15 June 2011

Hampir sepekan Saya kembali ke Jakarta untuk kuliah. Saya begitu kesulitan menikmati ‘warteg’ yang menjadi kebisaan selama kurang lebih setahun tinggal di ibukota ini. Entah kenapa lidah ini sulit menerimanya lagi. Saya sadar ini akibat lezatnya ikan laut kota Baubau yang kunikmati selama pulang kampung.

Di Jakarta..khususnya di warteg-warteg, aneka rupa jenis ikan tersedia. Tapi menatapnya saja kurang berselera. “lebih lama hidup di kulkas, dari pada di laut” pikirku. Lagi pula, ikan di kota ini, tidak sebersih di kota-kota kawasan timur Indonesia lainnya. Terasa ketika menikmatinya saat masih segar, ada aroma getir di sana. Saya sadar inilah realita social yang saya hadapi, realitas kehidupan yang digambarkan dari rasa ikan, bahwa Jakarta memang tak nikmat lagi dinikmati jika tak piawai ‘bermain’ dengan kenyataan. Ikan saja sudah tak enak!.

Sepiring nasi ‘warteg’ dalam tatapanku telah menggambarkan Jakarta yang sebenarnya. Campur aduk menjadi satu, seperti heteroginitas Jakarta yang metropolitan, semuanya membaur, tak peduli laki atau perempuan.

Ya sudalah..saya harus menikmatinya..untuk tak mati di kebisingan!

Di Warteg jelang malam, 15 Juni 2011


Comments
0 Comments

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan Isi Komentar Anda Disini

TENTANG SOEKARNO

KATA HATI

SENI BUDAYA

PENGUNJUNG

ADVETORIAL

Follow by Email

ARTIKEL POPULER

AKTIVITAS

KRITIK-KRITIK SOSIAL

ROOM CHATING BLOG

AQUARIUM RILEX