08 October 2010

-->
(Tulisan ini juga dapat Anda baca Disini)

Jakarta, sungguh sebuah peradaban yang telah menghilangkan satu sendi kehidupan yang bernama kemanusiaan. Rasanya sulit hidup di ibukota ini dengan modal semangat ke–Indonesian. Maka tidak mengherankan Jakarta terus mengilhami banyak orang untuk melukiskannya dalam kata atau apa saja. Sekedar ingatan kelak dikemudian hari, bila negeri yang konon ‘gemah ripah loh jinawi’ ini punya ibukota yang kontradiktif dengan kenyataan yang sebenarnya.

Selain macet yang mengancam kelumpuhan Jakarta di tahun 2014. (ceritanya Baca disini) Mungkin itu menjadi alasan, mengapa Pemda DKI terus menekan laju urban ke Jakarta. Padahal, kalau mau radikal, bila saja orang daerah dilarang ke Jakarta, maka selayaknya daerah-daerah berpikir untuk ‘merdeka’ saja. Gampang khan? Dominasi uang Jakarta adalah hasil putaran ekonomi yang ada di daerah. Daerah terus mengalami capital flight, akibat hisapan Jakarta.
Aku di salah satu cafe di Jakarta
Dedu Purnomo, eksekutif muda Kawanku
 Beberapa hari di pekan ini ditemani rekan Dedu Purnomo, seorang pebisnis muda high class Kendari (kisahnya baca disini), Aku menikmati Jakarta dalam berbagai dimensi kehidupan. Dari kehidupan malam Starbuck Café, Hard Rock Café, Sarina, Atrium hingga kehidupan kelam ala Stasiun Senen dan kawasan kumuh Rawasari. Semuanya menawarkan berbagai macam idiologi kehidupan, yang tidak semua orang bisa menerimanya. Heterogenistik idiologi tampaknya larut dalam satu air kehidupan. Kehidupan Kapitalism. Ya! Anda mau hidup di Jakarta, maka berduitlah! Bila tidak, Merampoklah! Begitulah egosime radikalism yang terbangun menghadapi kenyataan yang sebenarnya.

Begitu berada café-café eksekutif Jakarta, Aku dan Bung Dedu beberapa kali terbahak-bahak. Bertemu dengan para cukong bermerek Taipan. Capuccino nampaknya menjadi minuman keseharian yang bagi rakyat jelata hanyalah sebuah ‘cerita’ untuk menikmatinya. Kalaupun ada, maka cappuccino yang dinikmatinya hanyalah Capuccino dengan branding gerobak dan warungan. Sungguh sebuah kesombongan. Padahal sebenarnya, Cappuccino hanyalah kopi biasa plus racikan berbagai rempah, yang bagiku lebih nikmat segelas Kopi buatan Istri dan Ibuku di kampung…

“Boleh Dong berlama-lama disini?” kataku kepada Sang pramuniaga Café
“Silahkan Bang, Tapi mesan apa lagi ya Bang?,” katanya menawariku dengan ramah dan sunggingan yang penuh pesona.

Ow..ow..ow…ow….Hatiku tergelitik dan sedikit berontak. Sang pramuniaga café yang cantik itu tampaknya telah diracuni alur kapitalism. Injeksi pikiran Sang Bos benar-benar telah merasuk dalam otak kirinya. Pramuniaga itu telah menjelma bagai pemilik. Ia seolah Malaikat Israfil yang akan meniupkan sangsakala para pengunjung yang baginya tidak menguntungkan. Padahal, mungkin saja Sang Pramuniaga itu adalah gadis kampung yang juga hidup di alam kesederhanaan. Sama sepertiku.

Ya sudah. Aku kembali memesan makanan yang mereknya sama sekali tak kukenal. “Yang penting halal, embat saja. Mumpung ada cukong yang bayarin.” Pikirku.
Namun kenikmatan hanya sebatas di mulut saja. Aliran sari pati hidangan yang  bergerak ketonggorokanku, terhenti setelah memandang jauh keluar, menembus kaca-kaca bening itu. Mataku menangkap seorang lelaki separuh baya di ujung stasiun, wajahnya menghitam berkeringat, bekerja sekuat tenaga membongkar got-got jalan yang tersumbat sampah. Selera makanku menghilang. Terbayang wajah Ayahku semasa kecil yang bekerja sebagai buruh kasar hanya untuk sesuap nasi untuk ibu dan anak-anaknya.

Aku merasakan perbedaan dunia yang sangat jauh. Harga Capuccino dan makananku boleh jadi lebih mahal dari bantingan tulang Sang pekerja itu. Aku bergerak menuju wastafel, bukan mencuci tangan. Tapi menyeka air mata yang tak terasa telah menetes. “Mataku perih Bung Ded, mungkin ukuran silinder kacamata ini minta nambah ” begitu kataku kepada Bung Dedu, mengelabui perasaanku.

Batinku memprotes kenyataan yang ada. Ibukotaku benar-benar menjelma sebagai kota kapitalis, sama dengan orang-orangnya. Kekerabatan dan jabat erat tangan kekeluargaan semu belaka. Sebab semuanya diukur dengan materi. Sunggingan senyum, dan lambaian tangan pejabat tinggi negeri ini, bagiku hanyalah tipuan belaka. Sekedar mereka ingin disebut Pro Rakyat. Aku pun bermimpi. Kelak aku menjadi Presiden negeri ini, maka Aku dan semua pejabatku kuperintahkan untuk hidup bersahaja, seperti hidupnya seorang Ahmadinejad, Sang Presiden Iran, yang sangat sederhana. (Doakan ya..?).

Bersama Neno Warisman.
                Bagiku seorang Neno Warisman seorang selebriti  tanah air yang kini aktif dalam kegiatan kemanusiaan dan pendidikan anak, bukanlah orang asing. Beliau telah kukenal sejak tahun lalu saat berkunjung ke Baubau, kotaku di Pulau Buton sana. Bertemu di sebuah warung sate, namanya Sate  PSK di Depok (jangan salah paham ya? PSK itu = Pusat Sate Kambing..heheheheh) Saya banyak berbincang dan belajar memaknai kehidupan yang sebenarnya,
Neno Warisman, Aktris dan Penyanyi
 Bu Neno yang bernama lengkap Hj Titi Widoretno Warisman, mengingatkanku dengan kehidupan Jakarta yang dominan semu. Perempuan kelahiran 21 Juni 1964 itu, berkisah tentang prilaku otak manusia. Katanya, orang yang melakukan sesuatu dengan yang berpikir sesuatu, kerangka otaknya sama. “Itulah kemudian kita perlu dituntun oleh Agama” katanya.

Banyak hal yang kami disukusikan, mulai dari prilaku seks Jakarta, pola pendidikan anak usia dini, hingga kegiatan Umrah yang kini menjadi bagian dari kegiatannya. Aku tersetak, seorang Neno Warisman, artis kenamaan ternyata punya kecerdasan spiritual yang sangat matang. Kehidupan rumah tangganya sangat islami. Wajar kemudian, bila ketiga permata hatinya diberi nama dengan label Islami, sebut saja Giffari Zakka Waly, Maghfira Izzani Maulania, dan Raudya Tuzzahra Ramadhani.

Aku bangga bisa berkawan dengan artis sekelas Neno. Akupun juga ingat bila belakangan ini banyak artis yang menjadi agamis, Gito Rollis, Hari Mukti, dan lain sebagainya, semoga beliau-belia bisa menjadi idola banyak dalam hal sprtualitas.

(**)

Pukul 22.00 malam, kutinggalkan Depok menuju Jakarta. Penat rasanya perjalanan ini, namun hatiku bangga, Jakarta telah mengajariku sebuah realitas kehidupan yang sebenarnya. Jakarta telah menjadi inspirasi bagiku untuk terus melukiskannya lewat kalimat-kalimat sederhana. Tapi maaf, aku bukan pujangga yang pandai memainkan kata. Aku hanyalah ‘perekam’ biasa yang belajar menulis apa adanya, dengan harapan tulisan ini kelak bisa berguna di kemudian hari.

Aku mengajak Bung Dedu Purnomo untuk terlelap dalam kamar kosanku, sekedar mengingatkannya akan kehidupan perjalanan masa lalu-nya yang kelam. Bukan seperti saat ini…bertabur bintang dan bergelimang harta. Bung Dedu meng-iya. Ia tinggalkan kamar hotelnya di Borobudur sana.

Di Kosanku…Aku menuliskan perjalananan ini dalam beberapa bait kalimat. Bung Dedu terlelap pulas. Suara dengkuran kecil Bung Dedu menemaniku dalam menulis. Saya menangkap sunggingan senyum dibibirnya. Mungkin ia bermimpi dalam kedamaian…seperti damainya sesaat dia masih hidup dalam kesederhanaan. Aku ternyata lupa, kalau yang tertidur itu seorang jutawan muda sukses, yang rela tertidur dalam kamar kos-kosan yang sangat sederhana. Demi arti sebuah persaudaraann yang sejati. Satu kata yang kupetik dari Bung Dedu. “Berdamailah dengan Kenyataan” katanya.

(**)
Pagi cerah menyambutku. Ke kamar mandi. Aku dicegat Ibu Kos. “Pak Hamzah, karena ada teman bermalam disini, Anda kena biaya Cas,,,,,”.  Waduh!!!  Kapitalisme??? ….bantu aku mengartikannya?. (**)

                                                                                Cikini di pagi hari, 8 Oktober 2010.


2 comments:

  1. baru tau ya..Jkt is a hight capitalism

    ReplyDelete
  2. banyak yang tau bang..tp malas menuliskannya...ini hanya colekan hati....semoga org2 masih bisa terugah..hati dan perasaannya...

    ReplyDelete

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX