27 January 2015

Tak mudah mengubah karakter, sebab ia telah berproses sekian tahun lamanya dan menjadi kebiasaan-kebiasaan yang pada akhirnya menggambarkan ‘postur’ kedirian kita. Oleh karenanya, manakala terjadi perubahan yang teramat sangat pada diri kita sendiri, tak perlu merasa heran jika banyak yang mempertanyakannya. Sebab sesungguhnya itulah cermin realitas dari sebuah kehidupan yang pernah dijalani. Astagifirullahaladziem. Mohon ampunlah pada-Nya, sebab boleh jadi dalam perjalanan itu teramat banyak ‘babak-babak hitam’ yang terlewati. Dan berdoalah semoga kebaikan-kebaikan yang pernah dijalani menjadi lembar-lembar yang mengantar diri pada jalan-Nya. Amin.

Manusia tak perlu menegaskan kata ‘sesunguhnyaa’, sebab kata itu adalah bentuk pemastian yang hanya milik Sang Pencipta. Manusia cukuplah mengatakan ‘mungkin’ sebab segala sesuatunya ditentukan oleh-Nya. Mungkin, kerancuan-kerancuan, kesalah-pahaman, perang kekuasaan,  yang banyak dipertontonkan oleh para pemimpin-pemimpin kita, adalah buah dari ketidak-dekatan mereka pada-Nya. Atau mungkin pemimpin-pemimpin itu hanya mengandalkan kecerdasan berpikirnya tetapi berjarak dengan Sang Pemilik ilmu. Jika itu terjadi, benarlah jika manusia adalah mahluk-mahluk yang selalu dihinggapi kesombongan. Astagifirullahaladziem.
Mengapa mempertahankan keangkuhan? Mengapa harus selalu pongah? Bukankah langit-langit itu diciptakan tiada bertiang, agar manusia bisa merenungi kesombongannya. Mengapa harus tergelak, terbahak-bahak menikmati dunia, sementara gemuruh Guntur sedetik suaranya bakal meredam segala suara yang ada di alam ini? Sungguh Sang Pencipta-lah pemilik segalanya, dan manusia hanyalah anai-anai yang beterbangan jika kelak sangsakala itu ditiupkan? Takutlah kita pada-Nya…

Sebait kata untuk diri sendiri. “wahai kamu yang sedang merenungi keesaan-Nya,  jawablah suara azan itu, sebab itulah panggilan-Nya, agar dirimu tahu siap dirimu, yang harus tahu kemana kamu berdiri menghadap secara sempurna, supaya kamu tahu kemana dirimu harus menundukkan jasadmu, dan supaya kamu tahu kemana dirimu harus bersujud. Wallahualam bissawab..ampunilah segala kehilafan ini…

--------------------------
Jakarta diseperdua kehidupan, 27 Januari 2015

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX