NAMANYA bapak Sulyus Natoradjo. Ia kawan sekelas di kampus Usahid Jakarta, sekaligus ayah bagi semua kawan-kawan di sana. Usianya yang mendekati 80 tahun tak menyurutkan impiannya menjadi seorang doktor ilmu komunikasi. Usia yang sebenarnya lebih pantas menikmati masa pensiun, bercanda dengan anak cucu, dan duduk membuka lembar ayat-ayat Tuhan mempersiapkan kehidupan akhiratnya.
”Jika berpikir seperti itu, sama saja saya mempersiapkan kematian saya. Padahal usia bukanlah alat ukur seseorang hidup di dunia ini. Orang bisa mati kapan saja. Hidup itu adalah skenario yang tak terduga, maka harus di isi dengan sesuatu yang bermanfaat. Bagi saya pendidikan itu tidak ada matinya, Anda bisa melakukannya kapan saja Anda mau..” Begitu ungkapan optimisnya.
Rasanya malu jika menyimak harapan hidup bapak ini, apalagi membandingkannya dengan ke sia-siaan waktu yang selama ini terabaikan. Pak Sulyus dengan semangat dan kesederhanaannya, seolah menitip pesan pada banyak orang, tentang makna ‘Wal Asyr” (demi masa). Ia diam dalam bahasa, namun berbicara banyak dalam pesan, bahwa kehidupan manusia akan semakin memiliki makna, jika di setiap detik waktu yang dijalaninya selalu menjadi inspirasi bagi orang lain.
”Jika saya di kampus rasanya awet muda. Di rumah malah bisa diomeli istri..hahaha” candanya. Begitulah Pak Sulyus, lelaki baya 78 tahun ini bukan sembarang lelaki. Hidupnya yang dulu diwarnai dengan aktivitas di dunia perusahaan, memasuki usia pensiun terjun ke kampus menjadi seorang dosen. Ia juga dikenal sebagai penulis even organizing, yang pernah diterbitkan Penerbit Gramedia-Jakarta. Gambatte! Begitu aktif pria baya ini.
Masihkah ada kebanggan bagi Pak Sulyus, ketika merebut gelar doktor diusianya uyang mendekati 80 tahun nanti? Apakah sama ekspektasi yang kurasakan hari ini ketika jejak-jejak puncak akademik itu diraih nantinya? Apakah semangat Pak Sulyus sama dengan semangat adik Deddy Kurnia, lelaki 26 Tahun yang kini juga mempertaruhkan hidupnya sebagai seorang doktor?
“Bang Hamzah, saya dan Kang Deddy, sama saja. Selalu harus ada kebanggaan yang terselip dari apa yang kita pertaruhkan hari ini. Kebanggaan itu tidak mengenal masa, tidak mengenal ruang dan waktu. ia selalu hadir ketika seseorang sukses menjalani ‘proses’, dan proses itu hadir pada setiap lapis-lapis waktu seseorang yang pandai memberi warna dalam kehidupannya” jawabnya.
Begitulah cara Pak Sulyus berkomunikasi dengan lingkungannya. Ia jarang menyebut seseorang dengan sematan ‘Nak’, ‘Adinda’ dan sebagainya. Ia selalu berusaha menarik dirinya ke dalam ‘masa’ kawan diskusinya. Pak Sulyus paham, jika efektifitas berkomunikasi itu akan tercapai jika ada kesejajaran antara komunikator dan komunikannya. Benar-benar menginspirasi.
Lalu apakah gelar ‘doktor; yang diperolehnya nanti, sekedar penghias di nisannya kelak? “Jangan bicara kematian, itu urusan Sang Pencipta. Bagi saya menempuh pendidikan, adalah cara memaknai hidup, sebab selalu ada kejutan-kejutan yang kita peroleh. Di sana ada cerita, bahwa pendidikan akan membuat hidup Anda lebih bermakna, sepanjang menjalaninya dengan baik dan tidak instant. Pendidikan itu bukanlah kesia-siaan. Ia bagian dari bentuk kesyukuran saya pada Sang Pencipta. Di sana tak hanya gelar duniawi..di sana ada hati yang berbicara, jika kualitas manusia ditentukansejauh mana ia berproses dalam hidupnya.. ”
GENAP dua semester saya mengabdikan diri sebagai pengajar di kampus Universitas 17 Agustus 1945 di kawasan Sunter-Jakarta Utara. Itu juga berarti jika kini saya tak perlu sungkan untuk menyebut diri sebagai ‘dosen’, meski statusnya sebagai dosen tidak tetap dan diberi ‘jasa’ berdasarkan beban ‘sks’ yang diberikan otoritas kampus.
Apapun itu, saya menikmati ‘dunia baru’ ini. Saya bergembira dan amat berbangga atas kepercayaan itu, setidaknya otak saya yang terkuras selama menempuh pendidikan sebagai kandidat doktor Ilmu Komunikasi mendapat ‘ruang besar’ menumpahkannya kepada adik-adik mahasiswa di kampus yang kini lebih trendy di sebut UTA-45 itu.
Terbayang, gimana rasanya belajar terus menerus dan tak ada ruang untuk berbagi, seolah mengisi gelas dengan air tanpa batas, tumpah kemana-mana dan tak berarti. Mungkin ini yang disebut sebagai keseimbangan hidup, dan mungkin ini pula makna dari kalimat dari para bijak yang mengatakan, ilmu takkan memiliki manfaat apa-apa, jika tidak bisa berbagi dengan orang lain. Apalagi saya teramat percaya dengan sebuah sugesti kehidupan, bahwa mereka yang kaya, adalah mereka yang gemar berbagi.
Dulu, seantero nusantara mengenal kampus ini dengan label ‘Untag’. Entah kapan dimulainya perubahan nama itu, apa maksudnya? Saya kurang paham, namun pada umumnya perubahan nama selalu mengarah pada perbaikan di segala sektor, seperti yang selama setahun ini saya merasakannya.
Dalam amatan sebagai seorang mantan jurnalis, sebagai penggiat kehumasan, dan sebagai orang yang banyak melibatkan diri di organisasi ‘nasionalis’, UTA-45 adalah kampus harapan masa depan negeri ini, itu tampak dari managemen yang terus membaik, system kurikulum yang bersesuaian dengan dunia kerja, dan didukung oleh tenaga-tenaga pendidik profesional alumni dalam dan luar negeri.
Tak salah, jika anak-anak negeri ini yang tersebar di daerah-daerah untuk menimba ilmu di kampus ini. Paling tidak karakteristik ‘merah putih’ yang menjadi branding kampus ini, seolah mentasbihkan diri jika mereka yang terdidik di sini, tidak sekedar cerdas ilmu, tetapi mereka akan memiliki bekal sebagai generasi yang ditopang oleh semangat kebangsaan. Itu diskusi singkat saya dengan Pak Widodo, dekan FISIP UTA-45, seorang yang saya nilai sebagai sosok yang selalu bersemangat memompa ‘kenerja’ para dosennya. Juga hasil diskusi dengan beberapa prodi yang masih muda belia dan penuh talenta. Saya bangga mengenal mereka, dan bangga bekerja sama dengannya.
Mungkin saya buta dengan ‘masa silam’ kampus ini, dan tak perlu tahu dengan apa yang pernah terjadi di masa lalu, sebab dunia saya, adalah masa kini dan masa depan. Masa untuk membangun anak-anak bangsa menjadi lebih baik, lebih berkarakter, dan tak sekedar cerdas dalam pengetahuan tetapi cerdas dalam memaknai keberadaan dirinya, keberadaan orang lain dan lingkungannya.
Bagi saya, kampus UTA-45 adalah semangat baru, karenanya saya selalu menawar rindu di kampus ini, menawar harapan agar kelak banyak generasi bangsa berkualitas, berbudi pekerti yang baik terlahir dari rahim kampus ini. Ya, setidaknya dari lingkungan saya sebagai tenaga pengajar di prodi Ilmu Komunikasi. Target saya sederhana, ingin agar kualitas gelar ‘doktor’ ilmu komunikasi yang melekat pada diri saya nanti, benar-benar bermanfaat bagi anak-anak negeri ini. Sebab setinggi apapun gelar akademik seseorang, takkan bernilai apa-apa jika tidak bermanfaat bagi orang lain.
Ibu saya di kampung selalu mengingatkan dengan bahasa sederhananya. “Nak, tidak ada yang lebih tinggi dari kemampuan seseorang, terkecuali ia bisa berbagai dengan orang lain. Tak ada harta yang lebih baik yang diwariskan kepada anak cucu kita, terkecuali warisan ilmu pengetahuan. Maka jangan pernah kikir untuk berbagi ilmu pengetahuan dengan siapa saja. Sebab nilai dari seseorang terletak dari pengetahuannya, dan keluasan hatinya untuk berbagi” terasa ada kerinduan jika mengenang wejangan ibu.
Saat 'koja-koja' bersama Relawan TIK Baubau di gedung Maedani
SEPEKAN lalu saya diundang kawan-kawan komunitas Relawan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) Kota Baubau untuk memberi materi pada ‘training friday morning’ yang digelar setiap pekannya di Gedung Maedani Baubau. Sempat bingung juga, materi apa yang saya sajikan sebab setahu saya mereka adalah penikmat dunia teknologi berbasis internet, yang tentu memiliki ‘otak lebih encer’ dan punya daya jelajah di dunia maya. Dunia yang selalu berisi apa saja di permukaan bumi ini; dari ilmu pengetahuan biasa hingga yang paling tabu dibicarakan, dunia seks. Tentu ini sesuatu yang biasa di mata komunitas ini.
Meski begitu, komunitas yang terdiri dari sekawanan remaja tanggung ini, punya tanggung jawab besar di masyarakat, mencerdaskan banyak orang dengan pengetahuan informasi teknologi (IT) sebagai suatu kebutuhan yang tak dapat dihindari di era modern ini, hingga tanggung jawab untuk mensosialisasikan penggunaan IT secara sehat. Harapannya sederhana, IT harus bermanfaat dan mulia di mata banyak orang. Bukan alat untuk menjerumuskan diri sendiri dengan menyerap informasi yang bisa merusak moral.
Seperti orang yang selalu kehausan ilmu, komunitas ini selalu mengajak siapa saja untuk berbagi, dari pengetahuan menulis, blogging dan lain-lain. Mereka mengemasnya dalam istilah ‘koja-koja’ yang dalam bahasa Buton diartikan sebagai ‘bincang-bincang’. Karenanya pemateri yang datang tidak selalu dari kalangan bermerek ilmu tertentu. Siapa saja boleh, yang penting terkait dengan pemanfaatan dunia TIK, sebab ilmu yang diserap dari pemateri selanjutnya diteruskan ke public yang lebih luas, masyarakat umum. Namun yang pasti, namanya juga relawan, jangan berharap upah materi dari komunitas ini. Yang pasti niatnya satu, amal besar!
Relawan TIK Baubau di sebuah panti asuhan. kerja ikhlas bro!
Amal besar? Tentu, sebab komunitas ini setiap bulannya roadshow ke wilayah-wilayah tanpa berharap imbalan sepeser pun. Di lapangan mereka bertemu masyarakat dari segala lapis social. Materi yang diberikan pun tidak focus pada satu topic, dari yang yang sekedar ingin mengenal bentu-bentuk computer, cara menggunakan computer, hingga pengenalan pengetahuan internet. “Sangat sederhana” pikirku.
Sempat bertanya pada seorang relawan, Fendi Kurniawan; “mengapa harus berat-berat menyerap ilmu setiap pekannya dari pemateri, jika kemudian ke lapangan hanya mengajarkan hal-hal yang sederhana?”. Fendi menjawabnya sederhana pula. “komunitas kita tidak mengukur ilmu itu terserap di masyarakat harus dengan pengetahuan IT level tinggi. jika warga sudah tahu menggunakan computer saja, rasanya sangat berbahagia, apalagi jika warga sudah bisa memanfaatkan internet dengan baik,” katanya.
Mas Eko Prasetya, Ketum Relawan TIK Sultra, saat berbagi di salah satu Panti Asuhan Kota Baubau
Mendengar tuturan ini hati terasa tersentak, sebab tak banyak orang di dunia ini memiliki pemikiran sederhana seperti ini. Umumnya, semakin tinggi ilmu seseorang maka ia akan memilih dan memilah ilmu yang akan mereka berikan pada masyarakat. Komunitas ini seperti menjadi pembeda dan pengingat dari banyak orang-orang berilmu untuk selalu memberikan apa yang ia miliki, tanpa dibatasi ruang, waktu dan tempat. Mungkin karena itu mereka lebih suka disebut sebagai relawan, ketimbang istilah lainnya. Apalagi ketika ke lapangan, mereka bekerja dengan riang, penuh gelak tawa, bercanda dengan banyak orang dan bekerja tak mengenal tempat; kadang di kelas pinjaman, kadang di rumah penduduk, atau bahkan di bawah rerimbunan pohon. “kerja kami kerja kecil Kak, tujuan kita sederhana bisa berbagi apa saja yang kita ketahui” kata Fendy.
Tak berhenti sampai disitu, relawan ini terus bergerak kemana saja ia mau. Bahkan di bulan puasa ini, komunitas ini ikut ‘sumbang-sumbang’ materi yang mereka miliki, ke panti asuhan hingga pesantren-pesantren kecil sembari memperkenalkan dunia TIK yang sebenarnya. Mungkin ini yang banyak disebut orang bijak, bahwa ilmu yang baik itu adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya. Ini yang saya sebut, kerja kecil amal besar. Mau???
Jakarta Sahid Residence, Kompleks Perkuliahan Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta
“Tetap bersemangat, dimanapun Anda pasti bisa!” ini sepenggal ungkapan penyemangat dari banyak kawan yang saya terima dua hari ini pasca ‘ketidak beruntungan’ saya masuk di ‘babak akhir’ program doktoral Komunikasi Universitas Indonesia. Pesan-pesan itu silih berganti datang via sms, facebook hingga komentar di blog ini. Saya amat terkejut dengan perhatian kawan-kawan ini, dan tentu saya merasa bangga jika perhatian itu saya menemukan banyak kawan-kawan setia di ibukota ini.
Saya bisa memaknai banyak pesan-pesan itu. Tidak sekedar menjadi cambuk untuk berhenti bermimpi. Impian untuk mempersembahkan gelar doktor pada kedua orang tua saya yang sewaktu saya masih anak-anak, pernah berkata “saya ingin menyekolahkan anak-anak saya tapi saya miskin, tetapi mengapa orang-orang kaya itu lupa menykolahkan anak-anakanya?” begitu kata ibu pada bapak saya.
Makna lain, kawan-kawan ini memahami semangat bersekolah dan dinamika yang saya tunjukkan sejak magister, sementara istri di kampung halaman tetap mengobarkan api cita-cita itu“tetap semangat, mungkin di kampus itu kakak belum berjodoh, carilah yang kakak inginkan, selagi masih ada jalan”. Tentu saya suka pesan-pesan itu dan menjadi pembangun tidur kekecewaan itu.
Hari ini, saya mulai menjelajah alternatif impian saya di Program Doktoral Komunikasi Universitas Sahid (Usahid), yang terletak di kawasan elit Jakarta di bilangan Sudirman. Saya amat berharap bisa lulus di kampus ini. Ini target akhir sebab ke Bandung, Jogja, Surabaya atau Makassar atau ke luar negeri seperti yang banyak diimpikan kawan-kawan lain, banyak hal yang saya pikirkan. Jakarta memang wahana uji nyali ‘kekampungan’ saya.
Hari ini saya resmi mendaftar, mengisi formulir, hingga diskusi kecil tentang prospek S3 komunikasi Usahid. Saya banyak bertanya, sebab kampus ini satu-satunya institusi swasta penyelenggara S3 komunikasi. Saya berpikir pendek, tentu saya akan banyak mengeluarkan biaya dibanding kampus-kampus negeri. tenryata tidak, sepertinya relatif sama, termasuk pengajar yang banyak berasal dari kampus-kampus negeri sperti UI dan Unpad. Bahkan ketua Prodinya, juga Dekan Fakultas Komunikasi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsono. Guru besar yang sempat mewawancari saya di test akhir UI. Rasa-rasanya jadi ‘malu’ jika bertemu prof ini lagi, apalagi saya masih menunggu panggilan wawancara lagi beberapa hari kedepan, juga dengan prof ini. Tapi saya membuang jauh-jauh pikiran itu. Target saya hanya satu. Kuliah. Siapapun orangnya, tentu harus siap menghadapinya, meski dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki.
Satu yang membuat saya bergidik di kampus pascasarjana Usahid ini, adalah letaknya yang strategis di jantung ibukota. Tentu jika kelak di semester ini saya dinyatakan diterima sebagai mahasiswa, maka saya perlu membuat perencanaan matang tentang pengaturan waktu, keuangan dan cara tercepat menembus kemacetan. Maklumlah, saya yang kos-kosan di Cikini, tidak jauh dari kampus ini butuh waktu 45 sampai 60 menit menembusnya. Selain itu tempat perkuliahan tidak digelar di kampus induk di kawasan Tebet, tetapi di ‘Residence Sahid’, salah satu kawasan elit dan mahal dibilangan Jakarta.
Residence Sahid ini dikepung oleh banyak gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Dikepung oleh banyak perkantoran dan kawasan perekonomian elit. Sejak berada di sana, tak terlihat pergerakan ‘ekonomi rakyat’ ada di sana. Saya tak melihat pedagang kaki lima, warung-warung tegal atau sekedar pedagang rokok eceran. Semuanya serba modern. Mahasiswa Sahid yang mengambil jurusan ‘Ilmu Pariwisata’ tidak tampak seperti banyak mahasiswa umumnya, mereka berbusana khusus, rapi dan diatur beradasarkan tata tertib kampus. Mungkin karena mereka khusus di pariwisata dan perhotelan.
Mahasiswa S2 dan s3 pun yang sementara belajar pun menyesuaikan cara berbusana, atau sekedar bercakap. Saya mulai paham, jika harus ada penyesuaian komunikasi budaya di sini. Maklumlah, siapapun yang kesana pasti akan menyesuaikan diri dengan budaya lingkungan orang-orang berjas itu. Ini tentu sesuatu yang belum lazim bagi saya. Tetapi mau tak mau, jika kelak saya kuliah disini, maka saya pun harus ‘berlagak’ orang gedean (hehehehe... pikirku seru juga nanti)...
Tetapi saya amat senang, meski benar-benar di kawasan elit, tetapi di depan kampus terdapat masjid yang akan bisa mengasah keimanan siapapun orang yang berakifitas di kawsan ini. Satu kalimat setelah ‘memantau’ kawasan ini adalah doa yang pada Sang Pencipta. “Ya Allah mudahkan urusanku, aku berharap bisa kuliah disini. Amin. **
-------------- Jakarta Ba’da Magrib, 20 Mei 2013
MENJADI lulusan terbaik dari sekolah maupun perguruan tinggi ternyata bukan jaminan seseorang untuk melangkah ke jenjang pendidikan yang diimpikan, selalu saja ada ‘uji coba’ yang membuat langkah kita ‘terpeleset’. Saya merasakan itu setelah dinyatakan ‘belum lulus’ masuk di S3 Komunikasi Universitas Indonesia (UI) tahun ini. Padahal segala persyaratan akademik dipenuhi, teruji dan tentu terkualifikasi dengan baik. Saya lalu merefleksi diri “ada apa dengan diri ini?”. Saya terus membatin, sebab satu-satunya yang bisa dikambing-hitamkan adalah kemampuan berbahasa inggris yang terbilang buruk. Tapi apakah ini ‘algojo’ penjegal saya dalam mencapai gelar akademik tertinggi di republik ini?
Saya tak jumawa dan tak ingin kehilangan impian, pilihan terakhir saya adalah Universitas Sahid Jakarta. Kampus swasta satu-satunya dan pertama penyelenggara doktoral ilmu komunikasi di Indonesia. Memang, banyak pilihan di kampus Negeri, seperti Bandung, Jogja, Surabaya dan Makassar, tetapi alasan ekonomi dan ‘jelajah karir’ saya tetap memilih Jakarta. Jika tidak, maka tentu saya akan kembali mengabdi sebagai aparat pemerintah daerah dengan gelar akhir magister nun jauh di Sultra sana.
Tentu saya kecewa, tetapi saya tak mampu melawan kodrat Tuhan dan juga keterbatasan akademik yang menjadi standar kampus UI. Saya hanya membatin, jika Sang Pencipta mungkin punya ‘agenda setting’ lain dengan alur kehidupan saya, juga ujian dari sebuah perjalanan yang mungkin sadar atau tidak telah saya jalani dalam sebuah ritme hidup yang bernama ‘dosa’. Mungkinkah dosa akademik? Saya menolak, sebab selama kuliah magister, saya bukanlah penjiplak, atau pembeli ijazah. Tetapi ditanya soal kemampuan ‘bilingual’, saya mungkin meng-iya. Boleh jadi dialah sang algojo itu. Yang pasti saya hanya mengembalikan kata ini jika ‘ada jalan Tuhan’ yang mungkin lebih baik yang akan saya terima. Disinilah misteri Sang Khalik, yang tak satupun makhluk bisa menebaknya.
Tetapi dibalik itu, lagi-lagi saya bertanya, apakah memang nasib saya untuk sekolah dan kuliah di level swasta? Pertanyaan ini timbul setelah memutar balik alur waktu ke masa silam, jika ternyata saya hanya menikmati ijazah ‘sekolah negeri’ hanya dijenjang SD dan SMP. Sementara di SMA hanya setahun, selebihnya setelah pindah tempat mengikuti orang tua, saya tamat di SMA swasta. Beberapa tahun kemudian mendapat gelar ‘sarjana hukum’ di kampus swasta, lalu mendapat gelar ‘master’ juga di kampus swasta. Dan, jika seandainya Tuhan mengizinkan saya masuk S3 di Universitas Sahid, itu berarti saya bersiap-siap dalam beberapa tahun ke depan akan ‘doktor’ juga keluaran kampus swasta. Insya Allah, jika panjang umur dan tak ada halangan!
Alasan-alasan ini, sepertinya jadi misteri hidup saya. Memang tak perlu mempersoalkan label tempat pendidikan, sebab zaman sekarang ini ‘negeri’ dan ‘swasta’ tak berbeda lagi. Kompetisinya sama, dan peluang kerjanya sama. Saya hanya bertanya, apakah saya memang dilahirkan untuk sekolah dan kuliah di kampus swasta? Allah SWT, Tuhan Yang Maha Mengetahuilah kemana alur hidup saya. Tetapi saya masih bisa tersenyum, dan percaya jika Tuhan punya hal terbaik untuk saya, istri, anak-anak, orang tua dan semua orang yang saya cintai. Buktinya, saya ternyata bekerja diinstitusi pemerintahan negeri ini.
Apapun bentuk ‘evaluasi’ yang saya terima hari ini, bukan lagi gelegar petir dan guntur di musim hujan. Tetapi ia angin yang memberi saya hembusan rasa dan asa, bahwa saya bisa menjadi yang terbaik dimanapun tempatnya. Saya ingat belasan tahun silam. Tamat SD dengan lulus terbaik, di SMP juga terbilang juara, SMA lulus terbaik, S1 luls cumlaude, S2 jadi wisudawan terbaik dan berprestasi. Lagi-lagi saya berkata, mungkin memang saya dilahirkan untuk sekolah dan kuliah di swasta.
Saya hanya ingin berkata pada angin di subuh ini? Berikan saya waktu untuk berbuat yang terbaik pada bangsa ini, berikan saya waktu untuk memberi yang terbaik untuk masyarakat kelak saya kembali pada mereka. Dan berikan saya waktu untuk mengajarkan anak-anakku dan generasiku sesuatu yang terbaik.
Akhirnya saya bisa tersenyum, tatkala azan Subuh memanggilku, kekecewaan itupun sirna, dan apapun itu Sang Pencipta tetaplah segalanya..ini hanya permainan duniawi, seperti cerita dalam dramaturgi Erfing Goffman, semuanya punya panggung. Saya hanya berharap pagi akan menemaniku dengan sejuta senyuman dan selalu berkata “kamu tetap akan menjadi yang terbaik. Buktikan itu!” ** Jakarta Jelang Azan Subuh, 19 Mei 2013
SIMPEL, praktis, cepat dimengerti dan tetap bernilai akademik adalah kesan yang saya peroleh dari diskusi kecil bersama Dr. Lely Arrianie, seorang ibu penggiat ilmu komunikasi pada Minggu siang kemarin (5/5) di Universitas Jayabaya, Jakarta. Ia juga dosen yang mengajarkan saya ‘komunikasi politik’ saat menjadi mahasiswa magister di Universitas Mercu Buana setahun silam. Tetapi bukan ini yang menarik dari seorang yang saya sebut ‘akademisi modis’ ini. Tetapi gaya bertuturnya, cara ia mengajak audiens, serta cara menanamkan pesan, adalah cara yang paling saya suka dari staf ahli Ketua MPR-RI saat ini, Taufik Kiemas.
Satu hal yang tak lekang dalam ingatan adalah ketika ia membimbing rekan saya, Ishak Holidi dalam penyelesaian tesisnya. Saya ikut nguping. Ibu Lely berkata “Ada ‘cara bodoh’ dalam menggunakan metodologi penelitian dari saya, sederhananya seperti ini..” ibu Lely menjelaskan begitu rinci namun simpel. Saya yang menguping, serasa menjadi jauh lebih mengerti dari dari Pak Ishak sendiri (heheheh). Saya sendiri membatin, ”mengapa ketika masih jadi mahasiswa S2, tidak meniru ‘cara bodoh’ Dr. Lely, yang menurut saya adalah sebuah teori simple, bagaimana mahasiswa bisa secepatnya menyelesaikan perkuliahannya.
Agak panjang memang jika menulis ‘cara bodoh’ metologi penelitian ala Dr. Lely, saya hanya tertarik pengistilahannya saja, tentu jika mau, mahasiswa bisa berhubungan langsung dengan doktor yang amat suka dunia ‘dramaturgis’ ini.
Disela-sela membimbing Pak Ishak, saya nyeletuk pada Dr. Lely, “Kok Ibu nggak nyaleg, ibu kan udah dekat dengan petinggi PDIP?” tanyaku. Ibu ini menjawab simpel, “Zah, ibu kan Pegawai negeri,” katanya. Saya menepuk jidat. Lupa jika PNS gak boleh berpolitik. Saya sendiri membatin, jika politik telah merasuk dalam pikiran siapa saja, termasuk saya yang belakangan ini ikut ‘nyerempet-nyerempet’ di dunia politik, meski hanya dalam tataran menggeluti ormas yang dekat di partai Gerindra. Sama seperti Dr. Lely yang ‘dekat-dekat’ dengan PDIP.
Runtun ingatan politik ini pada diri Dr. Lely dan saya secara pribadi, tersimpul satu imaji jika politik memang lebih mudah mengangkat popularitas seseorang, selain dunia keartisan di Indonesia dewasa ini. Mungkin ini pemahaman keliru dari saya, tetapi saya menangkap insting ini ada pada diri Ibu Doktor Lely. Ya!, belakangan ini, jebolan doktoral terbaik Universitas Padjajaran Bandung ini, sering sekali muncul di televisi-televisi swasta nasional, dalam kapasistasnya sebagai ‘pengamat komunikasi politik’, bahkan pernah Metro TV menuliskan sebagai ‘pengamat DPR’. Sepertinya ini ‘atribut’ baru bagi seorang akademisi sekelas Dr. Lely. Tetapi saya memaklumi sikap Metro TV ini, sebab penelitian doktoral ibu Lely menfokuskan pada prilaku politik anggota DPR dan politisi beken Tanah Air lainnya. Bagi saya ini memang isu sexy di Indonesia, dimana-mana orang menggandrungi dunia politik.
Bagi saya Dr. Lely dalam kapasitasnya sebagai akademisi, juga memiliki insting selebriti yang baik. Mungkin karena wanita Minang ini juga terbilang memiliki paras yang cocok ditampilkan di telivisi, juga selera berbusana yang modis. “Klop!” pikirku. Apalagi Ibu Lely juga ditopang sebagai ketua prodi ilmu komunikasi di Universitas Jaya Baya, dosen diberbagai kampus elit komunikasi di Tanah Air, dan juga dukungan seorang suami yang bergelar ‘professor’. Saya meyakini jika wanita ini sebentar lagi akan menjadi selebriti akademisi populer di Tanah Air. Sebagai orang yang pernah diampu oleh Dr. Lely, merasa bangga pada beliau. Saya pun berkata pada Dr. Lely “Bu, jika ada peluang, tolong juga beri kelas, saya mau mengajar”. Ini cara saya untuk dekat dengan orang-orang sekelas Bu Lely ini.
---------------- Catatan Ba’da Azhar, Jakarta 6 Mei 2013
SEORANG kawan bertanya, bagaimana menyelesaikan tesis supaya tidak ‘bertele-tele’ dan bisa cepat rampung kuliahnya? Saya menjawab sederhana; “Jalan terbaik adalah perbaiki hubungan emosional dengan pembimbing tesis Anda; cek nilai-nilai perkuliahan Anda sebelumnya; dan laporkan kepada prodi jika ada masalah”. Itu ‘resep’ yang selama ini saya pakai ketika menyelesaikan pendidikan pascasarjana magister Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Jakarta. Alhamdulillah, resep ini mengantarkan saya selesai dengan cepat, tepat waktu, nilai baik, serta hubungan yang amat baik dengan para dosen di sana. Tak terkecuali dua orang pembimbing saya, bapak Prof. Dr. Burhan Bungin, dan Dr. Heri Budianto. Padahal jika ‘diintip-intip’ kesibukan dua pembimbing ini, bagi saya sebuah ‘misi imposible’. Sebab, Prof Burhan dalam waktu bersamaan aktif ‘terbang’ ke Malaysia, sementara Pak Heri, juga lagi ‘sibuk-sibuknya’ meneyelesaikan doktoral di UGM Jogjakarta saat itu.
Karena hubungan yang baik dengan kedua pembimbing itu, saya ‘terbimbing’ dengan berbagai cara. Semisal Prof Burhan ketika berada di Malaysia, saya harus rajin-rajin ‘email’ bahkan ‘chating’ dengan beliau, sementara Pak Heri, jika lagi berada di Jogja atau sibuk mengajar diberbagi kampus, maka saya perlu menunggu waktu, kapan waktu jedanya. Boleh jadi cara itu bisa membuat pembimbing ‘kesal’ dengan ulah kita, tetapi saya amat meyakini, jika ‘kesungguhan’ juga merupakan satu item penilaian pembimbing.
Lalu bagaimana jika tak sempat bertemu keduanya? Lagi-lagi saya tak merasa kehilangan. Kerap saya bertemu Pak Dr. Farid Hamid, sebagai ketua program studi (Kaprodi). Bagi saya meski beliau bukan ‘pembimbing langsung’, tetapi penilaian keseriusan juga point penting dari seorang ketua program studi. Artinya, prodi memiliki kewenangan untuk ‘mempengaruhi’ pembimbing ketika seorang mahasiswa mengalami kendala dalam penyelesaian bimbingan tesisnya.
**
SEKELUMIT cerita di atas, menjadi pengantar saya memaknai Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2013 ini. Sebab tak mungkin saya upacara bendera lagi seperti ‘anak sekolahan’ di tingkat dasar dan menengah. Memberi sprit kepada kawan-kawan, dan juga mengenang dinamika yang terjadi di kampus dengan menulis di blog ini, adalah cara saya memperingati hardiknas ini. Mungkin tidak terlalu penting, tetapi ini apresiasi saya pada para dosen di kampus Universitas Mercu Buana Jakarta, khususnya di Prodi Magister Ilmu Komunikasi. Bahkan bagi saya, tulisan ini juga sebagai ucapan terima kasih atas nilai IPK 3.96 yang saya raih dari pergumulan dinamika antara saya dengan para dosen di Magister Ilmu Komunikasi Mercu Buana ini.
Menarik mencermati dinamika para dosen saya di sana. Ketika di semester satu, saya bertemu tiga dosen sekaligus. Ibu Dr. Umaimah Wahid yang mengajarkan ‘perspektif teori komunikasi’. Dr. Asep Saifuddin, yang mengajarkan ‘strategi perubahan dan komunikasi’ serta Dr. Amiruddin yang mengajarkan ‘penelitian komunikasi kuantitatif’. Bu Umay, begitu saya menyebut Ibu Umaimah Wahid, perempuan ini terbilang tegas di kelas, namun asyik di ajak berdiskusi, sebab ia sosok yang bisa diajak terbuka dalam hal perkuliahan. Sementara Pak Asep, seorang senior di bidang komunikasi, karena pernah menjabat dirjen di ere ‘menteri penerangan’ adalah sosok yang selalu memberi motivasi bagi mahasiswa. Usia menujukkan kematangan emosional Pak Asep. Halnya dengan Pak Amiruddin, ilmu kuantitafnya yang amat dengan ilmu ‘hitung-hitungan’, menjadi sosok dosen yang selalu ingin mengajak mahasiswa mengetahui ‘dasar-dasar ilmu penelitian’. Pak Amir amat teliti, saya sendiri mendapat nilai A minus (A-) di mata kuliahnya, satu dari dua nilai (A-) yang saya peroleh selama menempuh perkuliahan S2. Lainnya nilai istimewa. (A).
Di semester kedua saya bertemu enam dosen sekaligus. Prof. Khomsahrial dari Lampung yang mengajarkan ‘komunikasi organisasi dan kepemimpinan’, Prof. Burhan Bungin dan Dr. Heri Budianto yang mengajarkan ‘sosiologi media dan komunikasi’, dan Dr. Farid Hamid yang mengajarkan ‘Meteode penelitian Komunikasi Kualitatif’, serta Dr. Lelly Arriannie dan Dr. Udung Noor Rosyad. Rasanya tensi perkuliah begitu tinggi. Tetapi sugesti para dosen menjadi cambuk untuk cepat selesai. Agak sulit bercerita satu persatu tentang dinamika dosen ini, tetapi yang pasti mereka punya karakter sendiri membangun mahasiswanya.
Prof Khomsahrial misalnya, dosen ini pernah memberi tugas 60 halaman dengan perintah ‘tulis tangan’. Meski banyak yang protes karena dianggap ‘ketinggalan zaman’, tetapi makna besar di balik itu yakni bagaimana mahasiswa menghargai ‘proses’. Kata kawan saya “tiga pulpen tintanya habis, ini baru pemecahan rekor untuk sebuah tugas. Hehehe”. Soal Prof Burhan dan Pak Heri, tak perlu saya ceritakan sebab beliaulah berdua ‘pembimbing saya. Saya mengistilahkan beliau berdua ‘jinak-jinak merpati’. Harus punya ‘cara khusus’ bagaimana bisa dekat dengan kedua dosen ini. Halnya dengan Pak Farid, kaprodi yang selalu sibuk mengurus mahasiswa, bisa saya sebut sebagai ‘kepala sekolah’ yang murah hati, gak ada capeknya, beliau terus bergerak dari lantai 1 hingga lantai 8, kerap naik tangga darurat jika lift kampus dalam keadaan ‘over load’. Bahkan tak capek bolak balik antara kampus Meruya dan kampus menteng. Hemmm...gaya anak muda bro!
Selanjutnya ada ibu Lely dan Pak Udung, dua-duanya ‘berbau bandung’ meski ibu lely bersuku Minang, alumnus Unpad ini selalu ceria dalam kelas, dan mengajak alam berpikir kita masuk ke ranah berpikir para politisi di Senayan sana. Bu Lely, piawai merebut hati mahasiswa. “nyamanlah” pikirku. Sementara Pak Udung yang setiap sabtu hilir mudik Bandung-Jakarta, selalu mengingatkan mahasiswa dengan satu kalimat penting. “Tesis yang baik adalah tesis yang cepat selesai”. Tentu kami tergelak dan tertawa, sebab Pak Udung bukan tipe yang suka menggerus otak mahasiswa. Ia ingin mahasiswanya cepat ‘lenyap’ di kampus ini..hehehe..cepat master maksud beliau.
Semester tiga adalah masa-masa rawan perkuliahan kami. Sebab disini sudah ada pembagian jurusan. Saya dan 14 rekan lainnya memilih komunikasi politik, lainnya memilih marketing dan media massa. ‘perpisahan’ ini tentu membuat semangat sedikit menurun. Aroma ‘cinta-cinta lokasi’ yang kerap terbangun diruangan, harus pisah dengan pembagian jurusan ini. Tetapi ada juga yang merasa sudah menjadi ‘specialis’. Maklumlah, ilmu komunikasi lagi hits-hitsnya di Tanah Air, sebab aroma politik menebar kemana-mana, dari kelas Pilpres hingga pemilihan kepala desa.
Disemester ini saya bertemu Prof Dr. Anwar Arifin yang mengajarkan ‘Politik Pencitraan’, Dr. Firdaus Syam dan Dr (cand) Afdal Makkuraga yang mengajarkan “komunikasi dan informasi publik’, serta strategi negosisasi dan persuasi oleh Dr. Yusuf Hamdan. Lagi-lagi banyak pengalaman baru bagi saya dan kawan-kawan. Prof Anwar misalnya, akademis sekaligus politisi senior Golkar ini, punya trik khusus dalam mencerdaskan mahasiswanya. Kerap beliau bertanya pada mahasiswa ‘kamu butuh pintar atau butuh nilai’. Pertanyaan yang tentu membingungkan. Maklumlah, salah jawab bisa ‘berabe’. Sebab professor ini, terbilang ‘langka’ di Indonesia. Beliau salah satu pencetus ‘teori pers’ dari tujuh teori pers dunia, yang disebutnya ‘teori pers pancasila’.
Jujur, saya amat takut berhadapan dengan prof ini. Maklum saya sama-sama dengan beliau ‘dari Bugis’, yang selalu membawa penilaian ‘perangai’. Sesuatu yang lazim di Bugis-Makassar. Tetapi alhamdulillah saya dapat nilai A minus (A-). Kata kawan saya, “syukur-syukur dapat nilai segitu, kita-kita ini mentoknya di nilai B.” Saya tersenyum mendengarnya. Lain lagi dengan pak Firdaus Syam, penulis buku BJ Habibie ini, mengajar dengan cara yang lebih lembut. Beliau punya suara sedikit ‘kecil’, sehingga butuh konsentrasi tersendiri untuk menyimak perkuliahan beliau. Jika saya tak mengerti di kelas, kerap saya diskusi dengan pak Firdaus usai ba’da magrib di Mushalla kampus. Pokoknya asyik.
Sementara Pak Afdal, adalah dosen muda yang punya talenta akademik yang baik. Mungkin karena beliau juga tengah mengikuti perkuliahan doktor, sehingga kelas ‘selalu berdinamika’. Kawan-kawan amat menyukainya, sebab perkuliahan beliau selalu di warnai hal-hal yang lagi hits di tanah air. Se- type dengan Pak Udung, kami punya Pak Yusuf Hamdan. Saya memanggil beliau dengan panggilan ‘pak uztads’. Maklumlah, gaya mengajar beliau mengingatkan saya sosok ‘AA Gim’. Kawan-kawan selalu bercanda ketika menghadapi ujian beliau. “jangan lupa tulis ‘Bismillah’ dengan bahasa arab”. Beliau pasti suka, dan saya mengikuti ‘saran’ ini. Soal tulisan Arab, saya membanggakan diri, sebab pernah tercatat sebagai ‘khaligrafer Sulawesi tenggara’ yang pernah ikut di kejuaraan MTQ Nasional.
Serentetan dosen-dosen inilah yang mempengaruhi cara berpikir saya.sebab di semester empat, saya tinggal menyelesaikan perkulian ‘writing courses’, seminar dan tesis. Mungkin masih banyak dosen komunikasi yang tidak saya sebutkan satu persatu, ada bapak Dr. Irwansyah, Dr. Toto Sugito (penguji tesis saya), ibu Dr. Henny Guspa, dan satu lagi (hampir lupa) Dr. Mulyana. Lelaki ganteng yang mengajar saya saat ‘matrikulasi’ di awal perkuliahan. Seorang yang saya kenal sebagai ‘pekerja’ dan pembelajar yang baik.
Yang pasti, dosen-dosen ini semuanya memiliki talenta akademik yang mumpuni, berjiwa pendidik, tidak saja sebagai dosen, umumnya rata-rata menjadi orang tua bahkan saudara kandung dalam perkuliahan kami. Tentu ini kebanggaan pribadi saya, di tengah merosotnya nilai-nilai pendidikan di Tanah Air. Bagi saya, dosen-dosen ini seperti ‘oase’ di gurun pasir, yang selalu meleburkan dahaga ilmu tak kala pelita pengetahuan kita tengah meredup.
Saya hanya bisa mengucap ‘selamat hari pendidikan nasional’ sebagai pembungkus ucapan terima kasih yang tak terbilang. Dan saya sendiri akan bangga jika kelak nanti akan menjadi pendidik dan pengajar seperti dosen-dosen saya itu. Sebab pendidik, adalah sebuah pekerjaan yang penuh dengan keberkahan. Amin, semoga semua mendapatkan rahmat Sang pencipta. Sukses Selalu. Selamat Hari Pendidikan nasional!
I WANT to our congratulation in myself, because been able to speak english thought slightly and than studying trying write in the english. Maybe, still much wrong in the writing...but try and try again. Actually, the internet facility have much to help my english, but i’m not interesting for using. (google, etc), because i cann’t how deep knowledge in my english. I’am sure, tomorrow and the next time, can be using english the betters. Hopefully! And than help me, if this wiriting doesn’t a better, because it is once exampling write. Heheheh....
“Saudara Hamzah, saudara dinyatakan tidak layak diterima di program doktoral UI, dari sepuluh yang diwawancara, hanya tiga yang layak diterima, jadi kondisinya sudah begitu” begitu suara pak Nardi dari balik telepon gengamnya. Saya tidak tahu ia dimana, tapi lelaki seumuran 50-tahun itu seolah memberi tamparan keras di pipi saya. Terasa amat sakit. Pak Nardi juga seolah menjelma menjadi ‘juru bicara’ dari lima orang guru besar komunikasi Universitas Indonesia (UI) yang baru saja mewawancarai saya di Jumat 19 April, lalu. Padahal dari apa yang saya saksikan selama berada di kampus Salemba, Pak Nardi (Maaf) sepertinya seorang office boy (OB). Kesimpulan subjektif itu saya rasakan ketika menyaksikan beliau membersihkan ruangan, hingga melayani kebutuhan ‘makan-minum’ para guru besar dan dosen yang ada di pascasarsajana Komunikasi-UI tersebut. Tentu kerja beliau bukan mengurusi ‘hasil wawancara akhir’, apalagi pengumuman lulus resminya baru diumumkan 19 Mei mendatang.
Saya tak tahu apa niat Pak Nardi menelpon seperti itu, yang pasti sejak pagi pertama kali saya tiba di kampus UI dan berkenalan dengan beliau, Pak Nardi seolah menjelma menjadi ‘pembimbing’ saya. Beliau pula yang mengajarkan saya ‘etika’ ketika berhadapan dengan para guru besar, memperlihatkan ruang dimana saya akan menjalani ujian wawancara, termasuk menceritakan satu persatu karakter dosen-dosen yang ada di sana. Saya ‘mengikuti’ anjuran beliau, sebab saya menghormati siapapun orang itu, bagaimanapun status sosialnya. Hanya saya seolah ‘lupa’ memberi ‘tips’ dari penjelasan-penjelasan beliau, sebab ‘arah’ pembicaraannya memberi sinyal seperti itu. Bahkan ketika ia mempersilahkan saya masuk dalam ruangan, ia tiba-tiba menyodorkan saya sehelai kertas bertuliskan nomor handpone beliau. Saya terima dan membalasnya dengan memberi sms nomor hp-saya. Hitung-hitung kelak beliau dan saya bisa saling membantu, ketika Tuhan berkenan memberi saya peluang untuk kuliah di kampus ini.
Setelah usai mengikuti wawancara, saya masih menunggu teman-teman lainnya, sekedar berkenalan, berbagi tentang pengalaman itu, dari keseluruhan peserta, ternyata hanya saya yang berasal dari kampus swasta tanah air, lainnya dari UI, Unpad, Unair, IPB dan dua orang lulusan luar negeri. saya bangga bisa berteman dengan mereka. Tetapi yang menjadi ‘unik’ bagi saya, adalah Pak Nardi yang seolah taj ingin ketinggalan informasi dari kami seluruh peserta. Beliau terus melengket, bahkan kerap nimbrung dan menggurui. Kami diam dan tetap memberi takzim pada beliau. Mungkin juga rekan-rekan lain merasakan hal yang kurang ‘sreg’ dengan sikap beliau. Apalagi beberapa pernyataannya sepertinya kurang masuk akal, sebab beliau mengatakan ‘kami semua’ telah diterima. Logika ini dibantah kawan-kawan, yang punya banyak pengalaman tentang ujian masuk di UI.
Sejenak saya melupakan Pak Nardi, dan kampus UI. Saya melepaskan semua kepenatan berpikir hari itu. Namun ketika malam tiba, saya mengaktifkan ponsel, sebuah sms masuk dari Pak Nardi. “Telepon segera, penting!” saya menghormati sms itu dan menelpon langsung beliau. Ya ternyata Pak Nardi memberi penyampaian seperti apa yang saya ungkap di awal kalimat tulisan ini. Optimisme saya tiba-tiba ‘runtuh’, tulang sepertinya lemas semua, dan berpikir bahwa ‘sia-sia’ semua apa yang saya lakukan selama ini. Meski Pak Nardi seorang OB, tetapi saya tak boleh memandang enteng informasi beliau, sebab boleh saja benar apa yang beliau sampaikan. “Mungkin Pak nardi benar” pikirku.
---------------------------
Meski ada ‘kejengkelan’ terbetik dalam pikiran, tetapi penyampian pak Nardi membuat saya sadar, jika tidak mudah memang menggeluti ‘pertarungan ilmu’ di Universitas Indonesia. Saya juga mengoreksi diri, apa sebenarnya kelemahan akademik saya. Mulai dari persoalan kemampuan bahasa inggris yang masih standar, hingga penguasaan teoritik kelilmuan saya yang masih lemah. Distu pelajaran besar yang saya terima.
Penyampaian telepon Pak Nardi juga memberi saya pelajaran berarti, bahwa saya tidak boleh hanya terpaku menunggu satu keputusan, masih banyak peluang jika saya benar-benar ingin menggeluti dunia perkuliahan doktor komunikasi, mulai Unpad-bandung hingga Universitas Sahid Jakarta yang menawarkan untuk itu. Tetapi jujur, optimisme saya untuk masuk di UI begitu besar, meski harus dihantui pernyataan-pernyataan Pak Nardi. Tetapi apapun itu, saya patut berterima kasih pada beliau, bahwa ia telah mengingatkan saya untuk tetap optimis menghadapi kehidupan ini. Meski sebenarnya tak patut beliau lakukan pada kami....
Semoga saja penyampaian beliau berbeda dengan kenyataan di 19 Mei mendatang. Kami tetap bersemangat penuh optimisme, bahwa Tuhan-lah yang menentukan akhir dari segalanya...semoga!
---------------- Jakarta Jelang Azan Isya, 21 April....
MUNGKIN bagi banyak orang, pendidikan doktoral tidaklah teramat penting bahkan dinilai berlebihan, apalagi sesorang itu telah memiliki pekerjaan menetap, memiliki rumah tangga dan berpendidikan setingkat magister, mungkin sudah lebih dari cukup. Sebab ‘modal’ ini mereka sudah bisa menikmati hidup dan menjalani karir yang semestinya hingga ajal menjemput. Namun, rasa ini tidak ada pada diri saya. Ambisi untuk mencapai gelar doktor terus bergelora, apalagi sebuah slogan kecil di kamar kos terus membakar semangat. “Tak mati sebelum cita tercapai”. Slogan yang sengaja saya tulis tiga tahun silam, ketika pertama kali memasuki detak jantung Jakarta untuk merambah dunia ilmu pengetahuan.
Mungkin saya termasuk dari sekian banyak orang yang berfilosofi bila Jakarta adalah ‘tanah pertarungan’ orang-orang daerah merebut hidup. (Tentu ini tidak berlaku bagi kawan-kawan yang telah menempuh pendidikan di luar negeri). Alasan saya sederhana, Jakarta adalah kumpulan pergumulan kehidupan, dimana pendidikan tidak sekedar berasal dari dunia formal, tetapi realitas sosial masyarakat adalah nilai plus dari pendidikan formal itu sendiri. Ya, saya melihat sisi plus ‘sekolah di Jakarta’ ada di situ. Bahkan jika bisa ‘bermain’ dalam ayunan kerasnya kota ini, maka tak hanya gelar akademik yang bisa direbut, tetapi juga gelar sosial yang bisa memperluas kebesaran nama seseorang ke seantero wilayah nusantara. Itu juga salah satu bagian kecil pelecut semangat ini.
Sore hari ini, saya menerima sepucuk surat elektronik dari sekretariat Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) yang berkantor di Salemba. Sebuah surat yang ‘memerintahkan’ saya untuk menghadiri wawancara kekhusus-an bagi calon mahasiswa doktoral komunikasi UI pada Jumat 19 April. Hati saya terenyuh dan bertanya pada diri sendiri. “Apakah ini langkah awal saya memasuki gerbang kampus UI?”, “apakah ini penanda jika benar-benar saya akan bertarung dalam kerasnya realitas kehidupan di metropolitan ini?” Ah, ini terlalu lebay, istilah anak muda sekarang. Apalagi pengumuman lulus atau tidak masih berselang sebulan ke depan.” Pikirku.
Tetapi sebagai orang daerah yang besar dan tumbuh dari kehidupan orang tua yang pas-pasan, tentu menjadi rasa yang teramat besar. Ini juga pernah saya rasakan ketika pertama kali menjadi mahasiswa magister Ilmu komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta, yang kemudian memberi emblem ‘terbaik’ saat wisuda digelar. Tentu saya bangga, tetapi saya perih, apakah wisudawan terbaik itu menjadi jaminan kehidupan saya dan keluarga akan hidup lebih baik? Sebab tidak sedikit orang di negeri ini, menjadi yang terbaik di ijazah, tetapi sulit untuk mencari kehidupan yang dapat dikategorikan ‘sejahtera’. Ya’, ini salah satu realitas sosial di negeri yang bernama Republik Indonesia ini. Realitas dimana ‘posisi otak’ masih di-nomor- duakan, dan kalah dengan persaingan yang menggunakan cara-cara pragmatis. Banyak contoh kehidupan yang bercerita tentang itu.
Yang pasti, sepucuk surat dari kampus UI-Salemba menaikkan nyali hidup saya. Tentu juga akan membawa dampak pada keluarga kecil saya, sebab jika Tuhan memberi kemudahan saya untuk menikmati pendidikan di kampus ini, berarti istri dan anak-anak saya harus mampu pula bergumul dengan kehidupan tanpa banyak didampingi seorang ayah. Tetapi saya, istri dan anak-anak sama meyakini, jika inilah bagian kehidupan untuk hidup lebih baik.
**
SEBELUM menerima surat panggilan wawancara, sebelumnya menyempatkan ke Kampus Salemba sekedar mendapatkan informasi. Namun mata tertarik pada selembar poster besar khas UI, berwarna hitam dengan tulisan kuning, tertampang di depan ‘kampus lama’ UI dengan kalimat menantang opini publik, “Jika orang lain, Otonomi adalah Harga Mati, maka Kami PNS adalah Harga Mati”. Tampak jelas poster ini di arahkan ke jalan raya Diponegoro, jalan yang terbilang amat ramai di Jakarta Pusat. Penanggung jawab poster ini pun terampang jelas; “Paguyuban Pekerja Universitas Indonesia”. Saya terenyuh memaknai kalimat poster ini, rasa-rasanya nasib para pekerja di UI, tidak lebih baik dari pada nasib para honorer di daerah. Saya juga tidak tahu, apakah para pekerja di UI itu adalah dosen-dosen atau karyawan lepas di sana? Yang pasti hanya menyebutkan diri sebagai ‘paguyuban pekerja UI’
Bagi saya yang amat sederhana memaknai UI sebagai kampus terbesar di tanah air, tentu hal-hal seperti ini tak elok terjadi, sebab bagi saya ini dapat disebut sebagai ‘pemberontakan hidup’ para pekerjanya, dimana secara institusional, UI adalah kampus yang bisa mempengaruhi para pengambil kebijakan di negeri ini, tentu dengan harapan nasib dan tuntutan mereka bisa terpenuhi, menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil.
Lebih dari itu, saya menangkap makna ‘otonomi’ dan ‘Harga Mati’ pada kalimat poster tersebut sebagai sebuah sindiran ‘besar’ pada pengambil kebijakan di kampus. Sebab UI adalah organisasi pendidikan yang memiliki hak otonomi besar untuk mengatur rumah tangganya sendiri, tidak sekedar pada persoalan perkuliahan, besaran biaya pendidikan, kesejahteraan para dosen dan karyawannya, tetapi juga bagi pekerja yang meminta hak untuk menjadii seorang pegawai negeri. Tentu saya berkeyakinan UI mampu meneyelesaikan persoalan ini dengan caranya sendiri. Semoga!
-------------------------------- Jakarta, Ba’da Isya, 16 April 2013
ALHAMDULILLAH, Ahad 14 April 2013 ini sebuah awalan baru untuk menjadi bagian dari kampus Universitas Indonesia baru saja usai. Dua buah test tertulis, TPA dan Bahasa Inggris menjadi awalan mimpi panjang ribuan orang pemburu ilmu. Bagaimana hasilnya? “hanya pemeriksa dan Tuhan yang mengetahuinya, yang penting optimis dan yakin akan lulus” begitu canda saya pada rekan Rahman Hamid, seorang penulis muda asal Maluku yang mencoba peruntungannya di program doktoral jurusan sejarah. Rahman pun menimpali dengan candaan, “Mantap, bagaimanapun sulitnya ujian hari ini, yang penting kita lulus, yang penting Bahasa Inggerisnya tak jadi hantu lagi” katanya sedikit terkekeh mengomentari tulisan saya sebelumnya (Baca di sini).
Sebagai sesama calon mahasiswa, saya, rahman dan ribuan peserta testing lainnya, tentu punya logika senada menanggapi aturan main ujian ini, setidaknya melihatnya dalam tiga perspektif, logika akademik, logika kejujuran atau sekedar tebak-tebakan. Alasannya sederhana, waktu yang terbatas dengan jumlah test yang cukup berjibun membutuhkan ‘trik’ sendiri untuk menyelesaikannya. Kami seolah menjadi pembuktian dari ketiga logika berpikir itu. Jika melihatnya dari sisi akademik, mungkin bisa menjawabnya dengan tepat, tetapi jika itu yang menjadi standarnya, maka maksimal hanya bisa mengerjakan separuh pertanyaan, lalu bagaimana dengan soal-soal lainnya?
Pertanyaan itulah yang kemudian berentetan dengan dua logika berikutnya yakni; ‘kejujuran’ atau sekalian ‘tebak-tebakan’. Artinya; petunjuk soal untuk tidak mengerjakan soal yang batas waktunya usai, adalah uji nyali sebuah kejujuran peserta testing. Saya sendiri memilih untuk ‘mengikuti’ aturan main itu, meski sebenarnya cukup banyak waktu untuk ‘tidak jujur’. Namun pengalaman testing magister 3 tahun lalu di kampus ini pula membuat saya untuk menjawab apa yang saya ketahui, khususnya di TPA, sebab tidak jujur sekalipun hasilnya sama kala itu; tidak lulus!., sehingga mau tidak mau, urusan ‘kejujuran’ adalah hal yang paling saya kedepankan. Mungkin pemeriksa tidak mengetahuinya, tetapi saya meyakini adanya ‘kekuatan’ lain yang mengikuti perjalanan saya untuk mendapat ‘keberkahan’, saya amat meyakini Tuhan tidak pernah buta atas segala urusan makhluk-Nya.
Tetapi memasuki testing Bahasa Inggeris, yang pola ujiannya hampir sama dengan TOEFL, mengubah cara berpikir peserta ujian, termasuk saya. Apalagi pengawas memberi saran untuk menjawab keseluruhan soal yang ada. Alasannya sederhana, salah pun tidak mendapatkan denda. Beda dengan TPA yang punya denda kesalahan 0,2 persoalnya. Otomatis dibenak peserta yang sama sekali tidak mengenal bahasa Inggris, maka ‘tebak-tebakan’ akan menjadi pilihan utama.
Saya masih berusaha untuk jujur, mencoba mendalami perintah ‘soal’ yang memusingkan kepala. Dari 100 nomor yang disediakan, saya hanya bisa mengerjakan 56 pertanyaan ketika waktu masih tersisa 10 menit. Itupun belum pasti ‘benar’ atau ‘salah’. Maka insting bekerja untuk main di area ‘tebak-tebakan’, ternyata itu juga tak menyelesaikan masalah, sebab waktu yang tersedia, hanya bisa menebak 25 nomor saja. Waktu terserap pada ‘menghitamkan lingkaran’ jawaban. Saya pasrah, mungkin seperti itu Tuhan memberikan kemapuan pada saya.
Ketika masa ujian telah berakhir. Analogi berpikir saya mengatakan, sepertinya semua ‘testing’ yang diujikan, semuanya telah ‘dirancang’ untuk tidak dapat diselesaikan secara keseluruhan, meskipun menggunakan cara ‘tebak-tebakan’. Sebab waktu manusia punya naluri menganalisis, naluri untuk mencari yang benar. Maka satu kesimpulan mendasar dari ‘ujian’ hari ini, adalah makna dari sebuah kejujuran. Tentu ini amat terkait dengan salah satu filosofi pendidikan itu sendiri, bahwa pendidikan diarahkan untuk membangun manusia yang cerdas, berakhlak, dan mandiri. Bagaimana dengan Anda???....
------------------------ Jakarta Ba’da Isya, 14 April 2013.
SAYA kerap merasa geli dan tertawa sendiri tatkala mengingat masa-masa kecil ketika SMP Negeri 2 Pangkep era tahun 87-an. Kegelian itu muncul saat mengingat dua nama guru bahasa inggris saya, Ibu Agustina dan Pak Munir, dua orang yang punya watak berbeda. Ibu Agus, cantik dan rada seksi hingga ia kerap digoda siswanya sendiri. Sangat pas dengan hadirnya lagu lawas yang hits kala itu “ibu guruku cantik sekali, mengajar kami bahasa inggris..”. Sementara Pak Munir, sosok guru yang ‘inggris banget’, saking tulennya terhadap bahasa Inggris kerap saya mencandai beliau dengan kalimat seperti ini, “Bermimpi sekalipun, Pak Munir menggunakan bahasa Inggris”. Soal Pak Munir, saya amat mengenalnya, sebab beliau adalah kerabat keluarga saya, dan setiap bertemu beliau mewajibkan saya menyapanya dengan berbahasa Inggris. Sebuah ‘perbuatan’ yang membuat saya enggan bertemu beliau (hehehe).
Namun yang pasti, satu kesamaan mendasar antara Ibu Agustina dan Pak Munir adalah sosoknya yang tegas dalam mengajar termasuk dalam memberi tugas ‘PR’ bahasa Inggris ini. Saking tegasnya, kedua guru kesayangan ini rasanya menjelma seperti hantu. Saya baru maklum, jika ketegasan beliau-beliau semata didasari agar kemampuan bahasa Inggris siswanya bisa meningkat dari waktu ke waktu. Namun baru juga saya sadari jika sebenarnya ‘pola ketegasan’ ini secara psikologis memberi dampak buruk pada siswa terutama saya, yang merasakan beban berat ketika berhadapan dengan pelajaran ini. Bahkan dampak itu terasa hingga saat saya bersiap-siap memasuki jenjang pendidikan doktoral di Universitas Indonesia. Mungkin bukan hanya saya, banyak kawan-kawan ‘calon doktor’ juga ikut merasakan Bahasa Inggris ini sebagai ‘hantu akademik’ yang sepertinya bakal menjadi pengganjal dalam menghadapi ujian masuk di kampus terbesar di negeri ini.
Rasanya, saya ingin kembali ke lorong-lorong waktu tatkala masih duduk di bangku SMP, rasanya saya ingin kembali berhadapan dengan Ibu Agustina yang cantik dan galak itu, juga dengan Pak Munir yang setiap harinya ‘berburu’ Bule di Kota Pangkep sekedar untuk menikmati celotehan bahasa Inggris-nya. Saya baru tersadar, jika kemampuan berbahasa Inggris hanya dengan model percakapan ‘pasar’ tak cukup menjadi jaminan seseorang menyandang predikat calon mahasiswa doktor. Apalagi model-model ujiannya juga terasa asing dikuping, dari TOEFL, TOEIC hingga IELF. (entah apa singkatannya..rasanya ini seperti menjelma bak Jin Ifrit. Kok Jin yang dijadikan kambing hitam?)
Sepertinya saya ingin mengkritisi kebijakan kampus (bisa juga pemerintah) yang sepertinya mewajibkan kemampuan berbahasa Inggris seorang calon mahasiswa doktoral. Subjektifitas saya, kita ini orang Indonesia dipaksa mendapatkan selembar score TOEFL hanya untuk pemenuhan standar akademik yang mengikuti gaya barat. Apalagi saya tak pernah bermimpi akan bekerja di ‘negeri Bule’ sana. Mengapa tidak seperti kebijakan ala negara China yang begitu mudah memberi skor TOEFL tinggi bagi calon mahasiswa-nya yang akan kuliah keluar negeri? hitungan mereka sederhana. Apalah arti secarik kertas TOEFL itu? Berikan saja, sebab ketika di luar negeri, maka ia secara otomatis akan beradaptasi dengan bahasa dilingkungannya. Masa’ selama tiga tahun tidak bisa berbahasa Inggris jika dijejali ‘kata-kata’ itu saja. Saya sekalipun yang melihat bahasa Inggris sebagai hantu, lama kelamaan juga tidak ketakutan lagi.
Yah..apa boleh buat, ini resiko akademik yang siap-siap saya hadapi dikemudian hari. Apalagi, saya merasa tersugesti dengan tulisan rekan Yusran Darmawan, seorang anak Buton yang kini tengah menimba ilmu di Amerika sana. Beliau bertutur dalam tulisannya, “tak perlu ragu dengan Bahasa Inggris, sebab seorang Reinald Kasali-pun yang kini seorang guru besar di Universitas Indonesia, selama menimba ilmu di Amerika, bukanlah penutur bahasa Inggris yang baik”. Saya lalu bertanya pada diri sendiri, mengapa harus menjadikannya hantu? Tetaplah optimis sebab pada dasarnya saya cukup memiliki banyak vocabulary yang tentu menjadi modal dasar saya menghadapi ‘hantu blaw’ itu.
Kini saya punya pikiran sendiri. Dua ujian yang siap saya hadapi TPA dan TOEFL salah satunya harus ada yang lebih istimewa. Tentu bisa ditebak, saya lebih memilih fokus ke Tes Potensi Akademik ini. Soal TOEFL-nya biarlah waktu yang akan menjawabnya. Sebab saya sendiri punya keyakinan, jika hantu ini bisa saya beragus dengan sendirinya. “Don’t Worry, yesterday is nice day for you..keep spirit!” (enggak salah lagi nih? Hahahaha)...
Setelah sekian lama tak menulis dalam blog ini, rasanya ada kegelisahan panjang mendera dan menjadi pertanyaan saya untuk disebarkan kepada publik. Saya memulainya dengan satu pertanyaan yang saya alami sendiri. Apa urgensinya melanjutkan pendidikan ke jenjang Strata Tiga (S3) bagi seseorang berstatus PNS Daerah (PNSD)? Mungkin ini pertanyaan ‘bodoh’, tetapi fenomena ini banyak dialami seseorang yang berstatus PNSD.
Asumsi dasar pertanyaan ini amat sederhana, sebab umumnya PNSD selalu dihadapkan pada kondisi birokrasi yang selalu berhadapan dengan ‘iklim politik’ sebagai efek yang lahir dari Pilkada yang kerap memandang sebuah jabatan adalah hasil karya dan buah politik ‘kubu-kubuan’, siapa mendukung siapa, atau tergantung dari keinginan kepala daerah terpilih. Lebih terenyuh lagi, ketika ada pernyataan lazim yang menuturkan jika seseorang yang berpendidikan S3 tempatnya bukan di birokrasi daerah. Cukup saja S2. Kalau Anda mau sekolah setinggi-tingginya, Anda lebih baik jadi dosen. Waduh!
Memang pernyataan ini menggelisahkan dan sepertinya layak untuk di kritisi. Tetapi sulit untuk menyalahkannya, sebab fenomena di daerah menunjukkan hal itu. Umumnya budaya birokrasi daerah, adalah budaya ‘atasan-bawahan’, karenanya tidak sedikit seorang bergelar doktor dengan status PNSD juga cenderung ikut arus dalam pusaran budaya itu, dan mengabaikan nilai-nilai keilmuwan yang dimilikinya. Lalu, apakah perlu membenarkan bahwa seorang PNSD tak perlu sekolah setinggi-tingginya? Sulit menjawabnya, sebab regulasi kepemimpinan di daerah, sudah tertata sedemikian rupa, bahkan cenderung ikut arus dalam regulasi politik yang dihasilkan dari Pilkada.
Karenanya tidak mengherankan jika banyak PNSD yang mendapat kesempatan pendidikan S3 di kota-kota besar cenderung untuk mengubah haluan setelah menyelesaikan pendidikannya. Banyak diantaranya memilih beralih menjadi dosen, atau profesi lain, bahkan bertahan di wilayah dimana ia menempuh pendidikan, sebab strata keilmuwannya lebih merasa dihormati ketimbang ia harus kembali menjadi birokrasi daerah. Jika memang demikian, Apakah perlu membenarkan bahwa S3 tak perlu untuk seorang PNSD? Cikini malam hari, 17 Juni 2012.
Dua bulan terakhir ini terasa begitu paceklik bagi seorang mahasiswa pascasarjana seperti saya. Pintu-pintu ’uang’ yang seharusnya terbuka di saat-saat penyelesaian akhir masa kuliah sepertinya tertutup. Pilihan pulang kampung berkumpul bersama keluarga di daerah, juga bukan solusi terbaik, sebab secara langsung melibatkan istri dan anak-anak ikut larut dalam beban yang seharusnya tak perlu mereka ketahui. Tesis yang seharusnya sudah rampung ikut terbengkalai, karena larut dalam situasi-situasi yang terekonstruksi oleh keadaan. Bingung mau berbuat apa, sementara mimpi-mimpi terus membentang panjang, bila diriku harus tetap yang terbaik di mata mereka dan keluarga besarku.
Bagi orang lain, mungkin mereka berfikir jika seharusnya saya tak perlu bingung dengan keadaan, sebab saya dan istri punya gaji bulanan dari negara. Harusnya saya tetap fokus menyelesaikan tesis dan bersiap-siap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang saya inginkan. Idealnya memang begitu. Tapi entalah, jalan terasa begitu sempit dan seolah tak ada cahaya yang menuntun. Saya sadar, keadaan yang saya alami adalah buah dari rekonstruksi cita-cita yang masih panjang. Saya juga sadar, bila semua ini terjadi karena keinginan sesuatu itu berjalanan sempurna dan tak ada pihak yang dirugikan. Saya sadar, bila ini terjadi karena hidup saya telah ada ’standar’ tertentu dan tertekan oleh pandangan orang lain, bila saya bisa menyelesaikan masalah sendiri tanpa melibatkan orang lain. Dan saya lebih menyadari, jika Jakarta telah membentuk pola hidup saya yang terbangun dengan jaringan serba berkecukupan, sementara saya hidup dengan bekal dan pola hidup ala orang-orang daerah yang selalu mengutamakan kesederhanaan.
Ya! Saya harus memulai menjarit tesis-tesis saya yang terbangkalai dengan sepotong semangat yang tersisa. Sebab boleh jadi ini penyakit ’wajib’ yang dialami mahasiswa pasca jelang masa penyelesaiannya. Penyakit kejenuhan, yang sebenarnya bisa dialami oleh siapa saja. Saya hanya mencari waktu, kapan saat yang tepat untuk merajutnya lagi. Saya seolah mengumpul napas-napas yang tercerai berai karena kondisi yang terasa begitu berat.
Tetapi dibalik semua itu, saya menangkap makna yang menyadarkan saya bahwa kehidupan Jakarta dan daerah kesenjangannya begitu menganga, begitu lebar. Di Jakarta, ketika mengalami hal seperti ini, ada saja jalan keluar. Ada saja yang bisa dilakukan dan menghasilkan uang untuk menutupi kekurangan-kekuragan itu. Sementara di daerah, saya harus menuggu ’masa gajian’ tiba. Rasanya begitu sesak, jika menghitung-hitung besaran gaji dengan tingkat kebutuhan yang saya akan alami ke depan. Apalagi membandingkannya dengan nilai gaji daerah dengan tingkat kebutuhan bersatandar Jakarta. Rasanya benar-benar sumpek.
Mungkin ini pula yang menyebabkan mengapa Kota Jakarta menjadi sasaran kaum urban untuk mengadu nasib, meski mereka tahu bahwa Jakarta telah di imajinasikan sebagai kota yang begitu kejam. Bagi yang terbiasa hidup di Jakarta, image seperti ini, hanyalah bualan kaum elit Jakarta, yang tak ingin terganggu dengan kehadiran gelandangan dan pengemis (Gepeng), yang sebenarnya secara tidak langsung menjadi awal terkumpulnya pundi-pundi kekayaan mereka. Saya hanya ingin berkata, apa jadinya Jakarta tanpa kehadiran para Gepeng? Yang setiap hari mengumpul ’sampah-sampah’ para elit-elit itu.
Jika ada yang mengapologikan bahwa kehadiran kaum Urban di Jakarta semakin membuat ruwet dan macet perkotaan, itu juga alasan-alasan para elit, agar mobil-mobil mewahnya bisa melaju begitu cepat dan tepat waktu. Padahal kemacetan itulah yang membuat pundi-pundi kekayaannya juga semakin menumpuk. Saya meyakini, jika seandainya Jakarta lengang ala situasi lebaran, maka roda perputaran ekonomi akan berhenti. Hotel-hotel akan sepi, taksi-taksi akan kehilangan penumpang, dan pusat-pusat perbelanjaan akan lesu. Dan Jakarta akan menjelma tak ubahnya sebuah kota mati.
Ya, ini sebuah fenomena yang sebenarnya hanyalah jawaban dari sebuah apologi dari kesalahan terstruktur para elit negeri ini, yang telah membuat kesenjangan Jakarta dengan daerah-daerah. Yang telah membuat nyawa orang-orang daerah selalu menggantungkan harapannya dengan hiruk pikuk Jakarta. Saya hanya berharap, suatu saat nanti kedua kepal tangan ini akan merengkuh kesombongan Jakarta itu, lalu membaginya ke kantong-kantong daerah. Agar tak ada lagi pembeda kehidupan antara keduanya. (**)
Mungkin sepekan atau beberapa saat lamanya, saya larut dalam kekecewaan yang dalam. Seorang yang sangat kupeduli akan masa depannya, kucurahkan hidup untuk kuliahnya..membangun kesederhanaan untuk sebuah cita-citanya, ternyata menikam dari belakang. Padahal sebentar lagi awal cita-cita itu tergapai. Sebentar lagi kebanggaan itu akan datang. Sebentar lagi derajat itu akan meninggi.
Apa boleh buat semua menjadi sirna hanya karena akal yang tak berfungsi. Saya langsung berkesimpulan, bila ternyata pendidikan itu tak penting. Kenapa? Seorang calon sarjana bukanlah jaminan untuk hidup lebih layak, sebab mereka lebih memilih ’nikah paksa’ untuk masa depannya. Saya ingat kisah seorang professor di Amerika. Ia ternyata tak menyekolahkan anaknya pada perguruan tinggi. Sang professor lebih memilih mencari uang sebanyak-banyaknya, lalu dijadikan modal untuk membangun usaha. Anak-anaknya pun sukses meraih hidup tanpa gelar sarjana. Teori sang professor seolah menjadi pembenar apa yang saya alami saat ini.
Pendidikan itu ternyata tak penting. Saya pun mulai merasakannya. Saya pun sepertinya lemas untuk untuk menggapai gelar master apalagi gelar doctor itu.
Bantu saya mendapatkan apologi pembenaran bahwa pendidikan itu sangat penting!!!
Saat ini musim liburan sekolah telah tiba, bagi adik-adik yang berasal dari daerah khususnya yang berasal dari kawasan timur Indonesia dan ingin melanjutkan kuliah di di Jakarta, tentu punya tips tersendiri bagaimana menyikapinya, sebab keinginan kuat untuk kuliah di ibukota terkadang terbentur hanya persoalan sepele, yang seharusnya tidak perlu terjadi. Yang pasti kuliah dimanapun sama problemnya, sama keuntungannya, tergantung cara menyikapinya;
Berbagai pendapat senior terkait bagaimana cara bisa bertahan hidup dan kuliah di Jakarta, ternyata hampir senada. Padahal mereka datang dengan berbagai latar belakang ekonomi yang beragam pula, dari kalangan keluarga sedehana hingga kaya raya, pada umumnya mereka sukses menjalaninya. Beberapa pendapat itu diataranya;
a. Yakinkan diri Anda bahwa Jakarta memang pilihan Anda untuk kuliah. Sebab keyakinan adalah modal paling utama untuk kesusksesan dalam menjalani sesuatu.
b. Buang jauh-jauh pikiran negatif Anda tentang Jakarta sebagai kota yang kejam, banyak copetnya, apalagi menyebutnya sebagai kota yang angka kriminalitasnya tinggi. Jakarta tidak seperti, bagi mahasiswa Jakarta tetaplah pilihan terbaik, sebab seribu satu perguruan tinggi ada di sini, (namanya juga ibukota negara).
c. Yakinkan orang tua Anda, bahwa Jakarta sangat layak untuk sekolah.
d. Sebelum ke Jakarta, ada baiknya searching di internet, situs-situs perguruan tinggi di kota ini. Hampir semua kampus di Jakarta punya website yang mempublikasikan keunggulan-keunggulan kampus masing-masing; diantaranya Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Mercu Buana, Universitas Guna Darma, Universitas Paramadina, Universitas Trisakti, Universitas Sahid, Universitas Borobudur, YAI, Uhamka, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Bung Karno dan masih banyak lainnya. Mengapa harus mengetahui karakter kampus sebelum ke Jakarta, agar setelah di Jakarta langsung fokus pada tujuan.
e. Buang jauh-jauh pikiran Anda kalau Jakarta itu sangat jauh, sebab hari ini transportasi dan komunikasi bukan lagi sesuatu yang langka dan mahal.
f. Setelah memastikan pilihan kampus Anda, searching pula di internet, kawasan-kawasan pemukiman di sekitar kampus. Biasanya banyak bertebaran tempat-tempat kos mahasiswa, yang cukup terjangkau dengan kantong Anda. Ini penting, agar mahasiswa tidak terjebak macet, bila berangkat atau pulang dari kampus. (tentu ini khusus bagi yang ingin kos, dan tidak tinggal di rumah keluarga)
g. Soal Kos-kosan, tak usah ragu. Di Jakarta ’kehidupan bebas’ yang paling banyak ditakuti para orang tua, sebenarnya tidak perlu terjadi bila niatnya ingin kuliah. Di Jakarta banyak kos-kosan khusus pria atau wanita, yang terjaga ketat keamanannya, dan nyaman untuk dijadikan tempat tinggal, juga dengan harga yang terjangkau. Bila Anda datang bertiga atau berempat dengan kawan-kawan daerahnya., ada baiknya menyewa satu rumah sehingga biayanya bisa lebih irit. Tentu bila Anda juga ingin merasakan suasana kampung Anda sendiri selama kuliah.
Lalu bagaimana dengan biaya hidup selama tinggal di Jakarta? Benar, kalau harga kebutuhan hidup di Jakarta itu sangat tinggi, tapi ini berlaku bagi mereka yang suka menghabiskan waktunya di mal-mall atau tinggal di kos-kosan yang mewah. Padahal sebenarnya, Jakarta juga banyak pilihan yang terjangkau. Ya, kira-kira sama saja kondisinya dengan kita yang tinggal di daerah;
Yang pasti, tips utama Anda tinggal dan bertahan di Kota Jakarta, adalah bagaimana Anda bisa mengelolah dengan baik keuangan (yang sudah dijatahkan orang tua), bisa bersosialisasi dengan tetangga, mengenal kondisi kampus dan wilayah yang akan dituju, dan yang terpenting, bagaimana Anda bisa mengelolah kerinduan Anda pada keluarga.
Yakinlah, bahwa ketika Anda sudah tercatat sebagai mahasiswa di salah satu kampus di Jakarta, bentangkan pikiran positif Anda, bahwa Anda yakin bisa menaklukkan dunia Jakarta. Anda ke Jakarta tidak sendiri lagi. Yakinlah bahwa di Jakarta Anda akan bertemu dengan kerabat-kerabat Anda, yakinlah bahwa cara berpikir Anda akan berubah, dan yakinlah bahwa Jakarta akan memberi sesuatu yang terbaik bagi masa depan Anda.
Jadi apalagi? Jika Jakarta benar-benar pilahan Anda, maka sedari sekarang, rajin-rajinlah membuka situs-situs perguruan tinggi yang Anda akan tuju. Termasuk kondisi sekitar kampus Anda. Om Google, insya Allah akan bisa memandu Anda.
Selamat Datang di ibukota.!!!
Jakarta tidaklah kejam,
justru kitalah yang kejam terhadap jakarta
JAKARTA--Untuk era saat ini, nama Deddy Mulyana, MA.,Ph.D bagi kalangan akademisi komunikasi di Indonesia, bukanlah nama asing. Setidaknya, professor lulusan Monash University Australia itu sepertinya telah mengambil alih nama besar professor komunikasi lainnya di Indonesia. Sebut saja Prof Muis asal Makassar, seorang professor kawakan yang dulu sangat dikenal kepakarannya.
Kenapa? Karena buku-buku terbitan Deddy kini telah menjadi literature penting bagi pencinta ilmu komunikasi. Saking populernya, buku Deddy terus menjadi ‘best seller’ setiap kali diterbitkan. Saya tak tahu kenapa disebut ‘best seller’? apakah karena memang digemari ataukah sekedar ‘jurus ekonomi’ penerbitnya.Saya ikut menyebut ‘best seller’, karena hologram jingga yang tampil ‘eye catching’ dibagian sampul depan.
Awalnya, Saya menikmati buku Deddy Mulyana berjudul ‘Ilmu Komunikasi, Sebuah Pengantar’ hanya karena didorong banyaknya tugas kampus dan rekomendasi para dosen. Namun setelah membaca halaman per halaman, barulah Saya mengerti kenapa buku tersebut begitu digemari. Boleh jadi Saya hanya ‘berfantasi’ dengan buku tersebut, tapi dibalik itu, Saya benar-benar menikmatinya. Saya lebih senang menyebut dengan kata ‘melahap’ ketimbang ‘menikmati’ bab per bab buku tersebut.
Buku inilah yang kubaca seperti Novel Cinta...tapi belum ngerti juga..heheheh
Jujur,….dari total 466 halaman buku tersebut, Saya baru membaca 308 halaman. Hampir rampung. Saya membacanya seolah membaca sebuah novel percintaan yang lagi popular seperti ‘Bumi Cinta’ atau ‘Laskar Pelangi’-nya Andrea Hirata. Saking asyiknya, Saya seolah belum mau membaca buku komunikasi lainnya, seperti ‘Theories of Human Communication’ karya Steven W. Littlejhon dan Karen A.Foss. Padahal buku Littlejhon ini dikenal sebagai ‘kitab sucinya’ para akademisi Komunikasi.
Katanya buku inilah yang jadi 'kitab suci' orang kumunikasi..masa sih...
Saya tidak bisa mengungkap dalam kata-kata, apa sebenarnya ketertarikan Saya pada buku Deddy ini. Saya belum bisa mengambil kesimpulan. Tetapi, bahasa sederhana yang dipakai Deddy dalam menuturkan ‘ilmu komunikasi’nya membuat Saya tak ingin berhenti membacanya. Yang Saya tangkap, Prof Deddy begitu menguasai alur pikir orang Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Bahkan bisa membandingkan alur pikir bangsa lain, terhadap bangsa-bangsa lainnya di dunia ini.
Ketika masuk dalam pembahasan ‘Komunikasi Verbal’ dihalaman ke-300-an, Saya seolah hadir bersama prof Deddy berkeliling Indonesia, menyelami satu bahasa dengan bahasa lainnya di Indonesia. Saya seolah hadir dan bertanya kepada hampir semua suku, apa makna dari bahasa yang ia ungkapkan suku itu. Karena menurut Prof Deddy, di Indonesia, banyak persamaan bahasa antar suku di Indonesia, namun memiliki makna yang sangat berbeda.
Disinilah kelugasannya, Prof Deddy seolah ‘ahli bahasa-bahasa daerah’ yang mampu menterjemahkan, mampu menyambungkan, dan mampu mempertemukan dimana letak perbedaan maknanya. Berat memang, tapi bacalah secara santai. Yakin Anda juga bisa merasakan hal apa yang Saya alami.
Meski telah melahap buku ini, sekali lagi Saya ingin mengatakan, bahwa Saya belum bisa menjawab secara terstruktur isi buku tersebut. (bila ada yang bertanya pada Saya). Yang Saya ingat betul, hanyalah fungsi bahasa yang katanya harus memenuhi tiga fungsi. Masing-masing; pertama, Untuk mengenal dunia sekitar kita. Kedua, untuk berhubungan dengan orang lain, dan Ketiga, untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan kita. Masih berat?? Terserah Anda.
Buku ini memang sekedar ‘Pengantar’, yang bagi Saya terbilang telat membacanya dibanding mahasiswa yang S1-nya berlatar belakang komunikasi. Tapi, buku ini telah menginspirasi Saya untuk menuntaskannya, meski (sekali lagi) isi buku belum tertancap benar di otak Saya, dan masih ‘mengawang-awang’ bagai angin yang hanya terasa tiupannya, tapi masih menerka bentuknya.
Lalu apa yang Saya peroleh dari buku Prof Deddy ini?? Otak ini masih lambat loading, untuk menangkapnya. Saya hanya heran, baru buku ini yang membuat Saya ‘asyik’ untuk menuntaskannya. Kenapa bisa?? Entalah, yang pasti otak Saya seolah bicara. “Tunggulah, suatu saat kamu akan mengingatnya. Waduh, kapan Bang Otak???? Heheheheh….
Hamzah Palalloi. Nama yang aku gandrungi dalam setiap mempublish tulisan-tulisan sederhanaku. Sebenarnya, namaku hanya ‘Hamzah’ saja tanpa embel-embel. Kata Palalloi, adalah nama kecil ayahku yang sering kudengar bila Sang Ayah disapa oleh Kakek-Nenek juga saudara-saudaranya. Kuingin namaku dan nama ayahku terpatri satu dalam kata. Hamzah Palalloi. Nama yang bila sering dipikir, menjadi khas dan bertalenta, bahkan mungkin berkarakter (puji diri nih...).
Sengaja kuperkenalkan nama ini, untuk memulai letupan arus kata dalam benakku yang tak tahu harus memulai dari mana. Banyak sekali, sehingga kata-kata itu seolah berlomba dan meminta, “ayo mulai dari Aku”...”Ceritakanlah sugesti pikiran-pikiranmu, siapa tahu kelak bisa bermanfaat bagi dirimu dan juga mahluk yang ada di sekitarmu”...
Kehadiranku di Jakarta dimotivasi keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Dan pilihan itu jatuh pada Universitas Mercu Buana Jakarta. Orang Jakarta meringkasnya dengan sebutan UMB, sama dengan sebutan UMB bagi Universitas Muhammadiyah Buton yang ada di kotaku. Karena persamaan itu, saya pernah diolok sama rekanku. “Kenapa kuliah di UMB, katanya mau ke Jakarta, kandas ya?” begitu protesnya, karena menganggap UMB itu Universitas Muhammadiyah Buton di Kota Bau-Bau Sulawesi Tenggara.
Kepincut Nama-nama Besar
Tentu saya bangga masuk di Mercu Buana Jakarta...apalagi di pasca sarjana program Magister Ilmu Komunikasi. Minatku sudah kupatok dari awal pendaftaran, Komunikasi Politik. Entah kenapa itu yang kupilih, yang pasti egoisme kemanusianku juga ikut berkata. “Bagus itu, bergengsi dan lagi trendy”. Mungkin saya latah melihat kesuksesan seorang Effendi Gozali, Yudi Latif, Farid Hamid, Hardiyanto Jatmiko, dan beberapa pakar komunikasi lainnya yang kerap bermunculan dari berbagai media massa. Saya latah, tetapi saya ingin berbeda dari semua nama besar itu, yang ternyata juga dosen-dosen pengajarku, kelak hingga selesai. Amien.
Bukan sekedar latah-latahan, nama besar Universitas Mercu Buana memang merebak kemana-mana. Kadang terdengar kalau kampus berjaket almamater merah cerah ini, adalah kampus beberapa selebriti tanah air, kampusnya kaum elit dan eksekutif, mahasiswinya cantik-cantik, sehingga ada yang berpesan padaku “Jaga isi kantong saja, disitu Anda bergaul dengan para selebriti,”...
(foto atas : Rektor UMB, Dr. Ir. H. Suharyadi, MS, tengah : Direktur Pemasaran UMB : Ir. Yenon Orsa, Bawah : Ketua Yayasan Menara Bakti : Bp. Probosutedjo)
Memang benar, Mercu Buana memiliki mahasiswi yang cantik dan pesolek, yang bisa membuat libido kehidupan kita ikut bergairah (hehehe), memang benar disini banyak selebriti, sebab abang-none Jakarta banyak di ‘produk’ dari kampus ini. Memang benar, elit dan eksekutif banyak hadir di Mercu Buana...sebab kampus ini dibawah naungan Yayasan Menara Bakti pimpinan Bapak Probosutedjo, adik mantan Presiden Soeharto. Tapi jangan heran kalau biaya pendidikan Magister di kampus ini sangat terjangkau, bahkan jauh lebih murah dibanding perguruan tinggi lainnya di negeri ini.
Nama besar Probosutedjo juga ikut andil ‘memaksaku’ kuliah di Mercu Buana. Tentu pula sejumlah akademi berlaber proffesor dan doktor. Ya!, saya dipengaruhi nama besar Probosutedjo. Kenapa? Apakah ia karena Adik penguasa Orde Baru? Ya!, saya harus menjawabnya secara jujur. Apalagi membaca pikiran dan visi sosok Probosutedjo, yang pernah berkata semasa ia kecil dan kesulitan menempuh pendidikan. “Andai saja kelak saya dewasa dan sukses, maka saya akan mendidirikan lembaga pendidikan,” luar biasa..!!
Bukan itu saja, hampir semua daerah di Indonesia diserang virus dan wabah kelas jauh dari sejumlah perguruan tinggi, baik level negeri maupun swasta yang menawarkan ‘paket-paket gampang’. Gampangnya, karena kuliah ‘keseringan’ di daerah, ‘hanya sekali’ ke kampus (karena kejauhan, letaknya ada di Jakarta, Makassar, Surabaya dan kota-kota lainna) satu tahun lebih sudah dapat gelar Magister dengan berbagai model, ya M,SI, MM, M.Sc, MBA dll. Saking banyaknya lulusan seperti ini, ada rekan saya mengistilahkannya alumni STIA..Sekolah Tidak, Ijazah Ada...(heheheheh...maaf ya? Kalo ada STIA yang beneran)
Saya tidak ingin menggunakan paket gampang itu, saya ingin serius dan Mercu Buana-lah pilihan saya, apalagi nama besar Prof Dr. Didik J. Rachbini adalah guru besar yang bercokol di Mercu Buana sejak lama. Seorang ekonom besar di negeri ini, mantan anggota DPR-RI, meski pada Pemilu lalu, Prof Didik ‘kalah’ dari kepopuleran seorang Eko Patrio. Pelawak kenamaan negeri ini...(Maaf Prof, saya hanya mengutip pernyataan Pak Rektor saat pengarahaan mahasiswa baru...) Atau ada yang ingin berkata...pantas negara ini sudah jadi lawakan...professor aja kalah dari pelawak....hahahah...
Besarnya minat Saya bergabung di Mercu Buana, sebesar arti nama Mercu (Sumbu) dan Buana (Dunia), Saya ingin menjadi penerang dunia dalam hal apa saja, yang paling sederhana, adalah melalui tulisan-tulisan yang sederhana pula.
Saya memandang kampus ini, bagai spektrum angkasa raya, yang berhias kerlap bintang dan planet-planet. Siapa yang bisa kesana, tentu hanya orang yang memiliki kemampuan khusus, yang kelak bisa menjadi warna indah dimalam hari. Saya pun berkata, Adakah Bintang kelak lahir di Mercu Buana?
Menyelami Pikiran Rektor
Seorang rekan seangkatan dan sejurusan asal Ambon, kebetulan berprofesi sebagai jurnalis bernama Taufik membuatku terkekeh-kekeh saat acara pengukuhan mahasiswa angkatan 17 tahun 2010 dalam percakapannya Taufik berkata begini;
“Bang Hamzah, nama Rektor tuw sapa?
“Abang harus tau itu, jangan sampai ditanya dorang, sapa pung Rektor tidak tau..malu kan? Nanti kita dibilang Dorang, STIA lagi, Sekolah Tidak, Ijazah Ada..malu kan, saya ini jauh-jauh dari Ambon...”
Saya pun balik bertanya. “Tofik tau kah?, beberapa rekan disampingku juga bingung, terus merogoh berkas-berkas yang ada. Si Taufik tidak kalah sigap. “Ow..Doktor eh...saya kira Proffessor. Namanya Doktor Insinyur Haji Suharyadi, MS..Bang Hamzah, Em Es itu apakah?”
Saya hanya mencermati keluguan seorang Taufik dengan gaya Bahasa Ambon yang khas, Taufik memang belum paham kalau rektor itu ‘jabatan politik’ disebuah perguruan tinggi. Juga tidak membahasnya kalau sebenarnya MS itu gelar dari mana, tidak juga menjelaskan, kalau sebelumnya gelar yang digunakan rektor awalnya adalah PHd, gelar akademik luar negeri yang sama dengan doktor. Itu menurut sepengetahuan Saya.
Ketika Rektor tampil memberi sambutan dan meperkenalkan pejabat struktural Kampus Mercubuana, sejumlah nama Guru Besar dan juga Doktor ikut disebut satu persatu, termasuk memperkenalkan sosok Ir. Yenon Orsa, MT, direktur Program Kelas Karyawan yang belakangan ini sukses merekrut mahasiswa cukup banyak dengan tingkat selektifitas yang gradual pula. Maklum untuk kelas ini, Pak Yenon mampu merebut 1200 mahasiswa lebih tahun ini. Bahkan untuk Magister, diperkenalkan kepada mahasiswa, jika Mercu Buana, adalah PTS terbesar di Indonesia. Tentu, kata yang menjadi motivasi bagi mahasiswa yang telah mendaftar kesana.
Taufik pun sempat nyeleneh...”Abang, beuh..ternyata torang kuliah di sini tidak main-main. Abang, beta mo kasi liat orang di Ambon, kalo beta so kuliah di Mercu Buana, itu bargengsi...bargengsi samua...hehehhe...Taufik terkekeh dan sangat serius mendengar pengarahan Rektor. Setetes keringat terlihat jelas di dahi Taufik, wajahnya sumringah, aroma ‘nafas kasturi puasa’ sedikit menebar kemana-mana... “Abang..kepalaku so siap balajar”, Taufik tampak tak sabar menunggu kapan diriya disibukkan dengan jadwal perkuliahan.
Diatas tribun, Rektor sementara menyampaikan pesan-pesannya. Ada satu pokok pikiran yang menurtku perlu dikaji dan dikritisi lebih akademisi. Pak Rektor menyebut Universitas Mercubuana kini tengah membangun moral.
“Caracter Buliding, menjadi hal yang tak lepas di Mercubuana”
“Budayakan hidup sehat tanpa merokok, kampus ini bebas rokok, kalaupun ada, silahkan di kawasan Kantin”
“Dan yang paling penting, kampus ini bebas Narkoba, saudara-saudara jangan coba-coba membawa narkoba di kampus ini, tidak ada ampun disini, sekali ketahuan, maka terpaksa kami mengeluarkan Saudara”
“Bagi saudara yang pernah menjadi pecandu dan kini telah dianggap sembuh, kami Ingatkan untuk tidak mengulangi lagi...”
“Bangsa ini harus dibangun dengan penuh semangat, dedikasi, moral yang baik, dan tentu kita ingin menjadi yang terdepan,” begitu kata-kata Rektor yang sempat saya kutip.
Saya menilai, ungkapan Pak Rektor bukan sekedar pesan, gaya berbicara, langgam bahasa, dan body lagguage seorang Rektor menurutku, pengambaran kepribadiannya, Saya menangkap sosok Pancasilais dalam cara berpikirnya. Sebuah idiologi yang kini tak pernah lekang dalam ingatanku. Sebuah idiologi yang menurutku perlu ditanamkan di kampus..sebuah idiologi yang menurut orang ‘dogma Soeharto’ tapi menurutku itu yang terbaik.
Ada beberapa kalimat yang sangat Saya ingat hingga saat ini dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kalimat itu diantaranya; ....ada beberapa hal yang harus dipakai dalam negara Pancasila seperti ini, yakni tidak boleh mengembangkan fanatisme yang berlebihan, sistem Free Fight Liberalisme, dan sistem Etatisme, dan monopoli....(wah Pancasilais buanget...)
Yang pasti, Saya punya niat kelak saya ingin mendebat Pak Rektor dalam hal-hal membangun caracter building...kelak pula Saya punya waktu, ruang dan dana yang cukup untuk menulis sebuah buku tentang seputar kehidupan di Mercu Buana.....
Maaf..sebenarnya tulisan ini masih panjang..tapi waktu berbuka sudah menanti...kali waktu saya sambung lagi....