27 May 2010


-->
Manado memang indah, cantik dan punya daya tarik tersendiri. Kota di utara Indonesia ini, dari segi nama memang punya daya jual. Menyebut dan membayang nama Manado, seolah membayang nama-nama kota yang ada di luar negeri. Manado seolah bersanding dengan nama-nama kota di negeri ‘latin’, seperti Madrid, Cossovo, dan lainnya. Apalagi nama-nama kota di Asia, hampir serupa seperti Mindanao, dan Macao. Yang pasti, image Manado bagi orang yang belum berkunjung ke sana, pasti lebih melekat dibanding kota-kota lainnya di Indonesia seperti Surabaya, Bandung dan Makassar. Ke Manado, seolah berkunjung ke negeri lain.

Saya pun membuktikannya, meski hanya melintas beberapa hari di Manado, image saya seolah ‘di paksa’ membuktikan kemolekan Manado. Bahkan rekan-rekan  yang mengetahui perjalanan saya ke Manado mengingatkan saya dengan idiom 3B, yakni bubur, bibir dan bunaken. Malah ada yang nambah ‘Bobo Jo!’ katanya. Lebih parah lagi, mereka seolah memaksa saya untuk menikmati salah satu dari empat pilihan itu. ‘Bibir dan Bobo’...waduww....

Tapi, ada pula yang mengingatkan, agar berhati-hati dengan kemolekan Manado. “Hati-hati so pigi Manado, disi-disi so pasti beking seks,” kira-kira artinya lebih kurang begini; hati-hati saja kalau Anda bepergian ke Manado, disini pasti banyak ‘pembuat’ seks. Separah itukah?

Saya pun bertanya dalam hati, apakah merugi jika ke Manado tapi tidak menikmati  seks Manado itu? Sebagai pendatang baru saya ingin membuktikannya, dengan niat merubah image Manado sebagai kota bebas ‘yang itu’. Saya hanya ingin Manado benar-benar sebagai kota metropolitan layaknya Jakarta, Surabaya, Medan dan Makassar. Sudah pasti fasilitas ‘seks’ banyak tersedia, namun image sebagai kota seks tentu tidak boleh dikembangkan. Sebab Kota Manado adalah kota yang sama posisinya di Indonesia sebagai kota yang penuh keindahan, keramahan...

Sesampai di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado 24 Mei baru-baru ini, saya dan beberapa rekan disambut satu kalimat penyambutan, “Salam Baku Dapa!” artinya selamat berjumpa. Bandara ini terbilang sebagai salah satu bandara tersibuk di Indonesia Timur selain Makassar. Wajar saja bila dimana-mana yang ada hanya kerumunan orang. Image Seks yang melekat di benak saya, terus menghantui, melongok kiri kanan, melihat para wanita memang rata-rata berparas cantik, putih dan modis. Jarang sekali wanita dijumpai berparas ‘standar kebawah’. Seorang rekan pejabat di kota saya bergumam, “Disini 5 cewek berjalan, ada 10 yang cantik!” katanya menganalisa kemolekan gadis-gadis Manado.

Lepas dari kawasan Bandara, lalu menyusuri kota-kota Manado sambil mencari hotel, benak saya bergumam, “Mungkin yang ini orang-orang banyak berpikir seks”. Mengandaikan keramahan, dan kecantikan serta senyuman menyungging sebagai ‘gampangnya’ menikmati seks di kota ini. Sayapun mengalihkan pikiran, ada apa ‘image’ itu begitu terbentuk di benak orang-orang?. Saya hanya terkejut, ketika masuk hotel, tiba-tiba ada yang menyapa;
 “Om butuh selimut?” Waduh! Pikiran saya, sudah pasti bukan selimut biasa, pasti selimut plus
 “Tidak, masih capek dari perjalanan” kataku
“Ow, gampang,  kalau Om butuh di pijit, torang bisa bantu, dijamin nyaman Om” katanya.
“Iya, nanti saya ya? Kita masih mau jalan jauh” kataku.
“Ok-ok, kalau butuh ini nomor bisa dihubungi” jawabnya orang yang menurutku seorang ‘makelar’.

Sekitar 2 jam lebih menyusuri malam kota Manado, seraya surfing ‘google’ mencari daftar hotel dan bertanya pada beberapa orang, hampir semua hotel yang ditawarkan adalah hotel kelas bintang dengan layanan plus tentunya. Maraknya hotel berbintang ini muncul pasca kegiatan Word Ocean Conferency (WOC) yang dihadiri puluhan negara beberapa waktu silam. Dan, kami putuskan nginap di salah satu hotel di kawasan Boulevard Manado. Memang nyaman, apalagi ada pesan khusus dari sejumlah rekan di sana soal makanan bagi yang Muslim. Kalau yang satu ini tidak masalah, sebab memang yang namanya hotel dengan penduduk yang heterogen, ada saja dijumpai makanan non halal.

Pagi Yang Indah, Mana Doi!
Malam terlewati dengan pulas dan tanpa ‘gangguan’ image kotor, kami sambut pagi yang indah. Terus menyusuri kota Manado yang istimewa itu. Disana terangkai indah pantai kawasan Boulevard dengan latar Gunung Manado Tua nun jauh di sana. Manado memang menawarkan objek wisata yang tiada banding.

Memandang ke atas, gunung Klabat yang dikelilingi awan putih seolah meneduhkan suasana kota Manado, belum lagi Nyiur melambai seolah memanggil, inilah Indonesia itu. Nyanyian “Rayuan Pulau Kelapa”  membentuk benak saya, kalau sang komponis lagu itu mungkin terinspirasi dengan Kota Manado. Maklum pesisir Manado menuju Minahasa, nyiur melambai dimana-mana menghadap ke Laut Sulawesi, seolah memanggil “Mari Jo Torang ke Manado”.

Puas menikmati alam Manado di pagi hari, kualihkan pandangan ke gadis-gadis yang ramai berjalan menyusuri beberapa kawasan perkotaan, dari Mall, hotel, hingga beberapa kawasan perekonomian lainnya. Memang tak bisa dipungkiri, kalau image seks itu melekat (Bagi penikmat seks, tentunya) karena kemolekan para gadisnya. Putih mulus, mata agak sipit dan ramah menyungging senyum.

Puas memandang kota nan cantik ini, saya banyak bertanya pada warga sekitar tentang Kota Manado ini, ada yang mengistilahkan Manado itu dengan kata ‘Mana Doi’ artinya ‘Mana Uang (mu)’. Mungkin ini pula yang mentasbihkan Manado sebagai kota sekuler sekaligus beraliran konsumensarisme. Tapi yang pasti, saya berkesimpulan kalau Kota Manado memang kota entertaniner. Dimana-mana ada hiburan, kawasan wisata hingga fasilitas pemuas diri lainnya.

Sejarah Kota Manado
Sekali lagi, dalam sejarah panjang Kota Manado, kata Manado berasal dari Bahasa Minahasa dari kata Mana Rou atau Mana Dou yang berarti “Di Jauh”. Kota yang diperkirakan didiami sejak abad ke -16 ini, Menurut sejarah, pada abad itu jugalah Kota Manado telah dikenal dan didatangi oleh orang-orang dari luar negeri. Nama "Manado" mulai digunakan pada tahun 1623 menggantikan nama "Pogidon" atau "Wenang".

Kata Manado sendiri berasal dari bahasa daerah Minahasa yaitu Mana rou atau Mana dou yang dalam bahasa Indonesia berarti "di jauh". Pada tahun itu juga, tanah Minahasa-Manado mulai dikenal dan populer di antara orang-orang Eropa dengan hasil buminya. Hal tersebut tercatat dalam dokumen-dokumen sejarah yang ada.

Tahun 1658 , VOC membuat sebuah benteng di Manado. Sejarah juga mencatat bahwa salah satu Pahlawan Nasional Indonesia , Pangeran Diponegoro pernah diasingkan ke Manado oleh pemerintah Belanda pada tahun 1830 . Biologiwan Inggris Alfred Wallace juga pernah berkunjung ke Manado pada 1859 dan memuji keindahan kota ini.

Keberadaan kota Manado dimulai dari adanya besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 1 Juli 1919 . Dengan besluit itu, Gewest Manado ditetapkan sebagai Staatsgemeente yang kemudian dilengkapi dengan alat-alatnya antara lain Dewan gemeente atau Gemeente Raad yang dikepalai oleh seorang Walikota ( Burgemeester ).

Pada tahun 1951 , Gemeente Manado menjadi Daerah Bagian Kota Manado dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223. Tanggal 17 April 1951 , terbentuklah Dewan Perwakilan Periode 1951-1953 berdasarkan Keputusan Gubernur Sulawesi Nomor 14. Pada 1953 Daerah Bagian Kota Manado berubah statusnya menjadi Daerah Kota Manado sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 42/1953 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 15/1954.

Tahun 1957 , Manado menjadi Kotapraja sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957. Tahun 1959 , Kotapraja Manado ditetapkan sebagai Daerah Tingkat II sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959. Tahun 1965 , Kotapraja Manado berubah status menjadi Kotamadya Manado, yang dipimpin oleh Walikotamadya Manado KDH Tingkat II Manado sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.

Hari Jadiku sama dengan Kota Manado.
                Saya lebih tertarik menulis kota ini, karena sangat special bagiku. Manado sama dengan tanggal kelahiranku, artinya kalau memeriahkan HUT Kota Manado, itu berarti juga memeriahkan ulang tahunku. Bangganya! Yakni tanggal 14 Juli.

 Hari jadi Kota Manado yang ditetapkan pada tanggal 14 Juli 1623 , merupakan momentum yang mengemas tiga peristiwa bersejarah sekaligus yaitu tanggal 14 yang diambil dari peristiwa heroik yaitu peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 , dimana putra daerah ini bangkit dan menentang penjajahan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia , kemudian bulan Juli yang diambil dari unsur yuridis yaitu bulan Juli 1919 , yaitu munculnya Besluit Gubernur Jenderal tentang penetapan Gewest Manado sebagai Staatgemeente dikeluarkan, dan tahun 1623 yang diambil dari unsur historis yaitu tahun dimana Kota Manado dikenal dan digunakan dalam surat-surat resmi.

Berdasarkan ketiga peristiwa penting tersebut, maka pada setiap tanggal 14 Juli Kota Manado merayakan HUT-nya. Dan pada tanggal 14 Juli 2010 mendatang ini masyarakat dan pemerintah Kota Manado merayakan hari jadinya yang ke-387. Selamat Jo, semoga image kota sebagai kota seks, tidak ada lagi. (catatan dengan sumber beberapa sejarah kota Manado)

Manado di pagi hari, 26 Mei 2010.


6 comments:

  1. Manado dekat mas Anon....sama aja biaya makassar-baubau.....org sulawesi harus tau manado jo...

    ReplyDelete
  2. manado mana doi, ok

    ReplyDelete
  3. ke menado thn 1999 wkt ambon selesai bergolak

    ReplyDelete
  4. wighh s0al seks2nx nyinggunk bgt tug ke 0rg mamad0, tpi gpplah maklum, kita legh kan 0rg manad0...!! Nice p0st..

    ReplyDelete

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX