19 September 2016

TENTU banyak persepsi yang dilekatkan pada diri seorang polisi, tetapi untuk polisi yang satu ini, saya punya cerita sendiri. Ia baik, punya semangat dan terbilang visioner untuk ukuran daerahnya. Paling tidak, ketika pertama kali mengenalnya di awal tahun 2000-an, saat ia masih berpangkat “dua kuning” dan tanpa jabatan apapun, La Ode Suriadin begitu nama lengkapnya, kerap berkelakar dengan menyebut dirinya “Raja Buton”. Peristilahan yang seringkali ia bawa atas kecintaaan pada leluhurnya di negeri Buton, bermula saat ia masih bertugas di Ambon Maluku.

Tetapi peristilahan ini tak kunjung memudar, sebaliknya menjadi brand dirinya dimana-mana, bahkan saat ini ketika telah pindah tugas ke kampung halamannya di Buton, ia tak sungkan menyebut nama “Raja Buton” ini kemana-mana, meski ia sadar ia telah berada di negerinya sendiri, dimana banyak orang ketika bicara soal raja, tentu menjadi sesuatu yang debatable banyak pihak.

“Itu istilah saya ketika masih pendidikan di Secaba dulu, niat saya sederhana, agar Buton ini dikenal pula sebagai negeri besar di negeri rantau, dan saya selalu bangga atas negeri leluhur saja,” begitu katanya, dan saya pun paham jika ‘pesan’ seperti ini adalah bentuk diaspora identitas yang ingin dia bangun.

Kini, setelah tahunan tak bersua, kemarin (18/7) bertemu di Pelabuhan Murhum Baubau, salahsatu pelabuhan kelas 1 di Indonesia yang disinggahi kapal-kapal raksasa milik PT.PELNI. Suriadin-pun telah menjadi Kapolsek di pelabuhan itu. Pangkatnya menjadi ‘Tiga Balak’- istilah orang awam, atau Ajun Komisaris Polisi (AKP), di militer lebih populer dengan sebutan Kapten. Pendidikan akademiknya pun cukup lumayan, ia seorang magister hukum,

Serta-merta saya memanggilnya ‘Pak Suriadin” sebagai bentuk penghormatan kepadanya, sementara belasan tahun lamanya aneh jika menyapanya ‘pak’, sebab ia selama ini saya cukup menyebutnya Sur – begitupun ia menyapa saya dengan sematan nama kecil. Anca’.

Kurang lebih setengah jam berbagi cerita sembari mengawasi arus balik penumpang di kawasan itu, Pak Sur terus mengumbar semangat, saling merangkai cita-cita, dan mimpi untuk negeri ini. “Jika sudah ada kesempatan, saya pun ingin lanjut pendidikan doktoral, doakan juga saudaraku, semoga yang selalu memberi yang terbaik untuk negeri ini,” katanya.

Di benak saya, terlintas jika kelak saatnya nanti polisi muda ini akan melintasi batas pikirannya. Ia akan meraih mimpi yang sebenarnya tak pernah diimpikannya, sebab dia seorang pemuda berkarakter yang selalu bersemangat dan melibatkan diri mengangkat harkat negerinya, seperti ketika ia menjadi salah seorang penginisiasi dan ikut memperjuangkan desanya menjadi kecamatan, dengan nama Kecamatan Talaga Raya, dan tetap bergabung dengan induknya di kabupaten Buton, meski secara geografis lebih dekat dengan Kabupaten Bombana- mekaran kabupaten Buton.

Pak Sur, perwira muda polisi itu benar-benar energik. Ia telah menjelma sebagai seorang bapak tak hanya dikeluarganya, anak buahnya, tetapi juga segenap penumpang jasa pelabuhan di kawasan itu. Ia selalu berdiri awas dengan penuh senyuman bagi setiap orang yang bertanya padanya. Tak ada wajah sangar yang ditunjukkan malam itu. Sayapun memandangnya bangga, bangga atas semangatnya, dedikasinya dan pengabdiannya.

Bagi saya, ia selalu pantas mendapatkan sesuatu yang lebih dalam karirnya, atas abdi, ketulusan dan semangatnya. Begitupun tulisan sederhana ini, adalah cara saya megucap terima kasih atas seuntai keihlasan yang diberikannya di malam itu. Selamat bertugas kawan, teruslah memberi yang terbaik bagi banyak orang. Sehat selalu…
-------------------
Makassar, 19 Juli 2016

Comments
0 Comments

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX