27 October 2014

Terasa ada kegetiran dalam batin manakala mendengar seorang kakak, dan juga seniman Sulawesi Selatan Asdar Muis, RMS berpulang keharibaan-Nya, semalam di RS Pelamoni Makassar. Getir, sebab melalui pesan singkat, saya ‘membuat kontrak’ untuk bertemu dengannya pada pertengahan November 2014 mendatang di kampung halaman, Pangkep.

Sebuah ‘kontrak’ untuk membantu saya dalam kegiatan penelitian penyelesaian disertasi yang tentu banyak bersentuhan dengannya. Tetapi lebih dari itu, saya ingin merekatkan ikatan darah yang telah tercecer jauh karena jarak dan waktu. Kak Asdar banyak berkelana dari kota ke kota di nusantara itu, demikian hanlnya dengan saya. Sehingga (dalam ingatan) tak pernah bertemu sekalipun selama masa hidupnya.saya memanggilnya kakak, sebab berbilang belasan tahun lebih berumur dari saya. Itu juga cerita dari kedua orang tua saya, yang juga paman dan tante Kak Asdar.

Saya hanya akrab dengan adik bungsunya Adnan Muis yang menjadi kakak kelas di SMA 1 Pangkep, dan ibunya, tante Rahmatiah (juga almarhum) yang pernah menjadi guru dan kepala sekolah saya di SMP Negeri 2 Pangkajene. Sementara ayahnya Om Muis, telah wafat di saat saya masih kanak-kanak. Praktis saya tak mengenalnya. Lagi-lagi cerita tentang trah keluarga ini hanya diperoleh dari penuturan ayah dan ibu saya, dan juga saudara-saudara  lainnya.

Dua tahun silam, ketika saya baru menyelesaikan pendidikan magister, saya bertemua via facebook, arena social yang dimanfaatkannya untuk menuliskan gurat-gurat kehidupan yang dijalaninya. Ia seorang esais yang hebat, sebab ia mampu mengkonstruksi dan mengkritisi apa saja yang dilihat dan dirasakannya.

“Halo kak, apa kakak mengenal saya” begitu sapaan saya via chating di fb pertama kalinya.
“Saya tidak menganal saudara” katanya.
“Ia kak, saya adik sepupumu” jawabku.
“Anda tinggal dimana, darimana, dan siapa kakekmu?” kak asdar seperti menginterogasi.

Saya tak langsung menjawab detail, tentang dari mana asal saya, sebab belakangan saya banyak hidup di Kolaka, dan Baubau (sultra), terakhir di Jakarta. “kakek saya Haji Kulle dari Pangkep” kataku.

Membaca nama kakek kami. Kak Asdar terperangah, sebab ia juga sangat mengagumi nama ini, tokoh yang menurutnya seorang ulama, tokoh masyarakat yang banyak memiliki istri, anak cucu dan cicit yang bertebaran di nusantara ini.
“Benar! Berarti anda adalah saudara saya” katanya singkat.

Begitu saya menceritakan ihwal orang tua saya. Kak asdar langsung detail mengetahui silsilah keluarga kami. Ternyata amat dekat, tak hanya dari garis ayahnya, juga garis ibunya. Menutrut kak asdar, saya kedua-duanya berstatus ‘sepupu’ baik dari ayahnya di Jagong (Pangkajene), maupun ibunya di Salebbo (Bungoro). Sayang sekali, Tuhan belum memberikan kesempatan sekalipun untuk bertemu langsung dengannya. Saya hanya berdoa, semoga ia “dilapangkan jalannya menuju Surganya Allah”..

***

Saat pilpres lalu, kak asdar rajin memberi advis bagi saya. Ia paham sekali tentang aktivitas saya mendukung Pak Prabowo. Tetapi saya tak paham pilihan politik kak asdar, apakah ke pak Prabowo atau pak Jokowi. Beliau hanya selalu memberi pesan. Katanya begini (via fb). “Dik, sekali bertarung, jangan pernah mundur sejengkalpun. Tetes darah yang mengalir dalam tubuh keluarga kita, adalah darah para pejuang, bukan penghianat.”

“jangan pernah mundur dan surut dalam memperjuangkan apa yang menurut kita benar. Jika kita mau besar, maka bergaullah dengan orang-orang besar itu. Tetapi jangan sekali-kali pongah, jika adik memenangkan pilihannya. Dan jangan sekali-kali lemah jika kita kalah dalam perjuangan itu. Sebab semua itu hanyalah proses”

Saya terdiam dan banyak merenung manakala kak asdar memberi support di setiap saya chating dengannya. Maklumlah bagi kak asdar, dalam dunia maya ini, ia tak sekedar sebagai seorang budayawan, tetapi seorang ustadz yang selalu menceramahi untuk ‘mengolah’ hidup dengan baik.

“Dik. Kakek kita Haji Kulle selalu memberi pesan dalam hidupnya, agar kita kuat dalam segala medan. Dunia ini bukan arena pertempuran. Dunia ini arena untuk berbagi dan menciptakan keharmonian. Jadikan hidupmu nyaman dan selalu bersama orang lain.” Begitu pesannya. Setelah itu amat jarang kami berdiskusi, terkecuali ‘janjian’ bertemu di pertengahan November ini. “Insya Allah jika kita panjang umur” katanya menutup.

***
Mendengar kabar dukanya, saya amat bersedih. Ternyata itu pesan terakhirnya. Saya hanya menyempatkan menelpon adik bontotnya, kak adnan muis semalam tentang kabar sang kakak. “Ia dek, saya masih di Cengkareng, siap-siap ke Makassar. Belum tahu yang sebenarnya. Tetapi kabarnya, kak asdar sehabis mentas, menyempatkan diri nonton TV, dan setelah itu merasakan sakit. Mungkin serangan jantung, dek” kata kak nanang, sapaan akrab adnan muis.

“Ya Allah, lapangkan jalannya dan beri surge untuknya” begitu doaku.
Saya ingat cerita ibu saya tentang sosok sepupu yang nyentrik ini. Kata ibu saya, Asdar remaja, seorang wartawan. “waktu petinju Elyas Pical ke Pangkep, ia panjat ring hanya untuk memotret petinju itu,” kata ibuku mengenang juga via teleponnya pagi ini dari Kolaka-Sulawesi Tenggara. 

Apa dinyana. Meski akrab di fb, saya tak sempat bertatap muka langsung dengannya seumur hidup. “Kak asdar. Saya adimu, tetapi tak mengenalmu!”
-----------------------
 Menteng-Jakarta, Sore hari, 27 Oktober 2014.


Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX