» » Uji Nyali Terakhir di Sudirman, Cerita Hari Ini

Uji Nyali Terakhir di Sudirman, Cerita Hari Ini

Penulis By on 20 May 2013 | No comments

Jakarta Sahid Residence, Kompleks Perkuliahan Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta
“Tetap bersemangat, dimanapun Anda pasti bisa!” ini sepenggal ungkapan penyemangat dari banyak kawan yang saya terima dua hari ini pasca ‘ketidak beruntungan’ saya masuk di ‘babak akhir’ program doktoral Komunikasi Universitas Indonesia. Pesan-pesan itu silih berganti datang via sms, facebook hingga komentar di blog ini. Saya amat terkejut dengan perhatian kawan-kawan ini, dan tentu saya merasa bangga jika perhatian itu saya menemukan banyak kawan-kawan setia di ibukota ini.

Saya bisa memaknai banyak pesan-pesan itu. Tidak sekedar menjadi cambuk untuk berhenti bermimpi. Impian untuk mempersembahkan gelar doktor pada kedua orang tua saya yang sewaktu saya masih anak-anak, pernah berkata “saya ingin menyekolahkan anak-anak saya tapi saya miskin, tetapi mengapa orang-orang kaya itu lupa menykolahkan anak-anakanya?” begitu kata ibu pada bapak saya.

Makna lain, kawan-kawan ini memahami semangat bersekolah dan dinamika  yang saya tunjukkan sejak magister, sementara istri di kampung halaman tetap mengobarkan api cita-cita itu“tetap semangat, mungkin di kampus itu kakak belum berjodoh, carilah yang kakak inginkan, selagi masih ada jalan”. Tentu saya suka pesan-pesan itu dan menjadi pembangun tidur kekecewaan itu.

Hari ini, saya mulai menjelajah alternatif impian saya di Program Doktoral Komunikasi Universitas Sahid (Usahid), yang terletak di kawasan elit Jakarta di bilangan Sudirman. Saya amat berharap bisa lulus di kampus ini. Ini target akhir sebab ke Bandung, Jogja, Surabaya atau Makassar atau ke luar negeri seperti yang banyak diimpikan kawan-kawan lain, banyak hal yang saya pikirkan. Jakarta memang wahana uji nyali ‘kekampungan’ saya.

Hari ini saya resmi mendaftar, mengisi formulir, hingga diskusi kecil tentang prospek S3 komunikasi Usahid. Saya banyak bertanya, sebab kampus ini satu-satunya institusi swasta penyelenggara S3 komunikasi. Saya berpikir pendek, tentu saya akan banyak mengeluarkan biaya dibanding kampus-kampus negeri. tenryata tidak, sepertinya relatif sama, termasuk pengajar yang banyak berasal dari kampus-kampus negeri sperti UI dan Unpad. Bahkan ketua Prodinya, juga Dekan Fakultas Komunikasi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsono. Guru besar yang sempat mewawancari saya di test akhir UI. Rasa-rasanya jadi ‘malu’ jika bertemu prof ini lagi, apalagi saya masih menunggu panggilan wawancara lagi beberapa hari kedepan, juga dengan prof ini. Tapi saya membuang jauh-jauh pikiran itu. Target saya hanya satu. Kuliah. Siapapun orangnya, tentu harus siap menghadapinya, meski dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki.

Satu yang membuat saya bergidik di kampus pascasarjana Usahid ini, adalah letaknya yang strategis di jantung ibukota. Tentu jika kelak di semester ini saya dinyatakan diterima sebagai mahasiswa, maka saya perlu membuat perencanaan matang tentang pengaturan waktu, keuangan dan cara tercepat menembus kemacetan. Maklumlah, saya yang kos-kosan di Cikini, tidak jauh dari kampus ini butuh waktu 45 sampai 60 menit menembusnya. Selain itu tempat perkuliahan tidak digelar di kampus induk di kawasan Tebet, tetapi di ‘Residence Sahid’, salah satu kawasan elit dan mahal dibilangan Jakarta.

Residence Sahid ini dikepung oleh banyak gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Dikepung oleh banyak perkantoran dan kawasan perekonomian elit. Sejak berada di sana, tak terlihat pergerakan ‘ekonomi rakyat’ ada di sana. Saya tak melihat pedagang kaki lima, warung-warung tegal atau sekedar pedagang rokok eceran. Semuanya serba modern. Mahasiswa Sahid yang mengambil jurusan ‘Ilmu Pariwisata’ tidak tampak seperti banyak mahasiswa umumnya, mereka berbusana khusus, rapi dan diatur beradasarkan tata tertib kampus. Mungkin karena mereka khusus di pariwisata dan perhotelan.

Mahasiswa S2 dan s3 pun yang sementara belajar pun menyesuaikan cara berbusana, atau sekedar bercakap. Saya mulai paham, jika harus ada penyesuaian komunikasi budaya di sini. Maklumlah, siapapun yang kesana pasti akan menyesuaikan diri dengan budaya lingkungan orang-orang berjas itu. Ini tentu sesuatu yang belum lazim bagi saya. Tetapi mau tak mau, jika kelak saya kuliah disini, maka saya pun harus ‘berlagak’ orang gedean (hehehehe... pikirku seru juga nanti)...

Tetapi saya amat senang, meski benar-benar di kawasan elit, tetapi di depan kampus terdapat masjid yang akan bisa mengasah keimanan siapapun orang yang berakifitas di kawsan ini. Satu kalimat setelah ‘memantau’ kawasan ini adalah doa yang pada Sang Pencipta. “Ya Allah mudahkan urusanku, aku berharap bisa kuliah disini. Amin. **
--------------
Jakarta Ba’da Magrib, 20 Mei 2013










Baca Juga Artikel Terkait Lainnya
comments