07 December 2014

GENAP dua semester saya mengabdikan diri sebagai pengajar di kampus Universitas 17 Agustus 1945 di kawasan Sunter-Jakarta Utara. Itu juga berarti jika kini saya tak perlu sungkan untuk menyebut diri sebagai ‘dosen’, meski statusnya sebagai dosen tidak tetap dan diberi ‘jasa’ berdasarkan beban ‘sks’ yang diberikan otoritas kampus.
Apapun itu, saya menikmati ‘dunia baru’ ini. Saya bergembira dan amat berbangga atas kepercayaan itu, setidaknya otak saya yang terkuras selama menempuh pendidikan sebagai kandidat doktor Ilmu Komunikasi mendapat ‘ruang besar’ menumpahkannya kepada adik-adik mahasiswa di kampus yang kini lebih trendy di sebut UTA-45 itu.

Terbayang, gimana rasanya belajar terus menerus dan tak ada ruang untuk berbagi, seolah mengisi gelas dengan air tanpa batas, tumpah kemana-mana dan tak berarti. Mungkin ini yang disebut sebagai keseimbangan hidup, dan mungkin ini pula makna dari kalimat dari para bijak yang mengatakan, ilmu takkan memiliki manfaat apa-apa, jika tidak bisa berbagi dengan orang lain. Apalagi saya teramat percaya dengan sebuah sugesti kehidupan, bahwa mereka yang kaya, adalah mereka yang gemar berbagi.

Dulu, seantero nusantara mengenal kampus ini dengan label ‘Untag’. Entah kapan dimulainya perubahan nama itu, apa maksudnya? Saya kurang paham, namun pada umumnya perubahan nama selalu mengarah pada perbaikan di segala sektor, seperti yang selama setahun ini saya merasakannya.

Dalam amatan sebagai seorang mantan jurnalis, sebagai penggiat kehumasan, dan sebagai orang yang banyak melibatkan diri di organisasi ‘nasionalis’, UTA-45 adalah kampus harapan masa depan negeri ini, itu tampak dari managemen yang terus membaik, system kurikulum yang bersesuaian dengan dunia kerja, dan didukung oleh tenaga-tenaga pendidik profesional alumni dalam dan luar negeri. 

Tak salah, jika anak-anak negeri ini yang tersebar di daerah-daerah untuk menimba ilmu di kampus ini. Paling tidak karakteristik ‘merah putih’ yang menjadi branding kampus ini, seolah mentasbihkan diri jika mereka yang terdidik di sini, tidak sekedar cerdas ilmu, tetapi mereka akan memiliki bekal sebagai generasi yang ditopang oleh semangat kebangsaan. Itu diskusi singkat saya dengan Pak Widodo, dekan FISIP UTA-45, seorang yang saya nilai sebagai sosok yang selalu bersemangat memompa ‘kenerja’ para dosennya. Juga hasil diskusi dengan beberapa prodi yang masih muda belia dan penuh talenta. Saya bangga mengenal mereka, dan bangga bekerja sama dengannya.

Mungkin saya buta dengan ‘masa silam’ kampus ini, dan tak perlu tahu dengan apa yang pernah terjadi di masa lalu, sebab dunia saya, adalah masa kini dan masa depan. Masa untuk membangun anak-anak bangsa menjadi lebih baik, lebih berkarakter, dan tak sekedar cerdas dalam pengetahuan tetapi cerdas dalam memaknai keberadaan dirinya, keberadaan orang lain dan lingkungannya. 

Bagi saya, kampus UTA-45 adalah semangat baru, karenanya saya selalu menawar rindu di kampus ini, menawar harapan agar kelak banyak generasi bangsa berkualitas, berbudi pekerti  yang baik terlahir dari rahim kampus ini. Ya, setidaknya dari lingkungan saya sebagai tenaga pengajar di prodi Ilmu Komunikasi. Target saya sederhana, ingin agar kualitas gelar ‘doktor’ ilmu komunikasi yang melekat pada diri saya nanti, benar-benar bermanfaat bagi anak-anak negeri ini. Sebab setinggi apapun gelar akademik seseorang, takkan bernilai apa-apa jika tidak bermanfaat bagi orang lain.
Ibu saya di kampung selalu mengingatkan dengan bahasa sederhananya. “Nak, tidak ada yang lebih tinggi dari kemampuan seseorang, terkecuali ia bisa berbagai dengan orang lain. Tak ada harta yang lebih baik yang diwariskan kepada anak cucu kita, terkecuali warisan ilmu pengetahuan. Maka jangan pernah kikir untuk berbagi ilmu pengetahuan dengan siapa saja. Sebab nilai dari seseorang terletak dari pengetahuannya, dan keluasan hatinya untuk berbagi” terasa ada kerinduan jika mengenang wejangan ibu.

**
 Menteng di Pagi hari, 7 Desember 2014

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX