02 March 2014

Da’I  mantan preman bukan lagi cerita usang di negeri ini. Cukup banyak tokoh yang kerap dipertontonkan media, sebut saja Jhonny Indo, Anton Medan dan lain-lain yang namanya sudah ‘menasional’. Tetapi bercerita tentang sosok Rahmat Jaya Rahman, yang dikenal dengan nama ‘Rahmat Tatoo’, lelaki seumuran 34 tahun ini memang tak banyak publik yang mengetahuinya, apalagi ia hanya berdiam di Baubau, sebuah kota kecil di Pulau Buton-Sulawesi Tenggara, dan jauh dari hiruk pikuk pemberitaan media, mana ada yang tahu.

Tetapi aktivitasnya sebagai seorang pendakwah (da’i muda) dengan materi-materi ke-islaman yang mudah di cerna, lafaz-lafaz ayat Ilahiyah yang mengalir indah dilisannya, dan sikapnya yang selalu merendah membuat jamaah di Kota Baubau banyak yang terpukau. Saya sendiri mengklaim, jika pemuda ini layak menjadi seorang da’i berlevel nasional. apalagi kini, ia mencoba menjadi seorang penghafal Alquran (Hafidz). Subhanallah. “Rahmat benar-benar mendapat rahmat dan hidayah” pikirku.

Melihat ia berdakwah di masjid-masjid, utamanya ketika ia tampil  di masjid Raya Kota Baubau, selalu dipenuhi jamaah. Bisa jadi karena materi ceramahnya yang memukau, bisa jadi keheranan dan kagum dengan pemuda yang ‘masa lalunya’ di kenal sebagai sosok preman yang kerap membuat onar. apalagi jika melihat tubuhnya yang dipenuhi tato (rajah), sungguh di luar dugaan jika lelaki dengan anak empat orang ini, bakal menjadi seorang pendakwah.

3 hari lalu, saya menyempatkan diri bertemu dengan pemuda ini di kediamannya di sebuah rumah BTN di Baubau, dengan satu tujuan mendegar langsung ‘kisah-kisah’ hidup Rahmat  dari perjalanannya sebagai preman hingga kini menjelma sebagai seorang Da’i.

Sejenak terkesiap ketika tersingkap dilengannya sejumlah hiasaan tatoo (rajah) yang melekat di tubuhnya. Saya pun meminta Rahmat untuk ‘menampilkan’ tatoonya itu. Astagfirullah, saya mengklaim jika kulit tubuh Rahmat ini 80 persen dihiasi tatoo, sebab hanya leher, wajah, telapak tangan dan tumit hingga kakinya yang bersih dari tatoo ini. makanya wajar jika namanya kemudian lebih di kenal sebagai ‘Rahmat Tatoo”. “Saya sangat malu dengan tubuh saya ini, tetapi saya lebih malu jika saya tidak bertaubat sebesar-besarnya kepada Allah SWT. Mohon jangan foto saya, saya sangat malu” tuturnya singkat.

Memulai hidupnya sebagai seorang pendakwah adalah proses yang menurutnya bermula dari sebuah ketidaksadaran, ketika ia dalam sakitnya tidak diabaikan keluarganya, bahkan saat pengobatan Rahmat meminta kepada istrinya untuk ‘berobat kampung’ di sebuah dusun kecil di Pulau Kabaena, tempat tinggal istrinya. Di sana pun ia seolah ‘diasingkan’ sebab tubuhnya mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat. “Mungkin takut menular pada yang lain, sehingga yang mengobati saya minta saya di simpan di gubug kecil di tepian hutan yang jauh dari warga. saya terima saja, sebab saya ingin sembuh” katanya.

Setiap kali ia merasakan sakit yang teramat sangat, maka itu pula tergiang di telinga lantunan ayat-ayat Alquran. Begitu pengakuan Rahmat. Karena seringnya ayat-ayat itu terdengar, lambat laun ia pun menghafalnya, bahkan ia juga seolah-olah tahu makna ayat-ayat itu. Karenanya dukun yang mengobatinya kerap mengingatkan Rahmat untuk bertobat. berbulan-bulan sakit itu dideritanya, dan berbulan-bulan pula ia mendapatkan ilmu-ilmu Agama. “Alhamdulillah, Allah SWT masih sayang, hingga memberikan kesembuhan dan saya bertaubat,” singkatnya.

Jalan insyaf Rahmat, tak membuat keluarganya dan rekan-rekannya tak percaya begitu saja, apalagi ia kerap mengingatkan kawan-kawan sepergaulannya untuk bertaubat dengan ayat-ayat Allah yang diketahuinya. bahkan kerap sekali ia diminta untuk kembali mabuk-mabukan, sebab Rahmat belum mendapat kepercayaan dari kawan-kawannya sebagai sosok yang telah insyaf. apalagi jika melihat tubuhnya yang penuh rajah. Siapa pun pasti mengatakan dirinya seorang preman.

Bahkan ketika ia meminta maaf kepada ibunya, dengan meminta untuk mencuci kaki ibu yang disayanginya itu untuk dipakai berwudhu sebagai tanda pertobatannya, juga di tolak. karena lagi-lagi tak percaya. “Siapapun tak akan percaya, mungkin beliau mengira tingkah saya ini akal bulus belaka, dan wajar saja jika tak percaya, sebab 23 tahun hidup saya di dunia hitam, heheheh. saya maklum dengan semua itu” ujar Rahmat terkekeh.

Panjang sekali cerita Rahmat terkait perubahan hidupnya. Publik Kota Baubau baru percaya secara lambat laun, ketika Rahmat mulai melibatkan dirinya berkumpul dengan jamaah-jamaah, dan seringkali melakukan tablik berkeliling melakukan dakwahnya. Namanya pun mulai melambung sebagai sosok pendakwah ketika ia kerap diminta untuk menjadi Da’i di masjid Raya Baubau, masjid terbesar di Pulau Buton. Apalagi dakwah-dakwahnya tidak se ektrim banyak Da’i yang kerap membuat ummat ketakutan. Bahkan sangat segar karena candaanya yang ringan. Bahkan  mantan Walikota Baubau dua periode, mumuji Rahmat sebagai seorang penda’i yang cerdas dan pandai melihat apa yang diinginkan jamaahnya. “Pemuda luar biasa yang benar-benar memperoleh hidayah Allah SWT,” puji Amirul Tamim, yang juga Caleg DPR-RI asal Sulawesi Tenggara dari PPP.

Menyinggung soal politik. Ternyata Rahmat kini dipercayakan sebagai caleg untuk DPRD Kota Baubau dari Partai Gerindra, besutan Prabowo Subianto. terkait soal ini, Rahmat tak ingin berkomentar panjang. “Alhamdulillah, jika saya dipercaya, saya menerimanya, semoga saja berkah” tuturnya.

Kini hidup Rakhmat yang sederhana, begitu banyak ia habiskan untuk dakwah, tetapi ia tak mengurung dirinya dengan tertutup pada yang lain. Pengakuannya, sesekali ia bertemu dengan mantan kawan-kawan ‘premannya’ sekedar mengingatkan untuk bertaubat, kerap bertemu dengan politisi-politisi dan elit Kota Baubau lainnya, lagi-lagi juga untuk dakwah.

Perubahan hidup Rahmat membuat banyak orang di kota ini, ingin sekali mendegar banyak cerita tentang dirinya, seperti sepenggal cerita singkat ini. Sayang sekali ia tak ingin diabadikan foto dirinya, apalagi tentang rajah yang melakat ditubuhnya. Satu-satunya, foto yang bisa penulis peroleh, adalah fotonya yang terpampang di daftar Caleg KPU Kota Baubau.

Ada cerita lucu terkait pencalonannya sebagai Caleg Gerindra. Ketika periksa kesehatan, dokter kebingungan mengambil darah di tubuhnya yang penuh Tatoo itu. “Kok hitam semua Pak Rahmat, ambil sampel darahnya dimana, kok semuanya penuh Tattoo?” kata dokter itu. Rahmat menjawab singkat, “jika semuanya sudah penuh tinta Tattoo, di pipi saya saja dokter,” ujarnya tergelak.

                                                                                   **

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX