01 January 2015

Setahun sudah perjalanan menelusuri tahun 2014 berakhir. Alhamdulillah, Tuhan telah memberi kenikmatan memasuki awal 2015 ini. Semua orang tentu teramat berbahagia dengan nikmat umur ini, dan semua tentu berharap  agar tahun ini bisa dijalaninya dengan penuh hikmah…manusiawi jika kita berkata ‘saya ingin panjang umur”, dan semoga Allah SWT meng-ijabahnya…amin…

2014 tahun yang tentu punya kenangan bagi semua orang. Seperti diriku yang menghabiskan tahun ini dengan banyak berjibaku dengan waktu dan irama ibukota negeri ini. Jakarta. Waktu dan irama yang penuh keringat, airmata, cinta dan bahkan keputus-asaan. Paling tidak ketika meninggalkan anak-istri untuk keegoisan menempuh pendidikan hanya untuk sebuah ‘label’ doctor, adalah cerita yang tak berkesudahan. Di dalamnya tergoreskan banyak warna, banyak intrik juga cerita-cerita asmara yang menjadi bumbu cerita jalan kehidupan ini.

2014. orang Indonesia memahaminya sebagai tahun penuh intrik. Politik Pilpres tampaknya tak bisa hilang diingatan begitu saja, apalagi ikut bermain dalam pusaran itu. Tapi sudahlah, semua harus move on dengan segala realitas yang dihadapi. Saya menikmati kisah berpolitik ini seperti percintaan yang penuh keindahan, dan sesekali dengan emosi yang tak terkendali. Seperti menikmati teduhnya cinta seorang wanita yang memberikan segalanya meski harus berakhir dengan air mata. Sungguh mengesankan, dan aku selalu mengingatnya…

2014, adalah tahun dimana diriku seperti mencari kunci kotak Pandora di ibukota ini, yang ingin membuka dan meraih sebuah impian sukses, untuk menjadi lelaki kampung yang mampu menembus belantara Jakarta yang penuh intrik, meski kutahu itu bukanlah jalan mudah untuk diraih. Saya memulainya dengan kunci ‘sekolah doktor’ pada sebuah Universitas swasta di Jakarta. Lalu kemudian menjadi anak kunci untuk memasuki dunia baru sebagai seoarang tenaga pengajar di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta, atau UTA 45, atau dulu di kenal dengan nama Untag Jakarta. Begitu menikmatinya, dan bangga menjalaninya.

Dari kampus berlabel ‘merah-putih’ itu kurajut impian-impian. Sesekali ada pikiran mundur dari PNS daerah dan focus menjadi dosen. Istriku tak menampiknya, malah memberi dorongan untuk focus ke arah itu. Tetapi beberapa orang terdekat mengingatkanku untuk tak terlena dengan sebuah wangi baru yang aromanya hanya sesaat dan kemudian pergi lagi. Entalah. Yang pasti masih focus untuk menyelesaikan studi dan dalam perrjalanan itu hadir banyak mimpi-mimpi. Karenanya, saya tak menampik jika 2014 itu tahun mimpi, dan entah kapan satu dari mimpi-mimpi itu bakal terwujud,

Seorang kawan kerap mengingatkan; apa yang kamu cari? Tak mampu menjawabnya. Yang pasti 2014, seolah mencari kunci kotak Pandora yang Jakarta. Entah dimana ia berada. Harapannya sederhana, 2015 kunci itu kutemukan, seperti aku menikmati hidupku bersama orang-orang yang kuncintai dan bersama mereka yang selalu mengharapkan cintaku. Cinta yang penuh ketulusan, emosi, janji dan keinginan untuk hidup lebih baik di tahun-tahun mendatang. 2015, jawablah!....**

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX