10 September 2016

PASTINYA ini bukan sesuatu yang prematur membahas pilkada gubernur Sulsel yang masih berbilang tahun. Apalagi menohok kepemimpinan Sahrul Yasil Limpo (SYL) yang baru berakhir di tahun 2018. Ini hanya sekelumit rasa yang seolah berjalan di titian, hati-hati dan cemas terpeleset. Sebab memetakan suksesi kepemimpinan di Sulsel rada berbeda dengan pilgub lainnya di Indonesia, setidaknya ketika membahas siapa-siapa kandidatnya, politik identitasnya, pula siapa saja yang menjadi juragan dalam politik ijon yang kerap hadir di even-even politik seperti ini.

Sulsel seolah mentasbihkan dirinya sebagai sesuatu yang beda (politiknya) dengan daerah lainnya di Indonesia. Beda dengan Jakarta yang sudah memanas, saling intip, dan media massa (dominan televisi) seolah menjadi pengatur suhu. Mau hangat, dingin hingga panas sekalipun, media seolah pemegang remot kontrolnya. Plus keramaian penggiat media sosial dalam merespon babak-babak politik itu. Bisa pula karena Jakarta berpesta politik di 2017 sementara Sulsel setahun kemudian.

Bicara media massa konvensional dalam kapasitas seperti itu, seolah hal biasa di reformasi ini. Jangan berharap independensi di sana, sebab secara praktikal memang media menggeser dirinya dari posisi ‘watch dog’ menjadi ‘car dog’. Dari pemantau kekuasaan, menjadi pemain di kekuasaan. Di sini tafsir teori dari Shumacher and Rase (1997) seolah menemukan kebenarannya. Ia menjelaskan jika media (massa) tak lagi independen, sebab ia bergantung pada ideologi pemiliknya. Tak heran, mengapa media berbeda framing dalam meneropong tubuh-tubuh berita politik dan juga elitenya.

Kembali ke soal pilgub Sulsel, cukup banyak pembeda dengan ibukota negara itu. Sulsel pun menerima keragaman meski belum ada etnis Cina yang menyatakan diri akan tampil di gelanggang ini, seperti Ahok di Jakarta. Sebab Sulsel dominan masih dibekap politik identitas antara etnis Bugis dan etnis Makassar. Tetapi soal ini bukan karena minim belaian ilmu berdemokrasi, sebab telah ada tokoh etnis lain di Indonesia yang berperan di pusaran politik daerah ini. Sebut saja Walikota Makassar, Dani Pomanto yang dikenal berdarah Gorontalo, dan ketua Bawaslu Sulsel- L Arumahi yang berasal dari kepulauan Buton. Keduanya bisa disebut sebagai pembaca cerdas bekapan politik identitas di Sulsel.

Lainnya, yang cukup terasa adalah minimnya tokoh yang cukup familiar di telinga publik nasional untuk masuk ke arena Pilgub ini. Ada beberapa yang muncul seperti Nurdin Abdullah (Bupati Banteng), Rusli (Bupati Sidrap), Irjen Burhanuddin Andi (Polri), tetapi hitung-hitungan kasar baru Nurdin Abdullah yang sering dicorongkan media nasional. Lainnya masih berseliweran pada konteks lokal di Sulsel. Ini pula karena mereka yang berlabel ‘petarung-petarung lama’ seperti Abdul Azis Qahar Mudzakkar (DPD-RI) belum berbunyi, halnya dengan Ilham Arif Sirajuddin (IAS-mantan walikota Makassar) yang masih tersandera persoalan hukum.

Tokoh lainnya saya masih rabun, sebab baru sepekan ini mengamati hiruk pikuk Kota Makassar sebagai sentral poin politik daerah ini. Menunggu nama mantan ketua KPK-Abraham Samad juga terasa kelamaan, demikian halnya dengan trah Yasin Limpo; pun belum berbunyi nyaring, Husain Abdullah-Jubris Wapres JK pun begitu dan beberapa nama lain yang sempat melintas media masih terkesan menyimpan energi. Paling tidak ada ungkapan, “Sallo inji kamase- masih lama, masih dua tahun”. Bahkan tokoh-tokoh nasional Bugis-Makassar di Jakarta sekelas Wapres Jusuf Kalla amat minim bertutur tabir politik Sulsel di masa depan. Mungkin karena beliau telah menjadi salah satu guru bangsa di negeri ini. Dari unsur akademisi pun, setali tiga uang.

Fenomena itu memunculkan sekelumit pertanyaan; apakah politik Sulsel mengalami degradasi wacana politik karena kejenuhan? Ataukah Sulsel punya bingkai tersendiri menemukan figur pemimpinnya sebagaimana konsep panoptikonik-Jeremy Bentham yang banyak dibicarakan Foucault? Entahlah, paling tidak pertanyaan ini hanya ingin melepas paradigma pikir yang mengklaim jika politik kepemimpinan di Sulsel, berfilosofi permainan ‘sepak raga’. Bola baru diberikan kepada yang lain, jika bola sudah terjatuh. Semoga tidak!
------------------------------------------
Sungguminasa Gowa, 19 Juli 2016

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX