21 March 2014


sepatutnya, reformasi 1998 telah mengantarkan anak bangsa ini untuk lebih mahfum melihat hitam dan putih perjalanan negeri ini. Disana ada kebebasan yang terasa menjadi nikmat dalam mengolah lisan, nikmat dalam memilih apa yang kita sukai, dan nikmat dalam menyaksikan belasan tayangan media, dan kita nikmat dalam kepuasan tertawa untuk saling menjatuhkan diantara anak bangsa sendiri…

kita menyebut situasi itu sebagai  buah demokrasi. semua bisa tertawa, semua bisa mengkritisi bahkan bisa saling membunuh diantara sesama anak bangsa. bahkan ketika saudara-saudara kita di Timor Leste melambai tangan melepas diri dari bangsa besar bernama negara kesatuan republik indonesia, banyak yang tersenyum kecut dan bertanya, sebebas ini negeriku?

ada kesadaran jika sebenarnya kita butuh pemimpin yang kuat, berdedikasi, tak mudah diatur oleh kekuatan elit tertentu, lantang dalam membela harkat dan martabat bangsa serta gigih dalam memberangus kerangkeng korupsi. bahkan kita sadar jika sebenarnya kita butuh pemimpin yang mengayomi,  tetapi mengapa kita tertawa lepas jika kita disodorkan pemimpin yang selalu menjadi tertawaan bangsa lain?

Gus Dur memang hebat, pluralis, baik dan merakyat, berpihak pada kebebasan media, tetapi kita lupa jika sematan dan pujian itu hanya berlangsung sesaat dan kita sendirilah yang mengolok-olok pemimpin itu, bahkan menjatuhkannya? mereka menyebut kita bangsa badut, tetapi kita selalu berkelit dengan ungkapan bangsa ini bangsa besar.

kini 2014 telah tiba, bangsa ini kembali disodorkan ragam pemimpin dengan aneka merek. tetapi kita justru memuji pada mereka yang tak memelihara komitmen dan kepercayaan rakyat dengan seribu satu alasan. padahal kita memahami, mereka yang hianat terhadap kepercayaan itu seibarat gelas yang pecah dan sulit untuk merangkainya lagi. apakah kita menyukai hal seperti ini? terserah pribadi masing-masing, tetapi saya berkata lantang; saya tak menyukai para pelanggar komitmen dan kepercayaan yang diamanahkan rakyat. sebab bangsaku bukan bangsa badut!

kita juga terpana manakala seorang pemimpin diberi sematan hewan oleh seorang pengembalanya. dia kerempeng, tetapi dia banteng!. miris mendengarnya, tapi kita larut dalam hiruk pikuk iluminatif dan bertepuk tangan dengan keringat yang mengucur. seperti badut yang selalu membuat kita tertawa setelah pentas itu usai…selalu bersemangat ketika memilih, tetapi menggerutu usai memilih..salah siapa? bukan salah siapa-siapa, tetapi kita cenderung menyukai politik bangsa ini dalam pentas badut-badutan 

apakah kita bangga dengan sematan bangsa badut? tentu tidak. tetapi mengapa menyukainya? inilah kenyataan yang mengalahkan logika logis kita…
-------------------------
Hamzah Palalloi
pencinta bangsa besar 

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX