13 September 2016

NAMANYA bapak Sulyus Natoradjo. Ia kawan sekelas di kampus Usahid Jakarta, sekaligus ayah bagi semua kawan-kawan di sana. Usianya yang mendekati 80 tahun tak menyurutkan impiannya menjadi seorang doktor ilmu komunikasi. Usia yang sebenarnya lebih pantas menikmati masa pensiun, bercanda dengan anak cucu, dan duduk membuka lembar ayat-ayat Tuhan mempersiapkan kehidupan akhiratnya.

”Jika berpikir seperti itu, sama saja saya mempersiapkan kematian saya. Padahal usia bukanlah alat ukur seseorang hidup di dunia ini. Orang bisa mati kapan saja. Hidup itu adalah skenario yang tak terduga, maka harus di isi dengan sesuatu yang bermanfaat. Bagi saya pendidikan itu tidak ada matinya, Anda bisa melakukannya kapan saja Anda mau..” Begitu ungkapan optimisnya.

Rasanya malu jika menyimak harapan hidup bapak ini, apalagi membandingkannya dengan ke sia-siaan waktu yang selama ini terabaikan. Pak Sulyus dengan semangat dan kesederhanaannya, seolah menitip pesan pada banyak orang, tentang makna ‘Wal Asyr” (demi masa). Ia diam dalam bahasa, namun berbicara banyak dalam pesan, bahwa kehidupan manusia akan semakin memiliki makna, jika di setiap detik waktu yang dijalaninya selalu menjadi inspirasi bagi orang lain.

”Jika saya di kampus rasanya awet muda. Di rumah malah bisa diomeli istri..hahaha” candanya. Begitulah Pak Sulyus, lelaki baya 78 tahun ini bukan sembarang lelaki. Hidupnya yang dulu diwarnai dengan aktivitas di dunia perusahaan, memasuki usia pensiun terjun ke kampus menjadi seorang dosen. Ia juga dikenal sebagai penulis even organizing, yang pernah diterbitkan Penerbit Gramedia-Jakarta. Gambatte! Begitu aktif pria baya ini.

Masihkah ada kebanggan bagi Pak Sulyus, ketika merebut gelar doktor diusianya uyang mendekati 80 tahun nanti? Apakah sama ekspektasi yang kurasakan hari ini ketika jejak-jejak puncak akademik itu diraih nantinya? Apakah semangat Pak Sulyus sama dengan semangat adik Deddy Kurnia, lelaki 26 Tahun yang kini juga mempertaruhkan hidupnya sebagai seorang doktor?

“Bang Hamzah, saya dan Kang Deddy, sama saja. Selalu harus ada kebanggaan yang terselip dari apa yang kita pertaruhkan hari ini. Kebanggaan itu tidak mengenal masa, tidak mengenal ruang dan waktu. ia selalu hadir ketika seseorang sukses menjalani ‘proses’, dan proses itu hadir pada setiap lapis-lapis waktu seseorang yang pandai memberi warna dalam kehidupannya” jawabnya.

Begitulah cara Pak Sulyus berkomunikasi dengan lingkungannya. Ia jarang menyebut seseorang dengan sematan ‘Nak’, ‘Adinda’ dan sebagainya. Ia selalu berusaha menarik dirinya ke dalam ‘masa’ kawan diskusinya. Pak Sulyus paham, jika efektifitas berkomunikasi itu akan tercapai jika ada kesejajaran antara komunikator dan komunikannya.  Benar-benar menginspirasi.

Lalu apakah gelar ‘doktor; yang diperolehnya nanti, sekedar penghias di nisannya kelak? “Jangan bicara kematian, itu urusan Sang Pencipta. Bagi saya menempuh pendidikan, adalah cara memaknai hidup, sebab selalu ada kejutan-kejutan yang kita peroleh. Di sana ada cerita, bahwa pendidikan akan membuat hidup Anda lebih bermakna, sepanjang menjalaninya dengan baik dan tidak instant. Pendidikan itu bukanlah kesia-siaan. Ia bagian dari bentuk kesyukuran saya pada Sang Pencipta. Di sana tak hanya gelar duniawi..di sana ada hati yang berbicara, jika kualitas manusia ditentukansejauh mana ia berproses dalam hidupnya.. ”
Terima Kasih Pak Sulyus…

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX