14 May 2011

Karl Marx
Umberto Eco
ANDAI saja Karl Marx tidak dilahirkan ke bumi ini, mungkin kita hidup dengan tenang, tidak saling mencurigai dan tak perlu ada paham-paham yang saling memojokkan. Marx mungkin punya tujuan baik dalam kehidupan social umat manusia, karena ia menginginkan masyarakat terbebas dari penindasan. Sesuatu yang paling digemari kaum muda yang tengah mencari jati diri. Sayangnya, kaum muda kadang kurang matang dalam merespon pikiran Marx, maka pemuda kita dilahirkan sebagai kaum yang progresif dan revolusioner. Maka tdak mengherankan bila pemuda sekarang ini merasa cerdas sendiri, gampang memojokkan orang lain dan kerap mencampur adukkan antar satu fakta dengan fakta yang lainnya.

Bila saja Marx hidup se zaman dengan Saya, maka satu hal yang kulakukan adalah ribut dengannya. Bagi Saya, idiologi yang dikembangkan Marx dalam tataran apapun, adalah sebuah bentuk pengingkaran anak manusia kepada pencipta-Nya. Sebab ketika Dia melahirkan pemikirannya yang kritis itu, Marx seolah membebaskan diri dari dogma-dogma dan tata nilai yang berlaku, bisa jadi termasuk Agama, yang merupakan tata dasar kehidupan manusia. Saya  baru tersadar, mengapa Pak Soeharto pada zamannya berkuasa langsung mencaplok orang yang berhaluan Marxisme sangat erat kaitannya dengan Atheis? Ya, sebab effek negatif yang ditimbulkan dari pikiran itu, seolah ‘melangkahi’ tata nilai yang berlaku di masyarakat. Sebenarnya, semua orang bisa kritis menyikapi kondisi sekitarnya, tapi tentu dengan tata nilai yang berbudaya. Disinilah mengapa ideology Marx sangat berlawanan dengan budaya ketimuran, seperti halnya di Indonesia.

Cerita tentang Marx, Saya teringat kisah dengan seorang Waliullah, Syech Siti Jenar yang harus terhukum dari Wali Songo. Bukan Siti Jenar-nya yang keliru dalam mengembangkan ilmu ‘manunggal ing gusti’ tetapi idiologi pemahamannya belum ‘mampu’ dicerna pengikutnya, sehingga justru bisa menjadi ‘kafir’ karena ketidakpahaman dari kedalaman tasawwuf seorang Siti Jenar. Inilah ketakutan para Wali Songo, yang secara logika bisa dipahami, dimaklumi dan dimengerti. Sama dengan pikiran Soeharto, kenapa memberangus pikiran-pikiran kritis ala Marx, dan secara ekstrim menggolongkan ‘pengikut’ Marx sebagai antek-antek komunis yang cenderung atheis.

Bagi Saya, cukuplah bisa menyelami pikiran Umberto Eco, seorang filosof dan novelis Italia yang rajin memberi makna pada sebah fenomena. Inilah yang melahirkan pikiran-pikiran semiotika, tentunya bila dihubungkan dengan kajian ke-agama-an, kita diperintahkan untuk memahami tanda-tanda kebesara-Nya.

Anda pilih Marx atau Umberto? Up to You!!

Jakarta, dinihari, 14 Mei 2011





Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX