29 May 2011

Haji Probosutedjo, demikian nama lengkapnya, tanpa embel-embel gelar akademik, meski Ia seorang ‘empunya’ perguruan tinggi cukup terkenal di Jakarta dan Jogjakarta, Universitas Mercu Buana. Lelaki tua yang pada 1 Mei lalu genap berusia 81 tahun, pernah menjadi pesohor karena beliau adik mantan Presiden Soeharto, namun kini namanya seakan tenggelam tergerus  pusaran politik negeri ini, sama tergerusnya dengan ‘dewa-dewi’ Cendana. Tapi, justru sosoknya yang kurang populis itu, menarik untuk diketahui bagaimana kehidupan saat ini.

Sudah setahun lebih Saya menjalani pendidikan dan berdomisili di Jakarta, namun baru sekali melihat langsung wajah beliau, yakni saat kunjungannya ke kampus Universitas Mercu Buana Jakarta baru-baru ini. Penampilannya sangat Indonesianis. Gemar menggunakan kopiah dan berjas tanpa dasi. Menurut beberapa orang dekatnya, Probosutedjo memang berpenampilan seperti itu karena kegemarannya dengan hal-hal berbau budaya. “Beliau suka koleksi lukisan, keris dan ukiran-ukiran khas Indonesia,” ujarnya.
Awalnya, terbayang sosok Probosutedjo tidak lebih dari kakaknya Almarhum mantan Presiden Soeharto, yang gemar mengumbar senyum dan sedikit kurang bicara. Tapi beliau sepertinya lebih pendiam dan sedikit agak serius, apalagi wajahnya yang agak bulat dan bermata sipit menegaskan perangai beliau. “Apa kabar kalian, bagaimana rasanya kuliah di sini” sapaan Probosutedjo menyadarkan lamunan Saya. Sejumlah mahasiswa dengan cepat membalasnya, “Baik Pak”. Ternyata beliau seorang yang ramah dan ketika berkata-kata seolah punya magnet tersendiri. Bisa jadi meski kurang popular saat ini, tetapi ia tetap saja seorang pengusaha ternama di negeri ini, yang punya ‘kuasa’ untuk melakukan sesuatu.

Di Mercu Buana, Probosutedjo seorang Ketua Umum Yayasan Menara Bakti, induk Universitas Mercu Buana. Beliau di dampingi Prof Dr Didiek J. Rachbini, seorang ekonom negeri ini sebagai wakil ketua yayasan. Menjadi pertanyaan besar sejumlah mahasiswa, mengapa bukan Didik Rachbini yang tampil sebagai Rektor Mercu Buana? Bukankah ia punya ‘nama besar’ sebagai guru besar dan ekonom di Indonesia?

“Agak sulit Mas, kalau Prof Didik yang jadi Rektor”
“Pak Probosutedjo agak kurang respon” begitu seorang sumber di sana.

Tidak diperoleh informasi yang jelas, bagaimana ‘ketidakresponan’ itu. Tetapi berkembang cerita bila Didik sebenarnya lebih suka membawa dirinya sebagai ‘ekonom’ ketimbang membawa nama besar Universitas Mercu Buana dimana beliau menjadi guru besar di sana. Namun, terlepas dari cerita itu, Probosutedjo tampaknya sosok yang suka konsistensi seseorang. Sekecil dan sesederhana apapun lembaga itu, oranglah yang membesarkannya. “Sebenarnya Pak Probosutedjo berharap Prof Didiek bila tampil di media massa membawa nama kampus, bagaimanapun Prof Didik sudah punya nama di Republik ini” kata sumber itu.

Meski begitu, Probosutedjo bukan sosok pendendam, apalagi berwatak pendongkel. Semuanya dijalaninya apa adanya. Mungkin beliau belajar dengan pengalaman di mana beliau pernah mendekam di penjara pasca tumbangnya Presiden Soeharto. Yang pasti, beliau kini lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, bersama puluhan anak jalanan yang kini menjadi anak asuh beliau di kediamannya. Beliau juga sangat konsen dengan persoalan pendidikan di negeri ini. Satu hal mengapa Probosutedjo begitu peduli dengan pendidikan, dan benar-benar ‘all out’ pada pengembangan Universitas Mercu Buana sebagai universitas bergengsi di tanah air yang memiliki link dengan beberapa perguruan tinggi di luar negeri, ternyata itu terkait dengan nazar beliau.

“Waktu kecil, Pak  Probo kesulitan untuk sekolah karena biaya. Makanya beliau bernazar, katanya suatu saat kelak, bila dirinya memiliki uang yang cukup, maka cita-citanya adalah mendirikan sekolah atau perguruan tinggi bermutu dengan biaya yang terjangkau, sehingga siapapun anak negeri ini, bisa mengenyam pendidikan, makanya wajar bila kuliah magister di sini sangat terjangkau” ujar seorang staf Probosutedjo.

Politik Probosutedjo
Sebagai orang yang punya nama besar sebagai adik mantan presiden, sebagai pengusaha ternama, punya banyak jaringan, tetapi tidak membuat Probosutedjo latah dengan politik nasional. Mungkin usianya yang uzur sehingga focus menikmati hari tuanya. Namun demikian bukan berarti beliau tidak punya pendapat. Beliau tetap melihat Kang Masnya ‘Soeharto’ sebagai pemimpin terbaik yang pernah ada di negeri ini. Makanya wajar, bila di kampus Mercu Buana, poster dan foto-foto Soharto masih terlihat dipelihara baik-baik. Bahkan ketika berkunjung di kampus Menteng, sebelum Anda masuk lift, maka disana terpampang dengan jelas foto Soeharto dengan kalimat “Alasan Mencintai Soeharto”

 Tapi bagaimanapunn Soeharto telah tiada, lalu siapa yang diinginkannya? “Bila Rindu Kepemimpinan Soeharto, maka pililah Prabowo” ungkapan ini pernah di dengungkannya di tahun 2009 silam. Beliau melihat sosok mantan ‘anak mantu’ itu punya kelebihan tersendiri dan bisa mengikuti track rekor ‘the smiling general’ itu.

Satu cerita yang menarik dari sosok Probostedjo dalam menyikapi dinamika mahasiswa, yakni ketika mahasiswa demo soal Soeharto. Probosutedjo konon mendukung mahasiswa dengan memberinya dana untuk aksi demonstrasi pada kakaknya. Benarkah?? Wallahu alam bissawab…(**)

Jakarta Malam Hari, 26 Mei 2011

Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX