13 July 2011

Bagi penikmat Jambore Nasional (Jamnas) 2011 Gerakan Pramuka yang baru saja usai digelar di Teluk Gelam, OKI Sumatera Selatan pada awal bulan Juli ini, tampaknya menyisahkan cerita yang membenam di benak banyak pesertanya. Cerita yang sebenarnya, tak layak diungkap, sebab bagi peserta dan Pembina pramuka, Jambore kali ini lebih banyak duka ketimbang rasa suka. Bukan karena tantangan alam, tetapi karena ulah segelintir oknum yang justru mencoreng nama baik Sumatera Selatan pada umumnya.

Peserta mengakui jika layanan pemerintahnya sungguh maksimal dalam menyiapkan kegiatan serta pelayanan bagi para tetamunya. Mereka angkat jempol, angkat topi. Namun harga sejumlah kebutuhan pokok peserta yang ‘mencekik leher’ menjadi momok bagi peserta. Mereka tak berani belanja seperti pada arena-arena nasional sebelumnya, mereka seolah takut ’dikerjai’ pedagang dadakan yang seolah kompak memasang harga tinggi. “Idealnya panitia mampu menekan harga, tapi sangat sulit, ada kesan ini sengaja terjadi pembiaran pihak tertentu dan terkesan kompak,” ujar seorang pembina yang tak ingin diungkap identitasnya.

Lebih dari itu, ada kesan ‘memperdaya’ peserta Jambore. Ceritanya begini, seorang pembina putri memesan kompor gas pada seorang pedagang di sana. Ternyata mereka tak menjual kontan, justru di kontrakkan dengan jaminan sejumlah uang. Begitu ingin mengisi kembali, ternyata sang pedagang sudah menghilang. Padahal uang jaminan yang diminta, jauh lebih besar ketimbang harga kompor gas di maksud. Usut punya usut, ternyata bukan hanya seorang yang diperdaya, beberapa pembina pramuka dari berbagai daerah di Indonesia mengalami hal serupa.

Yang lebih menyeramkan bagi peserta, mereka tidak merasakan kenyamanan sebab dihantui perasaan adanya aksi pencurian. Cerita ini bermula sejak melakukan perjalanan menuju lokasi perkemahan hingga kegiatan ini di tutup. Kekhawatiran tentang itu ternyata mereka buktikan di lapangan. Peserta benar-benar punya agenda tambahan, ”mengawasi pencuri”. Sebab hampir tiap hari, ada saja gerak-gerik mencurikan dari sejumlah oknum yang berkunjung ke kawsan bumi perkemahan. Untung saja pengawasan dari dari pihak kepolisian maupun Pol PP setempat yang cukup baik sehingga, kejadian ini diminimalisir. Namun, bagi peserta, ingatan ini terus membenam di pikiran mereka. Apalagi peserta Jamnas adalah anak-anak yang usianya tak lebih dari 12 tahun. ”Kak, kalau ada kegiatan di Palembang, tak usah ke sana lagi, takut kecurian,” kata seorang anak dengan polosnya.

Ini sungguh memiriskan, anak-anak itu tak banyak mengenal OKI, mereka lebih mencap Palembang sebagai kota besar Sumatera Selatan. Tentu juga ini kerja tambahan bagi Pemprop Sumatera Selatan saat menjadi tuan rumah SEA GAMES nantinya. Bisa diistilahkan, lain berbuat lain tertuduh. Kasihan kota Palembang-nya!, negeri yang dikenal sebagai pusat peradaban kerajaan Sriwijaya masa silam, ternoda karena ulah sekolompok oknum di kabupaten OKI, 4 jam dari Kota Palembang.

Yang sungguh disesalkan, anak-anak Jamnas seolah dijejali cerita yang kurang mendidik. Sebelum mereka masuk ke lokasi perkemahan, mereka telah mengenal bahwa Sumatera Selatan adalah sarangnya ”kapak merah” kelompok rampok dari Sumatera Selatan. Sesuatu yang kurang baik bagi pengembangan provinsi ini sebagai salah satu ikon di Indonesia. Lalu bagaimana respon pemerintah di sana? Apakah cerita ini terus di biarkan tumbuh dalam benak mereka? Ataukah membiarkan generasi masa depan bangsa ini berkata ”Tak Usah lagi kita ke Sumatera Selatan”.

Semoga tulisan ini menjadi catatan penting bagi pihak Kwartir Nasional dalam menyelenggarakan even nasional. Menjadi catatan koreksi bagi Pemprov Sumsel, khususnya Pemkab OKI dalam mencitrakan dirinya sebagai wilayah nyaman untuk di kunjungi, dan pelajaran bagi Kota Palembang untuk tidak mendompleng pada cerita buruk oknum tertentu dari Kabupaten OKI.

Mohon maaf dari Saya, tulisan ini sekedar bahan evaluasi bagi daerah-daerah di Indonesia yang akan menggelar kegiatan serupa. Salam Pramuka!

Serpihan cerita dari Cibubur Jakarta, 13 Juli 2011


1 comment:

  1. Saya yg berdomisili di Oki Sumsel juga ikut merasa malu walaupun saya sendiri bukan asli warga pribumi. Tapi saya bisa menyimpulkan sendiri apa yang terjadi disana, karena saya bersebelahan rumah dengan pol-pp yg juga bertugas menjaga keamanan disana. Petugas keamanannya aja bisa mengambil kesempatan dari moment itu apa lagi warga sekitarnya. Dari hasil cerita tetangga saya itu saya bisa menyimpulkan bahwa mereka berlomba2 utk mendapatkan suatu barang,walaupun dinilai secara materi tidak seberapa. Tidak perduli dia petugas keamanan atau apa...itu saja yang bisa saya ungkapkan. Apabila ada yang tersinggung dengan uraian saya ini, saya mohon maaf.

    ReplyDelete

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX