» » Kekaburan Ethos, Pathos, Logos

Kekaburan Ethos, Pathos, Logos

Penulis By on 11 January 2018 | No comments

ZAMAN Soeharto berkuasa, elite-elite semacam Susi Pudjiastuti – menteri kelautan dan perikanan, juga Pak Ahok – Gubernur DKI Jakarta; (mungkin) tak selintas pun terdengar namanya dalam rekruitmen kepemimpinan bangsa ini; bukan soal kemapanan atau kemampuan personal; tetapi dua tokoh seperangai Susi dan Ahok, bisa jadi terpalang ‘azas’ bibit – bobot –bebet. Susi bertato, Ahok tempramental. Artinya ada sisi tak sempurna untuk menjadi seorang publik figur. Boleh jadi memenuhi unsur bibit dan bobot, tetapi bebetnya tidak, demikian pula bolak-baliknya. Begitu ketatnya.

Memang zaman berbeda, masalah berbeda, perangai elite berbeda, segmen-segmen kerusakan moral juga berbeda, dan Pak Harto terlupakan zaman. Tetapi meracik kepemimpinan, tak perlu malu belajar pada pengalaman, sebab jika khawatir tersesat di persimpangan jalan, maka jalan bijak yang di tempuh adalah kembali ke mula jalan, lalu bersiasat lagi.

Bibit – bobot – bebet yang ter-branding sebagai pola-pola Orde Baru, pada hakikat bukan produk zaman itu. Ia abstraksi filosofis 2500 tahun silam, ketika Socrates (469 SM - 399 SM) memaparkan konsep ‘aktor’ yang piawai berkomunikasi, yang disebutnya ethos, phatos, dan  logos. Berkomunikasi dalam konteks ini (bisa) dimaknai sebagai –bernegara-, atau cara melahirkan orang-orang hebat dalam bernegara.

Ethos bertalian dengan track record, catatan perilaku, suri tauladan – atau kredibilitas. Phatos bertalian dengan pergerakan-pergerakan emosi seseorang dari dalam jiwanya. Sementara logos bertalian dengan pengetahuan (logika). Sederhananya, kegaduhan berbhinneka yang belakangan terjadi dalam kehidupan berbangsa, karena bangsa ini kehilangan ethos – pathos – dan logos-nya. Sesuatu yang seharusnya tak terjadi jika ada kesadaran kembali ke mula jalan itu.

Mula jalan tak berarti kembali ke zaman Socrates, atau berpijak pada residu status quo kehebatan Orde Baru. Kita hanya belajar pada nilai filosofis keduanya. Mula jalan (bisa) berarti memijak pola rekruitmen aktor pada proses sebagaimana mestinya, sebab negara memiliki regulasi dan sistem yang baik untuk itu. Proses yang baik tak pernah melahirkan figur instan – yang bintang dua menjadi bintang empat – yang borjuis jadi gubernur.

Jika proses tak pernah membohongi hasil, maka tiliklah ethos, pathos, logos – sebab ia seperangkat proses dalam kitab-kitab moralitas aktor yang terpakai di belahan manapun di dunia ini, meski dengan nama dan ucapan yang berbeda. Tak perlu melontar sanggahan jika ketiga diksi itu hanyalah seperangkat teori yang dipergunakan dosen menjejaki otak-otak mahasiswanya.

Tahukah kita? tak mempercayai pemanfaatan teori pada hakikatnya menghilangkan nilai ketuhanan dalam segala aktivitas. Etimologi ‘teori’ berasal adalah kata theo yang berarti ketuhanan, dan ria - orios yang berarti perenungan. Paling tidak, mereka yang menolak argumen-argumen teori, dapatlah disebut sebagai penista nalar akademis.

Nalar  akademis adalah mula jalan bangsa ini terbangun, tatkala 66 orang tokoh bangsa yang tergabung dalam BPUPKI dengan semua label kebhinnekaannya merumuskan terbangunnya negara yang bernama Indonesia. semua berikhwal dari kekuatan ethos, phatos, dan logos, yang telah mengabur itu. ** (Hamzah Palalloi)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya
comments

Bagi Pengguna Facebook silahkan komentar di atas