Guspa, dan satu lagi (hampir lupa) Dr. Mulyana. Lelaki ganteng yang mengajar saya saat ‘matrikulasi’ di awal perkuliahan. Seorang yang saya kenal sebagai ‘pekerja’ dan pembelajar yang baik.

Yang pasti, dosen-dosen ini semuanya memiliki talenta akademik yang mumpuni, berjiwa pendidik, tidak saja sebagai dosen, umumnya rata-rata menjadi orang tua bahkan saudara kandung dalam perkuliahan kami. Tentu ini kebanggaan pribadi saya, di tengah merosotnya nilai-nilai pendidikan di Tanah Air. Bagi saya, dosen-dosen ini seperti ‘oase’ di gurun pasir, yang selalu meleburkan dahaga ilmu tak kala pelita pengetahuan kita tengah meredup.

Saya hanya bisa mengucap ‘selamat hari pendidikan nasional’ sebagai pembungkus ucapan terima kasih yang tak terbilang. Dan saya sendiri akan bangga jika kelak nanti akan menjadi pendidik dan pengajar seperti dosen-dosen saya itu. Sebab pendidik, adalah sebuah pekerjaan yang penuh dengan keberkahan. Amin, semoga semua mendapatkan rahmat Sang pencipta. Sukses Selalu. Selamat Hari Pendidikan nasional!

-------------------
Jakarta Malam, 2 Mei 2013.

Baca juga tulisan-tulisan berikut ini:

- Antara Tesis, Jakarta dan Kesenjangannya
- Nikmatnya Buku Prof Dedi Mulyana
- Secarik Kertas di Langit Jakarta



Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX